Sekarang, Yuli Rahmawati alias Jupe sudah berpindah dimensi alam. Di usia yang belum genap 40 tahun, dirinya sudah menganyam namanya menjadi sanggam. 

Dengan tetap memperhatikan segala yang telah diperbuatnya, rasanya tak berlebihan kalau harapan dipanjatkan pada Penguasa Semesta. Harapan agar Jupe mendapat cinta dari Sang Pencipta. Jupe berpindah dimensi alam saat usianya 37 tahun kurang 35 hari. Selama waktu itu, dirinya tak lelah mengayuh perjalanan yang dilakoni manusia biasa serta sebagai penghibur.

Sebagai penghibur, Jupe lekat sekali dengan bagian dadanya. Barangkali dada adalah bagian yang paling cepat dan mudah dibayangkan andai nama Jupe disebutkan. Hal ini disinggung Jupe dalam bab kedua berjudul UPSS, BRA 36D!.

Oops, bra 36D! Hmmm...people are talking about my boobs. Well, I actually don’t even care about that. Because I just enjoy it (having these big boobs) and I enjoy being myself. So, enjoy my boobs. “You can see,but you can’t touch them”. Real or not, let them be my secret, and I don’t care what you think.... Apa gue harus taro banderol itu di dada gue, di boobs gue, gitu? Kan, nggak mungkin juga.

Yang penting itu adalah ‘keindahan’. So... lo semua jangan bawel ngurusin asli apa nggak, please deh, kan gue nggak minta lo bayar untuk ngeliatnya.

Bagian tersebut tampak menegaskan kata terakhir yang disebutkan oleh Jupe dalam bab pertama berjudul SIAPA GUE?, “Cantik itu relatif, tapi cantik menurut gue adalah sosok yang mengedepankan education, kebersihan, know how to behave, cantik itu you have the God, 5 B (brain, beauty, behave, bitchy, and Boobs).

Tak dimungkiri memang payudara adalah bagian tubuh perempuan memiliki daya pikat sangat kuat terhadap lelaki. Saking kuatnya, Jupe pun sampai merasa perlu membahasnya dalam satu bab khusus. 

Dalam bab tersebut, Jupe turut mengungkap kebingungan terkait kehebohan masyarakat terhadap masalah payudara Jupe. “Emang gue perhatiin juga sih, masalah beginian kok, sampai heboh banget, ya. Mungkin emang benar, payudara sering dikaitkan dengan selera seksualitas laki-laki.”

Pertanyaannya, kenapa para lelaki selalu menyukai bagian payudara perempuan? Tak peduli ukurannya besar atau kecil, seperti milik Park Bom bola basket atau milik Park San-da-ra bola bekel, lelaki pasti suka. 

Tak dimungkiri, ada juga lelaki yang lebih menyukai bagian tubuh perempuan lainnya, misalnya, bibir, paha, atau pantat. Tapi entah kenapa, payudara tetap menjadi bagian tubuh perempuan yang bisa menyuluh imajinasi lelaki. Saking menjadi ikon kecintaan dan obsesi para lelaki, tak sedikit media, merek, brand, bahkan juga propaganda menggunakan payudara perempuan. Misalnya seperti iklan Kopi Susu YA! dan Segar Sari Susu Soda, yang dibintangi oleh Jupe.

Terkait faktor yang membuat lelaki menyukai payudara perempuan, terdapat sebagian orang yang mengungkapkan bahwa alasannya karena sejak lahir lelaki memiliki hubungan intim dengan payudara ibu. Ada rasa kasih sayang yang diberi pada buah hati tatkala ibu menyusui.

Sayangnya, ungkapan tersebut agak gimana gitu. Soalnya ada pula lelaki yang tak banyak mengonsumsi air susu ibu (ASI) saat bayi, tapi tetap tertarik menikmati payudara perempuan. Terdapat pula pandangan yang menyebut bahwa dari tahun ke tahun manusia memang mengembangkan payudara perempuan untuk keperluan seks. Hanya saja pandangan ini di-counter dengan fakta bahwa untuk keperluan seks, zakar dan vagina paling dibutuhkan.

Sebagai upaya mencari tahu faktor yang membuat lelaki menyukai payudara perempuan, L. Monique Ward, Ann Merriwether, dan Allison Caruthers menulis artikel Breasts are for Men. Dalam artikel terbitan Sex Roles tersebut, mereka menyingkap istilah yang disebut Masculinity Ideology (Ideologi Kejantanan). 

