15 Agustus 2019, di sebuah ruang teater bioskop Kota Yogyakarta, para penonton keluar ruangan dengan mata sembab. Film Bumi Manusia membuat kantung mata banyak orang membengkak. 3 jam duduk dan mengikuti alur film, menikmati cerita, musik, adegan, dialog, dan logika. Rasa sakit dan pedih dirasakan oleh para penonton, sampai menusuk ulu hati. 

Membaca tentu berbeda dengan mengeja. Proses membaca membutuhkan imajinasi dan logika untuk memproses kata menjadi konstruksi utuh sebuah peristiwa bahkan periode. Kita sudah terbiasa membaca “teks”, tapi familiar, kah, kita dengan membaca “konteks”? 

Membaca konteks dari sebuah teks bukan hanya tentang imajinasi dan logika, tapi tentang mempelajari sisi manusiawi dari sang penulis, mempelajari periode waktu dalam karya, mempelajari keresahan utama dalam diri penulis, mempelajari isu utama yang penulis bawa, dan mempelajari pemikiran sampai ide dari penulis. Dengan membaca konteks, kita akan lebih kaya dalam membaca sebuah teks. 

Membaca Bumi Manusia versi Falcon Picture dan Hanung Bramantyo tentu berbeda dengan membaca teks roman 520 halaman. Daya imajinasi dan logika kita tidak terlalu banyak bekerja, karena rangkaian adegan telah menyajikannya. Kita tinggal duduk manis, menatap layar, dan mengikuti alur kisah (dan interpretasi) yang sudah dibuat. 

Lalu, apakah membaca “konteks” tetap penting? 

Menggali Konteks Pram

Kita dituntut untuk menggali konteks yang (sadar tidak sadar) turut bercerita dalam teks. Ketika ada nama Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, dan tokoh lainnya, maka akan ada nama Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disebut Pram). 

Pram adalah penulis yang berkali-kali masuk dalam nominasi peraih Nobel Sastra, penghargaan paling prestisius dalam bidang sastra yang berskala internasional. Bumi Manusia pun menjadi karya yang berkali-kali menjadi kandidat utama untuk penghargaan tersebut. Dan sekarang, telah diterjemahkan ke 38 bahasa. 

Lalu, mengapa  Pram bisa menulis sebuah roman yang diakui dunia, menggoncang pemerintah Orde Baru, kemudian menggemparkan dunia sastra Indonesia dan dunia? Mengapa? 

Pada tanggal 13 Oktober 1965 (setelah peristiwa berdarah G30S), Pram ditangkap oleh pihak tentara. Tanpa proses pengadilan yang jelas, ia dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan terlibat dalam G30S. Lalu, ia dipenjara. 

Mulai tanggal 13 Oktober 1965 sampai Juli 1969, ditahan di penjara daerah Jakarta. Lalu, sejak Juli 1969 sampai 16 Agustus 1969, Pram dipenjara di Pulau Nusakambangan. Sedangkan Agustus 1969 sampai tanggal 12 November tahun 1979, diasingkan ke Pulau Buru. 

Sesudahnya, pada November sampai tanggal 21 Desember 1979, dipenjara di Magelang. Pram dipenjara oleh Orde Baru sekitar 14 tahun. 

Sebenarnya, Pram sendiri bukan anggota PKI. Secara ideologis pun ia mengaku tidak terlalu memahami Marxisme Leninisme. Ia merupakan aktivis dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, yang berafiliasi dengan PKI. 

Persoalan ini memang menjadi perdebatan, perkara ia seorang simpatisan dan aktivis LEKRA, perkara ia seorang penganut Marxisme, perkara ideologi “kesenian untuk rakyat”, dan perkara lainnya. 

Tapi ingat, dia adalah seorang seniman, bukan politikus. Pijakan kaki ideologi dan filsafatnya bisa menjadi hal yang tidak mutlak, karena seniman bekerja untuk kesenian dan peradaban. Banyak juga para kritikus yang menganggap Pram seorang humanis seperti Max Havelaar atau eksistensialis seperti Sartre, serta pijakan ideologi lainnya. 

Yang menarik ialah bagaimana proses kreatif Pram berlangsung. Ketika ditahan sebagai tahanan politik di Pulau Buru, ia tidak boleh membawa dokumen dan kertas. Sehari-hari bekerja di ladang dan sawah, membangun bendungan dan irigasi, membangun jalan, dan melakukan kegiatan menguras tenaga lainnya. 

Dalam kondisi “kerja paksa” tersebut, Pram dikurung dalam “rumah kaca”. Semua kegiatan surat-menyurat dibatasi, kontak dengan dunia luar dibatasi, bahkan kegiatan menulis juga dibatasi. Tidak ada kertas, tidak ada mesin ketik (sampai Oei Hiem Hwie datang), makanya jika kita melihat halaman akhir Bumi Manusia ada tulisan “Lisan 1973. Tulisan 1975”.

Selama bertahun-tahun, ia menceritakan ulang tulisannya kepada para tahanan politik lain, mengulang-ngulang, di dalam kebosanan dan penyiksaan. Itulah mengapa rekonstruksi sejarah dan penceritaan Bumi Manusia terasa pedihnya. Karena kepedihan itu hidup secara nyata dalam setiap detik proses kreatif yang berlangsung. 

Pada akhirnya, bisa kita interpretasikan bahwa pemerkosaan Annelies (oleh Robert Mellema) sepedih pemerkosaan para aktivis perempuan GERWANI; bahwa penyiksaan mental kepada Nyai di pengadilan Eropa sepedih tahanan politik yang dibuang tanpa proses pengadilan; bahwa “perjuangan menggunakan pena bertinta darah” yang dilakukan Minke sepedih proses kreatif Pram.

Yang harus menyembunyikan naskah Bumi Manusia, menulis di kertas bekas bungkus semen, menyelundupkan naskah kepada pastor. Lalu, setelah proses kreatif yang pedih itu berlangsung, bukunya dilarang oleh Jaksa Agung (1981), produksi-distribusi buku dilarang, dan beberapa pengedar-pembaca Bumi Manusia ditangkap.

Ya, sepedih itu ketika kita “membaca” konteks Bumi Manusia. Mari kita mulai menggali sebuah karya, tidak hanya teks tapi konteks. Menggali sisi sisi kemanusiaan dan peradaban dari sebuah karya seni. 

Seperti kata Tom Misch dalam album “Geography”, seni adalah cerminan dari masyarakat. Kesenian tidak pernah sesederhana itu, selalu ada konteks dan ide menarik yang mengikutinya.

Untuk memberikan literasi “konteks”, saya akan mengulas soal film Bumi Manusia dan tentunya roman Bumi Manusia dalam beberapa tulisan lain. Mungkin akan membahas soal Nyai Ontosoroh dan pergundikan, atau soal hubungan Minke dan Annelies secara kultural, atau bahkan soal iman kristen Jan Dapperste. 

Sekian dulu, terima kasih!

Referensi 

  • Pramoedya Ananta Toer. 2010. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara. 
  • Max Lane. 2017. Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik. Yogyakarta: Penerbit Djaman Baroe.
  • Rudolf Mrazek. 2017. Pramoedya Ananta Toer dan Kenangan Buru. Yogyakarta: Mata Bangsa. 
  • Koh Young Hun (2011). Pramoedya Menggugat. Jakarta: Gramedia