Di tengah pandemi ini, tentu akan sangat membosankan bagi kita jika hanya berdiam diri di rumah saja. Apalagi cuma buat males-malesan. Kan sayang waktunya.

Maka dari itu, saya menghabiskan waktu saya untuk membaca buku di sepanjang harinya, bahkan lembur hingga larut malam. Menjadi produktif itu intinya.

Kali ini, saya dengan buku ‘Renung’ karya Tengku Novenia Yahya. Sebuah buku yang tergolong ke dalam buku pengembangan diri atau self improvement. Buku yang terdiri dari 5 jumlah bab dan 198 jumlah halaman.

Tengku Novenia Yahya. Akrab disapa Novi dan berasal dari Riau. Meski merupakan seorang penulis baru dalam kancah dunia kepenulisan nasional, namun bukunya yang berjudul Renung ini cukup terbilang laris, sebagai salah satu buku upgrade diri terbitan Transmedia Pustaka Jakarta tahun 2019.

Bersama Nasihat Renung

Saat lelah, jangan dipaksa. Berhentilah sejenak, ambil jeda. Beri ruang untuk tertawa. Beri waktu untuk senyum ceria. Beri tempat untuk melepas penat yang ada. Setelahnya, berjalanlah seperti biasa. (Saat Lelah; halaman 3)

Kalimat di atas adalah salam peduli yang begitu hangat dari Renung bagi saya. Permainan kata dan rima, membuatnya tampak seperti puisi malam pelepas penat dan pengantar tidur nyenyak bersama sebuah selimut kata yang hangat.

Kita butuh syukur untuk tenang. Agar hati nyaman, pikiran tidak gamang. Agar jalan hidup tidak mengawang. Agar tidak melulu iri kepada orang. Apapun yang kita miliki, terimalah dengan senang. (Kita Butuh; halaman 5)

Terlihat dari kutipan tersebut, bukan hanya sebagai karya tulis, buku ini juga hadir sebagai sosok guru dan orang tua yang tiada henti dan tiada bosan menasihati pembacanya, di sela setiap suara-suara pelan si pembaca.

Beberapa kata ataupun kalimat dalam buku ini terasa sangat ajaib. Satu katanya terkadang miliki makna ganda atau bahkan lebih. Kuat dan tegas, tapi penuh kelembutan.

Kadang-kadang si Renung ini menggelitik saya. Sebagai mahasiswa semester akhir, saya tentu pernah lelah dan sesekali bahkan mengeluh rapuh. Maklum, saya hanya orang biasa yang juga punya batas tenaga dan rasa.

Dikasih kuliah, mengeluh banyak tugas. Belum selesai tugas yang satu, muncul tugas yang lain. Harus masuk ke kelas saat sedang mengantuk. Harus melakukan praktikum. (Mengeluh; halaman 11) seperti itu katanya.

Tidak hanya itu, soal pekerjaan pun Renung adalah bijak, menyenggol sedikit kenakalan saya juga tentang kerinduan saya di masa pandemi ini terhadap pekerjaan dan kantor saya. Ya walau cuma kerja part time, tapi tetap ngena.

Dikasih kerja, mengeluh lelah. Harus mengerjakan ini-itu, diburu deadline. Jam bermain jadi berkurang, tidak sebanyak saat kuliah. (Mengeluh; halaman 13)

Dikasih nganggur, mengeluh inginnya kerja. Bosan cuma diam di rumah. Tidak punya penghasilan untuk belanja keinginan. (Mengeluh; halaman 13)

Kadang-kadang kelihatannya, memang makhluk bumi ini salah satu kegemarannya adalah mengeluh yaa..

Menelan Malam Bersama Renung

Dari judulnya, buku ini sangat cocok diajak merenung, di tengah malam, sebelum menuliskan kembali apa-apa yang telah saya baca dari setumpuk buku di meja belajar dan kerja saya.

