Kabar duka datang dari pasangan selebritas Irish Bella dan Ammar Zoni yang kehilangan bayi kembar perempuannya pada Minggu, (6/10). Sebelumnya dikabarkan Bella memang sering mengalami pendarahan selama kehamilannya, dan berujung pada kematian janinnya di usia 26 minggu.

Belum jelas apa yang menyebabkan Ibel dan Ammar kehilangan kedua bayi yang sangat dinantikan itu. Yang jelas, mungkin saat ini banyak media yang mencoba mengonfirmasi penyebab kematian bayinya.

Dalam ranah psikologis, ada hal yang sebaiknya perlu diperhatikan oleh publik kebanyakan, meskipun kita paham bahwa Ibel dan Amar merupakan figur publik yang konsekuensinya adalah setiap ranah privatnya terkadang harus terenggut oleh konsumsi pasar.

Namun, membaca psikologis perempuan pasca-keguguran atau kehilangan anak yang dicintainya juga perlu diperhatikan bagi sebagian besar orang yang mungkin masih ‘kepo’ akan alasan di balik takdir Tuhan tersebut. Berikut penulis jabarkan di bawah ini:

Mengenal luka keguguran

Luka keguguran itu ada dua, yakni luka fisik dan psikis. Mungkin bagi perempuan yang pernah mengalami hal ini, luka fisik pasca-kuret atau pengobatan saat pendarahan atau keguguran dalam beberapa minggu sudah bisa pulih kembali, sambil menunggu periode menstruasi datang kembali. Namun luka psikis? Tidak semudah itu.

Mereka yang pernah mengalami trauma keguguran biasanya sering kali belum bisa menerima kenyataan tentang apa yang terjadi padanya. Pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul di kepala mereka adalah: “Kenapa Tuhan melakukan semua ini pada saya?”; “Kenapa harus saya?”; “Kenapa tidak saya saja yang diambil”; dan lain sebagainya.

Yang bahaya, luka ini makin menganga apabila ditambah “intimidasi halus” dari orang sekitar. “Coba kamu tidak terlalu capek kemarin” atau “Seharusnya kamu jangan capek-capek”, “Mungkin memang kandunganmu lemah”.  Stop berkata demikian!

Percayalah, setiap perempuan atau pasangan mana pun di dunia ini juga tidak mau ini menimpa kepadanya. Tapi mungkin kata kunci “kecapekan” dan “kandungan lemah” itu bukan jawaban dari rasa penasaranmu, justru akan makin mengintimidasi lukanya. 

Tidak ada rahim yang diciptakan lemah. Semua rahim kuat. Bahkan dalam Alquran menyebutkan bahwa rahim itu adalah tempat terkuat dan sebaik-baiknya yang diciptakan oleh Tuhan untuk umatNya.

Dan beberapa kali saya konsultasi dengan dokter kandungan yang membawa pengaruh positif dalam hidup saya mengatakan, tidak ada keguguran karena kecapekan, yang ada karena faktor medis tertentu, seperti janin tidak berkembang, infeksi penyakit tertentu, dan sebagainya.

Jadi, jangan biarkan dua kata kunci tersebut terucap saat kamu menjenguk atau bertanya seputar alasan kenapa dia bisa keguguran dan lain sebagainya.

Selalu menyalahkan diri sendiri secara terus-menerus

Tanpa kamu mengucapkan dua kata kunci itu pun perempuan yang mengalami trauma keguguran itu juga otomatis mengoreksi kesalahannya kenapa ini bisa terjadi. Banyak hal yang telah ia ambil pelajarannya dan lebih berhati-hati apabila kesempatan itu datang lagi.

Dari hasil koreksi dirinya itu, terkadang perempuan pasca-keguguran cenderung selalu menyalahkan dirinya sendiri secara terus-menerus. Bahkan ada yang mengalami trauma menahun, mencoba bunuh diri, atau menyuruh suaminya menikah lagi karena menganggap dia gagal memberikan keturunan. Ini biasanya terjadi pada perempuan yang belum pernah dikaruniai anak.

Mungkin bagi perempuan yang sudah mempunyai anak sebelumnya, trauma itu dengan mudah terlewatkan dengan fokus mengurus anak yang lain, dan dengan mudah berpikir positif: “Mungkin Tuhan menginginkan saya untuk fokus sama anak yang lain dulu”. Tapi tidak bagi perempuan yang sangat mengidamkan kehadirannya seorang anak.

Sindrom menyalahkan diri sendiri seperti “Andai saja saya kemarin tidak begini, begitu.. mungkin dia masih ada” itu terus yang selalu ada dalam perasaannya hingga ia bisa melewati fase kesedihannya.

Buat sebagian orang mungkin menganggap mereka sebagai orang yang imannya lemah atau sebagainya. Tapi percayalah, mereka yang kehilangan anak yang dicintai hanya perlu sebuah pelukan, pelukan dari Tuhan, orang terdekat yang berusaha meyakinkannya bahwa apa yang terjadi benar-benar murni kehendak Yang Maha Kuasa, bukan karena kesalahannya. 

Kesedihan, penyesalan tidak akan pernah mengembalikan apa yang telah hilang.

Cara Terbaik Menyembuhkan Trauma Keguguran

Tidak mudah menyembuhkan trauma keguguran seperti halnya menyembuhkan luka fisik keguguran. Butuh waktu cukup lama bahkan hingga kehamilan selanjutnya datang lagi. Namun siapa yang bisa menebak kehamilan datang lagi kalau bukan diri sendiri yang menyembuhkan trauma luka keguguran?

Ada banyak hal sebetulnya yang bisa dilakukan oleh para perempuan yang mengalami trauma keguguran. Yang pasti, mereka harus mulai membiasakan diri melupakan kejadian pahit yang dialaminya, dan itu harus didukung oleh orang-orang terdekatnya.

Mendekatkan diri pada Tuhan YME merupakan cara yang ampuh. Karena kehamilan, kelahiran, atau keguguran merupakan kehendakNya secara langsung. Sehingga memperbaiki hubungan dengan sang pencipta adalah solusi yang tepat untuk mengobati luka.

Yakinlah, setiap ketentuanNya selalu ada hikmah di balik ceritaNya. Mungkin setelah ini kamu dikaruniai sepasang anak kembar, mungkin Tuhan ganti kesedihanmu dengan kebahagian materiel atau non-materiel yang orang sekitarmu tidak dapatkan. Be a positive thinking-lah!

Cobalah fokus dengan hal-hal yang membuatmu lupa akan kesedihanmu. Salah satu yang paling ampuh adalah berpuasa medsos! Mungkin banyak kenangan yang sudah banyak terposting, atau kamu tidak sengaja melihat postingan beberapa teman, keluarga, dan kerabat yang mempostingkan kebahagiannya dengan dua garis atau anaknya yang lucu. Tentu ini akan mengingatkanmu pada dia. 

Tapi ini bukan salahmu atau teman-temanmu yang posting kebahagian, kan? Kamu cuma perlu rehat sejenak, menyingkir sejenak dari keramaian ke tempat yang lebih tenang, dan bisa membawamu ke dalam kedamaian untuk melupakan masalahmu. Cutilah sejenak dari kantor, berliburlah dengan suamimu ke tempat-tempat yang membuatmu bahagia dan jauh lebih tenang.

Tidak usah terburu-buru untuk program kembali, karena punya anak itu bukan perlombaan 17-an yang menentukan siapa yang berhasil duluan. Yakinlah, kalau sudah waktunya tiba, ia akan hadir menggenggam jarimu dengan jari mungilnya. Semangat!