Karyawan
3 tahun lalu · 1534 view · 7 min baca menit baca · Saintek klimt_tree_of_life_1909.jpg
Pohon Kehidupan - Sumber: https://commons.wikimedia.org

Membaca Hidup dari Balik Kacamata Darwin-Wallace

Dalam kitab suci agama samawi, Tuhan bersabda bahwa Ia berkehendak maka Ia menciptakan makhluk, masing-masing sesuai fungsi keberadaannya di alam. Manusia dijadikan-Nya sebagai makhluk pilihan, yang memanggul darma sebagai khalifah di muka bumi. 

Agama berikut pemahamannya tentang penciptaan dunia ini telah berkembang setua sejarah kemanusiaan sendiri. Ketika Darwin dan Wallace mengusung teori evolusi mereka, ide mereka menyulut penolakan keras dari kaum agamawi yang taat. Dua makhluk fana bukan titisan nabi ini berani memberikan penjelasan alternatif tentang asal-usul dan tujuan akhir manusia, serta makna keberadaannya di dunia. 

Ide di balik teori evolusi telah menantang pokok ajaran pemuka agama, menggugat privilese manusia di alam raya. Pertentangan antara pendukung teori evolusi dan aliran penciptaan ilahiah sudah menjadi ajang perseteruan tentang kebenaran yang paling sengit antara agama dan sains —bahkan sampai hari ini. 

Namun, teori evolusi sebagaimana yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukan buah pemikiran yang baru berkembang dalam dua, tiga abad terakhir. Cikal teori ini boleh ditarik ke awal upaya manusia untuk mengumpulkan pengetahuan secara sistematis. Sepanjang rentang masa perkembangannya pun, teori evolusi terbangun bukan hanya di atas satu, dua cabang ilmu.

Pada mulanya ada filsuf Aristotle (384-322 SM). Bapak ilmu pengetahuan ini memperkenalkan taksonomi: penggolongan organisme berdasarkan kesamaan sifat. Derajat kedudukan beragam organisme digambarkan Aristotle sebagai susunan anak tangga saling tersekat tanpa hubungan. Organisme tercipta spontan —dari tanah, misalnya, dengan karakteristik yang ditetapkan tak berubah sedari awal. Selama dua milenia berikutnya pandangan itu tidak banyak berubah, terutama selama abad-abad kegelapan.

Ilmu hayat mulai bergeliat kembali seiring meningkatnya penjelajahan samudera sejak abad ke-16. Awak kapal memboyong pulang beragam flora dan fauna eksotis ke benua Eropa. Mayoritas ahli botani semasa itu adalah tabib yang tertarik pada khasiat obat pada tumbuhan. Merekalah yang paling terdorong untuk menamai dan menggolongkan spesies-spesies baru dengan mengutak-atik sistem kategorisasi yang sudah ada.

Salah satu dokter abad ke-18 yang kembali berkutat pada hobi lamanya mengoleksi spesimen adalah Carolus Linnaeus (1707-1778). Karya taksonomisnya terbit pada 1735; mewariskan sistematika yang solid untuk seluruh tumbuhan dan hewan, dari tingkat level kingdom/kerajaan hingga spesies/jenis. 

Penemuan fosil dinosaurus pertama pada 1676 membuka jalan bagi palaentologi pada abad berikutnya. Kemiripan dan perbedaan antara sisa-sisa organisme yang tersebar luas dan semestinya sudah punah tampak berlawanan dengan gambaran dunia yang tak berubah.

Relik-relik kehidupan itu lantas memacu sekelompok orang untuk menekuni sejarah kehidupan. Di abad ke-18 naturalis Comte de Buffon telah menyuarakan kemungkinan jika kehidupan tidak selamanya sama dengan awal penciptaannya.

Pertama-tama Jean-Baptiste Lamarck (1744-1829) memajukan teori evolusi pada 1801. Lamarck yang semula menggeluti botani belakangan lebih dikenal sebagai ahli invertebrata. Hasil kerjanya dalam klasifisikasi beragam jenis cacing, moluska, dan sejumlah binatang tak bertulang belakang lain dinilai jauh melampaui masanya.

