Jurnalis
2 minggu lalu · 34 view · 5 min baca · Buku 55051_70491.jpg
FB

Membaca Lege

Sejak sebelum buku “Lege” terbit, namun sudah diworo-woro di Facebook, saya sudah memesan kepada relawan Rumah Dunia agar disisihkan satu buku kumpulan cerita pendek (cerpen) karangan Hilman Sutedja itu untuk saya beli. Gambar sampul buku “Lege” yang sangat bagus (dikerjakan oleh Abdul Salam HS) dengan warna merah hati dan gambar hewan kumbang membuat saya penasaran akan isi cerpen di dalamnya.

Saya kenal dengan Hilman karena kami sama-sama relawan Rumah Dunia. Bedanya, saya sudah lebih dulu “hijrah” dari Rumah Dunia, sehingga saya tidak tahu persis bagaimana karya-karya Hilman selama ini, khususnya soal cerpen. Ini pula yang membuat saya makin penasaran ingin mengetahui karya Hilman.

Selain kenal di Rumah Dunia, saya juga kenal Hilman karena kami pernah bekerja di kantor yang sama. Sebuah surat kabar harian di Kota Cilegon. Namun, baru beberapa bulan bekerja sebagai wartawan, Hilman terpaksa berhenti. Konon, ia memilih melanjutkan studinya (S2) karena mendapatkan beasiswa dibandingkan meneruskan karier sebagai wartawan.

Cerita yang Memikat

Judul cerpen “Lege” membuat saya sangat penasaran akan isinya. Cerpen ini pula yang saya baca pertama. Kebetulan saya tidak tahu arti lege yang berasal dari bahasa Sunda Banten itu. Namun dari gambar sampul buku—yang menghadirkan gambar seekor binatang semacam kumbang—dapat diterka mungkin itulah yang dinamakan lege.

Pertanyaan saya itu mendapatkan jawabannya ketika membaca cerpen “Lege”, yang menjadi judul buku kumpulan cerpen itu. Bahkan Hilman kemudian menjelaskan makna dan posisi lege di kehidupan petani dengan catatan kaki sebagai binatang “sejenis kumbang yang dianggap hama” (halaman 52).

Sebagai sebuah cerita rekaan, cerpen “Lege” sangat memikat sejak awal sampai akhir. “Lege” bercerita tentang seorang petani bernama Amarah yang sangat percaya pada hal-hal klenik. Bahkan ia lebih mempercayai Ki Jayaparna ketimbang istrinya sendiri yang bernama Sunti. 


Padahal, akibat “fatwa” Ki Jayaparna itu pulalah ia akhirnya harus kehilangan padi-padinya yang sudah siap panen namun tak juga ia panen karena ada wangsit dari Ki Jayaparna yang ia pegang teguh.

Pada cerpen “Koran”, Hilman seperti ingin menggugat perilaku melenceng yang dilakukan surat kabar yang lebih mementingkan oplah ketimbang mencerahkan pembaca. Maka, ia menghadirkan tokoh “bos berkepala plontos” yang hanya peduli pada keuntungan perusahaan. Sementara kualitas berita tidak pernah dibahas, diperbaiki, dan ditingkatkan.

Pengalaman Hilman sebagai wartawan di salah satu surat kabar tentu menjadi salah satu bekal guna menciptakan cerpen ini. Terlepas apakah pengalaman yang didapatkannya selama beberapa bulan itu seperti yang disampaikannya dalam cerpen atau tidak, Hilman yang bisa menjawabnya.

Melalui tokoh Jonronadi, Hilman ingin menggugat surat kabar (pers secara umum?) yang tidak lagi mendahulukan idealisme sebagai landasan bekerja. Pers yang hanya peduli bisnis dan keuntungan materi. Di akhir cerita tokoh Jonronadi memilih berhenti menjadi wartawan (sama seperti Hilman?), karena suasana kerja sudah tidak sesuai dengan idealisme yang dimilikinya.

Hilman juga memprotes para ahli agama yang terjun di urusan politik praktis sehingga lebih sibuk mengurusi politik ketimbang mengurusi santri bahkan keluarga. Sampai-sampai meninggalkan kewajibannya sebagai pemuka agama dalam cerpen “Kobong”. Kasus adanya pemuka agama, ustad dan kiyai, yang mendukung salah satu partai politik menjadi fenomena yang ingin diungkap oleh Hilman.

Dalam kumpulan cerpen ini tampak terasa Hilman mencoba ingin “mengenalkan”, “menyosialisasikan”, atau bahkan “mengabadikan” hal-hal yang ada di sekitar kota kelahirannya, Pandeglang. Kata lege, kobong, kasantap, kekerewed, Nyi Beureum, dan lainnya adalah kekayaan yang dimiliki Pandeglang yang sepertinya ingin ia eksplorasi dan sebagian dijadikan sebagai judul cerpen-cerpennya.

