Environmentalist
6 bulan lalu · 2351 view · 17 min baca menit baca · Lingkungan 78929_83841.jpg
usgs.gov

Memasuki Epos Anthropocene: Sebuah Terra Incognita

An·thro·po·cene/ˈanTHrəpəˌsēn/adjective.  Relating to or denoting the current geological age, viewed as the period during which human activity has been the dominant influence on climate and the environment.  — Oxford English Dictionary, sejak 2014.

Dunia sedang memasuki sebuah epos (epoch) baru yang disebut sebagai “Anthropocene,” gagas Paul Crutzen.  Crutzen berpendapat bahwa sebuah epos baru telah dimulai di mana aktivitas manusia telah secara dominan mempengaruhi iklim dan lingkungan (Crutzen 2002; Crutzen 2006; Steffen et al. 2007).

Berarti dunia baru saja meninggalkan epos Holocene yang sudah berlangsung sejak 12 ribu tahun yang lalu.  Tak pelak, gagasan ini langsung membuat komunitas ilmiah langsung sibuk berbalas pendapat. 

Dunia Sedang Berubah Dengan Drastis 

Paul Josef Crutzen adalah seorang ilmuwan klimatologi berkebangsaan Belanda.  Pada 1995, saat menjabat sebagai direktur Lembaga Kimia Max Planck di Mainz, Jerman, Crutzen dianugerahi hadiah Nobel Kimia bersama Mario Molina dan Frank Rowland, untuk penemuannya mengenai lubang ozon dan peran gas-gas fluor yang menjadi penyebabnya. 

Sebelumnya, pada 1989, Crutzen juga dianugerahi Tyler Prize for Environmental Achievement, sebuah penghargaan terhormat untuk pencapaian di bidang lingkungan. Saya beruntung pernah berada dalam satu panel bersamanya dalam sebuah diskusi imiah.

Anthropocene sebagai sebuah terminologi geologis dan stratagrafis digagas pertama kalinya oleh Crutzen pada pertemuan Scientific Committee dari International Geosphere Biosphere Program (IGBP), di mana Crutzen adalah Wakil Ketuanya, di Cuernavaca, Mexico, pada Februari 2000. 

Saat itu ilmuwan yang terlibat dalam Paleo-Environmental Project dari IGBP melaporkan progresnya. Mendengarkan laporan-laporan tersebut, Crutzen merasa “geregetan” akibat penggunaan berulang-ulang dari terminologi Holocene, yaitu epos dalam sejarah Bumi yang paling baru.  

Crutzen kemudian protes dengan mengatakan bahwa kita tidak lagi berada dalam Holocene, tetapi sudah dalam Anthropocene. Debat yang terjadi itu kemudian dimuat dalam buletin IGBP tidak lama kemudian, dan berlanjut menjadi sebuah artikel di jurnal ilmiah Nature pada 2002 dengan judul Geology of Mankind: The Anthropocene.

Umat manusia telah menjadi sebuah kekuatan geologis dan stratologis yang luarbiasa besar (Crutzen 2002; Steffen et al. 2007; Chakrabarty 2009). 

Kapan Anthropocene Dimulai?  Seberapa Besar Peran Manusia Dalam Mengubah Bumi?

Sempat ada yang menafsirkan secara bebas terminologi Anthropocene sebagai “the age of human,” tapi penafsiran ini justru menjadi rancu.  Apakah Anthropocene dimulai sejak munculnya genus Homo, atau saat Homo sapien, spesies kita, muncul?

Atau apakah dia dimulai sejak manusia, sapiens, mulai mengubah bentang alam Bumi dengan pertanian?  Atau saat ditemukannya api?

Seberapa signifikannya skala perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia ini sehingga dapat dianggap sebagai kekuatan geologis baru yang setara dengan epos alam semesta lainnya? Kapan Anthropocene dimulai, sebenarnya? Atau, bahkan, apa pentingnya mendefinisikan secara formal sebuah epos Anthropocene?