Dalam teori Lamarck mengenai pewarisan sifat baru, organisme berubah menjadi semakin kompleks sepanjang sejarah kehidupan. Bila lingkungan berubah, organisme perlu menyesuaikan diri dengan mengubah perilaku mereka. Hanya dengan begitu mereka mampu bertahan hidup. Untuk beradaptasi, organisme mengubah caranya menggunakan organ tertentu pada dirinya. Semakin sering suatu organ dipakai, semakin berkembang organ itu. Bila tidak pernah dipakai, organ akan mengecil bahkan dapat lenyap.

Contoh dari Lamarck yang paling sering dikutip orang adalah leher jerapah. Menurut Lamarck, semua jerapah mulanya berleher pendek. Akibat terbiasa menjulurkan lehernya untuk menggapai dedaunan pohon yang tinggi, maka suatu ‘cairan saraf’ mengaliri batang leher jerapah hingga memanjang. Keturunan jerapah tersebut akan mewarisi sifat baru organ ini. 

Setelah Lamarck, kita mengenal dua ilmuwan yang meletakkan fundamen bagi teori evolusi modern, yaitu Charles Darwin (1809-1882) dan Alfred Russel Wallace (1823-1913). Kedua lelaki Inggris ini telah bertualang ke pojok-pojok dunia: mengamati proses-proses alamiah, mengumpulkan bukti-bukti lapangan, dan membuat catatan ilmiah. 

Pencarian mereka sama-sama terilhami oleh teori kependudukan yang dicetuskan Thomas Malthus pada 1798. Keduanya melihat bahwa —seperti pada manusia— pertumbuhan populasi suatu organisme yang jauh melampaui daya dukung lingkungannya suatu saat dapat berbalik menekan tingkat kesejahteraan populasi itu.

Darwin sendiri sempat mengikuti kuliah kedokteran, tetapi dari kecil lebih suka memburu teritip dan serangga. Dapat dimaklumi bila Darwin kemudian lebih memilih ikut berlayar daripada melanjutkan pendidikannya. Darwin menumpangi HMS Beagle untuk mengembarai hemisfer selatan selama periode 1831-1836. Kehidupan di Kepulauan Galapagos dan Kepulauan Pasifik yang disinggahi kapal pada 1935 menarik perhatian khususnya. 

Darwin mengoleksi banyak spesimen tumbuhan, hewan, dan fosil selama itu. Ia juga tekun menulis catatan botanis, zoologis, dan geologis tentang daerah-daerah perhentiannya. Sekembali di Inggris, Darwin segera larut dalam pekerjaan menelaahi kumpulan spesimennya. Ia mulai membandingkan pula hasil temuan lapangannya dengan proses seleksi buatan dalam pemuliaan merpati peliharaannya. 

Catatan perjalanan Darwin di atas HMS Beagle telah diterbitkan sedini 1845. Wallace membaca buku ini dan tergerak oleh isinya. Demikian juga dengan buku Vestiges of Creation yang dipublikasikan oleh Robert Chambers pada 1844. Dalam bukunya, Chambers mengajukan jika spesies berasal dari reproduksi seksual biasa, bukan dari proses penciptaan yang spontan.

Perjalanan Wallace kemudian dilandasi oleh tekadnya untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya bukti yang dapat menyokong atau justru menolak ide Chambers. Ia mula-mula menjelajahi Amerika Selatan (1848-1852), sebelum menyambung ke Asia Tenggara (1854-1862), termasuk ke perairan Indonesia. Di wilayah ini ia mengumpulkan berbagai spesimen serta berhasil menemukan beberapa spesies baru. 

Adalah Wallace yang merumuskan garis imajiner yang dapat ditarik antara Bali dan Lombok, memanjang ke atas hingga jatuh di tengah-tengah Kalimantan dan Sulawesi. Garis itu merupakan hasil pengamatannya terhadap variasi sebaran satwa menurut keragaman bentang alamnya. Garis Wallace ini mencerminkan batas sebaran keragaman satwa Nusantara. Ada variasi satwa yang berkembang di benua Asia di sisi barat garis, sementara variasi di benua Australia muncul di sisi timurnya. 

Wallace kemudian sempat bermukim di Pulau Ternate pada 1858. Di periode itulah, dalam kondisi terserang malaria, Wallace tergerak untuk menulis surat kepada Darwin. Suratnya merupakan esai tentang proses seleksi alam, hasil perenungannya atas sebaran keragaman spesies yang dilihatnya selama ini. Ketika surat Wallace diterima Darwin di pertengahan tahun, ia terperanjat karena uraian Wallace mencerminkan konsep yang sedang dibangunnya sendiri. 