Cerpen-cerpen Hilman dalam kumpulan cerpen “Lege” ini sangat mudah dipahami. Kita tidak perlu mengernyitkan dahi saat membacanya. Karena itu buku ini cocok bagi pembaca remaja dan dewasa. Tidak hanya mudah dicerna dan dimengerti keseluruhan ceritanya, namun pembaca juga akan langsung mengerti dengan apa yang ingin disampaikan oleh Hilman sebagai penulisnya.

Cerpen-cerpen Hilman beberapa “kental” dengan keinginan “mengajari” atau “memberi peringatan” kepada pembaca. Sehingga terlihat sekali pertentangan antara baik dan buruk serta benar dan salah sebagai hal yang hitam putih, pada cerpen-cerpennya. Hal itu antara lain dapat dilihat pada cerpen “Lege”, “Kobong”, “Koran”, dan “Pengabdi Batu Akik”. 

Hilman bahkan langsung memberikan sanksi kepada tokoh-tokoh rekaannya dengan kesialan bahkan petaka. Tokoh Amarah langsung disanksi dengan terbakarnya padi yang siap panen karena terlalu peraya dukun, tokoh Haji Salim ditangkap polisi karena ikut-ikutan uursan politik praktis, sementara tokoh Rantah (Ranta?) langsung diganjar dengan ditenggelamkan ke sungai oleh air bah karena lebih percaya pada batu akik.

Padahal, dalam kehidupan sesungguhnya, banyak orang yang beperilaku menyimpang justru seperti tetap diberkahi dan karenanya mendapatkan banyak kesenangan hidup. Sementara yang hidup lurus malah diberi kesialan bertubi-tubi. Itulah mengapa ada yang berpendapat bahwa hidup tidak dapat dilihat secara hitam putih.


Logika Cerita

Salah satu kekurangcermatan Hilman yang saya tangkap selama membaca “Lege” adalah jalinan cerita yang tidak kokoh karena tidak dikuatkan dengan logika cerita. Saat memberikan materi tentang menulis fiksi, Gol A Gong pernah berkata bahwa logika cerita dalam cerita fiksi, meski bukan cerita riil, harus tetap logis, masuk akal. Kecuali bila cerita fiksi yang dibuat adalah berbentuk dongeng, fantasi, atau semacamnya.

Salah satu kekurangcermatan yang saya maksud bisa dilihat pada cerpen “Kobong”. Haji Salim yang karena kesibukannya membantu temannya yang mencalonkan diri sebagai wakil presiden, sampai ia tidak pulang dalam beberapa minggu, kemudian dihadirkan oleh polisi ke hadapan istrinya dengan mengenakan pakaian tahanan. 

Padahal, sebelum seseorang menggunakan pakaian tahanan ada beberapa tahap yang harus dijalani. Dan biasanya ketika polisi menangkap orang, maka polisi akan mengabari keluarga tersangka bahwa yang bersangkutan telah ditangkap. Polisi tidak perlu susah payah menghadirkan tersangka ke hadapan keluarga seperti pada cerpen ini.

Pada cepren “Lege” juga ada kekurangcermatan penggambaran musim kemarau. “Hari ini langit pun terlihat telanjang, biru membentang. Matahari seperti menyimpan dendam karena sudah beberapa bulan sinarnya sering dihalang oleh awan pekat” (halaman 48). 

Bagaimana mungkin matahari marah dan menaruh dendam kepada awan hitam bila saat itu langit biru membentang? Ketika langit berwarna biru, tidak ada awan di situ. Lalu bagaimana bisa matahari terhalangi awan hitam?

Selain soal kekurangcermatan, beberapa foto ilustrasi yang diletakkan di bagian akhir cerpen terkesan bukan sebagai pembuka awalan cerpen melainkan sebagai penambal kekurangan halaman. Akan lebih baik bila ilustrasi diletakkan di bagian kanan halaman sebelum judul. Sementara judul dapat diletakkan di bagian kiri atau di lembar berikutnya.

Banyaknya kesalahan ketik juga berpotensi membuat pembaca tidak nyaman saat membaca kumpulan cerpen ini. Bahkan ada kesalahan ketik yang berpotensi mengganggu, yaitu saat penulisan nama Salim menjadi Salmi, sehingga membuat pembaca menebak itu adalah nama tokoh lain (halaman 81). Sementara sebenarnya itu adalah tokoh yang sama, yaitu Salim, yang sudah dimunculkan sebelumnya oleh penulis.

Ini hanyalah pembacaan saya sebagai awam sastra pada cerpen “Lege”. Karena itu saya tidak menyertakan teori-teori sastra dalam tulisan ini. Ini hanya semacam apresiasi pada buku “Lege” yang saya sangat senang membacanya.

Artikel Terkait