Sekapur sirih; beranjak dari ungkapan Azhari Akmal Tarigan, bahwa “sejarah hendaklah dibaca dan ditulis dengan semangat intelektual.” Mafhumnya adalah dimulai dengan menyelami dan menyelisik teks-teks sejarah dengan beragam kronik di masa lampau. Dan salah satunya, adalah tentang sejarah Si Penjual Karcis Bioskop.

Pada gerik ini, pukul 02 dini hari, pandangan saya tepat menghadap arah Kiblat dalam ruangan kamar tiga meter persegi. Dengan kedua bola mata yang sama terangnya dengan lampu neon. Arah yang begitu sempurna, namun sayangnya bukan dalam soal peribadatan dan sebagainya. Melainkan, duduk bersila di depan layar komputer, lalu menuliskan beragam kekalutan.

Dengan secangkir kopi hitam ekstra kental dan sekotak rokok. Bersamaan dengan marasai-meresapi makna hidup sebagai satu entitas manusia yang syarat dengan berbagai kecenderungan, ambisi hingga penuh dengan pergolakan nurani.

Meresapi yang berarti juga "sepintas" menyadari segala laku hidup, yang kadang diselubungi topeng hipokrit dan berbagai anekdot, lelucon sampai pada perenungan-perenungan yang ideal ala-ala kaum Sofisme atau orang-orang Eleatik yang identik dengan beberapa pertanyaan singkat namun tajam, misal, "sudah berapa lama hidup dan melanglang-buana? Apa makna dan tujuan dalam hidup ini?"

Maka, pada satu kesempatan yang nyaris sempurna ini, sebagai langkah awal yang bisa disebut sebagai "jawaban" atas perenungan atau sekaligus mengeksplor kekalutan yang tidak memiliki pelepasan secara konkret. Sehingga itu, saya memilih menulis dan membacakan Sejarah, dengan satu harapan supaya kembali kepada ikhwal si Penjual Karcis Bioskop dengan penuh semangat intelektual, seperti pesan Tarigan di atas.

Bermula dua tahun silam. Masuk dan mendaftar di salah satu perguruan tinggi di kota berjuluk Serambi Madinah (Gorontalo) -- dengan kepongahan dan pemahaman yang amat kaku – kemudian mengikuti Latihan Kader 1 (lk-1) di organisasi bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan harapan bisa lebih mengenal, bahkan digembleng untuk tunduk dan patuh terhadap ajaran “Islam”.

Singkatnya, saya adalah salah satu kader-anggota resmi dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam sejak September 2017 silam, dengan satu tujuan mulianya, yakni: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur, yang diridhoi Allah SWT.”

Pendeknya. Doktrin Tujuan itu kemudian mengakar dalam batok kepala dan terus menyelusur sampai ke akar-rumput yang bukan langsung melihat pada tubuh HMI sekarang ini dengan “kebesaran dan kesuksesannya” dalam mencetak kader-kader berprestasi, cerdas, bahkan populis. Dan juga HMI yang dikenali di banyak tempat, menjadi pusat perhatian, mulai dari tingkatan kampus-mahasiswa, sampai alumni-alumni HMI (KAHMI) yang banyak mengisi daftar nama di sektor pemerintahan dan partai politik.

Melainkan melihat HMI pada mulanya, dengan “sesosok pria” berperawakan gemuk, agak pendek, putih, punyai watak dingin, amanah lagi dermawan. Masa kecilnya terluntang-lantung di jalanan, sering pindah-pindah sekolah, dan pada satu kesempatan. Menjual Karcis Bioskop.

***

Sudah sepatutnya. Jika kita membaca satu persoalan, maka kita perlu membacanya dari segi historis. Termasuk dalam ikhwal ini, membaca persoalan HMI atau Himpunan Mahasiswa Islam.  Kita mesti tarik ulur sejenak ke masa lalu dengan siapa-siapa saja yang terlibat, terutama kepada sang Pendiri atau singkatnya, sebuah pendekatan untuk "menyamai" pemikiran untuk mencapai tujuan dari organisasi-himpunan.

Dalam pendekatan untuk menyamai pemikiran, tentunya, siapapun harus mengantongi beberapa referensi, sebab dari itulah, (tujuan) bisa dikatakan lebih jelas dan terarah atau sebagaimana mestinya.

Klaim ini (pendekatan untuk menyamai pemikiran) -- maka yang lainnya justru ambigu atau keliru -- berdasarkan realita HMI hari ini yang "terdistorsi" dari maknanya yang beberapa di antaranya adalah karena kader-kader HMI terlalu banyak berafiliasi dalam sektor pemerintahan dan politik. Atau lebih cenderung pada posisi-posisi struktural.

“Mungkin”, hal yang demikian merupakan penyebab. Akan tetapi menjadi pemimpin atau sebagai politikus (dan pada posisi struktural), bukanlah satu hal yang buruk, karena menjadi seorang pemimpin, tidak lain juga merupakan ikhtiar HMI dalam mewujudkan tujuannya.

