Memahami persoalan tanah dan lingkungan dengan medium fotografi memang bukan praktik yang gampang. Jarangnya pengembangan media yang digunakan untuk memahami persoalan semacam itu menjadikan proses yang lama untuk mulai mengembangkannya ke ranah fotografi. 

Namun jika fotografi bisa mengungkap hal-hal yang sulit diungkapkan, maka fotografi menjadi sebuah solusi baru dalam persoalan untuk menjelaskan dan mengungkap ke khalayak luas. Munculnya fotografi sebagai media untuk menyampaikan persoalan juga menjadi hal yang perlahan juga akan cepat diterima khalayak luas.

Pertanyaan bagaimana narasi dalam foto yang ingin disampaikan ke khalayak mampu diterima dengan baik atau tidak. Apakah menjadi solusi atau tidak jika esai foto dihadirkan ke khalayak umum. Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika itu dilakukan secara bertahap dan konsisten. Dilakukan bersama juga akan lebih mempermudah hal tersebut untuk diwujudkan bersama.

Kota Pekanbaru menjadi salah satu pilihan kota yang didatangi dalam rangkaian kegiatan Arkademy Project bersama WRI Indonesia dan Vice Indonesia. Kegiatan membaca persoalan "Tentang Tanah" melalui medium fotografi. Saya adalah salah satu dari 10 peserta yang lolos seleksi untuk ikut dalam rangkaian kegiatan. Mulai dari pengenalan dan materi-materi terkait fotografi kritis.

Di mana dengan materi fotografi kritis dipahami secara mendalam. Membantu para fotografer yang akan menjalankan proyek ini, makin detail dan bisa membaca hal-hal sederhana yang nantinya narasi itu muncul dalam foto yang akan dipresentasikan pada hari terakhir pelatihan ini. 

Ini adalah rangkaian yang panjang tapi terasa singkat. Setelah penyampaian materi terkait. Kemudian para peserta menyampaikan gagasan atau ide masing-masing terkait tema tentang tanah tersebut.

Ide-ide tersebut menjadi informasi yang sangat baru dan beragam tentang isu tanah dalam kota maupun daerah. Keterkaitannya dengan kehidupan manusia juga termasuk di dalamnya. Tidak hanya tentang tanah saja, tapi banyak pengaruh lain yang saling berhubungan dalam keseharian.

Salah satunya permasalahan tanah di tepian sungai siak, Pekanbaru, Riau. Tidak ada yang bisa menolak pembangunan kota hingga ke tepian. Bagaimana permasalahan itu bisa kita kaitkan dengan kehidupan masyarakat yang bertumpu hidup sebagai nelayan. 

Tentang kehidupan mereka selanjutnya. Apa solusinya hingga saat ini, apa membantu kehidupan jadi lebih baik atau malah memburuk. Banyak argumen yang tidak bisa mereka sampaikan.

Hal itulah yang akhirnya menarik untuk diangkat melalui medium fotografi. Bagaimana harapan mereka bisa disampaikan dan didengarkan. Foto juga bisa menjadi dokumentasi jika nantinya kehidupan mereka tetap sama dan tidak ada perubahan atas permasalahan tanah seperti itu. Fotografi juga bisa sebagai penyampai pesan.

Namun, bagaimana pesan dalam foto itu bisa sampai kepada orang-orang yang melihatnya. Pemahaman literasi di sini tentu berguna untuk memahami hal tersebut. Literasi visual, sejauh apa pemahaman untuk memahami dan membaca visual. Dalam hal ini berupa foto. Literasi visual dalam fotografi. Sama saja dengan literasi pada umumnya, kita harus mampu membaca dan menulis dengan baik.

Dengan pengalaman membaca visual yang baik, tentu memahami makna yang ada dalam foto itu juga baik dan banyak makna yang akan kita pahami. Saya kaitkan kembali saat perkuliahan fotografi. 

Saya dan teman-teman di kampus hanya mempelajari seputar sejarah fotografi itu sendiri dan bagian-bagian dalam foto jurnalistik. Dan saya pikir bahwa fotografi kritis seharusnya juga diterapkan menjadi bagian pembelajaran, agar mahasiswa-mahasiswa komunikasi juga semakin kritis dalam melihat keadaan sekitar dan lingkungan dimana mereka berada.

Belajar untuk peka dan peduli dengan sekitar kemudian menuangkan cerita itu lewat visual. “Literasi visual mampu membangun wacana, menciptakan perubahan dan membentuk sejarah modern”, Taufan Wijaya dalam buku Literasi Visual.

Tapi apakah dengan minimnya literasi visual itu mempengaruhi hal-hal lain diluar bidang. Perihal permasalahan tentang tanah dengan kehidupan masyarakat. Atau kurang berkembangnya literasi visual di Indonesia juga karena aspek minimnya budaya literasi dalam membaca dan menulis juga. Beberapa aspek dan faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat di Indonesia terutama para mahasiswa terlihat tidak ingin merasakan kerumitan untuk memahami bidang-bidang perkuliahan. Sering kali, hal tersebut banyak mengajarkan makna baru. Dan di beberapa negara lain sudah jauh maju membahas hal-hal seperti fotografi kritis salah satunya.

Banyak persoalan terkait dengan masyarakat yang seharusnya jadi pembahasan panjang. Terkait medium fotografi yang digunakan. Salah satu solusi untuk media menyampaikan pesan bisa terwujud. Lebih banyak lagi masyarakat yang semakin kritis dengan masalah yang ada. Akan semakin banyak juga harapan yang terwujud nantinya.

Bukan tidak mungkin untuk menjadikan hal semacam itu untuk media pembelajaran baru, dalam pengembangan pengetahuan. Pada akhirnya banyak mahasiswa punya keinginan untuk mengembangkan pengetahuan. Hanya saja fasilitas kurang mampu memadai untuk mereka di akademis. 

Mungkin dengan adanya workshop atau pelatihan tentang fotografi seperti yang saya ikuti, bisa menjadi jembatan untuk mahasiswa-mahasiswa juga masyarakat lebih paham dan mengikuti perkembangan untuk lebih maju.