Peneliti
2 tahun lalu · 1235 view · 3 menit baca · Politik istananegara.jpg

Membaca Jokowi dan Gerobak Nasi Goreng Istana Bogor

Sosok Jokowi sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia ini memang sangat fenomenal. Gaya kepemimpinannya yang sangat jauh berbeda dengan gaya-gaya presiden sebelumnya. Sosoknya mengundang banyak pihak untuk “memotretnya” sebagai presiden yang khas, unik dan polos. Di samping ia juga adalah sosok pemimpin yang berani, tegas, konsisten dan sederhana.

Sosoknya yang khas, unik dan polos terlihat dari indikator berikut; secara fisik ia mempunyai tubuh yang sangat kecil ketimbang presiden-presiden sebelumnya. Ia selalu menyebar senyum walau dirundung (bully) rival politiknya, baju putihnya lebih suka ia keluarkan, walau celananya selalu meminta dimasukkan agar terlihat elok dan rapi, begitu juga baju lengan panjangnya selalu terlihat tergulung meski ia sedang memimpin sidang rapat kabinet.

Bicaranya juga selalu mengundang orang lain untuk tertawa, akrab dengan awak media, akrab dengan keluarga dan sejumlah indikator lain. Tentang kepolosannya lebih kentara lagi jika kita lihat beberapa adegan “konyolnya” lain di YouTube saat bercanda dengan anak-anaknya, entah soal kodok, martabak, dan lain-lain.

Adapun gaya kepemimpinan Jokowi yang berani, tegas, dan konsisten bisa kita lihat dalam jejak rekamnya, antara lain; Jokowi sangat tegas selama ia memimpin DKI Jakarta. Saat menangani dugaan korupsi di Dinas Perhubungan DKI Jakarta soal pembelian bis Transjakarta. Waktu itu kepala dinasnya bermasalah, tanpa babibu lagi, langsung ia berhentikan.

Soal lainnya adalah mengenai kebijakan lelang jabatan untuk memilih pejabat atau birokrat. Lelang jabatan adalah solusi plus inovasi yang tepat serta ideal agar terhindar dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Saat wacana jabatan lelang tersebut digulirkan---dimulai dari jabatan lurah, camat, dan sejenisnya---muncul resistensi dari birokrasi. Dan hebatnya, Jokowi tak peduli dengan semua itu.

Adapun saat terpilih menjadi presiden, Jokowi sebagai kepala negara sangat terlihat tegas yang ia tunjukkan dalam kepemimpinannya. Jokowi saat itu dengan tegas membatalkan Budi Gunawan sebagai Kapolri karena diduga terkait kasus korupsi. Atau bisa kita lihat ketegasannya saat memberhentikan sementara Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad yang diduga terlibat kriminal yang kemudian diproses secara hukum.

Jokowi juga dengan berani pernah menetapkan dan menurunkan harga BBM dengan melihat beberapa argumentasi “ekonomi rakyat”, demi kepentingan yang lebih luas, yaitu kepentingan bangsa Indonesia ini.

Jokowi pun terlihat sangat berani dan tegas saat menetapkan eksekusi mati terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, dua warga negara Australia yang menjadi pemimpin kelompok penyelundup narkoba asal Australia di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah.

Ketegasan dan keberanian serta kekonsistensinan dalam bertindak dan mengambil keputusan tak selalu hanya dimiliki pemimpin yang bertubuh tinggi besar atau berpangkat jenderal sekalipun. Sifat dan sikap yang disebutkan di atas tersebut muncul dari setiap individu yang mempunyai cita-cita membesarkan dan membawa bangsa ini menuju kemajuan dan keadaban.

Jokowi yang Unik dan Langka

Jokowi lahir ke dunia ini sebagai pemimpin negara Indonesia, terlihat hidupnya bersahaja dan merakyat. Anda boleh dan sah berbeda pendapat soal ini. Ia berusaha membuat kebijakan dan memberikan keberpihakannya untuk kesejahteraan rakyat. Dan memang seharusnya demikian sebagai pelayan rakyat.

Hari Rabu kemarin (ROL, 4/1/2017) Jokowi yang didampingi Jusuf Kalla memimpin sidang kabinet paripurna. Jokowi berbicara di depan para menteri kabinet kerja dan pimpinan lembaga soal mengatakan program kerja pemerintah pada 2017 dan persiapan 2018 yang fokus pada program pemerataan.

Jokowi menegaskan bahwa program pemerataan tersebut adalah konsen besar pemerintahannya ke depan. Tugas beratnya adalah menurunkan angka kesenjangan. Baik kesenjangan antar wilayah atau angka kesenjangan kaya dan miskin.

Ada hal yang tak biasa di lokasi tempat Jokowi rapat di Istana Kepresidenan Bogor kemarin. Terlihat seorang pedagang nasi goreng, Nurhadi, yang sehari-harinya mangkal di DKT Bogor, mendorong gerobaknya ke halaman belakang istana tersebut.

Rupanya menu makan siang Jokowi, Jusuf Kalla dan “peserta” sidang kabinet paripurna itu adalah nasi goreng olahan Nurhadi. Ia, yang memakai baju batik, mengaku dihubungi oleh pihak Istana pada Selasa (3/1) sore untuk melayani makan siang mereka.

Bahkan didatangkan pula dua gerobak nasi goreng dan satu gerobak sate ayam untuk para wartawan yang meliput sidang kabinet paripurna tersebut. Banyak opini miring soal menu nasi goreng gerobak bagi para peserta sidang paripurna kabinet tersebut. Ada yang bilang cari sensasi, pencitraan, dan sejumlah tudingan lain.

Yang jelas, Jokowi adalah sosok pemimpin yang cukup unik dan langka di republik ini. Ia merakyat, fokus kerja, menolak bermewah ria, antikorupsi dan yang lebih kentara lagi adalah sifat dan sikapnya yang sangat sederhana.

Jokowi lebih memilih untuk melayani di saat sebagian besar para pemimpin yang lain lebih suka dilayani. Ketika banyak para pemimpin yang lebih suka menebar wacana ini-itu, Jokowi lebih memilih bekerja dan bekerja tanpa banyak bicara.

Artikel Terkait