Seandainya Pohon Dapat Berbicara

Seandainya pohon dapat berbicara, kira-kira kalimat apakah yang akan ia sampaikan kepada manusia sebagai satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan dibekali akal dan pikiran untuk mengelola bumi ini?

Barangkali apa yang akan dikatakan oleh salah satu pohon adalah seperti ini : “Sungguh beruntungnya menjadi manusia, karena berbeda dengan mereka, mereka tidak memiliki kesempatan yang sama seperti yang dimiliki oleh manusia, yakni untuk memakmurkan bumi ini dengan hal-hal yang bersifat membangun alam”.

Pada hakikatnya manusia dan alam adalah satu kesatuan tubuh yang saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Manusia membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal untuk hidup, dan alam menyediakan itu semua. Begitu pula dengan alam, ia membutuhkan kasih sayang manusia dalam menggunakan sumber daya alam yang ada, agar digunakan secara berhati-hati dan tidak merusak ekosistem, supaya keseimbangan alam tidak terganggu.

Manusia selalu bekembang dan maju, namun dengan perkembangan dan kemajuannya, ia menjadi makhluk material, dimana segala usaha yang dilakukannya cenderung berorientasi pada bagaimana caranya untuk menghasilkan materi, uang, dan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal tersebut membuat manusia lupa akan hakikat dirinya yang hidup menyatu berdampingan bersama alam, sehingga mengekploitasi alam secara tak terkendali dan melakukan pengrusakan demi keutungan pribadi.

Hutan Indonesia yang Terus-menerus Tergerus

Indonesia, merentang 5.300 km dari Barat ke Timur dan sekitar 1.700 km dari Utara ke Selatan. Terdiri dari belasan ribu pulau yang terpisah dengan luas daratan 190,994 hektar dan telah ditetapkan sekitar 70 persen kawasannya adalah hutan.

Dalam sebuah press release Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2009-2013 yang dipublikasikan pada tahun 2014 oleh organisasi jaringan pemantau hutan independen yang menamakan diri mereka Forest Watch Indonesia atau yang disingkat dengan FWI menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 2009-2013, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar. Sungguh sangat mencengangkan bukan ketika mendengar fakta tersebut? Jika dibuat sebuah persamaan, maka angka tersebut dapat dikonversikan menjadi “Indonesia kehilangan hutan seluas tiga lapangan sepak bola setiap menitnya”.


Dalam press release tersebut pula disebutkan bahwa jumlah hutan yang tersisa di Indonesia sekarang hanya berkisar 82 juta hektar, yaitu 26,6 juta hektar di Kalimantan, 11,4 juta hektar di Sumatera, 8,9 juta hektar di Sulawesi, 4,3 juta hektar di Maluku, 19,4 juta hektar di Papua, dan 1,1 juta hektar di Bali dan Nusa Tenggara.

Berdasarkan publikasi dari website resmi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia yang merupakan salah satu organisasi independen yang bergerak terhadap isu permasalahan tentang konservasi, penelitian, dan restorasi lingkungan menyebutkan bahwa sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia berkurang setiap tahunnya. Dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang.

Pengelolaan hutan yang tidak baik, dibuktikan dengan banyaknya kasus pengeksploitasian pohon secara ilegal dengan tidak meminta izin kepada pihak yang berwenang dan tidak tegasnya penerapan aturan hukum yang berlaku terhadap regulasi penebangan hutan mengakibatkan terganggunya keseimbangan dan kelestarian hutan secara kualitas dan kuantitas. Ekosistem yang berada di sekelilingnya pun menjadi semakin hancur dan terus-menerus berkurang. Beberapa temuan juga mengungkapkan adanya praktik korupsi dan suap dari pihak yang ingin mengeksploitasi hutan kepada pemerintah untuk dimudahkan perihal perizinan penebangan hutan.

Ancaman dan Tantangan Hutan Kita : Pembangunan, Bisnis, dan Politik

Atas dasar untuk kepentingan pembangunan, pemukiman, industri, bisnis, komersial, dan infrastuktur, maka proyek-proyek pembangunan selalu digalakkan, sehingga hutan-hutan di Indonesia ditebang secara membabi-buta dan tak terkontrol guna memenuhi kebutuhan akan lahan. Lahan yang awalnya hijau tempat hewan-hewan hidup berubah menjadi lahan pemukiman, industri, dan bisnis. 