Masculinity Ideology berperan terhadap pandangan lelaki mengenai badan perempuan, yang juga berkaitan dengan kuantitas media yang dikonsumsi oleh lelaki. Sayangnya, meski paparan tersebut memberi pengetahuan, belum bisa memberi kepuasan. Apalagi memberi kepuasaan yang sama seperti saat menikmati payudara perempuan. Jelas lah!

Brian Alexander, yang mendalami dasar neurologis dari perilaku sosial, turut membahas tentang payudara perempuan dalam bukunya The Chemistry Between Us. Buku tersebut menyingkap masalah payudara dengan menyebut bahwa evolusi manusia telah mengubah sirkuit saraf kuno. 

Pada awalnya, fungsi utama payudara adalah untuk menguatkan ikatan kasih sayang antara bayi dan ibu dengan cara menyusui. Namun sekarang, sirkuit otak ini telah berubah penggunaannya. Selain untuk menguatkan ikatan ibu dan bayi, juga digunakan untuk meningkatkan ikatan antar pasangan. Hasilnya, kebanyakan lelaki menyukai payudara perempuan.

Penuturan Brian lebih make sense buat saya dibandingkan pandangan lainnya. Ini karena kalau ditelisik lebih lanjut, otak para ibu akan dibanjiri dengan neurochemical oxytocin yang dikenal sebagai love drug. Neurochemical oxytocin ini membantu ibu untuk fokus kepada anak dan memberi rasa kasih sayang melalui ASI. 

Hormon tersebut juga membanjiri otak perempuan ketika terangsang oleh pasangan saat berhubungan seks. Sirkuit pada otak yang tadinya digunakan untuk bayi, pada saatnya juga digunakan untuk orang dewasa. Dari sini, dapat diungkapkan bahwa payudara perempuan merupakan sarana untuk mewujudkan kasih sayang, yang membuat orang lain merasa senang.

Kalau ada sebagian perempuan yang payudaranya begitu digilai lelaki, misalnya kasus yang dialami oleh Jupe, mungkin karena perempuan tersebut berusaha menyenangkan lelaki melalui payudaranya. Usahanya antara lain dengan rajin merawat keindahannya agar bisa memberi kesenangan saat lelaki menyaksikannya, apalagi bisa merasakan sentuhannya. 

Jupe tak ketinggalan urun rembug terkait hal ini. Dalam bab kedua itu, dirinya dengan turut menulis tanggapan terhadap kabar payudara asli atau implantasi, pendapat terhadap praktik ‘memperindah’ payudara, serta pengalaman merawat payudara.

Payudara menjadi aset buat Jupe selama berkarier. Tak heran kalau banyak banyak khalayak yang memandang Jupe tipikal orang “modal badan”. Tak dimungkiri bahwa kesintalan badan turut berperan dalam melambungkan nama Jupe. Karena kesintalan badan pula Jupe banyak mudah mendapatkan cibiran kelewat cemar. Cibiran yang nyaris membutakan hingga enggan berempati, alih-alih mengapresiasi.

Mungkin penampilan badan yang dimiliki serta keberhasilan berkarier yang dialami oleh Jupe memantik amarah sebagian orang. Amarah yang muncul karena cemburu, dengki, atau jengkel. Sementara tak bisa dielakkan lagi bahwa, “Mata yang penuh amarah hanya memandang segala yang nista sepertihalnya mata yang cinta akan tumpul terhadap semua cela.”

Sebagian orang memang mengganggap bahwa perempuan bersikap salah ketika memanfaatkan ‘modal badan’ seperti ‘menjual’ kecantikan. Naomi Wolf dalam buku The Beauty Myth menuturkan bahwa kecantikan adalah mitos yang diciptakan industri untuk mengeksploitasi perempuan secara ekonomi melalui produk-produk kosmetik. 

Pandangan Naomi beserta pendukungnya boleh jadi tidak bisa disalahkan, tapi kurang lengkap untuk menjadi genggaman. Pasalnya Naomi tak mementingkan paras cantik sebagai salah satu modal untuk perempuan.

Catherine Hakim mengungkap konsep erotic capital (modal erotis), sebagai kombinasi dari daya tarik fisik, estetik, visual, sosial, dan seksual yang dimiliki seseorang untuk menarik orang lain. 