Pada 2009 International Commission on Stratigraphy (ICS) Subcommission on Quaternary Stratigraphy akhirnya membentuk kelompok kerja Anthoropocene Working Group (AWG) yang bertugas untuk “mengkaji kemungkinan pengakuan sebuah interval waktu geologis yang berdasarkan pada bermacam-macam dampak dari pengaruh umat manusia melalui beberapa parameter stratigrafis yang signifikan.” Ilmuwan Jan Zalasiewicz dari Universitas Leicester ditunjuk sebagai ketuanya.

Perdebatan kapan Anthropocene berawal ini cukup intensif.  Mendefinisikan sebuah stratagrafi (pendefinisian penandaan perioda sejarah dan prasejarah panjang semesta berdasarkan gejala geologis), sebuah epos, tentu saja harus berdasarkan gejala berskala geologis yang signifikan. Yang menentang diakuinya Anthropocene juga tidak sedikit, dengan berbagai sudut pandang.


Mantan ketua International Commission on Stratigraphy (ICS) Stan Finney mempertanyakan apakah Anthropocene lebih merupakan pernyataan politis ketimbang keniscayaan ilmiah (Finney dan Edwards 2016). Smith dan Zeder mengusulkan pengakuan Anthropocene sebagai epos yang paralel dengan Holocene, sehingga dapat disebut sebagai Holocene/ Anthropocene (Smith dan Zeder 2013).

Haraway mengritik istilah “Anthropocene” hanya melulu menunjukkan pendekatan anthropocentric (manusia adalah pusat perhatian dalam semesta) (Haraway 2015). Davies (2016) membantah bahwa penamaan “Anthropocene” berarti mengakui pendekatan anthropocentric

Ruddiman lain lagi, mengusulkan bahwa karena pengaruh manusia pada alam terlalu sinambung dalam jangka waktu yang lama, maka tidak perlulah Anthropocene ini diformalkan (Ruddiman 2003, Ruddiman et al. 2013).

Menurut Crutzen dan para pendukung gagasannya, Anthropocene adalah sebuah epos yang sudah dimulai sejak tahun 1800-an, saat dimulainya revolusi Industri, di mana titik sentralnya adalah ekspansi besar-besaran dari penggunaan bahan-bakar fosil.  

Epos anthropocene dapat diperlihatkan hanya dengan menggunakan satu indikator saja, walaupun banyak indikator lain yang dapat melengkapi, yaitu konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Dari sekitar 270-275 parts per million by volume (ppm), konsentrasi karbon dioksida meningkat sangat drastis hingga sekitar 310 ppm pada 1950 (Steffen et al. 2007).  

Untuk pertama kalinya dalam empat juta tahun, konsentrasi karbon dioksida melebihi 400 ppm selama sebulan penuh pada Mei 2016, dan secara permanen sepanjang waktu dimulai pada September 2016. Pada akhir Desember 2018 lalu, konsentrasi karbon dioksida telah hampir mencapai 410 ppm.  Baru-baru ini, pada Mei 2019, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah (dan pra-sejarah), konsentrasi karbon dioksida di Bumi mencapai 415 ppm (Galey 2019).

Tanda-tanda lainnya yang menandakan dimulainya anthropocene adalah dengan memperhatikan aspek biologis; kandungan (stock) dan aliran (flow) dari elemen-elemen utama seperti nitrogen, karbon, fosfor, serta silikon; dan keseimbangan energi.  

Bumi telah memiliki keragaman yang kian sedikit, hutan yang menipis.  Dia juga jauh lebih panas, lebih basah, dan lebih banyak diserang badai. Aktivitas umat manusia telah demikian dalam memengaruhi alam dan secara jelas menyaingi kekuatan alam itu sendiri, serta meletakkan Bumi ke sebuah posisi terra incognita (teritori asing).

