Sudah beberapa waktu ini penulis menimba ilmu. Membaca beberapa buku sambil menulis beberapa artikel dan puisi yang (biasanya) terinspirasi dari apa yang penulis baca. 

Buku “Kapitalisme Rakyat” ini adalah salah satu bacaan tersebut. Bacaan ini adalah inspirasi mendasar dari berbagai tulisan yang sarat akan tema ekonomi. 

Setelah “mendapatkan ilham” dan the right mood, akhirnya penulis memutuskan untuk menuliskan kesan setelah membaca buku ini. Ada satu kesan utama yang penulis dapat: buku ini impresif. Mengapa? Mari penulis bawa pembaca menyelami buku ini. 

Aslinya, buku ini berjudul “Popular Capitalism”. Diluncurkan pada tahun 1989 di Inggris, buku ini sampai ke Indonesia pada tahun 1990. 

Setelahnya, buku ini pun diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Zoelkifli Kasip dan diterbitkan oleh PT Pustaka Utama Grafiti. Terjemahannya patut diacungi jempol. Fraseologi yang digunakan cukup koheren, meski ada sebagian kecil kata yang masih kurang tepat. 

Buku ini ditulis oleh ekonom sekaligus mantan kepala Unit Kebijakan (Policy Unit) dari kabinet Margaret Thatcher, John Redwood. Sebagai Kepala Unit Kebijakan dari tahun 1983-1985, beliau memformulasikan berbagai kebijakan reformasi ekonomi yang inovatif. Kebijakan-kebijakan inilah yang disebut sebagai popular capitalism

Dalam buku ini, beliau menjelaskan berbagai kebijakan tersebut. Mulai dari deregulasi, privatisasi skala besar, konversi utang, ekspansi pasar modal, sampai reformasi perpajakan. 

Tujuan dari kebijakan-kebijakan ini adalah to bring economic liberty back to the people. Intinya, hampir semua kendali dan aset ekonomi yang sebelumnya dimiliki pemerintah, dipindahkan menuju kepemilikan individu/privat. 

Untuk menggambarkannya, penulis akan memberikan sebuah “rangkuman” yang menjelaskan bagaimana masing-masing kebijakan mencapai tujuan yang sama. 

Deregulasi menggantikan state regulation menuju self regulation dari perusahaan swasta dan individu sebagai pelaku ekonomi. Self regulation inilah yang membantu menanamkan disiplin pasar bagi para pelaku ekonomi. Sehingga, perusahaan swasta dan individu memiliki andil yang lebih besar, serta lebih rasional dalam melakukan tindakan ekonomi. 

Konversi utang menjadi saham mendorong kepemilikan individu maupun perusahaan dalam perekonomian suatu negara. Selain itu, negara yang sebelumnya menjadi debitur juga diringankan bebannya. 

Mengapa? Sebab imbal hasil yang sebelumnya harus dibayarkan secara fixed, sekarang menjadi floating mengikuti siklus perekonomian. Sehingga, kedua pihak sama-sama diuntungkan. 

Ekspansi pasar modal dan privatisasi mengembangkan suatu basis kepemilikan perekonomian yang berbasis pada investor ritel skala kecil. Kedua kebijakan ini mendukung perluasan penetrasi pasar modal dalam perekonomian. Instrumen yang dijual menjadi makin banyak, beragam, dan terjangkau. Sehingga, makin banyak individu yang mampu menjadi pemilik saham di pasar modal.

Terakhir, reformasi perpajakan membantu memperbaiki insentif bagi individu untuk meningkatkan produktivitas. Dengan memotong dan menyederhanakan struktur perpajakan, pemerintah mengizinkan individu untuk membayar pajak langsung yang lebih sedikit. Sehingga, individu memiliki insentif yang lebih besar untuk bekerja, menabung, dan berinvestasi. 

Semua kebijakan-kebijakan di atas dikupas hanya dalam 219 halaman. Relatif tipis dan ringkas untuk sebuah buku yang bertema ekonomi. Tetapi, John Redwood memiliki kemampuan kepenulisan yang cukup brilian untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang impresif. 

Dalam framework seringkas itu, John Redwood berhasil menangkap dasar, alur berpikir, penerapan, dan dampak dari setiap kebijakan yang diimplementasikan. Selain itu, beliau juga menggambarkannya dengan bahasa yang mudah dimengerti. Bisa dikatakan, buku ini berhasil menjadi sebuah Economic Liberalization 101 yang mudah dicerna oleh pembaca awam seperti penulis. 

Namun, bukan berarti buku ini tanpa cela. John Redwood belum berhasil dalam mempertajam penerapan kapitalisme rakyat di negara-negara berkembang. 

Waktu membacanya, penulis mendapat kesan bahwa analisis buku ini lebih efektif di negara-negara maju. Negara-negara berkembang memiliki permasalahan ekonomi yang jauh lebih kompleks. 

Sebagai sebuah contoh, buku ini tidak membahas soal penerapan kapitalisme rakyat dalam bidang agrikultur. Padahal, sektor agrikultur adalah salah satu pilar industrialisasi di negara-negara berkembang. Tanpa gebrakan reforma agraria a la popular capitalism, industrialisasi di negara-negara berkembang tidak akan berjalan dengan mulus. 

Meski demikian, penulis masih memaklumi kekurangan ini. Mengapa? Pada tahun penulisan buku ini, reformasi kapitalisme rakyat belum terlalu “kencang” di negara-negara berkembang. Baru pada tahun 1990-an, reformasi kapitalisme rakyat lepas landas di berbagai negara. 

Selain itu, berbagai data ekonomi di negara-negara berkembang juga masih sulit didapatkan. Sehingga, kekurangan ini sangat wajar. 

Jadi, bagaimana kesimpulannya? Buku ini impresif. Ringkas, informatif, sekaligus menarik. Penulis sangat merekomendasikannya untuk dibaca setiap makhluk ekonomi yang penasaran jiwanya. 

Membaca buku ini bisa mengobati rasa penasaran pembaca akan dampak suatu reformasi ekonomi terhadap kehidupan rakyat banyak. Sayang saja, buku ini sulit didapatkan pada tahun 2019. 

4 out of 5 stars for this book. Sayang, hanya 219 halaman.