Fakta bahwa kemalasan membaca yang benar-benar akut telah menimpa generasi bangsa bukanlah perkara yang tidak mengancam dan bukan pula baru saja terdengar di telinga kita.

Sudah sejak puluhan tahun lalu, berseliweran tulisan-tulisan mengenai betapa anak-anak muda sudah mulai menjauh dari buku-buku dan kegiatan-kegiatan literasi, lebih-lebih ketika kemajuan tekhnologi mulai menyerang batas-batas kehidupan kita. 

Ini cukup mengagetkan ketika kemudian Nicholas Carr menegaskan dalam bukunya, The Swallows; What The Internet is Doing to Our Brains, bahwa ketika seseorang telah mahir online, maka buku-buku dengan secepat mungkin tidak akan dibutuhkan lagi.

Ketika saya menjadi pembicara di beberapa seminar, pelatihan atau forum-forum diskusi kecil sejak lima tahun terakhir, peserta yang hadir selalu berterus-terang tentang betapa mereka sungguh malas untuk membaca buku. 

Menurut mereka, membaca buku adalah perkara yang rumit dan menyusahkan, butuh kesabaran, kesadaran dan juga semangat yang melampaui batas. Entah kenapa, mereka selalu berkata tidak bisa melawan sifat malas dalam dirinya sendiri dan seolah-olah, generasi bangsa semacam ini, menjadi makhluk lemah yang tidak mampu untuk sekedar menaklukkan sifat malas diri mereka sendiri.

Di balik kemalasan ini, ternyata anak-anak lebih gemar bermain game dan berselancar di dunia maya daripada membaca buku yang jelas-jelas lebih menjanjikan pengetahuan bagi akalnya. 

Akibatnya cukup fatal, dangkalnya pengetahuan harus ditanggung habis-habisan oleh mereka yang selalu malas membaca.

Dari dangkalnya pengetahuan inilah konflik dan kenakalan generasi bangsa lahir mencederai harapan-harapan baik bangsa di masa yang akan datang. Kemudian, konflik dan kenakalan generasi ini nanti akan menjadi citra buruk yang terus-menerus melekat di muka publik. 

Akhirnya, banyak orang yang mulai pesimis memandang masa depan bangsa ini dan mulai bertanya-tanya, bisakah sebuah bangsa menjadi maju apabila anak mudanya terutama, lebih tekun menonton hiburan daripada menambah pengetahuannya dengan mencintai buku-buku dan forum-forum diskusi? Lalu, apalagi yang dapat diperbaiki jika tidak kemudian kita harus mengembalikan para generasi bangsa ini untuk mencintai buku-buku.

Menyebut buku, sebenarnya kita seperti menyebut sebuah dunia. Dunia yang dimaksud adalah dunia pikiran kita masing-masing. Ketika kita sedang membaca sebuah buku, itu berarti kita sedang berusaha memahami, mendalami dan menyimpulkan buku itu dengan dunia pikiran kita sendiri. 

Setelah membaca, pikiran kita akan seolah-olah bertambah luas pengetahuannya, seolah menemukan sebuah daratan dunia atau berdimensi baru. Penemuan dimensi baru dalam pikiran kita inilah yang akhirnya harus kita sebut sebagai gejala bertambahnya pengetahuan akibat membaca buku, dan ketika pengetahuan kita telah bertambah, maka keberlangsungan hidup kita akan lebih baik dan lebih terbuka, tentu kemudian akan terhindar dari konflik dan kenakalan.

Betapa kemudian, ketika menyebut buku, kita seperti sedang menyebut pengetahuan dalam pikiran kita masing-masing dan kita seperti sedang memburu sebuah jalan menuju kebaikan pikiran-pikiran kita di masa yang akan datang. Maka tidak salah apabila menyebut bahwa mencintai buku adalah sama saja dengan mencintai masa depan pikiran kita masing-masing sebagai generasi bangsa.

Jika boleh lebih definitif, buku adalah tumpukan ide-ide tentang dunia yang jatuh tertulis dengan teks-teks. Dengan teks pada buku-buku itu, sebuah hal diulas, dijelaskan dari bagian satu ke bagian berikutnya, melalui sudut pandang dan metode-metode pengkajian masalah yang baik oleh yang menulis hingga akhirnya, seorang pembaca mendapatkan sebuah pengertian, wawasan, kesimpulan dan tentu sebuah pencerahan dari buku itu. Setelahnya, mungkin saja seorang yang membaca buku mendapat pencerahan sehingga pikirannya akan menjadi lebih terbuka dan dewasa dalam menghadapi sebuah persoalan.

