Tulisan Cak Nun dengan judul Ilmu Waktu yang tayang tanggal 26 Januari lalu di www.caknun.com cukup menarik perhatian -- umumnya bagi jamaah maiyah dan khususnya buat saya. Tulisan itu oleh Cak Nun dimaksud hanya untuk meneruskan informasi yang didapatnya dari bisikan yang berasal dari pengalaman atau penyaksian batin. Ini semacam pengetahuan eksperiensial atau ilmu ahwal, meminjam istilahnya Ibn 'Arabi.

Saya menulis ini tidak dalam posisi -- dan tentu saja tidak punya kapasitas -- untuk menilai atau menanggapi pikiran-pikiran Cak Nun. Namun tulisan saya ini sekadar untuk mengaktualkan pandangan-pandangan saya yang jika dipendam khawatir akan jadi beban pikiran: bisa berpengaruh negatif terhadap kondisi fisik maupun mental saya. Karena jujur saja, tulisan Cak Nun tersebut begitu beresonansi dengan saya.

Sekira seminggu atau dua minggu sebelum tulisan Cak Nun beredar, saya lupa kapan persisnya, saya mengalami semacam ekstase relijius (jangan dipahami seperti ekstasenya kaum sufi, karena ekstase juga bisa dialami oleh orang awam seperti saya). Saat itu saya merasa seperti sedang berhadapan langsung dengan kematian.

Selepas membaca tulisan Cak Nun, bayangan akan kematian serasa makin dekat dan terus menggelayut di pikiran. "Sepertinya firasat Cak Nun benar", pikir saya saat itu.

Dalam tulisannya, Cak Nun mengungkapkan bahwa dirinya mendapatkan bisikan dengan kalimat "tinggal beberapa minggu lagi", dan "kita akan punya pemimpin seumur hidup".


Soal "kita akan punya pemimpin seumur hidup" Cak Nun secara eksplisit memaknainya dengan "menjadi pemimpin sampai hari kematiannya". Cak Nun mengilustrasikannya dengan suksesi kepemimpinan nasional sejak era Soekarno hingga era Jokowi saat ini.

Menurut Cak Nun, Soekarno dan Soeharto pernah didapuk menjadi pemimpin seumur hidup tapi gagal. Keduanya lebih dulu lengser sebelum waktu meninggalnya. Dengan kata lain, Cak Nun seolah ingin mengatakan bahwa Jokowi juga akan gagal atau tidak akan menjadi "pemimpin seumur hidup" -- meskipun, Jokowi tak pernah men-declare secara terbuka bahwa dirinya akan menjadi pemimpin seumur hidup. Tetapi, dari ilustrasi yang diuraikan, setidaknya Cak Nun menangkap ada gejala atau potensi ke arah itu.

Adapun tentang "tinggal beberapa minggu lagi", meski Cak Nun mengatakan bahwa dirinya sungguh-sungguh tidak tahu maksudnya, namun di akhir tulisan ia mengaitkannya dengan gejala kiamat. Terlebih lagi, ia menjelaskannya dengan lebih tartil: "Mulai Maret korban wabah dan bencana lain akan besar-besaran. Ada perang antara dua negara raksana dalam hitungan beberapa hari lagi. Kalau sampai senjata nuklir digunakan, maka minimal Asia Selatan dan Tenggara bagian agak ke utara akan luluh lantak".

Dalam pandangan saya, setidaknya ada tiga poin yang -- menurut saya penting -- bisa dipetik sebagai refleksi atas makna kehidupan. Pertama, di bagian awal tulisan, Cak Nun mengatakan bahwa dirinya bukan orang berilmu, tidak punya pengetahuan, bukan seorang "kasyiful hijab" yang mampu membuka tabir rahasia Allah atas kehidupan. Dengan pernyataan itu, tentu akan dipersepsikan oleh jamaah sebagai bentuk sikap kerendahatian Cak Nun (tawadhu'), dan otomatis berimplikasi pada makna yang sebaliknya: Cak Nun berilmu, berpengetahuan, dan "kasyiful hijab".

