3 bulan lalu · 151 view · 4 menit baca · Lingkungan 58341_52394.jpg
waste360.com

Memanusiakan Sampah dan Gaya Hidup tanpa Limbah

Sampah selalu diasumsikan sebagai hal yang dibuang karena tidak berguna. Dalam KBBI, sampah diartikan sebagai benda yang dibuang karena tidak terpakai.

Dengan definisi tersebut, sampah yang hampir dihasilkan setiap hari seolah tidak memiliki nilai aktual karena salah kaprah pada pemaknaan tidak bermanfaat. Sampah yang dibuang karena kehilangan fungsinya hanya suatu persepsi yang dibangun manusia untuk merelakan si sampah pergi jauh dari hidup ini.

Waste is not waste until we waste it. Jargon yang selalu digaungkan para pelaku zero waste mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dianggap sampah bisa jadi tidak akan menjadi sampah jika tidak kita sia-siakan keberadaannya.

Sama halnya dengan suara gemercik air yang terdengar dari keran dapurku. Orang berpikir, mungkin saya sedang mencuci piring. Namun tidak hanya peralatan makan yang saya cuci di dapur ini. Mencuci kantong plastik dan kemasan karton pun perlu dimandikan layaknya manusia agar dapat ditilik manfaatnya seperti benda yang lain.

Mengubah persepsi buruk sampah telah saya lakukan sejak Agustus 2018. Semua berawal dari keterlibatan saya dalam komunitas “belajar zero waste”. Belajar gaya hidup tanpa secuil sampah? Mana bisa? Rasanya mustahil.

Zero waste merupakan filosofi yang dijadikan gaya hidup positif menuju bebas sampah. Tujuannya untuk menekan besaran sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk hidup yang berkelanjutan (sustainable living).

Kapasitas penampungan TPA terkadang tidak sebanding dengan besaran sampah yang dihasilkan. Permasalahan metode Open Dumping di sebagian besar TPA di Indonesia justru berdampak pada sejumlah permasalahan di negeri ini.


Sistem open dumping selama ini hanya bertujuan untuk menimbun sampah tanpa adanya pengolahan khusus. Tidak heran, timbunan sampah di TPA yang makin menggunung dapat mengakibatkan kelongsoran, banjir, bahkan menjadi ancaman ekologi bagi lingkungan kita.

Masih ingatkah akan tragedi longsor di TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005? Tragedi yang memakan 157 korban jiwa itu kini diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Hari Peduli Sampah seyogianya menyadarkan manusia untuk bijak mengelola hasil yang dikonsumsi. Membuang sampah di TPA merupakan bukti kegagalan manusia melihat sisi baik dari sampah. Padahal sejatinya sampah tidak mudah pergi, bahkan ia lebih banyak menghantui.

Tradisi “membuang sampah pada tempatnya” masih belum cukup memindahkan masalah sampah yang kian menumpuk. Diperlukan tiga upaya untuk memulai gaya hidup zero waste dalam kehidupan kita, yaitu cegah, pilah, dan olah.

Cegah artinya mencegah segala sesuatu yang berpotensi menghasilkan sampah. 

Ada banyak upaya untuk mencegah timbulnya sampah, khususnya sampah plastik sekali pakai. Beberapa upaya di antaranya adalah selalu membawa wadah, reusable bag, air minum isi ulang, sampai sedotan yang dapat dipakai lagi setiap kali keluar maupun berbelanja .

Pilah berarti memilah sampah yang sudah ada berdasarkan kategori jenis sampah. 

Kelalaian memilah sampah pun bisa berdampak buruk bagi lingkungan kita. Tahukah Anda mengapa membuang sampah organik tidak disarankan bercampur dengan sampah anorganik?


Dilansir dari artikel Waste4change, disebutkan bahwa sampah organik yang membusuk dalam keadaan anaerobic atau tanpa oksigen dapat menghasilkan gas metana (CH4). Gas ini merupakan salah satu jenis green house gas yang berpotensi mempercepat penipisan lapisan ozon bumi.

Di sisi lain, jenis gas metan yang mudah terbakar dapat menyebabkan ledakan bahkan kebakaran di TPA. Seperti halnya kasus kebakaran di TPA Heuleut, Majalengka pada Agustus 2018. Kebakaran ini sulit sekali dipadamkan akibat tingginya gas metan yang dihasilkan.

Memilah sampah tentunya perlu dilakukan sendiri. Upaya pemerintah untuk memberikan tempat sampah berdasarkan kategori nyatanya masih belum terlaksana dengan baik. Petugas sampah justru sering kali mencampurkan sampah yang dipilah karena adanya keterbatasan tempat, waktu, dan tenaga.

Langkah selanjutnya adalah olah. Berdasarkan artikel yang ditulis di Validnews, disebutkan bahwa persentase sampah organik di Indonesia mencapai 60%.

Mempunyai komposter di rumah adalah salah satu upaya untuk mengubah sampah organik untuk diolah menjadi kompos atau pupuk tanaman. Tidak hanya itu, sisa kulit buah pun bisa dimanfaatkan untuk membuat cairan eco enzyme.

Eco enzyme adalah larutan zat organik yang diproduksi dari fermentasi sisa organik, gula, dan air. Cairan ini kaya akan manfaat. Beberapa manfaatnya dapat dijadikan sebagai cairan pembersih serbaguna, pupuk tanaman, pengusir hama, hingga upaya untuk melestarikan lingkungan.

Dr. Joean Oon, peneliti eco enzyme, bahkan mengklaim 1 liter larutan eco enzyme dapat membersihkan 1.000 liter air sungai yang tercemar. Bisa dibayangkan, jika seluruh masyarakat beralih ke cairan eco enzyme untuk mencuci dan membersihkan rumah, maka masyarakat sudah berkontribusi untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Tidak hanya sisa organik saja yang bisa dimanfaatkan. Sisa anorganik yang terpilah dapat disumbangkan ke bank sampah untuk diolah menjadi industri rumah yang bermanfaat. Minyak jelantah yang sering kali terbuang sia-sia bahkan dapat dijadikan sabun jelantah untuk mencuci baju, bahkan dapat diolah menjadi biodiesel.


Dengan upaya ini, masyarakat akan makin memahami sisi manfaat dari sampah yang dianggap nirguna. Jika ditarik lebih jauh, mengolah sampah mengingatkan manusia bahwa hakikatnya segala sesuatu yang tercipta dari alam akan kembali ke alam.

Memanusiakan sampah tidak hanya mengingatkan manusia akan perannya di muka bumi, namun juga menginternalisasi kesadaran ekologis untuk menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab individu. Sampahku adalah tanggung jawabku.

Artikel Terkait