Terlepas dari debat yang ada, kemampuan umat manusia saat ini untuk merusak Bumi memang tak pernah sebesar ini sebelumnya. Kita lihat ke belakang sedikit.  Sebelum pertanian dan perkebunan ditemu-kembangkan pada 10 hingga 20 ribu tahun yang lalu, manusia bertahan hidup dengan menjadi pemburu dan pengumpul (hunter and gatherer), yang nota bene menyerah pada kekuasaan alam.  

Pertanian dan perkebunan mulai mengubah bentang alami Bumi. Hutan mulai dirambah dijadikan lahan bertani mulai 8.000 tahun yang lalu, atau digantikan oleh irigasi sejak 5.000 tahun yang lalu, melepaskan karbon dioksida yang, walaupun sedikit, membalik trend penurunan konsentrasi karbon di atmosfer yang dimulai sejak awal Holoscene, dan mungkin telah mencegah terjadinya jaman es kedua (Ruddiman 2003).  

Skala perusakan hutan ini tentu saja hampir tak ada artinya bila dibandingkan dengan transformasi hutan besar-besaran sejak 300 tahun yang lalu (Lambin et al. 2006).

Penemuan umat manusia yang paling signifikan, mungkin, adalah api.  Selain alat-alat yang terbuat dari batu, api adalah alat-bantu kehidupan manusia yang tidak dimiliki oleh spesies lain.  

Penemu-kembangan api memperkuat keperkasaan manusia untuk mengubah, menundukkan, dan mendominasi alam. Api mengubah pola makan manusia dari terutama vegetarian menjadi omnivora melalui penemu-kembangan proses memasak daging.  

Kekuatan untuk mendominasi ini tentu saja memakan korban. Korban pertama adalah kepunahan spesies besar-besaran di penghujung jaman es, saat mammoth berbulu di Eurasia Utara serta wombat raksasa di Australia punah. 

Dari situ, mudah sekali melihat bahwa pola migrasi manusia selalu diikuti oleh pola kepunahan spesies.  Mereka yang sempat membaca buku Yuval Harari (2014) akan dengan mudah mengikuti.

Api telah pula menjadi permulaan dari penggunaan energi yang jauh lebih kolosal dan komplex: pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam untuk menunjang revolusi industri, serta penemu-kembangan senjata api. 

Api adalah energi, dan secara besar-besaran dapat digunakan untuk industrialisasi, dan untuk menyerang dan bertahan dalam perang. Penggunaan bahan-bakan fosil besar-besaran pertama terjadi di Cina pada perioda Dinasti Song (960-1279) (Hartwell 1962; Hartwell 1967).  

Di Inggris, batu bara digunakan secara besar-besaran sebagai pemanas di rumah-rumah (TeBrake 1975; Brimblecombe 1987). Ini semua terjadi saat manusia di belahan lain dunia masih tergantung pada kayu bakar dan arang.

Sejak pra-industri, manusia telah mencoba mendobrak batasan-batasan alami. Dan untuk itu telah pula meninggalkan dampak pada lingkungan hidupnya. Tetapi dampak ini amat sangat lokal dan dalam banyak hal masih ada di dalam batasan yang dapat diserap oleh alam. Hingga tiba revolusi industri pada awal abad ke-19. 

Fase Pertama dan Kedua dari Tiga Fase Anthropocene

Paul Crutzen mengusulkan untuk menganggap pertengahan abad ke-19 sebagai dimulainya Athropocene, sementara Will Steffen menganggap pertengahan abad ke-20 di mana perubahan dunia memperlihatkan trend yang lebih signifikan.  Pada 2007, tampaknya mereka melakukan rekonsiliasi dengan membagi Anthropocene menjadi tiga fase. 

Fase pertama, pertengahan abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, adalah revolusi industri, dimulai dengan penemuan dan penggunakan mesin uap secara besar-besaran.  

