Kenyataan hidup memang selalu saja menyebalkan. Meminjam kata-kata Patrick Star di serial Spongebob, “Hidup memang tidak adil, jadi biasakanlah dirimu.”

Jika cewek selalu dibuat jengkel dengan pernyataan “cewek kok gak bisa masak”, maka cowok juga akan mencak-mencak saat ada yang mengatakan “cowok kok gak bisa masang lampu”.

Cowok selalu digambarkan dengan gagah, dan bisa diandalkan. Jadi mungkin alasan kenapa ada pernyataan tersebut, ya karena memang cowok harusnya bisa diandelin, masak sih masang lampu saja gak bisa.

Kemarin saya kembali mengalami pengalaman pahit ini saat berkunjung ke rumah teman saya. Kebetulan tetangganya adalah barisan para cewek yang kebetulan lampu di rumahnya mati.

Sebagai cowok, saya harusnya memang merasa terpanggil untuk menyelesaikan masalah cewek. Tapi ini bedaaa. Tidak semua cowok bisa masang lampu, dan itu juga perlu dianggap wajar.

Kalian harus tahu lampu itu lokasinya ada di luar zona nyaman, yaitu puncak tertinggi langit-langit. Untuk mengganti lampu tentu harus bisa menjangkau lampu yang tinggi tersebut. Kalau memang tidak bisa menjangkau karena, maaf, ehem pendek, ya harus menggunakan teknologi yang bernama tangga darurat.

Masalahnya, takut ketinggian adalah sindrom yang menyerang siapa saja tanpa mempertimbangkan jenis kelamin. Ketika ada cowok takut ketinggian, itu bukan aib, itu wajar, namanya juga takut. Cowok yang takut kecoa juga banyak kok, dan itu tidak salah juga.

Tidak hanya masalah ketinggian, untuk memasang sebuah lampu juga perlu mengetahui beberapa pengetahuan dasar. Kan tidak lucu kalau sudah sampai di atas tapi bingung gimana caranya masang lampu.

Pertama, tentu saja mencopot lampu yang sudah terpasang. Untuk mencopot lampu setidaknya harus memutar lampu ke kiri, sedangkan untuk memasangnya harus memutar ke kanan. Ini memang terdengar remeh, tapi pengetahuan dasar seperti tapi ya tetep harus ngerti.

Selanjutnya, perlu diketahui juga kalau mencopot bola lampu itu tidak boleh asal muter, harus memperhatikan tempat berpijak lampu, dalam bahasa resmi namanya fitting, tapi di daerah saya biasanya disebut pitingan biar gampang.

Nah, jadi kalau melepas bola lampu harus memperhatikan pitingan ini, memang biasanya pitingan ini kuat jadi ndak harus dipegangi. Tapi ada juga yang rapuh, sehingga ketika lampu di putar, yang copot bukan cuma lampu, tapi pitingan juga ikut copot. Jadi pitingannya juga harus ikut dipegangi ketika mencopot bola lampu.

Itu baru hal dasar yang bersifat teori. Hal terpenting sebenarnya adalah praktik atau pengalaman.

Zaman modern menyajikan berbagai macam kebutuhan. Bahkan orang tua di jaman modern cenderung lebih memanjakan anaknya.

Ada penelitian menarik tentang hubungan anak modern dengan ketidakbisaan mereka masang lampu.

Dr. Domenick Sportelli mengatakan bahwa dalam sejarah global, kita telah melihat banyak peristiwa kelam seperti The Great Depression (1929), Perang Dunia II, Perang Dingin, Krisis Ekonomi (1998), dll. Namun di masa-masa sulit itu, angka penderita depresi lebih sedikit dibandingkan saat ini.

Ini menjadi “unik” kenapa jumlah orang depresi di zaman modern makin banyak. Padahal zaman makin canggih, harusnya kebutuhan manusia makin terpenuhi, kan?

Dalam beberapa literatur yang saya baca, kenapa orang modern lebih merasa depresi, salah satunya karena ditemukannya pil kontrasepsi. Lho, apa hubungannya?

Jadi gini, orang di zaman modern, karena memiliki alat kontrasepsi, maka jumlah anaknya lebih sedikit daripada orang di zaman dulu yang mana memiliki anak sampai 10 itu masih sangat wajar. Nah, sejak ada alat kontrasepsi, orang-orang sudah mengurangi jumlah anaknya, jumlah anak idealnya adalah 2. Alhasil, uang, perhatian, serta apa-apa yang dimiliki orang tua bisa lebih banyak diterima oleh anak karena jumlah saudaranya juga sedikit.

Anak-anak di zaman dulu memiliki daya hidup tinggi karena persaingan antara saudara untuk mendapatkan uang, perhatian, dan apa-apa dari orang tua juga tinggi karena jumlah saudaranya banyak, sehingga membentuk pribadi yang lebih kuat, dibandingkan dengan anak sekarang yang apa-apa sudah terpenuhi. Bahkan di zaman modern, ada istilah tantrum yang ketika tidak dituruti maka anak akan nangis dan marah agar keinginanya terpenuhi.

Kalau zaman dulu mana ada yang namanya tantrum, kalaupun ada, mau diapain? Kebutuhan pokok sehari-hari saja masih serba kekurangan kok mau minta aneh-aneh. Berbeda dengan anak modern yang selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan.

Terlalu dimanjakan itu tidak baik untuk anak. Ibaratnya ketika ada perang, anak zaman dulu dibekali oleh orang tuanya berupa pedang, panah, dan alat bertahan hidup lainnya, sedangkan anak modern malah disuruh untuk sembunyi di tempat yang aman.

Nah, karena anak modern tidak diberikan pengalaman dan daya hidup tinggi, ketika ia tumbuh dewasa pun wajar jika ia tidak bisa memasang lampu dengan fasyeh.

Jadi kalau ada cowok gak bisa masang lampu, jangan salahin dia. Jangan salahin juga pola asuh orang tuanya. Salahin saja tuh alat kontrasepsi.