Lalita adalah salah satu novel dari seri Bilangan Fu. Pengarangnya, Ayu Utami, membuka narasi dengan menampilkan pertemuan Yuda dengan perempuan Indigo. 

Lalita namanya. Ia digambarkan sebagai “wanita berlonceng yang berdandan mencolok dalam tanktop ungu ketat, sepatu biru gelap, lensa kontak nila, sepuhan warna bulu merak, mengisap rokok ramping ungu”.[1]

Citra Lalita dilukiskan sebagai perempuan paruh baya nyentrik, aristokrat, dan misterius. Paduan yang menarik dari esensi perempuan; keindahan yang membuat laki-laki tergila-gila serentak misteri rimba raya yang menggoda untuk disibak. Perjumpaan Yuda menjadi titik poros awal dari plot yang kompleks.

Intimasi antara Yuda dan Lalita makin padat dan keruh saat mereka telanjur menjalin hubungan gelap. Tepat di atas ‘meja aluminium’ dalam kamar cuci cetak foto, mereka saling berbagi rahasia persetubuhan. Persetubuhan yang estetis, mistis, dan ilegal sebab Yuda sudah punya pacar. Tanpa sadar Yuda pun masuk dalam labirin kehidupan perempuan Indigo.

Lalita, yang mengaku pernah tiga kali berinkarnasi di masa lalu, menyimpan sebuah buku bersampul kulit lembut berwarna ungu. Indigo. Buku yang menyimpan rahasia-rahasia paling dahsyat dari alam semesta. Legenda tentang drakula, penelitian ilmiah tentang frekuensi gelombang yang membentuk bagan-bagan konsentris-simetris, arsitektur Borobudur, dan manuskrip tua, serta rahasia-rahasia spiritual berseliweran di atas halaman-halamannya.

Janaka Natapriwara, yang mengaku sebagai kakak kembar dari Lalita, muncul sebagai tokoh yang membongkar kedok si perempuan Indigo. Sebagai seorang insinyur sipil, ia terjebak konflik dengan Lalita yang adalah seorang seniman.

Jiwa seniman Lalita berusaha menggali sejarah, rahasia, dan mitologi yang tercetak dalam relief-relief candi, sementara insinyur berusaha untuk membongkar panil-panil candi. Konflik ini berlangsung makin meruncing. Kedua ideologi saling menegasikan: Lalita yang intuitif dan Janaka yang rasional; antara metafisis dan materialis; spiritual dan positivis.

Episentrum konflik muncul saat Janaka berusaha merebut buku Indigo tersebut secara paksa. Buku itu telanjur lenyap sebelum bisa diambil. Bersamaan dengan itu, konspirasi di balik pencurian tersebut menyeret keselamatan nyawa Lalita, Yuda, dan orang-orang dekatnya.

Dibantu oleh sahabatnya, Parang Jati, Yuda kini terjepit dalam petualangan menguak rahasia buku Indigo, percintaan segitiganya, dan misteri kebudayaan dunia. Pasca peristiwa pencurian dan pemerkosaan itu, Lalita muncul kembali sebagai seorang biksuni.

Unsur-Unsur Intrinsik Sastra

Tokoh utama dalam novel ini adalah Sandi Yuda. Adapun tokoh-tokoh pendukung dalam novel, antara lain: Lalita, Marja (pacar Yuda), Parang Jati, Oscar, Jisheng, dan Janaka.

Karakter dan tabiat dari setiap tokoh diulas dalam metode ragaan atau metode dramatik. Seluruh karakter dan tabiat tersebut secara implisit tertuang dalam ragam percakapan, pikiran, tingkah laku, bahkan penampilan fisik para tokoh. Prinsip ini memberi peluang kepada imajinasi pembaca.[2]

Ayu menggunakan alur cerita campuran. Kadang kronologi cerita saling bertumpang tindih. Berbeda dari metode ob ovo (dari telur) yang menempatkan kisah dari yang paling awal hingga akhir, karya sastra ini menggunakan metode in medias res yang meramu rangkaian peristiwa secara jumpalitan.[3]

Ia juga memanfaatkan latar waktu yang bervariasi. Kadang di masa sekarang dan kadang berupa kilasan masa lalu; Paris 1889, Wina 1907, dan Asia 1932. Perpindahan ini juga memengaruhi variasi latar tempat: Jawa Timur, Candi Borobudur, Tibet, Transylvania, Paris, dan beberapa objek tempat, khusus seperti rumah Lalita, Buddha Bar, dan tempat pameran seni.