Sepanjang yang saya ketahui, meski di banyak kesempatan Cak Nun kerap mengatakan agar tidak dikultuskan, tidak ingin di-wali-wali-kan oleh jamaahnya, namun tak sedikit dari jamaahnya -- bahkan bisa jadi semuanya -- meyakini bahwa Cak Nun memiliki pengetahuan khusus, yakni pengetahuan akan hal gaib ('ilm al-asrar). Ini adalah bentuk pengetahuan yang berada di luar batas akal; pengetahuan langsung dari Tuhan (hanya nabi dan orang suci (wali) yang dianugerahi hak istimewa pengetahuan ini).

Hematnya, karena saya bukan wali, saya cenderung memilih mazhab "entahlah". Namun jika melihat dari track record dan laku spiritualnya, setidaknya saya berhusnudzon bahwa Cak Nun itu Mukmin, dan Allah sudah mengingatkan kita supaya hati-hati dengan firasat seorang mukmin.

Poin kedua yang menurut saya penting, saya menduga, lewat tulisan Ilmu Waktu, Cak Nun sedang mempromosikan ajaran iluminasinya Suhrawardi, atau bahkan filsafat hikmahnya Mulla Sadra, yakni metode berpikir yang bersandar pada pencerahan intelektual/spiritual. Ringkasnya, Cak Nun sedang berupaya mengungkapkan pengalaman relijiusnya secara diskursif-logis -- sebuah metode untuk menemukan sejenis tasawuf yang dapat diverifikasi secara rasional dan/atau eksperimental.

Lewat metode ini, Cak Nun seolah ingin menyatakan, adalah amat tak bisa dibenarkan untuk memperlakukan pengalaman mistis sebagai sekadar halusinasi. Lebih dari itu, pengungkapan Cak Nun atas pengalaman mistisnya ke publik bisa dimaknai sebagai upaya pengembangan spiritualisme atau mistisisme yang menghargai rasionalitas dan, dengan demikian, membantu mencegah kesalahpahaman bahkan penyalahgunaannya oleh para pseudo-mistik untuk membodohi masyarakat yang mungkin mengikutinya.

Ketiga, dalam tulisan tersebut Cak Nun mengajak pada kita khususnya jamaah maiyah untuk mengambil sikap Tahaqquq (kepasrahan total) kepada Allah. Saya kira pesan ini yang terpenting untuk direnungkan. Dalam kajian tasawuf, tahaqquq merupakan puncak dari ketauhidan. Jiwa orang yang sudah tahaqquq menjadi lebih tegar, lebih tangguh dalam segala medan, tidak split (terbelah). Dengan bermodal hati yang sudah tahaqquq, seseorang bisa tulus menerima kenyataan dan pernak-pernik kehidupan lainnya. Sekalipun itu pahit dan getir.

Sikap tahaqquq juga bisa diaplikasikan dalam konteks pencarian kebenaran, yakni dengan tidak sekadar mengerti/mengetahui kebenaran, tapi menghidupkan kebenaran. Praktisnya, ilmu yang barokah itu kanggo (tahaqquq).

Namun demikian, ini hanyalah penafsiran subjektif penulis. Sekali lagi, sebagaimana sudah penulis sampaikan di awal, tulisan ini tidak untuk merespon apalagi sampai mengkritik pikiran-pikiran Cak Nun. Karena secara pragmatik (kajian tentang makna kalimat), ada yang namanya "speaker's intended meaning", makna yang dikehendaki penutur. Jadi, yang mengetahui persis maksud dari kalimat/tulisan Cak Nun tentunya adalah Cak Nun sendiri.

Akhir kata, akankah kiamat itu terjadi dalam waktu dekat "tinggal beberapa minggu lagi" seperti yang diutarakan Cak Nun? Kita tunggu saja.