Nama aslinya adalah Aristokles (abad 3 SM). Ia berasal dari keluarga Aristokrat (bangsawan). Mendapat julukan Platon, yang berarti bahunya yang lebar. Dalam literatur arab dibaca Aflatun, literatur Latin termasuk di Indonesia dikenal dengan Plato. 

Selain itu, dalam literatur-literatur filsafat, ia merupakan sosok besar, bukan hanya karena murid Sokrates dan guru dari Aristoteles, melainkan ide-idenya terus dikembangkan dalam tradisi filsafat Barat. 

Berwicara tentang Platon, memang beraneka macam tafsir. Itu dikarenakan buku-buku yang ia tulis tidak memiliki sebuah jawaban pasti, melainkan bersifat tawaran. Karya-karya Platon banyak, dan salah satu yang populer adalah Politeia. Berisikan kurikulum pendidikan politik.

Konsepsi Ideologi

Kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata ideologi. Ideologi negara, ideologi bangsa, ideologi manusia, dan lainnya. Tentang ideologi, sering kali menimbulkan sikap pesimis, dengan mengumandangkan bahwa dirinya tidak berideologi, karena ideologi dianggap berbahaya. Jika begitu, akan lebih menarik ketika kita memunculkan pertanyaan, apa itu ideologi?

Umumnya, saat kita membaca buku-buku tentang ideologi, kita akan diarahkan kepada Platon. Tentunya, dialah penggagas konsepsi ideologi. 

Ideologi terbagi menjadi dua kata (ide dan logos). Platon memperkenalkan ide sebagai realitas pengetahuan. Maksudnya, meskipun pengetahuan ada dua, yang tampak (realita) dan yang ide (rasio), namun pengetahuan yang sejati adalah yang dari akal pikiran, alam ide.

Misalnya, kita tahu bahwa roda itu bundar, bundar bukan karena dari kenampakannya itu bundar, melainkan rasio yang mengatakannya. Atau dapat dikatakan rasio yang berbicara terlebih dulu. Konsep seperti ini menjadi cikal bakal dalam epistemologi Rasionalisme. 

Hal itu juga menunjukkan bahwa ide adalah gagasan. Gagasan mengatakan roda itu bundar. Lalu, jika kita berkaca ke perkembangan zaman, dari Yunani Kuno ke Kontemporer, maka akan ditemukan pengertian-pengertian apa itu ideologi. Hanya saja, secara umum ideologi adalah kumpulan ide, gagasan, yang sudah dirumus dan dibentuk.

Zaman terus berubah, manusia pun berubah, begitu pula dengan ideologi. Ia berubah mengikuti perkembangan masa, dan tidak terkecuali struktur masyarakat yang ada. Adanya ideologi sebab ada sebuah visi, sebuah angan-angan atau tujuan untuk ke depannya. Mulai dari ideologi yang lebih setara (feminisme), lebih sejahtera (sosialisme), lebih kaya (kapitalisme), lebih senang (hedonisme), dan banyak ideologi lainnya.

Lantas, mengapa kadang orang pesimis dengan ideologi? Bukankah kalau ia tidak berideologi, maka ia tidak punya pikiran dan ide untuk menghadapi zaman dan masyarakat? Di sini perlu diperhatikan pentingnya kata “ideologi”. 

Sebuah ideologi akan berbahaya jika itu merusak populasi manusia. Baik populasi yang bersifat nyata (tubuh), ataupun yang metafisik (akal, spiritual). Tentunya, jika ditelisik, akar Radikalisme pun sebenarnya berasal dari pemahaman ekstrim mengenai sebuah Ideologi. 

Terkait akan hal itu, jika seorang terjebak dengan oposisi biner (benar-salah), maka sikap pesimis akan selalu menyertai. Kalau ideologi ini salah, kalau ideologi ini benar. Untuk itu, perlu sebuah kritisisasi, bahwa benar dan salah saling terhubung, bukan saling menjatuhkan. 

Kritik di sini bukan berarti menyalahkan, akan tetapi berarti menilai dan mempertanyakan. Jika ideologi itu berbahaya, dan hanya untuk kepentingan memihak, maka ia perlu digugat. Sebab, tidak jarang orang memainkan kata, bermain ideologi, untuk menjebak dan menguasai orang lain.

Pendidikan Model Platon

Platon yang notabenya dari keluarga bangsawan, justru lebih memilih filsafat daripada demokrasi. Demokrasi pada masa Platon, adalah sistem dengan kebebasan yang keblablasan. Dampak dari itu, Sokrates dihukum mati dengan cara meminum racun. Sokrates dituduh dengan tuduhan ikut rezim tirani. 

Mulai dari itu, Platon lebih memilih dunia filsafat, utamanya tentang pendidikan. Platon sadar, bahwa dengan pendidikanlah ia dapat melihat orang bijak seperti Sokrates bukan hanya memiliki hak hidup, melainkan punya tempat yang layak dan dihargai. 

Platon hendaknya memberi saran kepada kita bahwa seorang yang terjun ke dalam politik harus dilatih dalam filsafat. Dengan artian jjka kelak ia menjadi penguasa harus bijak. 

Berkaitan tentang pendidikan yang diusung Platon, ia mendirikan Akademia. Tempat bagi siapa saja yang mau mendalami filsafat secara gratis. Tentunya, pendidikan seperti itu dapat menjadi inspirasi. Bahwa bukan masalah uang, melainkan pentingnya sebuah pendidikan. 

Kurikulum yang digunakan Platon tentunya menarik. Ia mengedepankan sisi moral, kebaikan, keugaharian, dan hal-hal yang bijak cinta kasih. 

Berkaca dari itu, ini bisa jadi tawaran bagi pendidikan di Indonesia. Mengenai pentingnya pendidikan model kasih sayang. Dalam artian, pendidikan seperti sekolah dan perkuliahan sudah sepatutnya mengedepankan moralisme. 

Memang ada benarnya jika pendidikan model pintar dan cerdas itu penting. Namun juga, perlu diperhatikan jika pintar tanpa moral, ia dapat menciptakan benih-benih logika pasar. Dalam arti, maju tidak gentar membela yang bayar (logika untung-rugi). 

Kiranya, belajar dari Platon kita hendak diajak untuk merefleksi ideologi dan pendidikan. Dengan cara merawat dan melatih jiwa yang ugahari. Hal itu sudah semestinya dibiasakan. Tulisan seperti ini pun mungkin tidak dapat menghilangkan ideologi Radikalisme dan arus logika pasar. Namun, setidaknya kita tahu pentingnya cinta akan kebaikan dan kebijaksanaan. Semoga bermanfaat.