Barangkali sekolah Frankfurt tidak setenar Academia di Yunani. Al-Azhar di Mesir. Siena di Italia, hingga Oxford yang bertempat di Inggris, dan merupakan universitas nomor wahid di dunia menurut (Times Higher Educatio) yang banyak dijadikan tujuan-rujukan bagi para kaum intelektual tanah air masa kini.

Dibandingkan dengan deretan nama-nama universitas/sekolah populer di atas. Sekolah Frankfurt terhitung masih belum seberapa, begitu juga dengan pemikirannya. Sekolah Frankfurt sendiri memang hadir belakang dan baru mulai dirintis sekitar awal abad ke 20 atau sekitar tahun 1920-an. Sehingga wajar jika sekolah Frankfurt masih belum dikenali dan disentuh khalayak luas dan apa lagi jika dijadikan rujukan.

Perintis atau pelopor utama sekolah Frankfurt tidak terlepas dari sosok Felix Jose Weil, seorang sarjana ilmu politik (bersama Ayahnya selaku saudagar kaya yang banyak memberi sumbangsi materi) untuk mendirikan sekolah Frankfurt/Main di Jerman yang mulanya berpusat sebagai Institut for Social Research (institut penelitian sosial).

Di tangan Weil, kehadiran sekolah Frankfurt bertujuan menghimpun tokoh-tokoh intelektual kiri untuk menyegarkan kembali ajaran Karl Marx. Penyegaran yang dimaksud Weil adalah "mencerminkan keilmiahan Marxisme dan berdiri sebagai sarjana yang independen."

Tujuan Weil pun berjalan dengan cukup mudah, ia berhasil menghimpun beberapa tokoh intelektual di zamannya yang sering disebut-sebut sebagai angkatan pertama Sekolah Frankfurt. Beberapa di antaranya adalah Friedrick Pollock, Herbert Marcus, Erick Fromm, Welter Benjamin, Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer yang setelah satu dekade berikutnya diangkat sebagai direktur utama sekolah Frankfurt atau tepat pada tahun 1931.

Diangkatnya Max Horkheimer sebagai direktur utama dianggap sebagai zaman keemasan bagi sekolah Frankfurt. Dari Horkheimer-lah (dan juga Theodor W. Adorno), sekolah Frankfurt mulai diperhitungkan. Horkheimer banyak melakukan reformulasi dan salah satunya adalah dengan memasukan ajaran Freud (psikoanalisa) ke dalam pemikiran sekolah Frankfurt untuk membaca peta-dinamika masyarakat pada zamannya.

Secara historis mazhab sekolah Frankfurt memanglah bertitik pangkal pada ajaran Karl Marx. Namun sekolah Frankfurt tidak ingin membebek begitu saja atau menjiplak hasil-hasil analisa Marx, lalu menerapkannya begitu saja pada masyarakat seperti kebanyakan para pengikut Marx. Sekolah Frankfurt yang juga sering disebut "sosiologi kritis", hendak meletakkan pemikirannya pada maksud dasar Marx atau singkatnya mereka ingin ajaran Marx yang otentik. Yakni: "pembebasan manusia dari segala belenggu, penghisapan dan penindasan."

Perlu diketengahkan, bahwa perjumpaan pertama Horkheimer dengan filsafat bukanlah Heggel atau Marx. Melainkan filsuf kemanusiaan yang pesimistis itu bernama Arthur  Schopenhauer -- yang juga digandrungi oleh Nietzsche muda kala itu -- dengan judul buku "Aphorisms on the Wisdom of Life" (Peribahasa tentang kebijaksanaan kehidupan) yang dihadiahkan Pollock kepadanya. Maka itulah perjalanan filsafat Horkheimer dan juga sekolah Frankfurt beriringan dengan pandangan kemanusiaan.

Selain meletakkan pemikiran mereka (sekolah Frankfurt) pada maksud dasar ajaran Karl Marx. Kemunculan sekolah Frankfurt atau bilamana pemikiran Horkheimer dkk mulai disentuh dan dijadikan rujukan oleh mahasiswa di Jerman dan termasuk di Indonesia hari ini, tidak terlepas dari Teori Kritisnya atau Teori Kritis Masyarakat yang bertujuan membebaskan manusia dari perbudakan. 

Teori kritis adalah teori yang berupaya memberikan kesadaran utuh pada manusia atau membebaskan masyarakat dari keirasionalan. Keirasionalan yang dimaksud adalah dengan lahirnya masyarakat industri baru atau industrialisasi yang berkembang pesat di Eropa sejak awal abad ke 19 yang, "mendasarkan" segala sesuatu pada nilai tukar atau dengan jelas "melanggengkan" sistem kerja yang berbasis pada nilai tukar.