Namun, sejauh ini dan secara otomatis, keterlibatan HMI yang begitu intens dalam (pemerintahan dan politik atau posisi-posisi struktural) membuat langkah HMI terbatasi, terkungkung dan tidak lagi pada tujuannya atau dengan kata lain, tidak lagi produktif.

Apa yang dimaksud dengan HMI yang tidak lagi produktif, dalam analisa saya adalah kerena kurangnya "gerakan-gerakan sosial" dari HMI yang seharusnya dapat mendompleng atau menampung aspirasi masyarakat yang berkorelasi dengan tujuan HMI. Apalagi dengan melihat kondisi negara saat ini dan masyarakat yang semakin ditindih oleh berbagai regulasi.

Sebagaimana Himpunan Mahasiswa Islam yang didirikan di Yogyakarta dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia atau tepat pada tahun 1947. Dan sebelum itu, pada bulan November tahun 1946, sudah ada “fase konsolidasi spiritual dan proses berdirinya HMI” sebagai langkah pertama yang menegaskan kalau HMI sudah dipersiapkan lebih awal untuk mengawal dan atau sebagai alternatif-solusi yang berperan penting untuk rakyat lagi bangsa ini.

Dengan apa yang melatarbelakangi HMI “berdiri” adalah: (a). “Mempertahankan negara republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, (b). Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.”

Apa yang melatarbelakangi HMI berdiri bisa dikatakan sebagai "ultimatum" atau gagasan-pikiran dari sang Pendiri yang membikin HMI sampai bisa sejauh dan sebasar seperti sekarang ini. Sehingga dari itulah, bagi saya sangatlah penting untuk menyamai pemikiran sang Pendiri.

Beliau berasal dari Sumatera Utara, terhitung tumbuh dan besar dari lingkungan yang berpendidikan dan amagis. Ibunya meninggal ketika beliau baru berusia 2 tahun. Dan ayahnya, adalah seorang tokoh politik dari Partai Indonesia, penulis, wartawan, sekaligus pembesar Muhammadiyah di daerah Sumatera Utara.

Tidak seperti ayah, kakak dan saudara-saudarinya dengan kepiawaian menulis dan pengagum karya-karya sastra. Beliau bahkan tidak meninggalkan karya buku, hanya beberapa karya tulis ilmiah seperti Jurnal. Mungkin hanya ada satu penggalan puisi dari Wara Vingar yang paling disuka oleh beliau: “ragaku dapat dipatahkan, tetapi jiwaku terus menyalakan api kemerdekaan.”

Seperti pada umumnya, para tokoh atau pemimpin yang lahir dan membawa perubahan penting, banyak melalui pasang surut kehidupan. Seperti Muso di stasiun Kereta Api, Aidit yang berkeliaran di Batavia atau Chairil Anwar yang banyak menghabiskan waktu dengan abang-abang becak dan tak asing lagi dengan bau pasar. Begitu juga dengan beliau, sebagai pemuda "tanggung" yang bahkan pernah sudah menggeletak di kaki lima emperan toko. Berjualan Karcis Bioskop rasanya sudah menjadi pilihan terbaik saat itu.

Si Penjual Karcis Bioskop. Mungkin beberapa pembaca sudah dapat menebak di awal-awal bahwa beliau adalah Prof. Drs. Lafran Pane yang merupakan penggagas awal berdirinya HMI. Sosok pemimpin yang memiliki atau dianugrahkan “sifat-sifat profetik”. Hal yang demikian dapat dijumpai dalam beberapa referensi mengenai sejarah tentang HMI. Salah satunya, dari buah karya dari Hariqo Wibawa Satria dalam bukunya yang berjudul: "Lafran pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya."

Dengan penuh kehati-hatian! Kata Hariqo Wibawa Satria, ia melalui berbagai wawancara, termasuk keluarga dan kerabat-kerabat terdekat yang masih sempat berdialog atau berdiskusi dengan beliau, seperti Syafii Maarif, Lukman Hakim, Sulastomo, Akbar Tanjung, Deliar Noer dkk. Juga beberapa rujukan referensi buku, termasuk yang paling utama dari Prof. Dr. Agussalim Sitompul. Hariqo Wibawa Satria akhirnya menulis tentang Lafran Pane. Juga kisah-kisah beliau yang dapat dikatakan “bukan hal yang biasa, atau tidak mudah diterima oleh kebanyakan orang”.

Lafrane Pane adalah sosok dengan kepribadian yang pendiam hingganya beliau disegani, karismatik, rendah hati, tawadu, zuhud, tidak ujub, jujur, sabar, sederhana dan punyai ilmu ikhlas yang sangat tinggi. Indikasi pada diri beliau inilah yang dimaksudkan oleh Hariqo, akan “kehati-hatian" yang dapat berdampak pada penilaian yang berlebihan atau pengkultusan terhadap beliau.

Namun, pastinya bisa memberikan pelajaran penting bagi kader-kader HMI, apalagi di era saat ini yang sepertinya HMI semakin kehilangan Etosnya. Pelajaran penting dari beliau yang terutama adalah beliau tidak mementingkan jabatan atau lebih mengutamakan kemajuan HMI. Terlihat pada awal-awal HMI berdiri, yang pada saat itu baru enam bulan, dengan niatan melebarkan sayap atau membuka cabang lain di luar STI.

