Siapa sih yang tak tahu FPI?

Front Pembela Islam atau yang lebih akrab disebut FPI adalah organisasi Islam yang lahir pada 17 Agustus 1998, dicetuskan di Petamburan dan dideklarasikan di Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat. FPI berlogo Segitiga Tasbih dengan kaligrafi berbentuk kubah masjid bertuliskan “AlhamdulillahiRobbil ‘Aalamiin” di sudut atas segitiga tersebut. 

Di dalam Segitiga tersebut ada kaligrafi berbentuk hilal bertuliskan "BismillaahirRohmaanirRohiim", kaligrafi berbentuk bintang dengan tulisan “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah”, dan tulisan “Al-Jabhah Ad-Difaa’iyyah Al-Islamiyyah” di bawah kaligrafi bintang.

Setelah reformasi 1998, Indonesia ramai akan perkembangan partai, LSM, ormas, dan lain-lain. FPI adalah satu yang lahir dengan memanfaatkan meluasnya ruang gerak politik setelah Soeharto dan rezim Orde Baru jatuh. 

Di dalam buku Premanisme Politik (2000), ada riset yang dilakukan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang mengungkapkan bahwa lahirnya FPI tidak terlepas dari tiga peristiwa: pembentukan organ paramiliter Pengamanan Swakarsa, Kerusuhan Ketapang, dan Sidang Istimewa MPR.

Ormas binaan Habib Rizieq Shihab tersebut mempunyai 5 badan khusus, yaitu Badan Investigasi Front, Badan Anti Teror, Badan pengkaderan Front, Badan Ahli Front, dan Badan Amil Zakat. FPI juga memiliki 4 anak organisasi otonom seperti Laskar pembela Islam, Mujahodah Pembela Islam, Front Mahasiswa Islam, dan Serikat Pekerja Front. Rame, ya.

Ide Pembubaran

Ide pembubaran FPI bukanlah usulan yang baru muncul beberapa bulan belakangan. Pada Oktober 2014, pelaksana tugas (Plt) gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pernah mengirimkan usulan langsung pada Kemendagri mengenai hal ini. Namun Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H Laoly mengatakan bahwa pembubaran ormas butuh proses panjang dan harus dinilai, tak bisa dilakukan serta merta. 

Ide pembubaran FPI membesar kembali beberapa bulan belakangan setelah Pangdam Jaya, Mayjen TNI Dudung Abdurachman membuat pernyataan kontroversial. Menurutnya, organisasi masyarakat yang identik dengan pakaian serbaputih itu sebaiknya hilang dari peredaran.

Sebelum membahas dampak bubarnya FPI, akan lebih afdal kalau kita lihat juga sepak terjangnya di negeri ini.

Sepak Terjang

Selain identik dengan pakian serba putih, ormas ini juga identik dengan penolakan. Anggota ormas ini dinilai kerap menentang ahl-hal yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran Islam. Tak jarang pula penentangan itu diiringi dengan aksi kekerasan. 

FPI memang ormas yang bergerak di rel keagamaan, namun tak dapat dimungkiri bahwa FPI juga berada di rel politik. Ormas ini sering berada di kubu politik yang sesuai dengan visi misinya dan dianggap dapat menguntungkan. Bisa dilihat bahwa beberapa tokoh politik mendekat ke Petamburan demi memperlancar jalur karier politiknya.

Terhitung sejak lahir pada tahun 1998, FPI tidak pernah absen dari sorotan media nasional. Pada tahun 2000 FPI pernah menyerang kantor Komnas HAM dan menuntut pembubaran lembaga tersebut. Pada tahun 2003 FPI mengepung kedubes AS selama 3 hari dan 3 malam untuk menentang serangan Amerika terhadap Irak. 

Pada 2004, FPI kompak menyatakan golput, pada tahun yang sama juga FPI terjun langsung membantu korban tsunami Aceh. Mereka bahkan pernah menyerbu pemukiman Jemaah Ahmadiyah di Cianjur, menutup paksa gereja di Bandung, menyerang kantor majalah Playboy, menyerang massa Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas) karena dituduh komunis, dan menyerang massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang mayoritasnya adalah Ibu-ibu dan anak-anak. 

Semua itu terjadi hanya dalam kurun waktu 2005-2008. Penolakan Ahok untuk diangkat sebagai Gubernur DKI Jakarta juga tak luput dari aksi anarkis FPI. 

Baru-baru ini FPI terlibat kasus penembakan oleh pihak kepolisian yang menewaskan setidaknya 6 anggota FPI. Saking berbaktinya pada negeri, benar-benar padat jadwal dari teman-teman FPI ini. Saya rasa satu artikel saja tidak cukup untuk memasukkan dafatr aksi dari ormas ini.

Dampak bubarnya FPI

Siapakah yang akan terdampak jika suatu waktu FPI benar-benar bubar?

Jawabannya adalah dari semua lapisan sosial masyarakat. Yang paling utama dan pasti merasa dirugikan adalah laskar FPI itu sendiri. Selama ini, sudah pasti adalah sebuah kebanggaan bagi para laskar FPI untuk tampil dengan baret putih dan pakaian serbaputihnya sembari merazia warung-warung makan kecil, warkop, dan kafe yang buka pada bulan puasa.

Bagi politisi dan pemerintah, FPI selama ini telah menjadi kontrol sosial yang ampuh. FPI seringkali jadi bahan bakar isu radikalisme dan intoleransi, apalagi pasca dibubarkannya HTI. 

Bagi politisi-politisi yang selama ini kerap merapat ke Petamburan tentu saja ini adalah Big Loss. Berkurang sudah satu senjata pamungkasnya. Atau bisa jadi politisi-politisi dan pemerintah malah lega karena akhirnya tidak ada lagi perasaan was-was takut salah ngomong dan disangkutpautkan dengan isu agama. Surat Al-Maidah 51 contohnya.

Industri media juga akan merasakan kehilangan. Jurnalis-jurnalis akan kewalahan mencari isu yang selalu hangat mudah digoreng untuk diangkat sebagai headline. Atau mungkin media justru senang karena kolom yang rutin diisi FPI bisa dijadikan kolom iklan.

Satpol PP dan Polisi akan kehilangan “partner sparing” yang selama ini menemani latihan entah sebagai lawan gulat atau samsak. Atau bisa jadi satpol PP dan Polisi malah lega karena akhirnya pekerjaannya berkurang.

Kelompok minoritas akan kehilangan partner petak-umpet yang selama ini memicu adrenalin dan olahraga jantung.  Atau bisa jadi kelompok minoritas justru lega tidak perlu takut dipersekusi.

Nyai Nikita Mirzani juga kelak akan merasa kehilangan lawan cekcok adu mulut, mengingat di kalangan selebriti tidak ada yang mampu menyainginya. Atau bisa jadi Nyai Nikita Mirzani justru merasa lega karena tidak akan disebut dengan panggilan-panggilan kasar dan tak sopan terhadap perempuan, atau lega karena rumahnya tak perlu dijaga polisi.

Tongkrongan-tongkrongan juga akan merasakan kehilangan, mengingat membahas FPI sudah seperti agenda tetap  setelah membahas Game Mobile dan Wanita. Atau bisa jadi anak-anak tongkrongan akan lebih senang sebab akhirnya waktu yang dihabiskan untuk pembahasan tak berhujung itu bisa digunakan untuk membahas naiknya cukai rokok.

Ketika semua itu terjadi (jika benar-benar terjadi), tak ada lagi agenda FPI (kecuali reuni 212) dan semua elemen masyarakat mungkin akan merasakan kehilangan dan kelegaan secara bersama-sama.