Sumber: blog pribadi Alobatnic

“Jangan percaya pada patah kata yang tersebar, jangan lepaskan hati kecilmu, bahkan ketika keadaan sulit datang, itu tidak masalah.”

Park Bom, penyanyi yang dinanti.

Abu Hamid Muhammad al-Ghozali kembali menjadi pusat perhatian saya melalui karya tulisnya berjudul al-Munqidz min al-Dholāl, yang dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan “Pembebas dari Kesalahan”. Buku ini dapat dianggap sebagai memoar al-Ghozali lantaran memuat tuturannya mengenai perjalanan keilmuan yang dialami. Untuk tipikal orang yang malas membaca seperti saya, buku ini terbilang asyik. Asyiknya begini: pembaca disuguhkan perjalanan keilmuan secara runut disertai pandangannya terhadap beberapa cabang keilmuan.

Posisi al-Munqidz min al-Dholāl dalam pustaka pribadi saya serupa dengan Surely You're Joking, Mr. Feynman! karya Richard Phillips Feynman, ahli fisika asal Amerika Serikat, serta My Brief History karya Stephen William Hawking, ahli fisika asal Britania Raya. Ketiganya termasuk buku hiburan buat saya, yang memberi hiburan berupa kekayaan intelektual, emosional, dan spiritual.

Keserupaan dengan Surely You're Joking, Mr. Feynman! terletak pada keberhasilan tuturan dalam menunjukkan kepribadian penulis yang kritis dan dinamis. Bedanya, tuturan Richard Feynman lebih humoris ketimbang Abu Hamid al-Ghozali. Sementara keserupaan dengan My Brief History, terletak pada uraian yang singkat kata dan padat makna dalam memotret perjalanannya. Bedanya buku Abu Hamid al-Ghozali tak disertai foto seperti buku Stephen William Hawking.

Namun, perbedaan yang lebih penting antara ialah al-Munqidz min al-Dholāl dapat memberi hiburan berupa kekayaan spiritual yang selaras dengan keyakinan saya (my faith) sehingga bisa diadopsi seutuhnya—kalau mau dan mampu. Berbeda dengan Surely You're Joking, Mr. Feynman! dan My Brief History, yang kekayaan spiritualnya perlu melalui proses dialektika sehingga hasilnya berupa adaptasi.

Barangkali buku al-Munqidz min al-Dholāl dapat juga dianggap sebagai autobiografi laiknya Surely You're Joking, Mr. Feynman! dan My Brief History. Tentu kelengkapan uraian mengenai diri penulis yang dilakukan oleh al-Ghozali tidak sebanyak Feyman dan Hawking. Pasalnya dalam tradisi keilmuan Islam, terutama pada masa al-Ghozali, terdapat kecenderungan untuk tidak menulis sejenis autobiografi.

Kalaupun terdapat karya tulis yang berkisah tentang tokoh tertentu, biasanya berupa biografi. Biografi al-Ghozali sendiri kali pertama ditulis oleh pengagumnya asal Persia, yakni ‘Abd al-Ghofir al-Farisi. Hal ini bisa jadi sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak membanggakan diri sendiri meskipun memiliki prestasi yang pantas dipuji.

Meskipun demikian, biasanya uraian mengenai diri sendiri banyak tersebut di beberapa karya tulis yang diwariskan. Dampak buruk kecenderungan tersebut ialah menyulitkan generasi selanjutnya untuk mengetahui sisi pribadi tokoh. Sehingga ketika sisi pribadi tokoh ingin diketahui secara rapi dan rinci, semua karya tulis warisan tokoh tersebut harus dibaca seutuhnya. Ini dampak bagusnya.

Dalam al-Munqidz min al-Dholāl, al-Ghozali mengungkapkan alasan pemilihan Tashowwuf sebagai pelabuhan terakhir dalam perjalanannya. Kebetulan alasan tersebut dituturkan pada bagian terakhir dalam buku yang mencakup beberapa aspek darinya. Aspek yang diuraikan mencakup memoar, gambaran kecendekiaan yang merekam pengalaman psikis, tanggapan terhadap keadaan lingkungan, serta pandangan terhadap beberapa cabang keilmuan dalam posisinya sebagai jalan mengenali diri—sebagai upaya mengenali Ilahi-Robbi.

