Staf Pengajar
1 bulan lalu · 190 view · 4 min baca menit baca · Agama 51641_52881.jpg
Reading in a Meadow by Ben White Photography

Membaca itu Memupuk Ide

Dalam keseharian yang penuh dengan lika-liku kehidupan seseorang membutuhkan pegangan bukan mantra jampi-jampi melainkan mata ketiga yang ada di dalam kepalanya yaitu otak. 

Otak itulah yang membentuk dan menciptakan hari-hari dalam kehidupan seseorang jadi lebih berwarna, sudut pandang yang jernih dalam mengenali dan melihat, meraba dan mencari seluk beluk makna terdalam dari suatu kejadian. 

Dan untuk mendapatkan pencerahan pemikiran akan hal tersebut maka seseorang harus terbiasa dengan kerja absurditas yang berkepanjangan, yaitu terbiasa berpikir tanpa harus terganggu dengan aktifitas kesunyian, karena tanpa terbiasa dengan ruwetnya pemikiran, pengendalian itu takkan mampu tergenggam. Dan seni menjadi jalan tengah dalam mengantarkan diri untuk masuk ke dalam konsep puncak pemikiran tersebut.

Terkadang memang kalau kita perhatikan dan tanpa kita sadari, kita merasa bahagia ketika masuk dalam beragam pemikiran yang lain. Ini bukan maksud untuk menyiksa diri sendiri dengan terjun pada kerumitan, sebab manusia mengenal dirinya dimana ia harus santai untuk meregangkan tegangan pemikiran tersebut melainkan menyadari bahwa ada kesadaran lain yang harus ia alami, sebab tanpa kesadaran yang lain manusia akan tertinggal dari pengalaman fenomenologi.

Kebiasaan berpikir atau terbiasa dengan aktifitas kinerja yang menguras banyak pikiran adalah cikal bakal dari lahirnya karya yang baik. Manusia memiliki tanggung jawab moral bagi lingkungannya untuk berkarya melampaui dirinya tanpa henti dan semangat kreativitas kebangsaan itu harus terjaga ditengah maraknya permainan game online yang banyak memakan waktu. 

Keakraban dikala nongkrong bersama di warung kopi itu banyak tersita oleh aktifitas game online, duduk bersama tapi kesadaran ada pada Mabar PUBG yang membuat seseorang dipermainkan oleh waktu yang seharusnya ia kendalikan penuh oleh kesadarannya.


Driyarkara mengatakan "Bermainlah dalam permainan, tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh (permainan) lagi. 

Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon. Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan permainan. Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia." 

Ibarat seorang lelaki dengan kuasa penuh ia bisa mendapatkan wanita mana saja yang ia inginkan, dan itu bisa masuk dalam kategori mempermainkan kebahagiaan. Yang paling utama yang perlu kita tanamkan dalam kesadaran kita sebagaimana yang dikatakan Driyarkara adalah Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia.

Cinta itu akan hadir dikala seseorang produktif aktif dalam menyusun strategi keadilan. Memang kontradiksinya akan semakin berat bila seseorang yang menyatakan hal tersebut adalah orang yang masih jomblo, namun kesendirian bukan berarti membuat seorang seperti memberikan pendapat tanpa bukti yang konkrit dari dirinya. 

Yang terjadi adalah ketika seseorang mengatakan untuk harus seperti ini, maka ia seperti tidak yang ia katakan itu dituduh seperti berceramah saja. Itu makanya banyak pemikiran itu lebih baik ditulis dalam bentuk opini maupun karya ilmiah, bukan sembarang disodorkan apalagi diumbarkan dalam pembicaraan. 

Kalau dalam diskusi bisalah berbagi tapi jangan pula diskusi tak tahunya sibuk dengan hape masing-masing yang seakan-akan seperti dewa yang bisa mendengarkan sambil memegang hape. Ajaib dungunya, yang timbul adalah memaksa diri haru tahu perkembangan setiap detiknya melalui internet namun disatu sisi harus nongkrong bertukar pikiran menyusun strategi baru.