Teori Kritis juga menegaskan bahwa masyarakat industri baru bersifat Tertutup dan Total: “Tertutup karena tidak mengizinkan usaha-usaha untuk membuka dan mempersoalkan, dalam artian; orang dalam setiap situasi dan hal apa pun, mau tak mau harus mengikuti hukum dan aturan main sistem. Dan total, sebab semua segi kehidupan individual maupun sosial, ditentukan oleh masyarakat itu sendiri.”

Selain itu, masyarakat industri baru juga sering dipresentasikan sebagai kemajuan atau pencapaian dalam  cakupan kemampuan rasionalitas manusia, yang berarti manusia telah berhasil menggeser pemahaman tentang mitos-mitos dan hal-hal irasional lainnya. Pendeknya, industrialisasi merupakan representatif dari manusia modern yang telah meninggalkan alam manusia primitif.

Maka, Teori Kritis yang bisa dikatakan sebagai antitesis dari masyarakat industri baru pada masa modern ini. Berusaha untuk menyadarkan atau merasionalisasikan kepada manusia-masyarakat, khususnya masyarakat industri baru yang melandaskan segala sesuatu pada nilai tukar dan akhirnya buntut pada klaim kemajuan atau pencapaian. Padahal justru terbelenggu dalam kemajuan semu.

Bagi Horkheimer Sistem nilai tukar dan klaim kemajuan oleh masyarakat industri baru, disebabkan  "distingsi" yang mendasar pada Akal Budi manusia. Distingsi tersebut adalah Akal Budi Subjektif atau Instrumentalis dan Akal Budi Objektif.

Berikut Pengertian Akal Budi Subjektif dan Akal Budi Objektif

Dalam hemat pemahaman penulis, Akal Budi Subjektif adalah pemahaman yang berkorelasi dengan ajaran Pelestarian Diri. Ajaran Pelestarian diri yang domainnya merujuk pada Akal Budi yang semata-mata digunakan sebagai alat, sarana atau instrumen untuk kepentingan tertentu, dalam arti subjektif atau secara individual. Akal Budi Subjektif juga lebih menekankan "cara daripada tujuan", sebab ia selalu menimbang segala sesuatu yang membuahkan manfaat atau guna untuk dirinya.

Sedangkan, Akal Budi Objektif yang merupakan kebalikan dari Akal Budi Subjektif, adalah Akal Budi yang bersifat universal, terutama meliputi hubungan antara satu manusia dengan yang lainnya. Dengan kata lain, Akal Budi Objektif bukan hanya milik satu golongan, melainkan milik semua golongan yang saling terhubung satu sama lain. Selain itu, Akal Budi Objektif juga lebih menitikberatkan "tujuan daripada cara", sehingga ia tidak selalu menimbang segala sesuatu atau hanya sebagai sarana demi membuahkan guna untuk mempertahankan dirinya.

Melalui kritik perbedaan Akal Budi Subjektif dan Akal Budi Objektif dari pemikiran Horkheimer yang sangat luas dan mendalam. Sedikitnya bisa dikategorikan bahwa kecenderungan masyarakat industri baru lebih menitikberatkan cara-cara apa saja untuk mempertahankan dirinya atau dengan kata lain, masyarakat industri lebih berpusat pada Akal Budi Subjektif.

Tidak hanya kritikan terhadap Akal Budi manusia. Horkheimer juga semacam "mengafirmasi" bahwa lahirnya masyarakat industri baru di Eropa tidak terlepas dari Aufklarung.

Aufklarung atau Pencerahan adalah istilah yang muncul sekitar awal abad ke 18, yang semula itu diawali dari revolusi Prancis hingga revolusi industri di Inggris. Pencerahan sejatinya adalah usaha manusia dalam mencapai pengertian rasional. 

Pencerahan juga dianggap sebagai zaman ketika manusia mulai gandrung menggunakan Akal Budinya. Dan dari sanalah, adagium-nya yang paling tersohor itu bergema, yakni "Sapere Aude" atau Hendaklah Anda Berani Berpikir Sendiri!

Dengan demikian, dari usaha Horkheimer (dan juga sekolah Frankfurt) untuk menyadarkan dan merasionalisasikan masyarakat industri baru yang terbelenggu dalam kemajuan semu. Dalam pandangan yang subjektif, adalah bentuk keyakinan terhadap pencerahan itu sendiri atau bagaimana manusia menggunakan Akal Budinya. Sebab, pencerahan dalam pengertian yang lebih luas -- selain usaha manusia dalam mencapai pengertian rasional --  "adalah mengajak manusia untuk bebas." 


Tabik


Khadafi Moehamad

Gorontalo


Referensi:

1. Dilema Usaha Manusia Rasional: Teori Kritis Sekolah Frankfurt. (Dr. Gabriel Possenti Shindunata)

2. Dialektika Aufkalrung (Penerjemah: Ahmad Sahidan Dkk)

Sumber Lukisan: Sejarah Perbudakan-Kompasiana.Com