Modal erotis sama pentingnya dengan modal ekonomi, sosial, dan budaya yang dicetuskan oleh Pierre Bourdieu. Sepertihalnya jenis modal lain, modal erotis juga dapat diupayakan, kosok bali dengan pandangan yang cenderung menyangka bahwa kecantikan hanyalah keadaan alamiah.

Tak perlu membutakan mata menyaksikan bahwa orang yang cantik memang kerap mendapat beragam kemudahan. Contoh paling bagus dalam hal ini ialah Maria Yuryevna Sharapova. Pendapatan sebagai model jauh lebih banyak ketimbang menjadi petenis. Maria bahkan masih tetap menambah kekayaan saat diskors akibat kasus obat terlarang. Kimberly Noel Kardashian juga termasuk sosok yang memanfaatkan modal erotisnya untuk memperoleh keuntungan finansial.

Walau modal erotis sama pentingnya dengan modal ekonomi, sosial, dan budaya, mengapa kita tampak enggan mengapresiasi kecantikan perempuan sepertihalnya kecerdasan? Ketika ada perempuan dandan, dibilang menghabiskan waktu tak berguna. 

Namun, ketika membaca buku, disangka waktu diisi dengan kegiatan bermanfaat. Perempuan yang berusaha menunjukkan kecantikan malahan tak jarang otomatis dianggap bodoh. Pekerjaan yang menjual badan perempuan, seperti modelling, diberi stigma sebagai pekerjaan hina.

Lebih menyesakkan lagi, ketika ada perempuan cantik ingin menikahi lelaki kaya dilabeli ‘matre’ yang mengkhianati kesucian cinta dalam perkawinan. Padahal, alasan di balik julukan ‘matre’ ini adalah bahwa lelaki harus mendapatkan kenikmatan yang mereka inginkan dari perempuan secara gratis, terutama seks. Kecantikan dan upaya mempercantik diri dianggap sebagai tindakan tak baik. 

Para peserta kontes kecantikan, misalnya, mendapatkan banyak cibiran. Kecerdasan dan kecantikan dilihat sebagai dua hal bertentangan yang tak mungkin dipadukan oleh perempuan. Perempuan yang memiliki keduanya, tidak diizinkan untuk menggunakan semuanya, hanya boleh memaksimalkan kecerdasan saja. Mengapa?

Sebagai manusia biasa, Jupe termasuk perempuan yang cerdas dalam memanfaatkan modal eriotis. Sah-sah saja kalau Jupe rajin merawat ‘aset’ yang senantiasa dimanfaatkannya. Apalagi ‘aset’ tersebut termasuk bagian tubuh yang memiliki daya pikat kuat dalam merangsang gairah seks lelaki.

Seks terbilang nafsu yang paling sosial. Tanpa memperhitungkan moral, secara naluriah kita bisa turut bergembira menyaksikan orang lain yang sedang memenuhi nafsu seksnya. Kita punya hasrat kesenangan walau sekadar untuk menontonnya. Itulah kenapa ada pornografi, yang melahirkan industri seperti blue film (BF) dan majalah dewasa dengan omzet besar.

Seks berbeda dengan nafsu lain, misalnya nafsu makan. Adakah orang, terutama lelaki, yang sanggup suntuk berjam-jam menyaksikan tayangan dengan sajian berupa adegan-adegan orang sedang makan bakwan biarpun orang itu adalah Via Vallen? Adakah media pendulang iklan yang menjebak pengunjung dengan gambar Nella Kharisma sedang mangap ngemplok cilok?

Saking sosialnya nafsu yang satu itu, ia jadi begitu canggih buat menyedot perhatian. Ia jadi empuk sebagai bahan berita dengan judul-judul menggemaskan. Ia juga legit buat stok pengalihan isu, yang bisa dengan gampang ditembakkan sewaktu-waktu. Sebab, kabar terkait seks tidak cuma memberikan informasi, walakin memberdayakan imajinasi.

Jupe menyadari sisi ini, mengerti hal ini. Tak risau dengan segala caci-maki maupun puja-puji, dirinya berusaha memanfaatkannya memenuhi kebutuhan diri, sampai akhirnya berpindah dimensi.

  • Judul: JUPE: My Uncut Story
  • Kategori: Memoar
  • Penulis: Yuli Rahmawati (Julia Perez)
  • Penerbit: EnterMedia, Jakarta Selatan
  • Waktu: 27 Oktober 2014
  • ISBN (13): 978-979-780-727-6
  • ISBN (10): 979-780-727-4

Referensi