Fase kedua, pertengahan abad ke-20 (selesainya Perang Dunia II) hingga sekarang, adalah fase percepatan besar-besaran di mana perubahan sosial, ekonomi, dan ekologis dunia benar-benar kentara dan terjadi dengan cepat dan besar-besaran.  

Fase ketiga adalah hari ini ke masa depan, sebuah perjalanan panjang yang belum diketahui.

Fase Pertama, Revolusi Industri

Banyak yang berpendapat bahwa revolusi industri dimulai sejak James Watt mengembangkan mesin uapnya yang pertama pada 1784. Penggunaan mesin uap sebagai penggerak mesin industri dan transportasi mulai signifikan sejak awal abad ke-19, yang kemudian meluas secara eksponensial pada sekitar 1850.  

Sejak itu, pembakaran bahan-bakar fosil untuk memutar mesin uap meningkat dengan amat drastis dalam skala industri, melepaskan karbon dioksida sebagai efek sampingnya, dan meningkatkan konsentrasi karbon tersebut di atmosfer dengan skala yang tak pernah ada sebelumnya.

Sejak pertengahan abad ke-19 itu, perubahan yang terjadi pada Bumi sebagai dampak dari aktivitas manusia terjadi dengan sangat cepat.  Jumlah penduduk bertumbuh dari hanya sekitar 1 miliar saja pada awal abad ke-19 menjadi sekitar 7 miliar saat ini.  

Antara tahun 1800 dan 2000, penduduk bertambah lebih dari enam kali lipat, ekonomi global 50 kali lipat, dan penggunaan energi 40 kali lipat (McNeill 2001). Modernitas dan kesejahteraan yang meningkat drastis memberikan ruang kepada pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat dengan drastis ini.

Dampak dari perubahan socio-ekonomi terhadap lingkungan sudah bisa dilihat peninggalannya bahkan pada pertengahan abad ke-20 (Steffen et al. 2004, Steffan et al. 2007).  


Pada 1800, jaman pra-industri, hanya 10 persen wilayah permukaan bumi yang “digarap.”  Angka ini bertambah menjadi 25 – 30 persen pada 1950 (Lambin 2006). Jumlah dam besar di Eropa dan Amerika bertambah dengan drastis, (Vörösmarty 1997).  

Akibat revolusi pertanian, bekas-bekas nitrogen yang terbuang dari proses pemupukan pertanian yang terlarut di sungai dan terbawa sampai pesisir meningkat hingga 10 kali lipat sejak 1800 (Mackenzie 2002).

Walaupun demikian, dampak lingkungan paling besar dari aktivitas manusia terlihat paling jelas di atmosfer. Selain karbondioksida, konsentrasi gas-gas rumah kaca lain juga meningkat dengan drastis. Pada 1950, metana (CH­4), gas rumah kaca kedua terpenting, meningkat dari 850 menjadi 1250 ppm, sementara notrogen oksida (N2O) dari 272 menjadi 288 ppm sejak sebelum 1850 (Blunier et al. 1993; Machida et al. 1995).  

Konsentrasi karbondioksida meningkat hingga di atas 300 ppm pada 1950, dari 270-275 ppm sebelum 1850 (Etheridge 1996). Pada akhir Desember 2018 lalu, konsentrasi karbon dioksida telah hampir mencapai 410 ppm.

Fase Kedua, Percepatan Besar-besaran

Walaupun demikian, perubahan terjadi paling signifikan pada pertengahan abad ke 20.  Antara 1945 dan 1950, Perang Dunia II berakhir, dan dunia kembali berada dalam suasana damai. Euphoria pembangunan dan pertumbuhan dimulai, dan sejalan dengan itu pertumbuhan eksponensial di segala hal. 

Perioda 1950 - 2000 ini disebut juga sebagai perioda percepatan besar-besaran (“the great acceleration,” meniru istilah transformasi besar-besaran atau “the great transformation” yang diperkenalkan oleh Karl Polanyi pada 1944).  

