2 minggu lalu · 106 view · 4 min baca menit baca · Buku 88365_96774.jpg
http://news.unair.ac.id/2019/01/22/menjalani-hidup-dengan-bersikap-bodo-amat-2/

Membaca Mark Manson

Membaca Mark Manson. Ah, akhirnya ada yang membahas makna nilai dengan begitu dalam dan jenaka. Meski baru sampai separuh halaman, keinginan untuk membagikan beberapa hal dalam tulisan sudah menderu begitu kuat. Buku ini menarik.

Tentang nilai atau values. Sebagian orang masa bodoh tentang ini dan sisanya pernah meluangkan waktu untuk mencari tahu “miliknya”, hingga mempertahankannya mati-matian. Jika ada yang masih asing tentang apa itu nilai, mungkin cara kerjanya agak mirip dengan “prinsip”. Atau “keyakinan”. Ia adalah seperangkat ide dalam benak/pikiran yang memuat pertimbangan tentang apa yang benar, yang salah, ataupun apapun yang diinginkan.

Nilai selalu ada dalam diri manusia. Tetapi seperti yang telah disinggung di awal, ada beberapa yang tidak menyadari nilai-nya karena ia tidak peduli. Nilai juga tidak hadir tiba-tiba atau bisa dimunculkan begitu saja sesuai keinginan. Ia membibit dalam diri setiap individu dan tumbuh berkembang berkat pengetahuan dan pengalaman yang dilalui. 

Oleh karena masing-masing manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing, maka nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya senantiasa berbeda antar satu dengan yang lain. Dan ini mempengaruhi perbedaan cara pandang akan sesuatu hal.

Tentang perbedaan tersebut, saya punya satu cerita yang sangat berharga. Pernah suatu kali, saya mengunjungi pusat perbelanjaan dengan seorang kakak perempuan. Bermenit-menit kami berjalan, pandangan saya tertuju pada seorang pemuda yang bertugas sebagai cleaning service. Langkah saya terhenti sejenak. “Kasihan ya Kak, masih muda namun harus menjadi cleaning service

Padahal mungkin di luar sana ada banyak peluang kerja lain untuknya,” ujar saya lirih dengan hati yang memang merasakan prihatin. Tetapi, bukannya mendapat persetujuan dengan anggukan atau tambahan kalimat yang lebih membakar ego melankolis ini, kakak perempuan saya menjawab, “apakah menjadi seorang cleaning service membuatnya menderita? Bisa jadi ia lebih bahagia dengan pekerjaannya saat ini, kan?”.

Deg. Saya tersentak dalam diam tanpa kakak harus menggertak. Jawabannya yang tenang dengan kandungan pertanyaan balik tersebut, di detik itu juga menjadi pelajaran tentang nilai bagi diri saya. Saya menyadari, saya lah yang memiliki persepsi bahwa menjadi cleaning service itu menderita, perlu dikasihani, perlu dibantu.


Persepsi tersebut ada di benak saya karena sebelumnya saya tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan petugas cleaning service dan hanya melihat representasi mereka yang digambarkan menderita melalui media atau sineTV. 

Ironisnya, standar tersebut juga mempengaruhi saya dalam memandang profesi mereka di dunia nyata, padahal bisa jadi mereka lebih merasa bahagia dengan kehidupannya karena nilai tentang keberhasilan yang mereka yakini adalah “bisa dapat pekerjaan halal”, “bisa membiayai keluarga dengan jerih payah sendiri”, “bisa hidup tanpa hutang”, dan bukan dengan standar “bisa berdasi dan mengendarai Ferrari”.

Kembali ke Mark Manson. Rasanya pria ini begitu piawai menguliti sisi lain dari nilai yang kadangkala tidak disadari Si Empunya. Bahwa benar, memiliki dan mengetahui secara pasti nilai-nilai yang diyakini itu baik, namun ada kalanya juga ketika internalisasi nilai-nilai tersebut berlebihan dan mulai menuntut kesempurnaan dengan menentukan standar/ukuran pencapaiannya yang melewati batas-batas realitas (tidak rasional), maka alih-alih menjadi kekuatan diri yang positif, nilai dan pemaknaan terhadapnya justru dapat menjadi sumber ketidakbahagiaan bagi jiwa penganutnya. Kok bisa?

Mengenai hal ini, cerita pribadi saya sebelumnya bisa menjadi contoh mengenai absorsi nilai yang memberi dampak negatif, apabila setelah saya mendengarkan pernyataan kakak perempuan saya, saya tetap bersikeras untuk mengasihani pemuda cleaning service tersebut.

Meski dorongan mengasihani ini kerap dipandang sebagai wujud empati, namun jika ia berlebihan sampai membuat sang perasanya merasa bahwa persepsinya adalah yang paling benar, dan oleh karenanya hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai yang dianutnya/keinginannya semestinya tidak terjadi (ex: harusnya tidak ada cleaning service di dunia ini. 

Semua dibersihkan oleh mesin. Manusia mencari nafkah melalui pekerjaan lain), maka di titik inilah nilai yang ada dalam diri orang tersebut dapat memicu perasaan tidak bahagia, dimulai dari kecewa.


Dalam contoh lain –tanpa harus membandingkan pandangan tiap-tiap orang mengenai profesi cleaning service, masing-masing di antara kita juga memiliki beribu nilai pribadi yang kerap bersitegang dengan realita. 

Di kala standar-standar yang diyakini beserta tujuan-tujuan yang telah ditetapkan belum berhasil mewujud dalam kenyataan, perasaan tidak nyaman berujung ketidakbahagiaan dengan sekejap merasuki palung hati yang terdalam. Apalagi jika kita mengadopsi nilai-nilai yang mendasarkan perbandingan tidak masuk akal terhadap “kesuksesan” orang lain.

Untuk yang terakhir disebutkan, Manson dengan jelas menegaskan bahwa itu merupakan nilai yang buruk. Menurutnya, tidak pernah dan tidak akan mungkin seorang manusia bisa mendapatkan sekaligus merasakan capaian yang sama persis dengan orang lain, sehingga keinginan untuk “menyamai” bukan hanya merupakan perkara yang tidak penting, tetapi juga buang-buang tenaga, waktu, dan berpotensi membuat hidup seseorang tersebut lebih buruk.

Oleh sebab itulah, bukunya ini diberi judul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”. Mark Manson mengajak pembacanya untuk memprioritaskan sikap “bodo amat” terhadap sesuatu yang berjalan namun tidak sesuai dengan keinginan (baca: kegagalan, kekeliruan, ketidakbahagiaan, keminderan, dsb). 

Bodo amat dengan pencapaian orang lain, karena kita juga memiliki pencapaikan kita sendiri. Bodo amat dengan segala masalah yang kita pikir ada, karena kita hanya peduli pada upaya-upaya untuk memperbaiki diri. Tentunya dengan terlebih dahulu mengevaluasi nilai-nilai yang dimiliki.

Memilih untuk bodo amat bukan berarti lari dari kenyataan. Sebab menjadi bodo amat merupakan suatu strategi sederhana untuk meyakinkan diri bahwa ”apapun yang kita lakukan, hidup ini akan tetap berisi kegagalan, kerugian, penyesalan, atau bahkan kematian. Untuk itu, kita perlu mengatasi kepedihan yang timbul dengan mula-mula mempelajari cara bersiap menanggung semua itu” (hal. 24).

Artikel Terkait