Sebuah buku pada umumnya lahir dari proses yang cukup panjang, dari sebuah penelitian pustaka atau surat kabar yang referensial dari waktu ke waktu sebelumnya atau pengkajian kritis dari realitas dunia atau temuan-temuan yang ditemukan oleh penulis pada masa di mana buku itu direncanakan untuk kemudian ditulis atau campuran keduanya. 

Karena buku-buku lahir dari sebuah penelitian dan pengkajian kritis realitas dunia yang panjang, maka tak ayal bila sebuah buku memberikan kita sebuah pengetahuan kritis tentang dunia. Maka di saat itulah boleh benar apabila ada kata, buku itu jendela dunia karena memang menjelaskan hal-hal di belahan dunia ini dan pikiran kita dibuat semakin luas menjelajahi dunia seiring bertambahnya buku-buku yang kita baca itu.

Kita tidak bisa mengumpulkan satu per satu pengetahuan di belahan bumi ini dengan cara bepergian keliling dunia dari waktu ke waktu dengan diri kita sendiri. Selain dunia ini terlalu luas bagi makhluk kecil seperti kita, juga tidak mungkin bagi kita untuk menjelajahi pengetahuan di masa lampau yang telah terlampau jauh bahkan sebelum kita sendiri lahir ke muka bumi ini. Kalau dipikir lagi lebih waras, berapa biaya dan waktu yang kita butuhkan untuk berkeliling dunia hanya untuk mengumpulkan pengetahuan, dan apa itu mungkin?

Generasi kita memang tidak bisa bertemu Ibnu Khuldun, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi atau bertemu Pitagoras, Plato, Rene Descartes, Albert Einstein, Charles Darwin, Derrida, Soekarno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, W.S Rendra, Wiji Tukul dan seterusnya untuk kemudian belajar. Tetapi kita bisa membaca tulisan dan buku-buku mereka. 

Kemudian ini menjadi gambaran yang lebih jelas, bahwa tulisan dan buku-buku itu adalah sambungan pengetahuan dari waktu ke waktu yang sungguh bisa membuat kita melipat dunia yang teramat luas, yang tidak bisa kita lipat dengan kepala dan tangan kita sendiri, menjadi sebuah teks-teks yang kemudian dapat kita pelajari sepuasnya sekarang juga.

Maka di bagian ini saya hendak menegaskan bahwa ketika dunia jatuh dalam bentuk teks atau buku, ditulis berlembar-lembar, dan dibaca oleh kita, maka kita sebenarnya sedang mengisi kepala kita dengan hal-hal beraromakan pengetahuan dunia dan kita seolah-olah telah menyebrangi waktu dan dunia yang telah tidak mampu kita sebrangi itu. 

Kemudian, apakah tidak beruntung saat kita bisa menikmati pengetahuan dunia hanya dengan membaca dan mencintai buku-buku. 

Selain itu kita memang harus menyadari bahwa mencintai buku adalah mencintai pengetahuan. Semakin kepala kita diisi pengetahuan maka pikiran kita akan semakin tercerahkan, dan tidak akan pernah sempat kita berbuat buruk pada lingkungan-lingkungan kita. Maka, inilah yang mesti diperhatikan oleh para generasi bangsa.

Tetapi sungguh banyak yang tidak menyadari pentingnya membaca buku. Kita bisa melihat dan merasakannya sendiri. Sekarang ini, membeli paket data internet, pakaian modis, memakai behel, membeli bedak, lipstik, memperbaharui gadget dan berkeliling ke tempat-tempat wisata itu dianggap lebih baik daripada membeli buku dan membacanya.

Ketika kian hari kita mengutamakan gaya hidup semacam ini, maka budaya baca akan terancam punah, dan membaca buku bukan lagi sebuah gaya yang bagus. Apabila demikian, maka terancamlah kehidupan generasi bangsa kita saat ini.

Setiap orang tahu bahwa yang terpenting dari seluruh organ tubuh manusia adalah akal yang sehat dan wawasan yang luas, bukan penampilan tubuh atau bungkus tubuh. Tetapi kini yang terpokok bukanlah itu, justru yang utama adalah modifikasi penampilan fisik dan eksis di sosial media, bertik-tok, bergaya selebritas atau pergi ke mall hanya untuk foto yang instagramable

Akibatnya, budaya membaca buku bukan hanya turun drastis, tapi lenyap sama sekali. Pengetahuan anak muda yang padanya bangsa akan dititipkan kelak, justru menjadi semakin dangkal saja. Sehingga, apabila suatu ketika bangsa ini dipegang oleh tangan-tangan yang otaknya tidak berpengetahuan, maka tidak akan lama bangsa ini akan menemui kehancuran peradaban karena hancurnya peradaban seiring dengan hancurnya buku-buku dan budaya membacanya. Lalu, apalagi yang mesti dilakukan jika tidak mengembalikan anak-anak muda pada komunitas-komunitas literasi.