Buku bersampul hitam ini menyatu dengan pekatnya malam, pada saat saya membacanya, diselingi detak jam dinding.

Melihatnya saya over berselera, alhasil berhasil saya lahap hanya dalam hitungan jam saja, sebab halamannya cukup sedikit bagi saya yang kutu buku, yang biasanya lebih sering membaca buku yang jumlah halamannya di atas angka 300-400 halaman.

Buku ini mengingatkan saya tentang rencana saya menerbitkan sebuah buku pada awal Mei 2020 ini. Tetapi gagal.

“Sering kali kita merasa bahwa rencana kita sudah sempurna hingga terkadang lupa ada kuasa Tuhan yang bekerja.”

Kutipan di atas tentu sangat menyadarkan saya, atas peristiwa gagal terbit naskah sesuai rencana.

Waktu itu, saya berencana menyerahkan naskah karya tunggal saya ke penerbit indie di Januari lalu, agar bisa segera diterbitkan sesuai target di awal Mei tahun ini.

Saya memang telah mengirimkan naskah itu sebelumnya kepada penerbit mayor. Namun saya pikir naskah saya tidak akan ada kabar apa-apa dari penerbit mayor, karena sudah cukup lama saya rasa waktunya, sejak mengirimkannya. Itulah alasan saya untuk mencari penerbit indie terlebih dahulu.

Tapi Tuhan berkata lain. Naskah yang sudah saya pasrahkan kabarnya dari penerbit mayor, ternyata lewat badan e-mail pada 21 Januari 2020, dikabarkan sudah di tangan editor dan sedang dipelajari selama ketentuan waktu.

Dari sana saya belajar baik, bahwa terkadang kerja Tuhan di luar ekspetasi kita, tapi itu pasti yang terbaik. Untuk hal yang diceritakan tadi, tentu saja saya merasa bahagia.

Selain itu, sindiran yang memancing energi positif juga kerapkali muncul di beberapa lembar buku ini. Salah satunya ada pada kata-kata di bawah ini.

Pada mulanya kita boleh jadi berontak. Hati benar-benar menolak. Menganggap bahwa takdir benar-benar tidak memihak. Seolah alur hidup benar-benar telah rusak. (Pada Mulanya; halaman 19)

Buku Renung ini sangat representatif dalam menggambarkan sisi-sisi umum kehidupan yang dimiliki oleh banyak orang. Penulisnya kian cerdas. Dia tau bagaimana caranya membuat orang hanyut dalam ceritanya.

Renung sungguh benar-benar telah menjadi teman hangat. Malam di saat saya membacanya, saya tanpa sadar telah berkontemplasi dengan teramat khusyuknya. Lalu, tidur tenang dengan hati yang plong.

Renung mengajarkan saya untuk terus berjalan yakin apapun yang terjadi, dengan lapang dada dan keikhlasan.

Kalau dikasih jujur, buku ini merupakan wujud manusia fiksi yang manusia, memanusiakan saya hingga saya menjadi manusia yang lebih peduli dengan diri sendiri. Kalau ibarat kata, love your self namanya.

Buku ini berhasil, membuat saya merenungi segala bentuk kehidupan yang saya jalani selama ini. Kehidupan yang harus terus dijalani dan selalu diperjuangkan.

Bagian paling saya sukai adalah saat penulis melibatkan nama Chairil Anwar di dalam salah satu judul, dalam salah satu babnya. Beliau adalah salah satu bintang saya di ranah per-puisi-an dan kesusastraan Indonesia.

Dapat disimpulkan, bahwa buku Renung ini benar-benar teman yang hangat untuk menemani kesunyian di malam hari, sekadar kopi panas saja taklah cukup kawan.

Oh ya, satu lagi. Buku ini melarang untuk berhenti sampai di dia saja. Katanya, setelah ini, kita harus membaca yang lainnya dan lebih banyak, serta giat lagi. Selamat dan semangat baca ya semua. Mari!