Anthropocene fase kedua telah dimulai (Steffen et al. 2004; Steffen et al. 2007; Steffen et al. 2015; Ellis 2018). Kumpulan 24 grafik yang dibuat oleh Steffen dan kawan-kawannya, yang memperlihatkan akselerasi kilat dari beberapa indikator penting ini menjadi simbol yang ikonik mengenai topik Anthropocene.

Grafik tersebut terdiri dari 12 trend sosial ekonomi dan 12 trend sistem Bumi. Gambar di bawah memperlihatkan versi terbaru darinya, di mana trend data telah diperpanjang hingga tahun 2010, setelah sebelumnya hanya mencakup hingga 2000, dan beberapa indikator diganti dengan yang lebih baik (Steffen et al. 2015).

Percepatan besar-besaran, dari Steffen et al (2015).  Grafik diambil dari Gaffney, (2016).

Dua belas grafik pertama memperlihatkan sebuah trend percepatan sosio-ekonomi yang luar biasa. Pada fase percepatan besar-besaran ini, pertumbuhan penduduk seakan tidak terkontrol, melipat-dua hanya dalam jangka waktu 50 tahun menjadi 6 miliar, paling cepat sepanjang sejarah.

Pada 2000, lebih dari setengah penduduk dunia tinggal di kota, dibanding hanya 30 persen pada akhir Perang Dunia II. Ekonomi global tumbuh dengan sangat ekspansif: 15 kali lipat, dipicu oleh masifnya industrialisasi, globalisasi besar-besaran, perkembangan teknologi telekomunikasi, dan perjalanan antar-negara. 

Pergerakan orang, perdangangan dan uang terjadi dengan sangat cair ke seluruh dunia.  Perkebunan dan pertambangan berskala industri muncul dengan besar-besaran di beberapa negara, memenuhi kebutuhan di kota-kota modern di negara-negara lain.  

Konsumsi bahan-bakar minyak tumbuh tiga-setengah kali lipat sejak 1960, mengikuti jumlah kendaraan bermotor dunia yang meledak dari hanya 40 juta pada akhir Perang Dunia II menjadi hampir 700 juta pada 1996. Teknologi dan penggunaan pesawat terbang semakin maju dan besar-besaran, memperpendek jarak (Steffen et al. 2007).

Bank Dunia dan kelompok lembaga-lembaga keuangan dalam keluarganya, seperti International Financial Corporation, dibentuk untuk memberikan dukungan keuangan untuk proses pembangunan di negara-negara berkembang. Oleh karenanya, banyak pula yang menyebut epos Anthropocene dengan Capitalocene untuk memperlihatkan sebuah transformasi radikal raksasa yang mengadopsi sistem sosial ekonomi tunggal: kapitalisme (Moore 2014).  Dampaknya di dunia sangat jelas terlihat. Hampir tiga-perempat dari peningkatan konsentrasi karbon dioksida akibat aktivitas manusia terjadi sejak 1950 (Steffen et al. 2007). 

Fase Ketiga, Terra Incognita

Terra incognita atau terra ignota (Latin "tanah tak dikenal"; incognita ditekankan pada suku kata kedua dalam bahasa Latin, namun dengan variasi dalam pengucapan dalam bahasa Inggris) adalah istilah yang digunakan dalam kartografi untuk daerah yang belum dipetakan atau didokumentasikan.

Sejak sebelum revolusi industri, suhu rata-rata Bumi hari ini sudah meningkat sekitar satu derajat Celsius (°C) akibat dari meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.  Pemanasan global telah menjadi sebuah kenyataan yang tidak lagi diragukan. Dampak ekologis dan sosial-ekonominya diperkirakan akan sangat besar (IPCC 2018).  

Perubahan-perubahan ekologis lain membawa dampaknya masing-masing yang tak kalah dahsyatnya: berkurangnya keanekaragaman hayati, meluasnya wilayah gurun, dan lain-lain. 

