Membaca dan menulis laksana pengantin baru: hangat tarkala hujan dan mesra meskipun terik, kata Dahlan dalam novel Surat Dahlan karya Khrisna Pabichara. Untuk bisa menulis, perlu banyak membaca. Para penulis, sudah tentu membaca karena dengan membaca timbul inspirasi untuk menulis.

Dahlan adalah seorang mahasiswa, maka aktivitas membaca dan menulis adalah makanan sehari-hari yang dikerjakan oleh Dahlan. Dari itu, membaca merupakan kepuasan intelektual dan buah dari membaca itu bisa mengeluarkan ide-ide dalam bentuk tulisan yang merupakan keterampilan berbahasa untuk berkomunikasi.

Ibarat suami-istri, rayuan gombal yang diberikan suami untuk menyenangkan hati istrinya adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari rumah tangga. Begitu juga dengan mahasiswa, membaca dan menulis sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari dunia kampus.

Walaupun begitu, masih ada sebagian mahasiswa yang malas-malasan membaca apalagi menulis. Padahal salah satu tugas pokok dari mahasiswa adalah menulis karya ilmiah, merangkai materi kuliah dengan sistematis dan referensi yang bisa dipertanggungjawabkan dengan baik.

Dalam makalah ini mahasiswa disiapkan utuk bisa menulis skripsi kedepannya agar lebih mudah karena sudah menguasai cara membuat makalah yang baik dan benar, mulai dari cara penulisan, tata letak kalimat, cara membuat foot note, daftar pustaka dan lain sebagainya.

Permasalahan yang terjadi di lapangan adalah ada sebagian mahasiswa yang tidak paham akan fungsi dari penulisan makalah itu sendiri, bahkan saat ini semuanya serba mudah; tinggal kelik di google maka keluarlah tugas-tugas yang diinginkan. Dengan cara ini, tidak efektif dalam perkembangan keilmuan mahasiswa.

Membaca dan Menulis

Membaca dan menulis mempunyai hubungan yang kuat laksana pengantin baru, seorang penulis harus mempunyai wawasan luas dan alur proses menuju tulisan diawali dengan informasi sehingga ide tidak menjadi buntu. Orang yang membaca tidak dituntu ia harus menulis, tapi tidak bagi penulis ia ditunt untuk membaca.

Membaca dan menulis juga mempunyai manfaat yang sama-sama memberi warna bagi kehidupan seseorang, kedua aktivitas tersebut bisa memberi kebahagiaan dan kepuasan intelekual. Bertamasya dan bercinta di taman bacaan dan tulisan.

Membaca buku adalah hiburan bagi orang yang menyendiri, munajat bagi jiwa, dialog bagi orang yang suka mengobrol, kenikmatan bagi orang yang merenung dan pelita bagi yang berjalan ditengah malam,” sebuah ungkapan penyemangat hidup dari penulis ternama Aidh al-Qarni.

Dengan membaca buku bisa mengobati berbagai macam problematika kehidupan seperti rasa gelisah, galau, patah hati hingga hati terkoyak karena buku itu kata Aidh al-Qarni mengandung faedah, tamsil kebijaksanaan, cerita dan hikayat yang sangat unik.

Membaca buku teman bicara dalam keheningan malam, sahabat dan kekasih yang sedang memberikan nasihat. Andrea Hirata penulis novel bestseler Laskar Pelangi mengatakan bahwa “Buku yang bergizi adalah buku yang mampu menggerakkan pikiran.”

Dengan membaca juga akan menimbulkan rasa bahagia, hati bisa berubah dari rasa sedih menjadi riang gembira, pesimis menjadi optimis, dan dengan membaca mampu membangkitkan jiwa-jiwa gersang melalui kalimat-kalimat inspiratif.

Catatan harian Ahmad Wahid dalam Pergolakan Pemikiran Islam, ia mengatakan bahwa “Dengan membaca aku melepaskan diri dari kenyataan yaitu kepahitan hidup, tanpa membaca aku tenggelam sedih.” Strategi mendapatkan kebahagiaan adalah dengan membaca, bertamasya dan bercinta dengan berbagai bahan bacaan.

