Yuli Rahmawati as known as Jupe merupakan sosok penghibur yang sangat saya kagumi sejak awal kariernya. Boleh dibilang saya menggilai sosok kelahiran 15 Juli 1980, hingga memandangnya tanpa cela. 

Meski tak selalu sempat menyaksikan Jupe tampil on atau off air, seluruh unjuk rasanya bisa saya nikmati. Terlebih setelah dirinya berpindah dimensi. Unjuk rasa tersebut macam-macam bentuknya karena Jupe memang tipikal penghibur yang segalanya mau ditekuni. Mulai dari film, drama, bahkan lagu.

Pada 2014 lalu, dalam usia 34 tahun, Jupe merilis buku berjudul JUPE: My Uncut Story. Buku tersebut saya kategorikan ke dalam jenis memoir, alih-alih autobiografi. 

Untuk kategori memoir, buku tersebut memang singkat. Namun, uraian yang disajikan cukup mewakili hal-hal penting yang perlu diketahui dari Jupe sebagai public figure

Umumnya public figure menjadi sosok yang dipilih oleh banyak orang sebagai role model. Karena itu, saya memandang bahwa beberapa public figure, terutama yang memiliki sisi kontroversi seperti Jupe, perlu menyampaikan hal-hal penting yang perlu diketahui oleh masyarakat.

Buku JUPE: My Uncut Story diluncurkan di Warung Pasta, Kemang, Jakarta Selatan pada 27 Oktober 2014. Sebagai penggila beratnya, nyaris tak ada hal baru dalam buku ini.

Banyak hal mengenai Jupe sudah saya tahu. Apalagi Jupe terbilang penghibur dengan daya pikat kuat terhadap media. Indikatornya bisa dilihat melalui sebuah cuitan Jupe melalui akun Twitter @juliaperrez dan Instagram @juliaperrezz saja bisa menjadi bahan berita. Terbayang, bukan, kalau seorang dengan daya pikat seperti ini sampai menyempatkan menulis kisahnya sendiri?

Sebagai orang yang tak bisa lepas dari perhatian kerumunan, ada masanya ketika Jupe merasakan tekanan. Tekanan dari dunia hiburan sebagai sebuah pekerjaan yang dia pilih untuk memenuhi kebutuhan. Dunia hiburan kerap memaksa pelakunya untuk tak menampakkan diri seutuhnya. Malah tak jarang para pelaku terpaksa menampilkan gambaran yang justru bertolak belakang dari kepribadian.

Mungkin keadaan tersebut yang ingin disampaikan Jupe melalui JUPE: My Uncut Story. Dengan menyampaikan sendiri secara tertulis, nilai pernyataan lebih kuat dan sanggam terpahat. Hal ini dapat terlihat dari seluruh penuturan Jupe dalam buku ini. Seluruh penuturan mengarah pada penegasan bahwa Jupe memiliki dua sisi, sebagai manusia biasa serta sebagai penghibur.

Sebagai penghibur yang memiliki banyak penggemar berat bernama Jupenizer, Jupe menyadari bahwa kehadirannya berpengaruh terhadap kehidupan orang lain. Bentuk pengaruh tersebut ialah banyak penggemar ingin meniru Jupe.

Karena itu, Jupe turut memberikan tips untuk memudahkan langkah penggemar dalam meniru Jupe. Misalnya soal tampil cantik dan seksi. Hal ini ditulis Jupe dalam bab pertama berjudul SIAPA GUE?

Gue punya tip, nih, buat kalian yang mau tampil cantik dan seksi ala gue.

Pertama adalah high heels is the secret. Salah satu rahasia tampil seksi ala gue adalah dengan memakai high heels. Dengan lo pakai high heels, otot-otot kaki akan terangkat dan terlihat kencang. Secara otomatis juga cara jalan lo akan berubah. Beda kalau lo pakai flat shoes.

Meskipun flat shoes bikin kaki lo nyaman dan santai, tapi pada akhirnya lo akan cenderung lupa gaya berjalan feminin itu seperti apa. Makanya, pas tampil di depan publik, entah itu pesta atau undangan penting lainnya, jangan abaikan high heels. Lo bisa tampil penuh percaya diri dengan itu.