Ke mana Anthropocene akan membawa kita, dan bagaimana kita harus bersikap? Steffen dan kawan-kawannya (2007) memperlihatkan paling tidak tiga kemungkinan.

Pembiaran dan Adaptasi.

Bila perubahan ekologis, dampak dari perubahan-perubahan besar yang ada, berlangsung dengan cukup lambat untuk memberi ruang kepada umat manusia untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu, dan pada saatnya akan melakukan hal-hal yang dapat memperbaiki dampak negatifnya, maka kita akan baik-baik saja.

Beberapa kasus di masa lalu memperlihatkan bahwa perubahan ekologis yang terjadi dapat diperbaiki saat manusia menjadi semakin sejahtera, dan dengan demikian memiliki kemampuan sosial, ekonomi, dan teknologis untuk memperbaikinya (Lomborg 2001). Apa benar begitu?

Permasalahannya adalah, tidak semua dinamika perubahan ini telah cukup diketahui. Dengan demikian, resiko kegagalan pendekatan ini sangatlah besar.  Skala waktu yang digunakan oleh alam untuk berubah berbeda jauh dengan skala waktu struktur institusi manusia untuk mengambil keputusan.  


Contohnya, kenaikan permukaan air laut sebagai dampak pemanasan global.  IPCC (2007) memperkirakan bahwa pada 2094-2099 akan terjadi kenaikan suhu rata-rata Bumi setinggi 1,1 - 6,4 °C, dibandingkan dengan suhu rata-rata 1980-1999. Kenaikan suhu ini akan diikuti dengan kenaikan permukaan air laut setinggi 0,18-0.59 meter (di luar dinamika geologis dan ekologis lain).  

Walaupun demikian, ditemukan fakta bahwa kenaikan suhu ternyata lebih besar terjadi di wilayah kutub dan mencairkan es dengan lebih banyak lagi, sehingga akan menyebabkan kenaikan permukaan laut yang lebih tinggi lagi (Rahmstorf 2007). 

IPCC (2018) memperkirakan bahwa manusia hanya memiliki sepuluh tahunan untuk mencegah kenaikan suhu agar tidak melebihi 1,5 °C yang membawa dampak permanen yang mungkin tidak akan dapat diperbaiki.

Mitigasi

Ketimbang melakukan pembiaran, umat manusia bisa melakukan tindakan-tindakan proaktif untuk mengurangi resiko dan dampak dari perubahan-perubahan ini. Salah satunya adalah dengan mengurangi dorongan perubahan ini. Misalnya, dengan menurunkan emisi gas-gas rumah kaca.  

Pengembangan dan penggunaan teknologi rendah karbon merupakan salah-satu cara untuk mengurangi pengaruh aktivitas manusia pada ekosistem dunia. Yang terdepan adalah pengembangan dan penggunaan energi terbarukan yang potensinya masih sangat besar dan banyak.  

Selain pengembangan dan penggunaan teknologi yang lebih ramah lingkungan, perlu pula adanya perubahan nilai dan kebiasaan. Contohnya, mengganti sumber makanan sehari-hari dari daging-dagingan yang mengakibatkan emisi gas-gas rumah kaca yang tinggi untuk tiap kalorinya menjadi sumber yang lebih rendah emisi seperti sayur-sayuran.

Rekayasa Geologi

Langkah lain yang lebih drastis adalah dengan melakukan modifikasi pada ekosistem Bumi untuk menghadapi dan membalikkan trend perubahan ini. Contohnya, penggunaan partikel aerosol di atmosfer untuk meningkatkan efek pendinginan untuk mengurangi pemanasan global.  

Contoh lain adalah dengan “menghisap” gas-gas rumah kaca di atmosfer dan menyimpannya melalui rekayasa genetik di dalam tanah untuk waktu yang tidak ditentukan. Cara lainnya lagi adalah dengan menambah jumlah awan di angkasa yang akan memantulkan radiasi matahari kembali ke luar angkasa. 