Darwin merasa takut jika terdahului langkahnya. Atas masukan geolog Charles Lyell, esai Wallace dijalin dengan pemikiran Darwin dalam satu makalah bersama berjudul On the Tendency of Species to Form Varieties; and On the Perpetuation of Varieties and Species by Natural Means of Selection. 

Lyell dan botanis Joseph Hooker memaparkan isi makalah gabungan itu kepada Linnean Society of London pada 1 Juli 1858. Baik Darwin maupun Wallace absen pada acara tersebut. Makalah mereka kemudian diterbitkan dalam Journal of the Proceedings of the Linnean Society of London pada bulan berikutnya.

Teori evolusi mereka mulanya dikenal sebagai teori Darwin-Wallace tentang seleksi alam. Bila publik kini lebih mengakrabi istilah teori Darwin, itu lebih karena Darwin antara lain menerbitkan buku yang menjelaskan konsepnya secara komprehensif pada 1859.

Darwin dan Wallace telah mengamati adanya pelbagai persamaan di antara berbagai spesies. Ada variasi sesuai kekhasan lingkungan spesies. Ini menjadi dasar bagi mereka untuk percaya bahwa makhluk hidup sebetulnya berevolusi dari satu nenek moyang yang sama. Sampai di sini, teori evolusi mereka serupa dengan teori Lamarck. 

Namun, dalam persepsi Lamarck, proses evolusi bersifat linier progresif, dengan manusia berada di pucuk perkembangan kehidupan. Darwin justru melihat arah evolusi berjalan secara acak, melalui proses pewarisan sifat secara alamiah. Setiap spesies pasti akan melalui proses seleksi alam. Spesies yang berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan bertahan hidup dan melanjutkan keturunan. Spesies yang gagal berevolusi dan reproduksi akan menghadapi kepunahan. 

Bila harus menggunakan contoh jerapah Lamarck kembali, akan lain plot cerita Darwin dan Wallace. Bagi mereka, akan ada beragam kelompok jerapah yang pada waktu yang sama hidup di suatu lingkungan berisi pepohonan tinggi. Ada kelompok jerapah berleher pendek, sebagian berleher sedang, ada pula yang panjang.
Kelompok jerapah berleher lebih panjang akan lebih mudah bersaing dengan kelompok lainnya dalam memperoleh makanan. Dengan demikian, lebih besar probabilitas kelompok ini untuk bertahan hidup dan meneruskan keturunan. Yang berleher lebih pendek berada dalam posisi tersudut dan akhirnya akan punah; menyisakan jerapah berleher panjang berlari-lari di sabana. 

Hal ini tidak lantas berarti suatu ragam sifat lebih superior dibandingkan yang lain. Bila dulu ada predator yang lebih suka memangsa jerapah berleher panjang, mungkin kini hanya akan dikenal jenis jerapah berleher pendek. Masing-masing organisme akan memiliki ceruknya tersendiri di alam. Bila tidak mampu bersaing dengan yang lain di lokasi tertentu, lantas tidak berhasil mencari rumah baru yang nyaman, maka organisme itu akan tinggal menunggu akhir waktunya.

Darwin dan Wallace belum dapat menjelaskan secara rinci bagaimana mekanisme seleksi alam berjalan. Misteri ini baru terpecahkan setelah ilmu genetika lahir kurang dari sedasawarsa kemudian. Eksperimen berbasis statistik Gregor Mendel mengenai variasi sifat yang diwariskan antargenerasi suatu spesies menjadi pencetus ilmu baru ini. 

Ilmu genetika selanjutnya berkembang pesat seiring perkembangan biokimia dan teknologi. Saat ini, ilmu genetika telah berkembang sampai ke tingkat molekuler, menyediakan bukti berlimpah yang hanya memperkuat teori Darwin-Wallace. Namun, mungkin ini bisa menjadi cerita lain untuk hari yang berbeda.

Dalam dunia Darwin dan Wallace, Tuhan masih menjadi sebuah tanda tanya. Bahkan bagi Wallace yang dikenal lebih spiritual dibandingkan Darwin dan percaya ada kecerdasan tertinggi yang menentukan arah evolusi. Yang jelas, dalam dunia Darwin dan Wallace, alam terkembang menjadi guru. Semua makhluk sama-sama menjadi muridnya yang setara. Manusia paling banter menjadi ketua kelas dalam kelompoknya.

Artikel Terkait