Al-Munqidz min al-Dholāl ditulis oleh al-Ghozali sekitar usia 50 tahun. Memang tidak ditemukan informasi tersurat dalam buku tersebut yang menunjukkan hal ini. Walakin bukan berarti tidak mungkin dicari. Pasalnya terdapat tuturan yang menceritakan perjalanan al-Ghozali sepanjang tahun 488-99 H./1095-105 M. Sehingga dapat diperkirakan bahwa buku ini ditulis pada 499-500 H./1105-6 M atau paling mentok ialah 505 H./1111 M., tahun wafatnya al-Ghozali. Hal ini menujukkan kalau al-Ghozali terbilang aktif menulis sampai akhir perjalanannya di Planet Bumi.

Sejauh yang dapat diketahui, al-Munqidz min al-Dholāl merupakan karya tulis terakhir yang dihasilkan oleh al-Ghozali. Karena itu tidak mengherankan apabila bisa menjadi sejenis rangkuman perjalanan dan pandangannya. Rangkuman perjalanan diperoleh melalui cerita yang disajikan secara urut. Sementara rangkuman pandangan didapatkan dari cerita tersebut, yang memuat kajian ulang terhadap karya tulis utamanya. Dari sinilah saya menempatkan al-Munqidz min al-Dholāl sebagai karya azam dari sosok yang wafat sebelum berkepala enam.

Judul al-Munqidz min al-Dholāl sendiri merupakan singkatan dari judul lengkap buku ini. Untuk judul lengkapnya, terdapat dua nama: ialah al-Munqidz min al-Dholāl wa al-Mufshih an al-Ahwal serta al-Munqidz min al-Dholāl wa al-Muwassil ila Dzil 'Izzati wa al-Jalāl. Karena itu, untuk beberapa keperluan seperti dalam catatan ini, saya lebih memilih judul singkatnya saja yang sama-sama menjadi sebutan pertama pada dua judul lengkap.

Judul singkat al-Munqidz min al-Dholāl seakan menunjukkan bahwa al-Ghozali telah mengalami kebingungan lantaran merasa berada pada kesalahan diri dan/atau termasuk ke dalam bagian masyarakat yang sedang rusak. Hal ini membuatnya mendalami beragam cara, ialah cabang keilmuan, yang dapat mengantarkannya kepada tujuan utama, ialah Allah.

Hanya saja, judul singkat ini boleh jadi terasa menggelitik. Pasalnya Muhammad berkata bahwa, “Aku telah meninggalkan pada kamu dua perkara yang tidak akan membuatmu beada dalam kesalahan selama berpegang kepada keduanya, ialah Kitab Allah dan sunnah nabi-Nya”.

Tentu saya tak ragu bahwa al-Ghozali mengerti perkataan Muḥammad tersebut, bahkan dapat menjelaskan kepada orang lain secara lisan maupun tulisan, disertai keyakinan yang kuat untuk terus berpegang pada Kitab Allah dan sunnah nabi-Nya. Tentu saja judul tersebut dipilih oleh al-Ghozali bukan dalam rangka menganggap bukunya dapat dijadikan sebagai pengganti Kitab Allah dan sunnah nabi-Nya.

Saya sendiri lebih memandang pemilihan judul tersebut sebagai tanggapan terhadap keadaan. Keadaan lingkungan pada saat itu sendiri sedang mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut seperti korupsi sedang merajalela sepertihalnya pandangan yang menjauhkan masyarakat dari Islam serta munculnya gerakan perisak keharmonisan dengan mengatasnamakan Islam. Mungkin juga keadaan psikis Al-Ghozali, yang mengalami depresi lantaran merasa sedang berada dalam kesalahan. Kerusakan dan/atau kesalahan tersebut membuatnya berupaya untuk menyelami pemikiran yang sedang berkembang agar dapat memberi tanggapan.

Dari tanggapan inilah, mungkin, gagasan memilih ungkapan al-Munqidz min al-Dholāl menyembul sebagai buku yang menunjukkan tanggung jawab al-Ghozali sebagai cerdik-cendekia untuk memimpin masyarakat agar terbebas dari kesalahan menuju kebenaran, dari kerusakan menuju kebaikan, yang berlandaskan keilmuan.

Buku ini terdiri dari sembilan bagian, berupa pendahuluan dan delapan pembahasan. Dalam pendahuluan, al-Ghozali menyebut bahwa buku ini ditulis karena seseorang yang memintanya untuk menulis tentang uraian beberapa ilmu dan rincian beberapa aliran. Tak jelas seseorang yang dimaksud. Boleh jadi hal ini merupakan ungkapan umum dari sosok yang mengerti posisinya dalam hierarki masyarakat. Posisi sebagai cerdik-cendekia yang dituntut untuk menanggapi keadaan masyarakat.