Konteks sosial dalam novel adalah sinkretisme dua budaya: metropolitan dan tradisional. Pencampuran ini termanifestasi dalam penokohan Lalita yang seorang sosialita sekaligus peminat mitologi dan misteri. Parang Jati, sahabat Yuda yang berjari tangan enam, berdiri pada kutub sisi spiritual. Marja, seorang perempuan cerdas, tipikal generasi metropolitan. Pada persinggungan dengan dua budaya-budaya tersebutlah Yuda hidup.

Ayu Utami, sebagai representasi kaum perempuan, menempatkan sosok Lalita sebagai ikon kulminasi dari semua plot. Seluruh konflik dan fluktuasi kisah berotasi di sekeliling perempuan indigo, meskipun ia bukan tokoh utama. Tokoh ini bisa dijadikan sebagai wadah bagi gagasan feminisme. Dari sudut pandang feminisme inilah kritik atas novel ini bermula.

Sastra Feminis: ‘Reading as Woman’

Banyak karya sastra, khususnya yang dibuat oleh penulis laki-laki, yang mengindoktrinasi gambaran sosok perempuan sebagai siluet atau bayangan belaka. Perempuan dianggap sebagai makhluk kelas dua.

Lazimnya, terdapat dualisme esensi dari perempuan. Ia indah sekaligus lemah. Namun, karakter ‘rentan’ sering kali lebih laris mendominasi lembaran-lembaran karya sastra tersebut.

Gagasan tersebut bahkan didukung secara tegas secara filosofis sebagaimana tesis Aristoteles bahwa perempuan adalah jenis kelamin yang mengandung banyak kekurangan. Sementara menurut kajian teologis St. Thomas Aquinas, perempuan merupakan “laki-laki yang tidak sempurna”.

Simone de Beauvoir (seorang pelopor feminisme) dalam bukunya The Second Sex (1949), sebagaimana dijelaskan oleh Sugihastuti, menaruh perhatian pada studi tentang penindasan konstruksi feminitas oleh para lelaki.

Semua pandangan bermula dari mitos-mitos psikologi, sejarah, dan biologi: perempuan adalah objek pasif. Ia berpandangan bahwa kaum lelaki tidak akan pernah tepat menggambarkan kaum perempuan dari mitos-mitos yang mereka ciptakan sendiri.[4]

Lalita, sebagai corong feminisme, mengandung antitesis. Ia adalah perempuan yang punya otonomi diri kuat dengan tidak ingin terikat oleh seorang laki-laki. Ia berkuasa, sebab secara ekonomis dan politis merdeka dari sistem patriarkat. Ia punya independensi sebagai sumber pengetahuan sebagaimana dilambangkan sebagai pemilik sah dari buku Indigo.

Ia proaktif sebagai sosok yang ‘memperkosa’ laki-laki dalam setiap persetubuhan, bukan sebaliknya. Ia konsisten sebagaimana terlihat dari riasan wajah yang tak pernah dihapus dengan semua aksesori berwarna indigonya. Semua ini adalah narasi tandingan dari konstruksi budaya patriarkat.

Penokohan Lalita secara implisit menawarkan posisi perempuan dan laki-laki yang tersimpul di titik equilibrium. Keduanya egaliter dan komplementer secara fungsional.

Bahkan, dalam novel, Lalita terkesan lebih superior daripada laki-laki sejawatnya dalam banyak peran sosial yang ia lakoni. Bukti tekstual keunggulan Lalita (perempuan) bisa dilihat dalam ulasan berikut: “Sang wanita bagai ratu. Ia, Sandi Yuda, hanyalah ponggawa yang bisa dipanggil atau dibuang sesukanya”.[5]

Keber-‘adab’-an tokoh Lalita tidak sekadar terpatri dalam mobil BMW marun, stileto jinjit Christian Louboutin 12cm, tas Loius Vuitton, atau make-up ‘tahan hujannya’. Ia juga seorang kurator dan art dealer, punya galeri seni di luar negeri, fasih bahasa Inggris dan Prancis, serta suka membaca sastra dan filsafat.

Semua keagungan yang dianggap milik laki-laki semata dapat diraihnya dalam satu kombinasi yang unik. Paradigma semacam ini menabrak dinding konstruksi budaya yang timpang oleh corak androginis.

Gagasan demikian sudah lama tercermin dalam haluan perjuangan gerakan feminisme. Feminisme, sejak digalakkan pada sekitar tahun 1960-an di Barat, telah menjadi gerakan internasional perempuan. Kritikan mereka berjubel dalam ruang-ruang politik, budaya, ekonomi, sosial, pendidikan, hingga sastra.

