2 tahun lalu · 356 view · 3 min baca · Agama humanisme_0.jpg
Ilustrasi: redaksiindonesia.com

Memanusiakan Agama

Itulah solusi yang saya tawarkan kepada teman dalam suatu candaan serius di warung kopi.

Kala itu, kami tersentuh untuk membincang seputar polemik di mana agama melulu hadir sebagai bagian inti yang menafasinya. Mulai dari hal yang remeh-temeh seperti haram-halalnya suatu produk, wajib-tidaknya penggunaan jilbab bagi muslimah, sampai pada hal-hal besar berbau politik seperti bisa-tidaknya pemimpin non-muslim dalam tradisi Islam. Yang terakhir inilah yang paling banyak memporsir waktu bercanda kami untuk sekadar memberi solusi atasnya.

Terang saja, saya, juga teman saya, sungguh tak bisa sepakat jika agama diseret-seret ke dalam ruang publik seperti demonstrasi bertajuk “Aksi Bela Islam”. Meski ini berdasar pada fatwa MUI, aksi semacam ini tidak akan membuahkan apa-apa selain keretakan bangsa dari dalam.

Kami pun tak mudah bersimpati pada gerakan-gerakan yang ingin menegakkan syariat agama sebagaimana sering diseru oleh para aktivis HTI dan oknum-oknum intoleran lainnya. Juga kami sama sekali mengecam tindakan anarkis yang kerap pula dipertontonkan oleh massa FPI, ISIS, beserta kaum-kaum yang anti pada kemanusiaan (dehumanitatif).

Sebab agama, dalam pandangan kami, adalah murni wilayah privasi masing-masing individu. Karenanya, apapun bentuknya, ia harusnya tak muncul di hadapan khalayak, baik itu melalui media-media massa nasonal/lokal, cetak/online, atau jejaring sosial manapun. Sehingga tak boleh ada pihak, MUI dan lembaga sejenisnya, mengklaim ranah ini secara absolut, yang seolah-olah mereka adalah penentu segala kebenaran hidup bagi umat beragama.

Bukan suatu masalah memang ketika agama (kandungan ajaran moralnya) ditebar ke berbagai media massa atau jejaring sosial. Itu hak masing-masing orang, suatu kebebasan individu yang tak boleh dikekang dengan atau tanpa alasan. Sebab kami tahu, ada kalanya agama memberi satu motivasi berguna tentang bagaimana tiap manusia menjalin relasi antar-sesama, alam, juga dengan tuhan yang diyakininya. Seperti pesan seorang nabi, sampaikanlah kebenaran walau dalam satu ayat.

Hanya saja, soalnya menjadi lain ketika ajaran (agama) diseru dengan tak ubahnya sebagai alat penghancur bagi sesama. Sebagaimana kerap ditunjukkan oleh oknum-oknum intoleran dan anti-kemanusiaan lainnya, seperti sesat-mengkafirkan sampai pada penghakiman yang hampir melulu berujung pada kekerasan fisik, menjadi satu realitas yang tak terkendali lagi. Dan pada ranah inilah saya mencoba memberi solusi dengan nada “memanusiakan agama” kepada teman dalam candaan serius kami di warung kopi itu.

***

Secara definitif, memanusiakan agama merupakan satu upaya untuk menghadirkan agama yang ramah bagi manusia. Tetapi saya juga sadar, upaya ini tentu tak perlu jika kita melihat kembali sejarah lahirnya agama-agama. Sebab sedari awal agama sudah hadir secara ramah terhadap manusia dan hidupnya. Hanya saja, sekali lagi, penyalahgunaan agama itulah yang membuat saya atau kami, semoga juga kita, memberi satu penegasan kembali.

Saya memang bukan pembelajar agama tulen selayaknya santri yang menghabiskan banyak waktu di pondok-pondok pesantren. Tetapi, setidaknya saya tahu bahwa agama adalah ajaran moral untuk manusia bukan yang lain. Bahwa ajaran moral ini dihadirkan guna keharmonisan sekaligus keberlangsungan hidup manusia dalam ruang kebersamaannya (masyarakat).

Sebagai ajaran moral, ia berlaku secara universal lagi dinamis. Artinya, agama adalah rahmat bagi sekalian alam yang eksis secara meruang dan mewaktu. Ia absolut, tetap, selama tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Sebab akal manusia ini adalah salah satu konteks penentu yang harus pula menafasi kehadiran ajaran moral bernama agama.

Ya, agama harus dijaga. Ia harus terjaga seperti terjaganya air kehidupan bagi keberlangsungan generasi manusia. Merusaknya berarti merusak kehidupan. Dengan kata lain, kita hanya hendak mati bukan untuk hidup dengan merusak-menghancurkannya.

Di samping itu, sekadar menukil pandangan Luthfi Assyaukanie dalam salah satu status facebook-nya, pengrusakan ajaran agama inilah yang juga menjadi media promosi paling ampuh agar orang menjadi ateis atau membenci agama. Semakin sering orang (kaum agamawan) mempertontonkan wajah buruk agama, menurutnya, maka ateisme akan semakin subur dan sikap agnostik semakin akan berkembang.

 Meski sebenarnya saya tidak terlalu ambil pusing dan malahan ingin membiarkan orang-orang untuk berbuat demikian—sebab saya selalu bermimpi untuk bisa hidup secara bersama tanpa tuntutan agama, tetapi demi keharmonisan, saya harus melawan hati nurani sendiri untuk menghalau orang-orang berbuat anarkis. Dan Memanusiakan Agama adalah satu cara sekaligus tawaran saya untuk menghalau itu. Bahwa agama, hari ini dan kelak, harus terus didesiminasikan dalam rupanya yang benar-benar manusiawi.

Artikel Terkait