Sangat sedikit para pelaku pengeksploitasi hutan ini memerhatikan aturan-aturan dalam pengelolaan hutan seperti terkait usia pohon yang boleh ditebang, penanaman kembali area hutan yang pohon-pohonnya telah ditebang, dan masih banyak lagi. Keadaan seperti ini jika terus-menerus dibiarkan akan menyebabkan hutan di Indonesia akan terus menyusut.

Bila kita menyaksikan kehidupan sehari-sehari, ancaman serta tantangan terhadap perlindungan hutan dan alam sangat jelas terlihat. Di Indonesia sendiri, penzonaan akan lahan yang ditujukan sebagai wilayah konservasi dan seharusnya wajib dilindungi, dengan seketika dapat berubah menjadi wilayah bisnis dikarenakan lobbying dari pihak pengembang yang lebih mengutamakan aspek kestrategisan tempat dengan pihak pemerintah yang seharusnya tegas dengan tata guna lahan berdasarkan karakteristik lahan.

Sangat disayangkan sekali jika hutan-hutan dibabat dan wilayah konservasi dialih fungsikan karena alasan bisnis segelintir kelompok dan estetika kota, dan dengan teganya mengorbankan kepentingan kelestarian alam.

Peran Masyarakat Terutama Pemuda dalam Penyadaran Nilai-Nilai Kelestarian Alam

Peran masyarakat terutama pemuda selalu menjadi kunci untuk merubah keadaan. Setiap pemuda menyimpan potensi besar dan keinginan yang kuat untuk Indonesia agar menjadi lebih baik.  Dalam sejarahnya di Indonesia, pemuda menjadi titik penentu akan perubahan, mulai dari penggulingan orde lama hingga reformasi telah menjadi saksi akan kekuatan pemuda.

Di tengah perkembangan indonesia saat ini, telah terjadi banyak permasalahan, terutama dalam masalah penyelewengan kelestarian alam atas nama pembangunan dan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kelompok sosial tertentu. Pemuda dinilai kurang dalam menangani permasalahan-permasalahan bangsa akan ketimpangan pembangunan yang mengesampingkan aspek kelestarian lingkungan ini, padahal mereka adalah generasi-generasi penerus bangsa. Kegelisahan ini merupakan tantangan bagi pemuda-pemuda untuk menularkan kesadarnnya.

Hal-hal tersebutlah yang melatar belakangi pemikiran penulis untuk mengusulkan adanya pendidikan atau sekolah alternatif yang dibentuk khusus untuk memberikan pencerdasan dan penyadaran tentang nilai-nilai kelestarian alam kepada pemuda. Nilai yang akan ditularkan yakni bahwa pembangunan haruslah diiringi dengan perawatan pada alam dan untuk kepentingan masyarakat bersama, bahwa alam dan manusia adalah satu kesatuan dan tak bisa dipisahkan. Sehingga pada akhirnya, mereka akan sadar bahwa setiap manusia mempunyai potensi membuat Indonesia menjadi lebih baik dengan tidak melupakan alam, kemudian nilai-nilai dan kesadaran akan kepedulian terhadap kelestarian tadi dapat ditularkan kepada masyarakat lainnya.

Tentang Kita dan Alam : Manusia dan Alam Adalah Satu dan Selaras

Dari tempat ke tempat dan dari masa ke masa, manusia mengumpul dan berburu, kemudian manusia bertani, dan akhirnya melakukan suatu kegiatan industri. Modernisasi dan pembangunan akhirnya menjadi suatu yang sangat trendy. Hingga pada akhirnya, alam selalu dinomorsekiankan dan tidak dihayati secara mendalam. Manusia merasa sebagai bagian yang terpisah dari alam. Alam hanya dianggap sebagai obyek seperti layaknya sebuah obyek wisata dan obyek liburan semata. Tidakkah kita menyadari akan kemanunggalan kita dengan alam?

