Bingung adalah sebuah dinding pembatas antara gila dan waras. ~ Harly Umboh

Memulai membahasan kebingungan adalah ajang menangkap burung yang terbang tinggi dengan tangan kosong. Artinya, kebingungan itu bisa saja seperti menutup imajinasi dan menolak berpikir aktif.

Mengenai membaca kebingungan, kita akan melihat sebuah pantai yang putih bersama binatang-binatang kecil seperti kepiting yang berhamburan dan hilang (bersembunyi) begitu saja saat kita hampiri. 

Begitu binatang kecil itu hilang, kita akan dibawa dengan kemungkinan-kemungkinan kenapa binatang bersembunyi? Dalam artian, kita mau menuntut pikiran itu aktif dan berimajinasi. Jika tidak, kemungkinan d isanalah penyebab kenapa bingung itu terjadi?

Pertama kita berangkat dari kesadaran, seperti diungkapkan Hegel, kesadaran manusia adalah kesadaran sejarah. Bahwa bisa saja benar kesadaran kemarin berupaya menjadi kesadaran baru saat ini. 

Maksudnya, kepiting kecil itu hilang karena kesadaran lama: tempat terbuka itu ancaman bagi mereka, yang kemudian menjadi acuan kesadaran saat itu juga bagi mereka untuk bersembunyi di lubang pasir yang mereka buat.

Sedikit yang menggelitik kita saat ini adalah bukankah mereka hewan yang tak memiliki kesadaran? Maka jawabanya ia itu benar, mereka tak memiliki kesadaran bahwa mereka kepiting kecil. Tetapi di sini adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi bagi kita yang menuntut otak untuk aktif berpikir dan berimajinasi.

Jika kembali menguraikan kesadaran menurut Hegel, kesadaran tersebut sifatnya dinamis dan historis. Terdapat pintu pembuka jalan kesadaran bahwa bingung itu terjadi karena kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa terjadi. Atau kondisi parahnya, bingung itu adalah sindikat pembunuh karakter diri kita sendiri dalam kurun waktu sejenak.

Kebingungan seperti selalu mengalami pembaruan. Padahal kebingungan itu selalu sama, yaitu berada di posisi yang sulit menentukan dan berat menimbangkan. Buktinya, kebingungan selalu berada di setiap sektor kehidupan, seperti bingung memutuskan peristiwa dkk, hingga bingung karena tak ada yang bisa dikerjakan.

Keuntungannya kita bisa menyadari kebingungan tersebut. Namun tidak beruntungnya kita, kesadaran seolah bergerak dalam kondisi bingung. Makan karena lapar dan makan karena tidak lapar

Jika kita sedikit memulai rasa sadar, mungkin akan terjadi pembentukan bingung karena kita tidak punya alibi dengan kalimat makan karena tidak lapar. Maka pembentukan bingung terjadi ketika kita memikirkan proposisi bingung tidak pada tepatnya. Kebingungan ini sebenarnya ada dua macam, yaitu kebingungan yang dibentuk dan kebingungan yang telah terbentuk.

Kebingungan yang dibentuk adalah hadir disaat kita mengusahakan sesuatu tapi tak terbelokkan. Seperti halnya kita mempelajari sesuatu, pilih saja itu filsafat, di mana filsafat diupayakan mendapatkan ruang pemahaman mendalam, akan tetapi malah yang hadir adalah kebingungan yang sangat kuat. 

Karena upaya pembentukan karakter pemahaman tidak tercapai. Sedikit rumit memang, tetapi di sinilah sebenarnya kebingungan yang kita buat sendiri.

Kedua kebingungan yang telah terbentuk adalah kesadaran atas kebingungan tersebut. Tidak tersandarkan tetapi sudah ada dalam benak kita sedang bingung, dan sifat bingung tersebut tak berkarakter.

Dalam konstruk kesadaran kebingungan sebenarnya merupakan upaya adanya (kemungkinan) karakter untuk berdialog dengan alam lewat kerja berpikir (Descartes), dan merupakan bagian kritik terhadap epistemologi model kantian. Di mana epistemogi kantian sendiri memupuk pengalaman sebagai pijakan, menjadikan gerak berpikir (ide) dan konsepsi tidak teraplikasikan tanpa ada pengalaman. Artinya, kesadaran itu statis.

Lain halnya dengan kesadaran yang dibangun hegel, yaitu dibangun untuk manusia dapat memahami pertanyan-pertanyaan fundamental tentang ada (realitas) dan esensi. Singkatnya adalah kerangka imajinasi tentang kondisi yang harus dimiliki subjek.

Kembalikan pada subyek ‘bingung’

Pembacaan yang terjadi di sini adalah kesadaran bahwa kita berada di posisi kebingungan, dan intropeksi adalah upaya kesadaran kita menghindari ruang kebingungan. Dimulainya kebingungan itu saat kita memulai untuk diam tidak aktif berimajinasi. Bisa dikatakan salah apabila kita katakan kebingungan adalah bawaan alamiah. 

Tetapi juga benar bahwa kebingungan adalah bawaan kita memulai menjalani kehidupan. Karena esensi hidup kita adalah menjalaninya, sedangkan kebingungan adalah pergerakan antara mau berpikir aktif dengan ragu untuk berpikir lebih aktif.

Kembali kepada fitroh manusia sebagai makhluk istimewa daripada makhluk lainnya karena manusia dapat berpikir dan menyelesaikan kebingungan itu sendiri. Otak dan perasalah yang membawa kesadaran tersebut membaca kondisi kebingungan yang terjadi. Dan ruang aktif berpikirlah yang menjadi obat bius kebingungan.

Namun sampai di sini mungkin kita belum puas membaca kebingungan yang seolah mengalir deras di setiap arus kehidupan. Singkatnya, bingung antara kata sifat dan kata kerja. Bisa digambarkan tetapi kita tahu yang digambarkan juga membuat kita bingung dengan bingung.

Alhasil, membaca kebingungan adalah pencerminan diri bahwa kita akan selalu sama dengan apa yang telah kita lihat terhadap kebingungan, tetapi kebingungan tersebut akan terus berubah sejauh sindikat berpikir dan kesadaran bergerak aktif berimajinasi.

Selesai. Kebingungan adalah kesulitan yang terselesaikan ketika kita menyadari untuk menghindarinya.