Tip yang kedua adalah berjinjit. Kedengerannya mungkin emang aneh. Tapi, tip ini sukses bikin berbagai foto gue hasilnya bagus, kelihatan seksi, dan memancarkan aura wanitanya. Dengan berjinjit, perut lo akan secara otomatis tertekan. Otot-otot terlihat lebih kencang dan perut terlihat ramping. Nah, beda kan, kalau misalnya dalam keadaan berdiri biasa. Perut akan lebih relaks, tapi juga kendur. Nggak bagus banget, tuh, di kamera.

High heels atau sepatu hak tinggi dipandang sebagai aksesori yang dapat membuat penampilan perempuan menjadi lebih elegan. Singkatnya: high heels dalam menambah keindahan penampilan perempuan.

High heels juga dapat menutup kekurangan tinggi badan sehingga pemakainya tampak menjadi lebih tinggi. Sisi menutup kekurangan tinggi badan ini mungkin penting buat Jupe. Hal ini karena tinggi badan Jupe hanya 160 cm—ukuran yang terbilang pendek untuk ukuran pesohor yang memiliki karier sebagai model.

Walau dapat memberi keindahan penampilan, high heels menimbulkan masalah kepada pemakaianya, terutama kalau dipakai cukup lama. Hal ini karena high heels menyebabkan posisi telapak kaki dalam keadaan berdiri. 

Posisi ini sangat berbeda dengan posisi telapak kaki ketika mengenakan flat shoes atau sepatu dengan permukaan horizontal. Karena posisi telapak kaki ketika menggunakan high heels dalam posisi hampir vertikal, ruas tulang telapak kaki akan cepat merasa capek bahkan sakit.

Jupe tampak mengerti keuntungan dan kerugian menggunakan high heels. “Dengan lo pakai high heels, otot-otot kaki akan terangkat dan terlihat kencang. Secara otomatis juga cara jalan lo akan berubah. Beda kalau lo pakai flat shoes,” tulis Jupe.

Pertanyaan menarik untuk mengkaji saran Jupe tersebut ialah: “Bagaimana perbandingan beban yang ditahan ruas tulang kaki ketika menggunakan flat shoes dan high heels?” Arah jawaban pertanyaan tersebut ialah seberapa jauh perbedaannya. Dengan demikian, perlu pembahasan menggunakan persamaan fisika yang dipadu dengan fisiologi.

Gambar 2 adalah foto sinar-X kondisi kaki ketika menggunakan flat shoes, yang menunjukkan bahwa telapak kaki dalam posisi horizontal (mendatar). Tampak ruas-ruas tulang kaki yang ditandai dengan huruf a, b, c, dan d. Ruas-ruas ini akan saling melakukan gaya (force, forsa) dorong sebagai akibat adanya berat tubuh (interaksi massa tubuh dengan massa bumi). Garis penghubung ruas-ruas ini membentuk sudut terhadap arah horizontal yang disimbolkan dengan θ (theta).

Dengan demikian, beberapa gaya yang bekerja kepada salah satu kaki tersebut adalah:

  • Setengah berat badan (w/2) ke arah bawah (menuju pusat gravitas bumi) dengan pusat segaris dengan betis;
  • Gaya normal oleh lantai kepada bagian yang menonjol di sisi depan kaki (N1) ke arah atas (melawan arah gravitas bumi);
  • Gaya normal oleh lantai kepada bagian tumit (N2) ke arah arah atas (melawan arah gravitas bumi); serta
  • Gaya internal (F) searah garis hubung persambungan tulang kaki yang membentuk sudut terhadap arah horizontal (bidang datar).

Keempat gaya tersebut saling berhubungan yang dapat ditulis menggunakan persamaan keseimbangan gaya (keseimbangan translasi) dan persamaan keseimbangan momen (keseimbangan rotasi) berikut:

N1+ N2 = W/2 (Persamaan 1)

Untuk memudahkan pembahasan, tumit dipilih sebagai titik pusat rotasi. Karena itu, gaya yang berperan menghasilkan efek rotasi hanya gaya setengah berat badan (W/2) dan gaya normal oleh lantai kepada bagian tumit (N1). Keduanya menghasilkan efek rotasi dalam arah berlawanan.

