Di sebuah rumah, tiga orang anak sibuk menata tempat cuci tangan, mengatur posisi duduk, dan menyambut bapak mereka yang membawa sebuntal berkat dari hajatan tetangga. Sementara sang ibu membuka sekaligus membagi porsi berkat, anak-anak dan bapak telah selesai mencuci tangan.

Tangan para anak itu terlihat sudah tak sabar meraup nasi beserta lauk menggiurkan dialasi daun jati yang juga sebagai pembuntal berkat. Sang ibu sekali lagi membagi satu telur rebus yang menjadi lauk utama, mengirisnya empat bagian.

Gumaman doa yang dipimpin oleh sang bapak seketika terbawa angin berganti dengan bunyi gesekan butiran nasi dengan tulang daun. Mereka makan dengan amat nikmat, sesekali bercanda dan saling mengobrol.

Acara makan itu berakhir ketika daun jati telah tampak sepenuhnya, tidak tertutup butir-butir nasi lagi. Mereka mengucap syukur dan beranjak membersihkan lesehan tempat makan.

***

Saya kira hampir semua orang pernah mendengar kata berkat atau bahkan mengenalnya dengan sangat? Di desa, sering diadakan hajatan yang mengumpulkan beberapa orang untuk berdoa bersama yang dipimpin oleh seorang modin.

Orang yang punya hajat akan menyuguhkan hidangan berupa makanan berat dengan lauk pauk lengkap. Uniknya, hidangan ini tidak dimakan di tempat, tetapi dibawa pulang sehingga dinamakan berkat. Dalam kata lain, berkat dapat diartikan sebagai oleh-oleh dari orang yang punya hajat.

Di desa saya, umumnya yang menghadiri hajatan adalah para bapak. Namun, para ibu pun juga suatu waktu menghadirinya. Perbedaannya terletak pada tema hajatan (para ibu biasanya menghadiri hajatan kelahiran bayi).

Hajatan juga dilakukan dengan relativitas waktu. Akan tetapi, waktu yang paling sering diadakan hajatan ada di bulan Syakban. Ini karena di bulan tersebut banyak hajat yang diharapkan terkabul. Makanya, ketika para tamu yang berdoa akan pulang pasti mengucap “kabul kajate” (semoga terkabul hajatnya).

Hampir setiap sore di satu bulan itu ada saja undangan hajatan ke rumah tetangga. Dalam satu sore itu pun undangan bisa lebih dari dua kali di rumah yang berbeda. Pengalaman kakek saya sendiri pernah mendapat undangan hajatan empat sekaligus. Sementara itu, waktu hajatan biasanya dimulai habis maghrib sampai waktu isya tiba. Jadi jika mendapat panggilan lebih dari satu, bisa dikatakan sebagai berkatan tour, hehe. 

Fenomena berkatan ini sesungguhnya merupakan momentum berharga. Apalagi bagi para ibu, dengan datangnya berkat mereka tidak perlu memasak di sore hari dan bisa menghemat pengeluaran, kenapa? Berkat dengan porsi banyak terkadang tidak habis dimakan oleh anggota keluarga sehingga nasinya dikumpulkan untuk digoreng keesokan paginya.

Strateginya, lauk atau yang biasa disebut bumbu campur (ada mi, tempe orek, telur/suwiran ayam, oseng daun ketela) dipisahkan dari nasi agar nasi tidak basi. Kuantitas bumbu yang terbilang hanya sepincuk itu biasanya malah sudah habis duluan karena digado. Saking nikmatnya gitu, terutama bumbu urapnya, beuh! Sungguh berkat yang berkah.

Menariknya, ada satu fakta yang baru saya sadari beberapa waktu lalu. Saya sebagai penyintas waktu dari berkat dulu ke sekarang agak terkejut juga saat mengetahuinya. Bagi saya, pembaruan ini menjadi parameter sosial masyarakat desa saya. Hm, untuk informasi juga desa saya terletak di ujung Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang masih kental dengan adat berkatannya.

Parameter itu terletak pada bumbu yang digunakan. Seperti yang saya sebutkan tadi (bumbu urap, tempe orek) merupakan bumbu opsional; menyesuaikan hajatan apa yang mau diadakan. Namun, ada satu lauk yang terbilang wajib, lauk utama. 

Dulu, suwiran ayam menempati posisi sebagai lauk utama. Sekarang, ia telah bertransformasi menjadi telur rebus. Ini menandakan berubahnya kadar sosial. Kalau diibaratkan, dengan tidak menurunkan kadar kelezatannya, suwiran ayam itu tidak seberapa dibanding satu butir telur rebus utuh. Setujulah ....

Bahkan varian baru, seperti ikan bandeng utuh perlahan-lahan mulai menggeser kedudukan telur rebus. Meskipun memang masih sangat jarang dijumpai ikan bandeng karena hanya beberapa keluarga yang menggunakannya. 

Kemunculan ikan bandeng itu pun menandai terbentuknya kembali babak baru kasta sosial. Namun, ya bagaimana, itu hak seseorang untuk menyuguhkan berkat secara maksimal sesuai kemampuannya.

Parameter sosial dari peristiwa bergesernya suwiran ayam itu, artinya masyarakat desa saya sudah mengalami peningkatan taraf hidup. Selain itu, mereka juga lebih eksis terhadap kebutuhan sekitar. 

Paradigma dari kebutuhan itu misalnya, keluarga yang beranggotakan bapak, ibu, dan tiga anak akan lebih puas mana: satu telur rebus atau satu suwiran ayam sebagai lauk makan? Di samping itu, lebih ringkas mana proses pengolahannya dilihat dari segi waktu dan kebutuhan target?

Akan tetapi, ada kecenderungan lain, lo. Apa parameter sosial ini memang benar menyeluruh? Ataukah hanya menganut umumnya yang ada? Mungkin untuk gambaran singkat, masyarakat di desa sering kali ikut apa yang menjadi masifnya lingkungan.

Jadi, saat lauk utama berkat diganti dengan telur rebus, ada kemungkinan lain bahwa ini hanyalah sebagai pengarus utamaan popularitas lingkungan. Kata nenek saya, memang sekarang telur rebus menjadi musim warga desa. Ini mengakibatkan sudah tidak zamannya pakai suwiran ayam lagi. 

Itu artinya, bisa saja besok telur rebus dengan cepat akan dilengserkan dengan ikan bandeng, ikan bandeng dengan steak, seterusnya dan seterusnya.

Sangat memungkinkan juga adanya keterpaksaan. Tidak menyangkal pula, harga telur sewaktu-waktu bisa mahal. Bila mengikuti ego, malah menjadi beban orang yang punya hajat. 

Namun, setidaknya kita dapat bersyukur akan perubahan ini. Ya begitulah, semoga saja perubahan-perubahan sosial bisa terbentuk secara komprehensif dan semakin membuat sejahtera.