Dengan otak yang beratnya kurang dari satu setengah kilogram, menurut Susanto manusia dapat berpikir dan menyimpan memori yang jumlahnya bisa berbilyun-bilyun ingatan, kebiasaan, kemampuan, keinginan, harapan dan ketakutan. 

Menurut Gilbert Highet dalam Jujun S. Suriasumantri (1977:41) di dalam otak manusia tersimpan pola, suara, perhitungan dan berbagai dorongan. Bahkan, bisikan yang terdengar tiga puluh tahun yang lalu, atau kenangan kebahagiaan yang tak kunjung datang namun terus terbayangkan, tekan jari yang pasti pada sebuah gitar, perkembangan 10.000 langkah catur, lengkung yang persis dari sebuah bibir. 

Demikian juga gambaran sebuah bukit, seuntai nada dan gaungan, kesedihan dan gairah, wajah-wajah asing yang singgah, semerbak wangi sebuah kebun, doa, penemuan, sajak, lelucon nyanyian, hitungan, kemenangan lama, ketakutan terhadap neraka, kasih terhadap Tuhan, bayangan rumput yang tegak seperti pedang telanjang atau langit yang semarak penuh dengan bintang-bintang yang telah berlalu sekian lama masih bisa diingat dan dimunculkan lagi dalam memori otak manusia. 

Otak manusia senantiasa bekerja seperti jantung yang tak berhenti berdenyut, siang dan malam sejak kecil sampai tua renta. Dan untuk menyegarkan kembali otak itu dibutuhkan bacaan dari buku-buku bermutu.


Membaca sebagai aktifitas mengembalikan ingatan dalam keadaan jernih, membaca sebagai wadah untuk menerangi langkah yang sebelumnya terlihat absurd kini menjadi lebih cerah, dan membaca sebagai proses dalam menumbuhkan ide-ide kritis nan kreatif. Sebagai upaya untuk menumbuhkan inspirasi tanpa perencanaan tersebut maka membaca adalah solusi terbaiknya. 

Sering orang mengatakan bahwa banyak membaca maka kosa kata penulisan akan semakin lancar, dan itu memang benar adanya. Agar terbiasa dengan lancar dan lepas maka seseorang membutuhkan bacaan, memulai dengan buku yang berat namun dengan isi gaya bahasa yang sangat sederhana. Seperti itulah buku yang baik biasanya adalah tema yang berat, namun kata-katanya dibaca ringan. Hal yang berat namun memiliki gaya bahasa yang ringan adalah buku yang paling dicari.

Dan buku filsafat adalah bacaan terbaik yang harus dibaca untuk memupuk ide agar lebih dalam maknanya. A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua mendefinisikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentang bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang, thinking about thinking. 

Maksudnya adalah sering kita mendengar orang berkata: "Apa itu filsafat!" Pertanyaan tersebut memang sulit dijawab secara singkat, namun menurutnya, dengan mengajukan pertanyaan filsafat tersebut menunjukkan bahwa kita sedang berfilsafat. Dengan jawaban sederhana tersebut bisa dipahami bahwa filsafat itu adalah sebuah sikap mempertanyakan segala sesuatu. 

Memang pada akhirnya pertanyaan itu akan menemukan jawabannya, tetapi jawaban ini selalu dipertanyakan lagi. Karena itulah filsafat sering dianggap sebagai sesuatu yang bermula dari sebuah pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan pula. 

Dengan kata lain, filsafat adalah sebuah sistem pemikiran yang terbuka untuk dipertanyakan dan dipersoalkan kembali. Filsafat adalah sebuah tanda tanya dan bukan tanda seru. Filsafat adalah pertanyaan bukan pernyataan. Dan untuk memupuk ide dibutuhkan suatu bacaan, dan berfilsafat adalah jalan terbaik dalam memulainya.

Artikel Terkait