Membaca yang saya maksudkan ialah membaca buku. Sebab kalau membaca yang lain, mungkin bisa saja disebut membaca; membaca buku digital, membaca lingkungan sekitar. Tapi membaca yang efektif adalah membaca yang sebenarnya, yaitu membaca buku.

Membaca berarti mencerna, entah itu pengetahuan, informasi, atau pengalaman dari apa yang tertulis pada buku. Bukan hanya kemudian mempertanyakan apa dan mengapa, tapi juga berpikir mengenai hal-hal yang kita pertanyakan.

Ketika berusaha membeli buku, berarti kita berupaya membeli gizi bagi otak. Jangan hanya perut saja diisi, tapi pikiran perlu juga ikut mencerna. Mungkin kita hanya mencerna hal-hal digital, seperti melihat berita online, tulisan-tulisan di website Qureta, dan media lain yang menarik. Hal itu bagus, tapi tidak cukup berhenti sampai di situ.

Saya datang ke toko buku, melihat pemuda yang sedang duduk di lantai sambil membaca buku dengan khidmat. Mungkin uangnya belum cukup untuk membeli buku tersebut, tapi keinginan membacanya yang patut mendapat apresiasi.

Sebab kebanyakan orang membeli buku, kemudian pulang dari toko buku. Sampai di rumah hanya menjadi hiasan, atau simpanan. Sayang sekali buku “mahal” itu tidak diacuhkan. Mahal bukan dalam artian harga, tapi impelementasi dan kontemplasi ide tulisan yang begitu mahal.

Buku harganya tak terjangkau bagi sebagian orang. Oleh karenanya, hadir perpustakaan yang bisa berperan; yang bisa meminjamkan buku, atau harta karun bagi segilintir orang, orang-orang yang menyukai bau buku dan kertas-kertas yang berwarna cokelat muda itu.

Saya menyukai membaca di perpustakaan atau di dalam kamar. Membaca buku adalah kenikmatan yang hanya bisa dirasakan ketika kita berhasil masuk dalam tulisannya. Biarkan diri untuk dipengaruhi dan digiring oleh kekuatan tulisan si penulis. Saya pasrah saja digiring, bagai seorang penggembala kambing menggiring gembalaannya.

Meski saya tak setuju pun, saya berusaha mengalah. Pikiran saya seperti dihipnotis oleh penulis. Sebagai pembaca, saya terkesan dengan beberapa tulisan yang terangkai indah dalam sebuah buku.

Buku adalah karya seni yang bisa dicerna oleh siapa pun. Saya sebagai pembaca pun tak mengetahui bagaimana, apa, dan panjangnya proses pembuatan buku tersebut. Mulai dari mengumpulkan bahan, ide, menulis, membaca, menulis lagi, mengedit, diserahkan kepada editor.

Kemudian, peran penerbit membentuk layout, desain, mencetak, dan memasarkan buku, baik di toko buku maupun secara online. Saya tak tahu-menahu tentang apa yang terjadi sebelum buku tersebut berada dalam pegangan tangan saya. Saya hanya menikmati buku yang telah jadi.

Yang saya tahu, buku tertata di toko buku. Buku dengan sampul yang membuat mata saya terpikat. Buku yang nyaman digenggam dan berkata ingin dibawa pulang. Buku yang menjadikan uang saya lenyap. Tak masalah, asalkan ada buku. Kalau tak ada uang, tinggal ke perpustakaan. Kalau bosan ke perpustakaan, tinggal ke toko buku.

Membaca e-book boleh-boleh saja, tapi ada yang hilang. Dan mungkin Anda juga merasakan. Kehilangan sentuhan, dan tiada aroma itu saat membaca melalui HP atau laptop. Sentuhan magis itu pudar kala membaca melalui digital. Membaca buku adalah kegiatan membaca yang terbaik.

Makna Literasi

Kita tak perlu risau bahwa literasi kita rendah di peringkat sekian, di antara seluruh negara di dunia. Apa karena orang Indonesia tak suka baca buku?

Kata Yona Primadesi, penulis buku Dongeng Panjang Literasi Indonesia, literasi bukan hanya perkara baca-tulis-hitung, tapi di sana juga ada kritis, mengkaji, menganalisis, komunikasi, di mana hal-hal inilah yang luput oleh sebagian besar masyarakat, khususnya orang tua.

Membaca adalah literasi. Dan literasi memang tak bisa dipisahkan dengan membaca. Tapi makna dari literasi tak bisa disempitkan hanya pada perkara aksara, bisa membaca dan menulis, tapi bagaimana seseorang mampu berkomunikasi dalam masyarakat.

Ketika siswa yang pintar di kelas, tapi gagap hadapi kehidupan sosial bermasyarakat, hal ini yang seharusnya lebih diperhatikan, yaitu makna literasi secara luas. Literasi dapat dimaknai sebagai sebuah proses pembelajaran yang berlangsung seumur hidup.

“Jangan jauhkan makna literasi dari pikiran dan hidup kita, karena literasi dimulai dari kita,” ucap Yona Primadesi.

Membaca merupakan kegiatan yang sarat manfaat. Tak ada yang salah bila sedikit mendorong anak mencintai aktivitas membaca. Sebab pembaca yang baik dan tekun cenderung memiliki ketajaman analisis teks dan daya ingat yang lebih baik. Dan untuk membangun kebiasaan membaca itu tidak mudah.

Seperti kata Chambers, readers are made not born. Kebiasaan membaca dibentuk bukan tercipta secara langsung. Keluarga sebagai tempat pertama dan krusial dalam membangun iklim membaca yang kondusif, membangun kesadaran membaca yang tinggi. Membaca bukan hanya buku pelajaran, tapi bisa juga buku sastra seperti novel, cerpen, dan puisi.

Phillips Pullman mengatakan bahwa anak membutuhkan sastra sama halnya seperti kebutuhan akan air dan udara. Sastra membuat anak tahu kosakata baru. Bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga bekal menjalani kehidupan.

Jadi literasi merupakan pembelajaran, yang kita dapatkan dalam hidup. Membaca adalah jalan awal untuk menuju literasi yang baik. Kita bisa membaca buku apa pun, baik fiksi maupun non-fiksi. 

Saya menyukai buku yang memiliki cerita, seperti novel, puisi, cerpen. Saya pun menyukai buku non-fiksi, yang berdasarkan pengalaman dan pengetahuan penulis. Kita bisa membaca buku, dimulai dari kesukaan kita terhadap suatu hal.

Membaca merupakan aktivitas yang penting bagi kehidupan kita. Dengan membaca, kita akan mendapatkan konsep, pengetahuan, pengalaman baru, yang bahkan belum pernah kita pikirkan sebelumnya. Makin banyak membaca, akan membuat kita merasa tak tahu apa-apa. Memang begitulah, karena sebenarnya hanya sedikit hal yang kita tahu.

Sehingga membaca saya katakan sebagai kegiatan mencerna pengetahuan. Silakan Anda interpretasikan membaca sesuai dengan perspektif Anda. Membaca mengubah pandangan Anda. Membaca menjadikan Anda lebih baik, membaca sebagai gaya hidup, membaca mengenal kehidupan, dan sebagainya.

Membaca memengaruhi pembaca, itulah yang saya suka.