Alam bukanlah hal yang linear, yang jika kita eksploitasi terus-menerus akan menjadikan kita maju dan beradab. Justru alam pun juga dapat menyemburkan kata-kata serapahnya kepada manusia yang dengan sewenang-wenang merusak kelestarian alam. Ketika keseimbangan alam terganggu, maka manusia juga yang akan terkena dampak negatifnya seperti pemanasan global dan perubahan iklim. Daya dukung alam terhadap kehidupan kita sangat kuat sekali. Pola hidup sekarang lah yang  merusak keseimbangan ini, sehingga merusak hubungan manusia dengan alam.

Mari kita simak dan pelajari cerita dari para badui, samin, dan pribumi yang tidur di pangkuan alam. Mereka dianggap tidak berperadaban, tidak maju, tertinggal, konservatif, kolot, tak berpendidikan, tidak modern, serta teguh pendiriannya dalam mempertahankan pendapat mereka dalam menolak pembangunan dan modernisasi yang merusak kelestarian alam serta hubungan manusia didalamnya.

Penutup : Sudah Seharusnya Kita Tergerak dan Menjadi Penggerak Masyarakat dalam Upaya Mengabdi kepada Alam dalam Bentuk Melestarikannya

Harus diakui bahwa tulisan ini sangat kental dengan karakter keterpaduan antara hubungan manusia dengan alam. Sementara itu yang perlu dieksplorasi lebih lanjut adalah bagaimana untuk mengimplementasikan perbaikan terhadap pengelolaan, perijinan regulasi, serta pengawasan pihak terkait terhadap kelestarian alam dan hutan di Indonesia. Tulisan ini memaparkan ancaman riil akan kelestarian alam yang akan berhadapan dengan kepentingan industri, bisnis, serta pembangunan di masa depan yang akan mengambil lebih banyak ruang-ruang hutan untuk digunakan sebagai lahannya. 

Bukannya penulis anti pembangunan, namun pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca adalah pembangunan haruslah diiringi dengan perawatan pada alam dan harus untuk kepentingan masyarakat bersama, bahwa alam dan manusia adalah satu kesatuan dan tak bisa dipisahkan.Walaupun kendala, tantangan, hambatan, dan kekuatan perusak selalu akan ada, pekerjaan tersebut harus terus kita lakukan dalam rangka melestarikan alam.

Tulisan ini sendiri sebenarnya merupakan hasil renungan dari mengolah pikir dan rasa oleh penulis sebagai pengalaman, pemikiran, gagasan, perasaan, serta pembelajaran pribadi yang diharapkan juga bisa mendatangkan manfaat bagi pembaca sekalian terkait realitas ketimpangan antara pembangunan dan kelestarian alam kita.

Apakah tugas untuk mengabdi kepada alam dengan melestarikannya hanyalah tugas pemerintah? Sejatinya pengabdian kepada alam bukan hanya tugas, tanggung jawab, dan kewajiban dari pemerintah selaku pemangku kebijakan saja. Akan tetapi tugas untuk orang-orang yang sadar akan tugas, tanggung jawab, dan kewajibannya kepada alam.

Akankah kita masih mengesampingkan permasalahan kelestarian alam yang ada maupun yang belum terselesaikan di Indonesia ini? Tentu jawabnya adalah tidak. Inilah bentuk tanggung jawab moral kita bersama sebagai manusia. Karena sudah seharusnya kita tergerak dan berusaha menjadi penggerak kepada masyarakat lainnya dalam proses mengabdi kepada alam. Sudah seharusnya kita sadar dimana posisi dan peran manusia dalam konteks menjaga, melindungi, merawat, serta mengembangkan alam. Maka mari kita bergerak bersama untuk mewujudkannya.

Masih banyak yang harus dikerjakan dan diselesaikan terkait perlindungan alam ini, masih banyak hutan-hutan yang harus dilindungi kelestariannya. Indonesia membutuhkan pemuda yang tangannya lebih banyak bekerja untuk kelestarian alamnya, karena seorang pemuda yang bergerak sama dengan sejuta pemuda yang berpikir.

Dan hanya kepada Tuhan Sang Pencipta Alamlah kita memohon untuk diteguhkan dalam upaya menjaga kelestarian alam hasil ciptaan-Nya. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan menjadi pelajaran bagi kita semua.