Lafran Pane kemudian menemui Muhamad Syafa'at Mintaredja di BPT Gajah Mada dan membuka cabang lain di sana, sekaligus segera melakukan pergantian (reshuffle) dengan menjadi wakil ketua, sedangkan M.S Mintaredja sebagai ketua. Dan pada hal yang hampir serupa, beliau yang turun status atau jabatan dari wakil ketua, ke penulis I. Dan selanjutnya karena kekosongan pada posisi penulis II, maka beliau pun turun lagi ke penulis II, (di minta oleh pengurus lainnya) bahkan sampai beliau tidak lagi memiliki jabatan sama sekali.

Begitu juga beliau yang tidak memikirkan ketenaran atau dirinya sebagai pendiri HMI. Sebagaimana tercatat dalam satu momentum kongres ke VIII di Surakarta, seiring dengan berjalannya waktu, dan kader-kader HMI yang semakin banyak. Lafran Pane “tidak lagi dikenali” sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Islam. Dan kejadian serupa bukan hanya terjadi sekali.

Lafran Pane tidak terlalu terpikirkan dengan status sosialnya sebagai pendiri HMI. Beliau merasa sudah cukup dengan dirinya yang sederhana dan hidup terbiasa apa adanya. Pernah pula satu ketika para alumni-alumni HMI yang sudah dapat dikatakan “sukses” ingin memberikan bantuan kepada beliau, dengan memberikan bantuan Rumah yang lengkap dengan perabotan, telepon dan mobil, namun beliau menolak dan berkata dengan nada yang cukup keras: “saya tidak butuh, berikan saja kepada yang butuh. Saya ucapkan banyak terima kasih.”

Sebagai pendiri HMI, beliau diceritakan memang jarang bicara, berwatak tegas, sederhana dan konsisten terhadap prinsip dan pendiriannya. Sosok Lafran Pane yang sering tidak dikenali di organisasi yang ia dirikan sendiri, tidak populer di mana-mana, bahkan di kampung halamannya. Rumahnya sederhana, tidak memiliki telepon rumah, dan satu-satunya alat transportasinya adalah Sepeda Ontel kesayangannya, yang beliau gunakan ke mana-mana dalam beraktivitas sehari-hari dan sebagai dosen.

Yang beliau harapkan hanyalah ia tetap menjadi seorang nara didik, dan dengan “impian-tujuan” HMI yang terus dilanjutkan oleh kader-kader HMI se-Indonesia. Karena tepat pada tahun 1966, beliau dinobatkan sebagai guru besar Hukum Tata Negara. Namun beliau tetap pada aktivitas mengajar seperti biasanya dan tidak tertarik pada jabatan apa saja.

Barangkali sosok beliau. Etos dari seorang pendiri HMI yang pernah berjualan Karcis Bioskop, adalah seperti yang dipuisikan oleh Sanusi Pane -- sastrawan kita yang pernah menahkodai Keimin Bunka Shidoso (samacam lembaga kesenian dan kebudayaan) sekaligus kakak beliau -- dengan judul Teratai:

Dalam kebun di tanah airku,
Tumbuh sekuntum bunga teratai;
Tersembunyi kembang indah permai,
Tidak terlihat orang yang lain.

Akarnya tumbuh di hati dunia,
Daun bersemi laksmi mengarang;
Biarpun ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia,

Teruslah, O Teratai Bahagia,
Berseri di kebun Indonesia,
Biar sedikit taman,
Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun engkau tidak diminat,
Engkau turut menjaga zaman.

***

Begitulah, sosok sang Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam yang kini sudah berusia lebih dari 7 dekade. Tersebar di seantero Indonesia, populer di mana-mana dan hampir mencakup semua lini. Menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan yang cukup diperhitungkan. Namun, tentu dari siapapun yang terlibat di HMI, yang mengikuti berbagai jenjang pengedaran dan bahkan sedikitnya menikmati "fasilitas" karena sebuah garis hirarkis dan ideologis.

Pastilah akan bermuara pada satu pertanyaan mendasar. Apakah HMI menurut kita? Sehingga bagi saya, setidaknya jawabannya bisa ditemukan dari sosok Lafran Pane yang, barangkali sekarang ini luput "dibaca" dengan serius oleh kader-kader HMI.

Dengan demikian, membaca Lafran Pane, bagi saya adalah membaca tujuan HMI yang seharusnya. Mengumpulkan setiap fragmen-fragmen dan menjadikannya satu forma, sehingga dapat membangun kesadaran untuk kembali pada etos HMI yang seyogianya. Dan yang lebih penting lagi, supaya HMI, jangan hanya menjadi sekadar gincu untuk memoles kader-kader HMI (dan KAHMI) dalam setiap parade kampanye.



Tabik


Khadafi Moehamad


Referensi: Lafran pane: Jejak Hayat dan Pemikirannya (Penulis: Hariqo Wibawa Satria)