Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat sudah mencapai 1,2 juta orang pekerja yang dirumahkan atau korban pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak dari pandemi COVID-19 (law-justice.co). Sebuah angka yang tidak bisa dibilang kecil. Belum lagi, masalah 30 ribu tahanan yang dibebaskan juga berpotensi menambah carut-marut keadaan tersebut.

Menilik permasalahan tersebut, ada unggahan yang menarik dari akun Instagram jualan.buku.sejarah. “Bertahun-tahun kami bekerja menguntungkan perusahaan. Giliran wabah menyerang, kami di-PHK,” begitu tulisnya.

Itu pernyataan yang sangat menggelitik sekaligus sebagai bukti bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanyalah isapan jempol. Bagaimana tidak, virus corona ini, belum genap 5 bulan secara global, membuat perusahaan-perusahaan telah merasa begitu darurat. Sampai terbitlah wacana keringanan tunjangan hari raya (THR). Secara implementasi sederhana, ini jelas bukan cerminan sila ke-5 Pancasila.

Kita semua tahu ada masalah di sektor ekonomi. Bila perusahaan menjerit, otomatis juga pegawainya. Semua terdampak tanpa terkecuali. Tetapi, perlu diyakini bahwa jalan tengah selalu ada, dan harapan bukan barang dagangan kemarin sore yang cepat habis.

Seperti yang dinyatakan akun Instagram jualan.buku.sejarah, keuntungan yang diperoleh perusahaan selama ini cukup berlimpah. Bertahun-tahun keringat buruh diperas dan dijual demi mereka (pengusaha). Saat ada bencana global yang belum genap 5 bulan ini, buruh seakan dijadikan tumbal. Betapa tidak adilnya langkah PHK ini.

Saya jadi teringat buku Alexander Berkman (2018) “Apa itu Anarkisme Komunis?”. Buku itu menjelaskan seluk beluk ketidakadilan dalam konsep kapitalisasi. Mulai dari apa itu upah, hukum dan pemerintah, sistem bekerja, pengangguran, keadilan, serikat buruh, sosialisme, revolusi, anarkisme, produksi, konsumsi, hingga pertanahan revolusi. Saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai buku propaganda bagi buruh.

Lebih rinci dari itu, dijelaskan bahwa pengangguran memang sengaja diciptakan sebagai upaya keberlangsungan kekuasaan. Asal kita ketahui, buku tersebut menjelaskan bahwa pengangguran sebenarnya tidak pernah ada. Kapitalis yang menciptakannya sendiri. Dan itulah yang sebenarnya menjadi kekuatan terbesarnya setelah modal.

Peran Pengangguran

Apa yang paling lebih menakutkan dari pemotongan upah dan penghinaan yang dialami kaum buruh? Ialah pemecatan (PHK). Banyak beberapa kasus, buruh rela gajinya dipotong hingga beberapa lapisan, dan dimarahi setiap hari karena kesalahan kecil, dihujat, disalahkan, dan lain sebagainya. Semua itu diterima buruh asal mereka masih bisa bekerja.

Begitulah alasan klasiknya. Mereka tidak ingin dipecat sekaligus tidak bisa melawan karena anak dan keluarga butuh biaya hidup. Demi itu semua, harga diri dan kesejahteraannya dilucuti dan dijadikan sapi perah. PHK memang telah menjadi bayangan yang menakutkan, dan yang membuat itu tidak lain adalah para bos (kapitalis).

Suatu contoh, ada perusahaan sepatu. Perusahaan tersebut (A) mendapat pesanan sepatu 100 buah, otomatis juga membutuhkan pegawai. Lalu, perusahaan A membuka lowongan pekerjaan. Saat membuka lowongan pekerjaan inilah siasat licik pemodal berjalan.

Harusnya, atas dasar keadilan dan kesejahteraan bersama, perusahaan A membutuhkan banyak pegawai agar pesanan lebih cepat selesai dan juga bakal banyak orang yang mendapat upah. Patut diketahui dalam poin ini bahwa sebenarnya pekerja dan pengusaha ialah dua subjek yang saling membutuhkan, tidak ada istilah siapa yang lebih membutuhkan.

Tapi, perusahaan A tidak akan melakukan itu. Yang ada di pikiran mereka, mengerjakan karyawan banyak adalah langkah yang fatal. Bukan hanya masalah untung dan rugi semata, ternyata bagi mereka pengangguran dibutuhkan dalam kekuasaan jangka panjang yang luar biasa. Itu merupakan keuntungan inti atas semuanya.

