Gordimer bukan saja penulis yang berhasil meraih nobel di bidang kesustraan. Lebih dari itu, ia adalah sedikit dari perempuan yang militan melakukan perlawanan terhadap Apartheid Afrika Selatan. Lewat sastra ia menyuarakan gelombang kejiwaan negerinya, arah dari kepasifan dan kebutaan menuju perlawanan dan perjuangan.

Sekalipun ia seorang kulit putih,  ia tidak segan menjalin perkawanan dengan orang kulit hitam yang saat itu dilarang oleh rezim rasis. Sikap politiknya tegas. Ia juga tak canggung untuk terjun dalam jaringan bawah tanah dan bergabung dalam perjuangan pembebasan masyarakat Afrika Selatan.

Bagi Gordimer, menulis adalah penderitaan. Aktivis anti-apartheid itu juga mengatakan bahwa bukan kebenaran itu sendiri yang indah, tetapi rasa lapar untuk menulis tidak dapat dibendung. Ia sudah menemukan kelaparan macam itu sejak usia muda saat hidup di pinggiran kota pertambangan emas, Springs di sebelah timur Johannesburg 90 tahun lalu.

Ia tumbuh  dan dibesarkan di lingkungan  yang mengalami pemisahan ras. Jalan nasib mengetuk hati nuraninya sebagai manusia, mendorongnya menyuarakan ketidakadilan yang setiap hari telanjang di hadapannya. 

Katanya,  “The problems of my country did not set me writing; on the contrary, it was learning to write that sent me falling, falling through the surface of the South African way of life”. Di sinilah kiranya karya sastra tidak lahir dari ruang hampa.

Karyanya adalah keterasingan, keterpinggiran sekaligus semangat perlawanan pada diri dan zamannya. Sastra tidak pernah tercipta dari kekosongan budaya. Ia bercampur aduk dengan apa-apa yang hidup di dalamnya. Situasi macam ini yang disebut Nadine Godimer sebagai state of being, yakni tak ada keadaan ‘ada” yang murni, tak ada teks yang tidak bersinggungan dengan yang lain.

Tentu saja sastra mengalami sejarah metamorfosis yang  panjang. Tidak ajek. Tidak berada dalam sebuah never ending process of becoming. Ia akan terus berkejaran dengan kondisi sosial yang mengikutinya. Ada tarik menarik bahkan tumpang tindih peristiwa di dalamnya.

Ia hidup di tengah masyarakat Native Land Act yang melarang orang kulit hitam membeli tanah dil uar daerah yang disediakan bagi mereka, hingga aturan yang melarang terjadinya perkawinan campuran antara kulit putih dengan kulit hitam. 

Semangat karya-karyanya adalah suara kemarahan atas ketidakadilan yang ia saksikan di negerinya. Setting ini yang kemudian muncul dalam The Conservationist. Kita membaca Afrika Selatan dari The Late Bourgeois World (1966), Burger's Daughter (1979), hingga karya fenomenalnya The Conservationist (1974) yang mengantarkannya meraih nobel sastra di tahun 1991.  

Buku-bukunya lahir dari kegelapan politik. Karya-karyanya memuat tema-tema tentang cinta, kebencian dan persahabatan di bawah tekanan sistem pemisahan ras yang berakhir pad tahun 1994 ketika Nelson Mandela menjadi presiden berkulit hitam pertama di Afrika Selatan. 

Ia berdiri sebagai saksi dan perekam sejarah akibat penekanan rezim dan rasialisme. Ia berada di tengah kerumunan gerakan protes yang diorganisir Kongres Nasional Afrika ANC, yang kemudian menjadi gerakan massal. Di sana, di negeri yang jauh kita pun menyaksikan demonstrasi, boikot, mogok kerja dan pembakaran massal paspor-paspor. 

Hingga chaos ini memuncak di selatan Johannesburg pada tahun 1960 yang melibatkan duapuluh ribu warga kulit hitam menyerbu pos polisi. Merelakan dirinya ditangkap pihak berwenang. Alhasil, demonstrasi itu berakhir dengan pembunuhan massal. Tragis.

Kita mengenangnya sebagai pembantaian Sharpeville yang menewaskan 69 orang. Carut marut itu menjadi energi karya-karya Godimer yang meninggalkan puing-puing dan kemuraman hingga melahirkan tokoh-tokoh yang mengalami penderitaan, duka lara dan keputusasaan akan hidup.

Ia tidak menerima begitu saja kabar angin perihal negerinya, melainkan ia menyaksikannya sendiri. Ia menjadi perekam sejarah dari segala peristiwa yang bersahutan. Melalui karyanya, kita mengenal Afrika Selatan yang penuh konflik, kekerasan, kemiskinan, hingga rasisme berkepanjangan.

Dalam sudut yang berbeda, Gordimer menawarkan sebuah lensa untuk melihat itu semua. Tak berlebihan jika Yayasan Nelson Mandela menyebutnya seorang patrioti, sebagai juru bicara hak asasi manusia yang tak kenal rasa takut dan lelah. Ketika Mandela dibebaskan dari penjara pada 1990, Gordimer termasuk salah seorang yang ingin Mandela temui.

Godimer, betapa mustinya kami ‘malu’ menjadi anak muda yang belum melakukan apapun. Bahkan di usiamu yang uzur, tidak menyiutkan nyalimu untuk tetap menulis dan menyuarakan ketidakadilan.

Dua tahun sebelum meninggal, ia meluncurkan novelnya berjudul No Time Like the Present—bercerita tentang para veteran yang dulu melawan apartheid menghadapi isu-isu masa kini saat Afrika Selatan dalam situasi modern. Kita banyak belajar darinya. Semangat untuk hidup dan menghidupi sastra atas dasar kemanusiaan. Semangat sebagai manusia yang memperjuangkan nasib manusia lainnya.

Sekali ini saja, berterimakasihlah pada sastrawan. Saya membayangkan jika kita hidup di tengah negeri tanpa karya sastra pernah lahir di sana, apa jadinya? Tanpa membaca karya sastra dan menyimak tokoh-tokoh yang hidup di dalamnya menjadi sebuah keniscayaan kita untuk dapat belajar sejarah darinya, maka bersiaplah menjadi masyarakat amnesia.

Ini mengingatkan saya pada perbincangan Subcomandante Marcos dengan Gabriel Garcia Marquez tempo lalu. Katanya, “kami tidak mengenal dunia lewat siaran berita, tapi lewat novel, esai atau sepotong sajak. Ini membuat kami benar-benar berbeda. Inilah cermin yang diberikan orang tua kami, tatkala orang lain menggunakan media massa sebagai cermin atau hanya sebagai kaca buram hingga tak seorang pun mengerti apa yang sedang terjadi.”

Barangkali ini semacam sinidiran bagi kita yang tengah sibuk menyimak berita dan basa-basi para politisi, tanpa mengonsumsi karya sastra. Meniru kata-kata penutup sejenis motivator, bacalah karya sastra sekarang juga.