Andrew Fowler menulis buku The Dangerous Man in The World, sebuah kisah tentang Julian Assange yang cerdik, pemberani, dan peduli terdahap hak-hak masyarakat dunia untuk memperoleh informasi yang dirahasiakan oleh pemerintah, dalam arti lain, Julian mengajarkan Jurnalisme Sains kepada kita. Julian adalah seorang yang tidak terlalu mengurusi kehidupan duniawinya, bahkan ketika menginap di rumah temannya, Julian suka meminta makanan sisa yang sudah dingin agar tak merepotkan. 

Dalam buku itulah, Julian diceritakan kisah hidupnya yang tidak terlalu butuh uang dan hampir sepenuh hidupnya dipersembahkan untuk membocorkan kebusukan negara-negara adikuasa lebih-lebih Amerika dalam penembakan di Baghdad, Irak. Pada buku itu kita bisa mengetahui hal seputar London, Australia, Swedia, dan media pemberitaan raksasa seperti New York Times, The Guardian, Der Spiegel dan lain-lain.

Misalnya pula pada novel Aldous Huxley, Brave New World, yang ditulis pada tahun 1932 dan menjadi 100 novel terbaik sepanjang masa versi The Observer, hadir untuk mengkritik perkembangan pengetahuan yang di masa depan mungkin keterlaluan (huge scientific developments) dan upaya-upaya manipulatif dalam menciptakan manusia baru dengan tekhnologi canggih tanpa harus ada sistem pernikahan tubuh, yakni murni bagaimana manusia diciptakan melalui percobaan-percobaan dan persilangan sel-sel dalam tabung. 

Bebeberapa buku lain seperti Metamorfosis Franz Kafka, Bumi Manusia tulisannya Pramoedya, Perlawanan, Pemberontakan, Kematian yang ditulis oleh Albert Camus dan Derrida yang ditulis Muhammad Al-Fayyadl adalah bagian kecil dari buku-buku dunia yang memberikan banyak pencerahan.

Pada buku-buku semisal di atas, seharusnya kita bisa belajar banyak hal tentang dunia, mengambil hikmah sebanyak-banyaknya, dan terus mencari buku-buku lain agar bertambah wawasan kita sehingga kelak akan menjadi seorang pemimpin yang benar-benar berwawasan luas dan mampu membawa pencerahan. 

Buku-buku itu memang ditulis sebagai sebuah penjelasan atau peringatan atau pula pesan dari masa lampau yang mesti dipelajari dan diambil hikmahnya. Pada buku-buku itu, semestinya pikiran kita didekatkan dengan sungguh-sungguh dekat. Jika tidak dengan membaca buku, apakah kita mampu mengetahui segala hal dengan sendirinya? Tentu jawabannya adalah tidak.

Kita harus tahu, sesuatu yang tidak bisa ditertibkan dalam diri mansuia adalah pikirannya. Sangat mungkin kita menjumpai seorang anak muda yang pakainnya rapi dan wajahnya tampan setiap hari. Tapi tidak ada yang menjamin apakah pikirannya serapi pakaiannya. Kita banyak menjumpai pula orang-orang yang rapi penampilannya justru pikirannya kotor; mencuri uang negara, memlagiat karya orang lain, merampok di bank-bank semisal seorang hacker bejat. Mereka melakukan itu karena pikirannya tidak pernah terdidik atau tertib dan tidak pernah mengambil faedah pengetahuan dari buku-buku yang dibaca.

Di sinilah, pikiran-pikiran generasi bangsa adalah yang terpenting yang mesti dididik, mendekati buku-buku, forum diskusi, kelas-kelas literasi agar bisa ditertibkan sejak masih di usia muda. 

Maka dengan ini, tantangan terbesarnya adalah ketika buku-buku sungguh-sungguh ditinggalkan di rak-rak dan memilih berselancar ke dunia lain yang membodohinya dengan perlahan-lahan. Maka pastilah setelahnya, kebodohan generasi akan merajalela dan sebab kebodohan itu pula, stabilitas sosial bangsa akan terancam tiada habisnya.

Maka telah sampailah kita pada sebuah kesadaran bahwa mencintai buku adalah perkara memapankan dan menertibkan pikiran-pikiran agar terhindar dari tindakan-tindakan bodoh dan menyimpang. 

Bangsa yang besar itu, menurut saya, adalah bangsa yang para generasinya mencintai buku-buku. Sebab hanya dengan otak yang cerdas dan pengetahuan yang luas, yang pada umumnya diperoleh dari buku-buku yang mereka baca, seseorang bisa menentukan suatu jalan yang lebih baik dan tidak sempit. 

Kemudian yang mesti diingat, memilih meninggalkan buku-buku ialah sama saja dengan menggali kuburan untuk bangsanya sendiri.