Ke mana Kita Melangkah?

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab mengenai: “Ke mana kita akan melangkah” di dalam Anthropocene ini. Apakah Anthropocene adalah sebuah proses menuju kepunahan besar keenam (setelah lima kepunahan besar lain yang telah terjadi di masa lampau), di mana Bumi dan semua isinya — termasuk kita umat manusia — akan punah (Kolbert 2014)?  

Sahabat lama saya Clive Hamilton sempat menyatakan bahwa “Bumi barusaja melewati point of no return” (Hamilton 2015). Erik Swyngedow bahkan menulis bahwa “Anthropocene adalah nama lain untuk menegaskan kematian alam” (Swyngedow 2013). Apakah ini adalah awal dari kiamat?

Seperti judul keynote speech dari teman saya Will Steffen dari Australian National University, yang bersama Paul Crutzen telah menginspirasi saya untuk menulis esay ini, mengenai topic Anthropocene di Haus der Kulturen der Welt, Berlin, pada 2013 lalu: “where on Earth are we going?” 

Acuan Pustaka

Blunier, T., J. Chappellaz, J. Schwander, J.M. Barnola, T. Desperts, B. Stauffer, dan D. Raynaud, “Atmospheric Methane Record from a Greenland Ice Core Over the Last 1000 Years,” Journal of Geophysical Resources(20), pp. 2219–2222.

Brimblecombe, P. 1987. The Big Smoke: A History of Air Pollution in London since Medieval Times. Methuen, London.

Chakrabarty, D., 2009. “The Climate of History: Four Theses,” Critical Inquiry(35), pp. 197-222.

Crutzen, P.J., 2002.  “Geology of Mankind: The Anthropocene,” Nature (415), p. 23.

Davies, J., 2016.  The Birth of the Anthropocene.  University of California Press, Oakland.

Ellis, E.C., 2018.  The Anthropocene: A Very Short Introduction.  Oxford University Press, Oxford.

Etheridge, D.M., L.P. Steele, R.L. Langenfelds, R.J. Francey, J.M. Barnola, dan V.I. Morgan, 1996. “Natural and Anthropogenic Changes in Atmospheric CO2  Over the Last 1000 years from Air in Antarctic Ice and Firn,” Journal of Geophysical Resources(101), pp. 4115–4128. 

Finney, S.C., dan L.E. Edwards, 2016.  “The ‘Anthropocene Epoch: Scientific Decision or Political Statement?”  GSA Today(26/3-4), pp. 4-10.

Gaffney, O., “The Anthropocene Effect,” The Medium(19 Oktober 2016), Future Earth Media Lab (https://medium.com/future-earth-media-lab/the-anthropocene-effect-4d7ef1e2bd55, diakses pada 4 Januari 2019).

Galey, P., 2019.  “415.26 Parts Per Million: CO2 Levels Hit Historic High”, The Jakarta Post (17 Mei 2019).

Hamilton, C., 2015. “The Theodicy of the ‘Good Anthropocene’,” Environmental Humanities(7), pp. 233-238.

Harari, Y.N., 2014.  Sapiens: A Brief History of Humankind.  Harper Perennial, New York.

Hartwell, R., 1962. “A Revolution in the Iron and Coal Industries During the Northern Sung,” Journal of Asian Studies(21), pp. 153–162.

Haraway, D., 2015. “Anthropocene, Capitalocene, Plantationocene, Chthulucene: Making Kin,” Environmental Humanities (6), pp. 159-165.

Hartwell, R., 1967. “”A Cycle of Economic Change in Imperial China: Coal and Iron in Northeast China, 750–1350,” Journal of Social and Economic History of the Orient(10) 102–159.

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), 2007.  “Summamry for Policymakers,”  Climate Change 2007: The Physical Science Basis.  IPCC Secretariat, World Meteorological Organization, Geneva.

