Mahasiswa
8 bulan lalu · 62 view · 5 menit baca · Agama 78835_22129.jpg
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Bathers_(C%C3%A9zanne)

Mematahkan Asumsi Netizen

Pengaruh Agama dan Budaya dalam Panggilan Kemanusiaan

Hidup di era digital artinya adalah hampir segala kegiatan manusia tidak dapat terpisah dengan yang namanya jaringan internet. Internet yang pada awalnya hanya menjadi kebutuhan tersier kini beralih kedudukan menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang, terutama media sosial. Sebut saja Whatsapp, Twitter, Instagram, Facebook dan Line yang sudah menjadi aplikasi wajib bagi masyarakat yang memiliki smartphone. Media sosial digunakan begitu intensif oleh masyarakat. 

Menurut hasil penelitian yang dilakukan salah satu perusahaan media asal Inggris menyatakan bahwa, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 3 jam 23 menit dalam sehari untuk mengakses media sosial. Media sosial layaknya sebuah planet baru yang didiami oleh manusia-manusia bumi yang merasa bosan dengan realitas. 

Ada yang menjadikannya tempat persinggahan, tapi tak sedikit pula yang menjadikan media sosial sebagai tempat menetap. Dalam penggunaannya, media sosial menjadi kotak-kotak surat yang isinya berupa curhatan, ungkapan kekesalan, kesedihan dan beberapa orang juga ada yang mengisinya dengan lawakan dan sentimen politik.

Mendapatkan like instagram dan atau retweet puluhan ribu merupakan capaian atau kesenangan tersendiri bagi seseorang di era digital. Konten aesthetic yang menampilkan selfie ciamik hasil puluhan kali jepret dan pemandangan alam layaknya bahan bakar untuk mendapatkan puluhan ribu like atau retweet dari para netizen. 

Lalu bagaimana dengan postingan yang bercerita tentang kesedihan seseorang atau kelompok, bagaimana dengan cuitan twitter tentang musibah yang menimpa seseorang? Apakah postingan-postingan tersebut juga akan mendapat perhatian yang banyak dari para netizen? Jawabannya adalah ya. Belakangan ini ternyata bukan hanya postingan selfie selebgram atau postingan lawak para selebtweet yang sering menjadi viral. 


Postingan berbau kemanusiaan seperti galangan donasi untuk orang kurang mampu, korban bencana alam, kehilangan, dan bantuan untuk orang sakit pun juga sering viral. Contohnya adalah kasus Komang Fitriani, siswi asal Bali yang awal mulanya terancam tidak bisa melanjutkan sekolah kini sudah dapat bernapas lega karena mendapat bantuan, setelah dirinya sempat viral di media sosial. 

Lain lagi dengan kasus Ibu Saeni yang wartegnya terjaring razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (SATPOL PP). Melihat kondisi Ibu Saeni membuat komika Dwika tersentuh dan mulai menggalang dana di twitter. Dalam beberapa hari, galangan dana untuk Ibu Saeni mencapai 200 juta rupiah. Dua kasus tadi hanyalah sebagian kecil dari postingan-postingan berbau kemanusiaan yang sempat viral di jagat media sosial Indonesia.

Pertanyaannya adalah, apa sebenarnya yang membuat netizen tergerak untuk melakukan galangan dana tersebut? Apa yang membuat netizen Indonesia mau mendonasikan sebagian harta benda mereka untuk orang yang bahkan tidak mereka kenali dan atau tidak pernah bertemu tatap muka secara langsung. 

Hal ini nampaknya bertolak belakang dengan asumsi yang selama ini sering kita anut, yakni bahwa secara teoretis semakin banyak orang yang sering menggunakan media sosial maka akan berkurangnya interaksi secara langsung di dunia nyata, hal ini tentunya akan membuat masyarakat menjadi lebih soliter bahkan anti sosial. Masyarakat akan semakin tidak peka dengan lingkungan dan bersikap acuh tak acuh. Namun kenyataannya tidak demikian. Fenomena penggalangan donasi kemanusiaan oleh netizen akhir-akhir ini mematahkan asumsi teori tersebut.

Fenomena penggalangan donasi kemanusiaan oleh netizen Indonesia ini diprakarsai dari nilai-nilai budaya yang masih melekat di dalam diri netizen. Meskipun hidup di dunia digital dan dunia globalisasi tidak membuat nilai-nilai budaya tadi luntur sepenuhnya. Budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia yang mengajarkan betapa manusiawinya seseorang ketika ia dapat berguna dan mampu membantu orang lain yang tengah kesusahan masih berlaku. 

