Bias gender merupakan suatu permasalahan yang mendarah daging dalam segala aspek kehidupan.  Masih banyak masyarakat yang belum menyadari perilaku bias gender yang terjadi di sekitarnya karena hal ini telah dinormalisasi, sehingga dianggap wajar adanya. Tak jarang perilaku bias gender yang terjadi juga dianggap sebagai kodrat. 

Bias gender adalah beban yang diberikan kepada masing-masing gender yang bersifat menuntut dan membatasi ekspresi seseorang. Hal ini bisa merugikan salah satu gender, sehingga menimbulkan terjadinya diskriminasi gender. 

Meski sering kali disamakan dengan seksisme, namun sebenernya keduanya memiliki artian yang sangat berbeda. Seksisme berangkat dari pemikiran superioritas laki-laki yang mendiskriminasi perempuan. Sedangkan bias gender inklusif membahas mengenai kerugian, baik dari sisi laki-laki maupun perempuan. 

Bentuk - bentuk bias gender yang bisa kita temui dalam masyarakat disekitar kita, diantaranya :

Double Standard/Standar Ganda

Double standard atau standar ganda adalah memberikan penilaian yang berbeda terhadap perempuan dan laki-laki pada situasi yang sebenernya sama. 

Dimana bisa kita lihat saat perempuan bekerja dan mengurus anak, mereka tidak akan mendapatkan apresiasi tinggi. Sebaliknya jika laki-laki yang melakukannya, mereka akan diberikan pujian yang sangat tinggi. 

Hal ini didasari pada pemikiran masyarakat yang menganggap wajar jika perempuan berjuang demi keluarga, termasuk dalam hal mengurus anak. 

Disisi lain, tanpa sadar kita juga sering kali mengejek laki-laki yang menangis. Secara tidak langsung kita juga turut andil dalam melanggengkan standar ganda yang ada. Dilingkungan patriarki, laki-laki dituntut untuk memiliki fisik dan mental yang tahan banting, serta tidak emosional. 

Berangkat dari kasus yang mungkin menurut kita sepele, namun sebenernya standar ganda ini juga bisa berdampak sangat ironis bagi kehidupan laki-laki. 

Misalnya saja, ketika kita bicara tentang kasus pelecehan seksual, seorang laki-laki yang mengalami pelecehan seksual cenderung tidak akan melaporkannya kepada pihak berwajib. Hal ini dikarenakan sering kali pihak yang bertanggung jawab mengusut kasus ini, justru meremehkan kesaksian korban yang notabene nya adalah laki-laki. 

Lebih ironisnya lagi, laki-laki yang menjadi korban pelecehan oleh perempuan justru dianggap sebagai pengalaman yang lucu. Karena laki-laki memiliki stigma pemilik libido yang tinggi, jadi pelecehan semacam itu digambarkan menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi mereka. 


Stereotip Maskulin-Feminin

Stereotip merupakan pelabelan pada laki-laki ataupun perempuan yang menuntut mereka untuk memiliki peranan, sikap, sifat, dan kecenderungan tertentu menurut pandangan umum. Jika ada yang tidak memenuhi kriteria umum tersebut, maka akan mendapatkan tekanan sosial dari masyarakat, bahkan dianggap tidak normal. 

Stereotip gender yang paling sulit dihilangkan sampai saat ini adalah persepsi tentang maskulin dan feminin. Dimana kedua hal ini bisa terjadi secara sadar dan tidak sadar. Bahkan orang tua kita secara tidak sadar sudah menanamkan stereotip gender ini sejak kita masih dini. 

Contoh sederhananya, saat kita melihat ada laki-laki yang sangat mahir merias dan tidak bisa melakukan pekerjaan otomotif, atau saat kita melihat perempuan bermain bola dan tidak suka hal hal yang berbau skincare. Bisa dipastikan nantinya mereka akan mendapatkan penghakiman, bahkan bisa berujung pada kasus bullying. 

Kasus seperti di atas masih dianggap tabu dalam masyarakat. Sehingga ketika ada yang tidak memenuhi kriteria umum sebagaimana yang sudah dibentuk masyarakat sejak dulu, hal ini pasti dianggap tidak normal. 


Bias Gender Berujung Diskriminasi

Segala hal yang menyangkut pelabelan negatif maupun prasangka buruk berdasarkan gender, pasti akan berujung pada tindakan diskriminasi. Diskriminasi ini akan terus berkembang seiring perkembangan zaman, karena diskriminasi sudah mendarah daging pada seluruh aspek kehidupan. 

Misalnya dalam sebuah hubungan, jika perempuan mengalami kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelaku yang notabene nya laki-laki mudah untuk dipenjarakan. Namun jika yang terjadi sebaliknya, orang-orang pasti akan mempertanyakan status lelaki sebagai pemimpin dalam rumah tangga. 

Selain itu, masih banyak perempuan yang mendapatkan prasangka negatif seperti tidak mendapatkan gaji setara, mendapat promosi jabatan, memegang kendali tugas yang berat, ataupun menjadi seorang pemimpin. 

Walaupun ini sebenarnya hanyalah prasangka negatif semata yang masih belum valid, karena di Indonesia sendiri ada banyak perempuan yang terkenal akan kepemimpinannya seperti Megawati Soekarno Putri, Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, dan masih banyak lagi.


Dari sini bisa kita lihat, jika ternyata masih banyak orang yang belum menyadari problematika bias gender dan arti penting kesetaraan gender dalam kehidupan bersosial. Inilah mengapa kita harus meningkatkan pemahaman mengenai peran dan fungsi gender, agar tidak ada lagi ketimpangan gender. 

Sebenarnya bias gender dapat kita cegah, dengan cara memberikan edukasi karakter dan seks pada anak sejak dini. Selain itu penting juga bagi orang tua untuk mendidik dan mengasuh anak secara adil. 

Melalui artikel ini, diharapkan para pembaca bisa menyuarakan jika kesetaraan gender merupakan bagian dari hak asasi manusia yang diraih untuk kebaikan bersama.