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), 2018.  “Summary for Policymakers,” Global warming of 1.5°C: An IPCC Special Report on the Impacts of Global Warming of 1.5°C Above Pre-industrial Levels and Related Global Greenhouse Gas Emission Pathways, in the Context of Strengthening the Global Response to the Threat of Climate Change, Sustainable Development, and Efforts to Eradicate Poverty[V. Masson-Delmotte et al. (eds.)].  Geneva, Switzerland: World Meteorological Organization.

Kolbert, E., 2014.  The Sixth Extinction: An Unnatural History.  Henry Holt and Company, New York.

Lambin, E.F. and H.J. Geist (eds), 2006.  Land Use and Land-Cover Change: Local Processes and Global Impacts.  The International Geosphere Biosphere Program, Global Change Series, Springer-Verlag, Berlin, Heidelberg, New York.

Lomborg, B. 2001. The Skeptical Environmentalist: Measuring the Real State of the World. Cambridge University Press, Cambridge. 

Machida, T., T. Nakazawa, Y. Fujii, S. Aoki, dan O. Watanabe, 1995.  “Increase in the Atmospheric Nitrous Oxide Concentration During the Last 250 Years,” Geophysical Resources Letters(22), pp. 2921–2924.

Mackenzie, F.T., L.M. Ver, dan A. Lerman, 2002.  “Century-scale nitrogen and phosphorus controls of the carbon cycle,” Chemical Geology(190), pp. 13–32.

McNeill, J.R., 2001. Something New Under the Sun. W.W. Norton, New York, London.

Moore, J.W., 2015.  Capitalism in the Web of Life: Ecology and the Accumulation of Capital.  Verso Books, New York.

Polanyi, K., 1944.  The Great Transformation: The Political and Economic Origin of Our Time.  Beacon Press, Boston.

Rahmstorf, S., 2007. A Semi-Empirical Approach to Projecting Future Sea-Level Rise. Science(315), pp. 368–370. 

Ruddiman, W.F., 2003. “The Anthropogenic Greenhouse Era Began Thousands of Years Ago,” Climate Change(61), pp. 261-293.

Ruddiman, W.F., et. al., 2013.  “Late Holocene Climate: Natural or Anthropogenic?” Reviews of Geophysics(54/1), pp. 93-118.

Smith, B.D., dan M.A. Zeder, 2013.  “The Onset of the Anthropocene,” Anthropocene(4), pp. 8-13.

Steffen, W., A. Sanderson, P.D. Tyson, J. Jäger, P. Matson, B. Moore III, F. Oldfield, K. Richardson, et al, 2004.  Global Change and the Earth System: A Planet Under Pressure. The IGBP Global Change Series, Springer-Verlag, Berlin, Heidelberg, New York.

Steffen, W., P.J. Crutzen, dan J.R. McNeill, 2007.  “The Anthropocene: Are Humans Now Overwhelming the Great Forces of Nature?” Ambio(Vol. 36, No. 8, Desember 2007) pp. 614-621).

Steffen, W., W. Broadgate, L. Deutsch, O. Gaffney, C. Ludwig, 2015. “The Trajectory of The Anthropocene: The Great Acceleration,” The Anthropocene Review(2), pp. 81–98.

Swyngedow, E., 2013. “Apocalypse Now! Fear and Doomsday Pleasures,” Capitalism Nature Socialism(24/1), pp. 9-18

TeBrake, W.H., 1975. “Air Pollution and Fuel Crisis in Preindustrial London, 1250–1650,” Technology and Culture(16), 337–359.

Vörösmarty, C.J., K. Sharma, B. Fekete, A.H. Copeland, J. Holden, J. Marble, dan J.A. Lough, 1997. “The Storage and Aging of Continental Runoff in Large Reservoir Systems of the World,” Ambio(26), pp. 210–219.

Artikel Terkait