Nilai-nilai kemanusiaan ini merupakan hasil sosialisasi dari nenek moyang ke generasi-generasi penerusnya. Nilai ini diajarkan sudah sedari kita kecil oleh berbagai aktor, baik secara primer maupun sekunder. Istilah-istilah pribahasa seperti “Lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah” , “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’ adalah bentuk ajaran yang menyuruh kita untuk peduli dengan sesama manusia. 

Pribahasa dengan bahasa daerah seperti pribahasa dari daerah Minangkabau ‘Kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahambauan’ juga mengungkapkan bagaimana kita seharusnya sadar diri dan peka sebagai manusia untuk membantu manusia lain yang mengalami kesusahan tanpa perlunya instruksi. Pribahasa-pribahasa tadi menjadi bukti nyata nilai kemanusiaaan yang ada di dalam budaya Indonesia. 

Selain itu, sila ke 2 di Pancasila juga menegaskan bahwa nilai kemanusiaan itu memang sudah sedari dulu hidup dan dipelihara oleh bangsa ini. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Pancasila merupakan ideologi negara kita yang diambil secara langsung oleh pendiri bangsa dari kearifan lokal yang ada di Nusantara. Ajaran-ajaran kebudayaan yang mengandung nilai kemanusian tersebut ternyata tetap bertahan dan hidup bahkan di dalam masayarakat dunia maya (cybercomunity).

Faktor lain yang mempengaruhi masyarakat dunia maya untuk melakukan penggalangan donasi ialah agama. Agama merupakan suatu ajaran dogmatis yang mengajarkan umatnya tentang kebenaran hakiki serta menjunjung harkat martabat manusia. Agama tidak selalu berbicara tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan Tuhan, tetapi agama juga mengajarkan tentang kemanusiaan. 

Dalam agama Islam, Nabi Muhammad SAW dengan tegas mengatakan bahwa ia diutus ke dunia oleh Allah SWT tidak lain karena untuk menyempurnakan sikap dan akhlak manusia, supaya manusia dapat hidup dengan damai, penuh kasih sayang dan cinta. 

Begitupun dalam ajaran Kristiani, Yesus menekankan bagaimana seharusnya manusia bersikap baik dengan cara menebar kasih sayang dan kebaikan kepada siapapun kawan maupun lawan. Konsep doktrin agama tentang pahala dan dosa memobilisasi seseorang untuk berbuat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agamanya. Doktrin itu kemudian menjelma menjadi iman/kepercayaan. 


Doktrin mengenai berbuat baik akan dibalas dengan pahala dan surga, berbuat jahat akan mendapat dosa dan masuk neraka tertanam di dalam diri penganut agama. Sehingga para penganut agama akan terpanggil untuk berbuat kebaikan, salah satunya adalah panggilan untuk peduli dengan isu-isu kemanusiaan. Iman itulah yang nantinya akan menjadi bukti dari seseorang pernah menjalankan perintah agama selain dari ritual yang diajarkan untuk menyembah tuhan.

Agama dan budaya cukup menjadi penggerak manusia untuk melakukan hal-hal baik terutama kemanusiaan, karena pada dasarnya agama dan budaya sama-sama hadir untuk tujuan kemanusiaan. Agama dan budaya memiliki nilai-nilai yang berada di luar individu sehingga mampu mendorong dan menggerakan individu bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan. 

Nilai-nilai tadi diproses dan dibentuk oleh masyarakat, lalu disosialisasikan sehingga terinternalisasi di dalam diri indiviu yang kemudian dianggap menjadi kebenaran pribadi. Sifat dan kebiasaan dari ajaran nilai-nilai agama dan budaya yang diterima netizen di dunia nyata kemudian dibawa kedalam dunia maya(cyberspace). 

Di dunia maya netizen saling berbaur dan berinteraksi meskipun tidak saling kenal dan bertemu sebelumnya. Nilai-nilai kemanusiaan, empati dan moralitas juga masih terjaga sehingga menimbuklan kepercayaan dan keyakinan sesama netizen untuk mau berbuat kemanusiaan meskipun secara online. Mereka saling peduli dan membantu tak ubahnya masyarakat di dunia nyata. 

Hanya saja cara masayarakat dunia maya melakukan aksinya dengan tidak datang ke masjid, rumah ibadah atau ke panti asuhan untuk bersedekah atau membantu. Mereka cukup dengan menggunakan ibu jarinya untuk mentrasfer sejumlah nominal untuk bersedekah. Keringanan tangan masyarakat dunia maya Indonesia tampaknya mematahkan asumsi yang mengatakan bahwa orang yang lebih aktif di dunia maya bersifat apatis dan tidak peduli.

Selanjutnya nilai-nilai kemanusiaan tadi kini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk tetap dijaga, dipelihara dan kemudian diteruskan sebagai warisan leluhur kepada genarasi berikutnya, agar di masa yang akan datang nilai-nilai kemanusiaan tidak luntur dan hilang tergerus oleh zaman.


Artikel Terkait