Dalam sastra, dikenal pendekatan kritik sastra feminis. “Kritik sastra feminis menawarkan pandangan bahwa para pembaca perempuan dan kritikus perempuan membawa persepsi, pengertian, dan dugaan yang berbeda pada pengalaman membaca karya sastra apabila dibandingkan dengan laki-laki”.[6] Laki-laki tidak akan pernah memahami perempuan seterang perempuan sendiri.

Novel Lalita adalah sebuah jawaban dari Ayu Utami atas kolonialisme sastra. Ayu Utami barangkali menyuarakan gagasan Jonathan Culler tentang prinsip reading as woman.

Prinsip ini tidak berlaku hanya karena Ayu adalah seorang perempuan. Siapa saja, laki-laki, perempuan, atau transgender sekalipun, boleh membaca dan mengkritisi novel ini. Prinsip ini hanya sekadar menawarkan model “membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang androsentris dan patriarkat”.[7]

Ayu Utami sengaja menempatkan elemen feminisme sebagai sentilan terhadap kondisi despotik sejarah ciptaan pria. Ia dan karyanya berperan sebagai saksi-saksi sejarah dan ‘perangkat dari ingatan sebuah bangsa’.[8]

Stilistika dan etika, filsafat dan integritas artistik dalam Lalita bisa menjadi model citra zaman modern. Citra yang ingin ditampilkan adalah hermeneutika atas perempuan yang dibaca secara humanis bukan instrumentalis. Keadilan dalam membaca ‘yang lain’ (perempuan) harus bersifat tantum-quantum. Keseimbangan yang mutlak.

Karya ini mempromosikan seruan perempuan atas kesetaraan martabat. Pesan ini tertulis di seluruh alam semesta sebagaimana diutarakan oleh Lalita sendiri; “Poros dunia mensyaratkan simetri antara dua kutub yang komplementer. Langit-bumi. Pria-wanita. Feminin-maskulin. Terang-gelap. Tak ada pemimpin-pengikut, subjek-objek. Keduanya subjek”.[9]

Simpul pemahaman ini memampukan kita untuk reading as woman. Namun, tetap saja Ayu berkeras menampilkan sisi perempuan yang rentan dan terzalimi sebagaimana tergambar dalam nasib Lalita yang diperkosa dan dirampok.

Saya mengapresiasi keberanian Ayu Utami untuk menggarap tema-tema yang lama dianggap tabu. Seks digarap secara spiritual, bukan semata erotis. Ia selalu menyelipkan nilai keseimbangan ke dalamnya untuk mentransendensikan sebuah persetubuhan dalam konsep axis mundi.

Menurut perempuan indigo, axis mundi dicapai apabila persetubuhan mengikuti sejenis praktik tantra: “Inti dari tantra adalah persatuan lingga dan yoni. Perpaduan simetris esensi lelaki dan esensi perempuan.... Jangan kamu kira itu hanya ada dalam hubungan seks. Sebab pertemuan sari lingga dan yoni ini dapat terjadi dalam meditasi tingkat tinggi, meditasi kundalini, dan sang pertapa nan sendiri akan mencapai pencerahan”.[10]

Inilah perkawinan yang indah dari imanensi dan transendental. Sebuah yin-yang. Persetubuhan dan religiositas. Cara membaca semacam ini sengaja ingin mempresentasikan perspektif perempuan, Ayu Utami.

Novel Lalita perlu dibaca dengan kacamata perempuan. Kacamata ini tidak perlu mengubah gender pembaca. Yang diperlukan hanyalah keuletan retina kita untuk merobek selubung ideologi subjektif dalam karya sastra.

Glorifikasi atas kategori gender tertentu melemahkan objektivitas pembacaan dan kritik. Oleh karena itu, secara substansial, reading as woman identik dengan reading as man sejauh ia tidak terjebak dalam pembacaan yang ekstrem feminis atau ekstrem androginis.

  1. Ayu Utami, Lalita (Bogor: Kepustakaan Populer Gramedia, 2017), hlm. 13.
  2. Panuti Sadjiman (ed.), Memahami Cerita Rekaan (Jakarta: Pustaka Jaya, 1991), hlm. 27
  3. Ibid., hlm. 31.
  4. Sugihastuti Suharto, Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 6.
  5. Ayu Utami, Op. Cit. hlm. 76.
  6. Sugihastuti Suharto, Loc. Cit.
  7. Jonathan Culler, Structuralist Poetics (London: Roudlege & Kegan Paul, 1977), hlm. 43-46.
  8. Mochtar Lubis, Sastra dan Tekniknya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997), hlm. 33.
  9. Ayu Utami, Op. Cit. hlm. 32-33.
  10. Ibid.