Di sisi lain membaca juga mempunyai peran sosial yang sangat penting dalam kehidupan manusia sepanjang masa, demikian diungkapkan Prof. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa. Guntur menjelaskan, tiga alasan membaca mempunyai peran sosial yang sangat penting.

Diantaranya: Membaca merupakan suatu alat komunikasi yang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat berbudaya. Bahan bacaan yang dihasilkan dalam setiap kurun zaman dalam sejarah sebagian besar dipengaruhi oleh latar belakang sosial tempatnya berkembang. Membaca membuahkan kutub-kutub yang konstruktif.

Budaya membaca dimulai dari individu masing-masing dan menjadikan membaca sebagai rutinitas yang terus digalakkan dalam kehidupan karena dengan membaca wawasan keilmuan semakin bertambah. Membaca bukan hanya mengisi otak tapi juga mengisi nutrisi yang ada dalam hati yaitu sebuah kebahagiaan dan kepuasan.

Begitu jugan dengan keterampilan menulis harus melalui latihan dan praktik yang banyak, karena itu siapapun bisa menjadi penulis karena menulis itu bukan bakat melainkan usaha dan latihan yang terus diasah setiap waktu. Untuk bisa menjadi penulis, harus belajar dari penulis lainnya dengan membaca karya-karyanya.

Misalnya dari penulis-penulis qureta yang memberikan stimulus dengan berbagai kategori bahan bacaan yang bisa memperluas wawasan, di qureta juga secara tidak langsung kita bisa belajar menulis dan melihat kekurangan. Qureta akan menolak tulisan yang tidak memenuhi kritera dan menerima tulisan sesuai kriteria.

Dengan menulis kita bisa melawan kedunguan di saat menyebarnya kebodohan, menyibukkan diri dengan ilmu adalah amalan paling utama dari ilmu yang telah didapatkan dan bisa disebarluaskan kepada khalayak ramai lewat tulisan.

Seperti halnya membaca, menulis juga banyak manfaatnya. Seperti dikatakan oleh Maya Angelou “Kunci menjadi seorang penulis itu ialah menyenang-nyenangkan diri, menikmati hidup agar tidak mudah stres.

Aktivitas menulis juga sebagai terapi diri (self-healing) dari keterpurukan hidup dan kesedihan yang mendera. Seperti dikatakan oleh Mathay dalam novel Habibie dan Ainun, ia mengatakan bahwa “BJ Habibie sebagai black hole, yaitu suatu kondisi psikosomatic malignan.

Di mana gangguan emosional berdampak negatif pada sistem organ vital manusia, sehingga menjadikan seseorang yang ditinggalkan pasangannya jatuh sakit yang progresif. Maka dari itu, tim dokter memberi alternatif kepada BJ Habibie untuk mencegah jatuh pada hisapan black hole dengan kegiatan menulis.

Menulis adalah suatu aktivitas yang menyenangkan bagi insan yang suka berada dalam kesunyian, ia berbicara lewat tulisan yang berasal dari hatinya. Patah hati, cinta yang ditolak, perasaan yang diabaikan, hidup penuh dengan liku-liku yang berduri, emosi memunculkan api amarah, rasa cinta, rasa benci dan lain-lain.

Buah dari tulisan itu bagi seorang penulis ketika tulisannya sudah selesai maka rasa bahagia meliputi hatinya walaupun ia berada dalam suasana hati yang remuk sampai kubah hatinya terkoyak dengan kisah hidupnya, selama ia curahkan dalam bahasa tulisan maka sesuatu yang lain hadir setelah menulis.

Membaca dan menulis sama-sama memberi kebahagiaan dan kepuasan intelektual, ia laksana pengantin baru: hangat tatkala hujan dan mesra meskipun terik.

Menulis adalah membagikan keahlian, aktivitas yang menyehatkan, membiasakan diri berpikir sistematis, menghindarkan diri dari aktivitas negatif. Lewat bahasa tulis kita terbiasa berpikir lebih sistematis, dan terstruktur kata guru besar bidang filsafat Komuruddin Hidayat.

Sementara membaca merupakan hiburan bagi orang yang menyendiri dan munajat bagi jiwa serta membaca juga mempunyai peran sosial yang sangat penting dalam kehidupan manusia sepanjang masa. Ada membaca, ada menulis.