Karena kaki tidak berotasi, besar keduanya sama, sehingga efeknya saling menghilangkan. Jarak pusat gaya N1 ke titik pusat rotasi (posisi N2) dapat disimbolkan dengan j, sementara jarak pusat gaya W/2 ke titik pusat rotasi (posisi N2) bisa dilambangkan menggunakan p. Dengan demikian, persamaan kesetimbangan rotasi adalah:

W/2=p×N1 (Persamaan 2)

Paduan persamaan 1 dan 2 dengan Gambar 2 dapat ditulis ke dalam persamaan 3 berikut:

N1=W/2 ((1-j)/p)cosθ (Persamaan 3)

yang merupakan nilai gaya yang ditahan oleh tulang ruas telapak kaki ketika memakai flat shoes (F(flat shoes)). Persamaan ini dapat ditulis kembali menjadi:

F(flat shoes)=W/2 ((1-j(/p)cosθ (Persamaan 4)

Selanjutnya, Gambar 3 adalah foto sinar-X kondisi kaki ketika menggunakan high heels, yang menunjukkan bahwa telapak kaki dalam posisi mendekati vertikal (meninggi). Tampak ruas-ruas tulang kaki yang ditandai dengan huruf a, b, c, dan d. Ruas ini akan saling melakukan gaya (force, forsa) dorong sebagai akibat adanya berat tubuh.

Dengan demikian, beberapa gaya yang bekerja kepada salah satu kaki tersebut adalah:

  • Setengah berat badan (W/2) ke arah arah bawah (menuju pusat gravitas bumi) dengan pusat segaris dengan betis;
  • Gaya normal oleh lantai kepada bagian yang menonjol di sisi depan kaki (N1) ke arah atas (melawan arah gravitas bumi);
  • Gaya normal oleh high heels kepada bagian tumit (N2) ke arah miring ke depan dengan sudut terhadap arah vertikal yang disimbolkan menggunakan ϕ (phi variant);
  • Gaya gesekan (f) ke arah belakang di bagian depan high heels yang bersentuhan dengan lantai; serta
  • Gaya internal (F2) searah garis hubung persambungan tulang kaki.

Kelima gaya tersebut saling berhubungan yang dapat ditulis menggunakan persamaan keseimbangan gaya (keseimbangan translasi) dan persamaan keseimbangan momen (keseimbangan rotasi) berikut:

N_1+ N_2 cosϕ =  W/2 (Persamaan 5)

Untuk memudahkan pembahasan, posisi N1 dipilih sebagai titik pusat rotasi. Karena itu, Gaya normal oleh lantai kepada bagian yang menonjol di sisi depan kaki (N1) tidak berperan terhadap rotasi karena berada di pusat rotasi. Sehingga, gaya yang berperan menghasilkan efek rotasi hanya gaya setengah berat badan (W/2) dan gaya normal oleh high heels kepada bagian tumit (N2). Keduanya menghasilkan efek rotasi dalam arah berlawanan. 

Karena kaki tidak berotasi, besar keduanya sama, sehingga efeknya saling menghilangkan. Jarak pusat gaya N2 ke titik pusat rotasi (posisi N1) dapat disimbolkan dengan L, sementara jarak pusat gaya W/2 ke titik pusat rotasi (posisi N1) bisa dilambangkan menggunakan r. Dengan demikian, persamaan kesetimbangan rotasi adalah:

rW/2=LN2 (Persamaan 6)

Paduan persamaan 5 dan 6 dengan Gambar 3 dapat ditulis ke dalam persamaan 3 berikut:

N2=W/2 ((1-L)/r)cosϕ (Persamaan 7)

yang merupakan nilai gaya yang ditahan oleh tulang ruas telapak kaki ketika memakai high heels (F(high heels)). Persamaan ini dapat ditulis kembali menjadi:

F(high heels)=W/2 ((1-L)/r)cosϕ (Persamaan 8)

Berbekal persamaan 4 dan 8, kita dapat memperkirakan nilai untuk mendapatkan gambaran seberapa jauh perbedaan gaya yang ditahan oleh tulang ruas telapak kaki ketika memakai flat shoes (F(flat shoes)) dan high heels (F(high heels)). Berdasarkan perkiraan ukuran telapak kaki, kita dapat menggunakan nilai berikut:

θ = 60°                            ϕ = 60°

j = 2,5 cm                        p = 12 cm

L = 2 cm                          r = 13 cm

Dengan demikian dari persamaan 4 kita peroleh nilai perkiraan sebesar:

F(flat shoes) = W/2 ((1-j)/p)cosθ

F(flat shoes) = W/2 (((1-(2,5 cm))/(12 cm))cos60°

F(flat shoes) = -0,2 W

Artinya, besar gaya yang ditahan oleh tulang ruas telapak kaki ketika memakai flat shoes (F(flat shoes)) ialah 0,2 kali berat badan, ke arah bawah (menuju pusat gravitas bumi), dengan pusat segaris dengan betis.

Sedangkan dari persamaan 8 kita peroleh nilai perkiraan sebesar:

F(high heels) = W/2 ((1-L)/r)cosϕ

F(high heels) = W/2 (((1-(2 cm))/(13 cm))cos60°

F(high heels) = -0,46 W

Artinya, besar gaya yang ditahan oleh tulang ruas telapak kaki ketika memakai high heels (F high heels)). ialah 0,46 kali berat badan, ke arah bawah (menuju pusat gravitas bumi) dengan pusat segaris dengan betis.

Lalu, seberapa jauh perbedaan gaya yang ditahan oleh tulang ruas telapak kaki ketika memakai flat shoes dan high heels? Dengan menggunakan matematika sederhana, dapat kita bandingkan kedua hasil tersebut menjadi:

F(high heels) : F(flat shoes) = -0,46 : -0,2 = 2,3

Jadi, ketika menggunakan high heels, tulang telapak kaki menahan gaya sekitar 2,3 kali lebih besar dibanding ketika menggunakan flat shoes. Itulah sebabnya Jupe dapat langsung melanjutkan saran dengan menulis, “Meskipun flat shoes bikin kaki lo nyaman dan santai, ...” 

Lanjutan untuk tidak memungkiri rasa lebih nyaman karena ketika memakai flat shoes, tulang telapak kaki hanya menangah 0,2 berat badan, tidak harus menahan 0,46 berat badan seperti ketika memakai high heels. Namun, kalau memang ingin menggunakan high heels, baiknya sering duduk untuk mengurangi beban tulang telapak kaki.

Perjalanan yang dialami oleh Jupe adalah perpaduan ikhtiar dan takdir. Sebagian orang boleh saja mencibir. Meski demikian, Jupe tak langsir ungkapan nyinyir yang dialamatkan padanya dari para tukang pandir. Biarpun sebagian orang sirik tiada akhir, Jupe terus tetap mengalir. Sah-sah saja kalau kelahiran 15 Juli 1980 tersebut merasa gembira ikhtiar yang dilakukan selaras dengan takdir yang digariskan.

Kegembiraan tersebut, mungkin, mendorong Jupe untuk tak ragu menulis sebuah buku. Memang buku JUPE: My Uncut Story itu hanya berisi beberapa hal yang dianggap perlu oleh Jupe untuk ditulis. Sekilas, uraian yang disajikan Jupe tidak mengandung konsep ilmiah, bahkan tidak terdapat persamaan matematis satupun! Namun, kita dapat menerapkan penguasaan konsep ilmiah terhadap karya tulis yang tampak tidak ada nilai ilmiahnya.

  • Judul: JUPE: My Uncut Story
  • Kategori: Memoar
  • Penulis: Yuli Rahmawati (Julia Perez)
  • Penerbit: EnterMedia, Jakarta Selatan
  • Waktu: 27 Oktober 2014
  • ISBN (13): 978-979-780-727-6
  • ISBN (10): 979-780-727-4

Referensi

  • Giancoli, Douglas C. (2014). PHYSICS: Principles with Applications (7th Ed.). San Francisco: Pearson Education. ISBN-13: 978-0-321-62592-2.
  • Rahmawati, Yuli. (2014, 27 Oktober). JUPE: My Uncut Story. Jakarta Selatan: EnterMedia. ISBN (13) : 978-979-780-727-6