Pekerjaan 100 buah sepatu itu pun akhirnya hanya dikerjakan oleh beberapa pegawai (yang padahal bisa dikerjakan oleh banyak pegawai). Hasilnya, banyak orang yang menganggur ketimbang bekerja. Dari sinilah sumber ketakberdayaan buruh.

Pengangguran di mata pemodal adalah aset berharga. Bahkan peran mereka harus dipelihara sebaik mungkin. Sebab, pengangguran itulah yang menjadikan pemodal (perusahaan A) mempunyai kuasa besar yang panjang.

Dampak atas hal itu, para pekerja terpilih akan memberi ancaman dan ketakutan pada dirinya sendiri ataupun sesamanya. Kecemasan dan ketakutan itu menular. Dan itu yang diharapkan perusahaan. Karena dengan itu, keuntungan akan terus didapat.

Ketakutan terhadap pengangguran membuat para pekerja rela dicambuk, diperintah, ditundukkan, dan dilucuti kesejahteraannya. Penerimaan pegawai yang sengaja dibatasi yang menciptakan itu semua. Jiwa bebas buruh benar-benar luntur. Hal ini semacam kuasa bayangan yang mengerikan, menghantui buruh sepanjang waktu.

Dari ilustrasi tersebut sudah jelas terlihat bahwa begitulah nasib buruh. Saking banyaknya pengangguran dan kemiskinan, mereka tak memiliki banyak pilihan kecuali takut menganggur. 

Bahkan Bank Dunia pada akhir Januari 2020 mengatakan 115 juta masyarakat Indonesia rentan kembali miskin. Sekarang segalanya makin mengarah ke sana, dan pastinya buruh berada di garis terdepan dalam angka tersebut.

Buruh tahu, tapi tetap melakukannya.

Ada bayangan ketakutan yang tercipta dalam diri buruh. Sehingga, mereka tunduk pada aturan yang secara sadar mereka ketahui ada ketidakadilan. Persis seperti yang dikatakan R Setiawan (2017) dalam buku Zizek, Subjek, dan Sastra, “...dulu orang melakukannya karena tidak mengetahui; sekarang, orang-orang melakukannya padahal mereka mengetahui.”

Begitulah buruh. Sejatinya mereka tahu bahwa dirinya sedang tidak sejahtera, tidak bebas, tidak bisa berkembang, dan tidak bisa hidup tenang. Ada gangguan nyata perihal keadilan yang dirasakannya. 

Buruh tahu apa penyebab masalahnya. Buruh juga tahu, dunianya sedang tidak baik-baik saja. Tapi, mereka semua tidak berdaya. Mereka tetap saja melakukannya sekalipun mereka mengetahui. Keadaan semacam itu sedang menjadi “wabah sikap” global dewasa ini (termasuk kita).

Dalam ulasan lanjutan R Setiawan, dikatakan bahwa keparadoksan semacam itu harus dihentikan melalui praktik atau gerakan yang nyata. Selama wacana dibalas dengan wacana, yang ada hanya belenggu tatanan simbolik yang akut. Itu akan terus bergulir bak lingkaran setan. Dan gerakan yang nyata untuk itu ialah kaum buruh, bersatulah!

Kesadaran Revolusi

Revolusi tercipta ketika ada kesadaran dan keberanian melawan. Buruh harus disadarkan terlebih dahulu, bahwa selama ini mereka tak ubahnya seperti sapi perah pemodal.

Semboyan komunis (Marx), Kaum buruh, bersatulah!, tampaknya perlu ditanamkan serius dalam pelajaran magang perusahaan. Filosofis semboyan tersebut sangat menyiratkan akan persatuan kekuatan dan pikiran. 

Jadi, buruh yang sudah bekerja, yang belum bekerja, maupun yang masih kuliah, harus benar-benar bersatu bulatkan tekad dan suara (kaum buruh bersatulah). Mereka harus yakin bahwa sebenarnya pekerja dan pengusaha ialah dua subjek yang saling membutuhkan, tidak ada istilah siapa yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, gerakan kekuatan baru yang sangat besar memungkinkan pemodal mengadakan dialog baru.

Musuh utama mereka (pemodal) akan berpikir seratus kali untuk menolak dialog tersebut. Karena kaum pengangguran yang menjadi kuasa bayang selama ini sudah sepakat untuk melawan. 

Kunci utamanya, semua elemen buruh harus turut serta bergerak. Selama tidak ada kesadaran penderitaan bersama dari buruh itu sendiri, perbaikan kualitas buruh dan kesejahteraan mustahil terwujud. Terlepas dari itu semua, harapan selalu ada.