Boleh jadi seseorang yang dimaksud ialah, ‘Abd al-Ghofir al-Farisi. Boleh jadi juga seseorang itu ialah Abu Bakr Muḥammad ibn al-‘Arabī, ahli Fiqh asal Spanyol, yang berjumpa dengan al-Ghozali beberapa saat sebelum penulisan dimulai. Terkaan terakhir ini mungkin paling tepat lantaran masa perjumpaan al-‘Arabi berlangsung pada saat dirinya hendak belajar pada al-Ghozali.

Kadang memang terdapat sosok tertentu yang melatari kemunculan karya tulis. Misalnya ar-Risālah, buku Uṣūl al-fiqh atau Prinsip-Prinsip dalam Hukum Islam, karya Abū ‘Abdullāh Muḥammad ibn Idrīs al-Syāfi’ī, ahli Fiqh asal Gaza. Buku ini ditulis oleh al-Rabi' ibn Sulaiman al-Murodi, muridnya, berdasarkan tuturan dari al-Syāfi’ī. Latar penulisan buku ini hanyalah untuk menjawab permintaan dari orang Irak bernama ‘Abd al-Raḥmān bin Mahdī al-'Anbari.

Terlepas dari ketidakjelasan sosok yang meminta, entah siapa orangnya bahkan entah memang tepat atas permintaan orang atau inisiatif sendiri, yang jelas al-Munqidz min al-Dholāl memperlihatkan sisi al-Ghozali sebagai cerdik-cendekia yang tak pernah lelah untuk menyelami dunia keilmuan agar memperoleh kebenaran.

Demi memperoleh kebenaran, Al-Ghozali tak takut untuk meninggalkan zona nyaman. Tak tanggung, posisi sebagai rektor perguruan tinggi ditanggalkan! Lelaki kelahiran 450 H./1058 M. ini juga tak ragu untuk mengungkapkan pandangan, meski hal ini memaksanya bertarung bertarung dengan liyan. Pada masa al-Ghozali, gairah ilmiah memang sedang melimpah. Hal ini, antara lain, berdampak pada merebaknya konfrontasi dan kontroversi di kalangan cerdik-cendekia yang membingungkan masyarakat.

Karena itulah al-Munqidz min al-Dholāl hadir sebagai pendorong gairah ilmiah serta menawarkan jalan memperoleh kebenaran. Tawaran tersebut diberikan dengan disertai uraian tentang kelebihan dan kekurangan beberapa cabang keilmuan agar dapat meyakinkan, bukan dalam rangka mengganti Kitab Allah dan sunnah-Nya yang telah Muḥammad wariskan.

Saya sendiri baru membaca sekilas seluruh tuturan dalam al-Munqidz min al-Dholāl. Bacaan sekilas tersebut menunjukkan sikap skeptis sepertihalnya ditunjukkan oleh René du Perron Descartes melalui Discours de la Méthode. Dari buku ini pula saya dapat meraba perkembangan Ilmu Alam (Natural Science), atau secara mutlak disebut Sains, pada masa itu. Rabaan ini diperoleh melalui pengertian Ilmu Alam dari al-Ghozali.

Menurut al-Ghozali, “Ilmu Alam ialah membahas tentang benda langit, bintang langit, serta benda di bawah langit berupa benda tunggal seperti air, udara, debu, dan api, serta benda yang tersusun seperti binatang, tumbuhan, dan mineral.” Dari pengertian ini dapat diraba kalau pada masa itu gagasan partikel dasar yang banyak diyakini ialah air, udara, debu, dan api.

Meskipun jauh masa sebelumnya Leúkippos dan Dēmókritos telah mengungkapkan tentang atom, namun gagasan ini baru bisa diterima beberapa waktu lalu selepas teori matematis Ruđer Josip Bošković, ahli matematika asal Kroasia, tentang atom pada 1745 M. berhasil ditunjukkan melalui eksperimen fisis pada 1808 M. oleh John Dalton, ahli fisika asal Britania Raya.

Tentu seiring perkembangan Sains, pengertian al-Ghozali tak tepat sepenuhnya, tetapi tak melesat seluruhnya. Rasanya sampai saat ini dan saat nanti pengertian tersebut dapat dikutip, sebagai cara menunjukkan jejak bacaan dan melestarikan kekaguman.

K.Rb.Lg.061039.200618.00:17

Naskah lengkap al-Munqidz min al-Dholāl : [lihat]