2 tahun lalu · 4953 view · 5 menit baca · Agama 101562576.jpg
Sumber: gilbertjoearmstrong.wordpress.com

Memangnya Ada Ateis yang Islami?

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman berkata, ‘’Tum, (panggilan akrabku di hadapan anak HMI) sesekali tengoklah itu grup ABAM (Anda Bertanya Atheis Menjawab) di Facebook. Di sana seru banget diskusinya. Ente bisa nanya apa aja. Termasuk pertanyaan nakal sekalipun, yang selama ini dianggap tabu bagi masyarakat,’’ ujarnya memancing rasa penasaranku.

Setelah saya masuk grup tersebut, dan benar! Diskusi dan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar begitu wow. Di grup tersebut, Anda seperti masuk ke kawasan tanpa Tuhan. Bahkan dalam dialektika komentar-komentar yang ada, manusia sekelas Nabi dan Rosul pun ditelanjangi habis-habisan oleh orang-orang yang ada di grup tersebut.

Saya pernah beberapa kali menyampaikan pertanyaan pada mereka yang tidak yakin kalau Tuhan itu ada. Respons mereka terhadap pertanyaan yang saya ajukan, cukup baik. Hanya saja, beberapa dari komentar mereka ada yang terkesan mendiskreditkan konsepsi tentang Tuhan.

Tuhan dalam pikiran mereka, sama sekali tidak mendapat tempat. Itulah yang membuat perdebatan semakin seru.

Makin lama berdiskusi dengan para Ateis Indonesia ini, makin seru. Pendapat-pendapat yang mereka utarakan begitu logis, rasional dan ilmiah. Hanya saja, mereka anti-metafisika. Jadi ya, segala hal tentang Tuhan, akhirat, surga dan neraka tidak mungkin ada titik temu bila didiskusikan dengan mereka.

Metode berpikir mereka kebanyakan empirik-materialis, jadinya agama hanya seperti barang usang di mata mereka.

Di balik ketidakpercayaan mereka akan keberadaan Tuhan, saya mengapresiasi sikap fair mereka dalam menyikapi perbedaan. Sejauh yang saya tahu, mereka tidak pernah menggunakan kekerasan dan mengecap orang yang berseberangan pandangan sebagai sesat. Mereka sangat humanis dan amat membenci kesewenang-wenangan. Terlebih bila hal itu dilakukan atas nama agama.

Saya pernah bertanya begini: ‘’apakah para Ateis juga mengapresiasi isi dalam kitab suci, termasuk Alquran yang banyak diklaim ilmuan kompatibel dengan IPTEK?’’ Pertanyaanku tersebut ditanggapi bermacam-macam.

Di dalam grup tersebut, mayoritas pemakai akun Facebook-nya tidak menggunakan nama asli dan fotonya kebanyakan bukan foto dirinya sendiri. Tapi hal itu tidak mengurangi keseriusan mereka menjawab dengan argumentasi yang logis.

Saya agak kaget mengetahui cara berpikir mereka. Mengingat sepanjang hidup saya, saya selalu berteman, bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang beragama.

Beberapa dari mereka menjawab, kalau Kitab suci tidak lebih kitab dongeng yang isinya penuh dengan kontradiksi bila tidak dikatakan penipuan. Bahkan banyak pula dari mereka yang menuduh Nabi Muhammad tidak lebih seorang ahli pedang yang gemar berperang, hiperseks (istrinya 11) dan pedofil (karena menikahi Aisyah di umur 9 tahun).

Selama diskusi, saya mencoba untuk tidak emosi atau menggunakan akal sehat.

Menurut mereka, sumber konflik dan perang di dunia adalah agama itu sendiri. Tujuan agama yang katanya untuk mendamaikan, hanyalah sebuah kebohongan. Mungkin mereka terlalu terpengaruh fakta sejarah seperti Penyaliban Yesus, Perang Salib, Perang Arab-Israel, Pembantaian anggota PKI, konflik Ambon, Penyerangan Rohingnya hingga pengusiran jamaah Ahmadiyah. Bagi mereka, agama sama sekali tidak layak dijadikan panutan hidup.

Mereka berpendapat, Nabi dan Rosul hanyalah tokoh fiksi yang dibuat-buat untuk melanggengkan agama. Tokoh fiksi berguna untuk mendogma ajaran dan menarik minat orang dengan menggunakan kisah penuh keajaiban (mukjizat). Menurut mereka, orang beragama identik dengan kemunduran. Karena agama tidak memberi kesempatan pendayagunaan akal. Bahkan agama itu sendiri bagai belenggu yang memasung kreativitas manusia.

Kesan buruk agama di mata mereka, menjadi dasar alasan tidak meyakini keberadaan Tuhan. Meski beberapa masih percaya adanya Tuhan yang tak berwujud, tapi ragu bila agama sumber kebenaran. Mereka yang percaya Tuhan tapi menafikan agama (agnostik), meyakini; Tuhan tidak mungkin dapat tergambarkan oleh manusia yang relatif. Oleh karenanya, narasi tentang sifat dan eksistensi Tuhan pasti merupakan kebohongan dari para penuturnya.

Di balik pemikiran mereka yang kita anggap aneh dan bertentangan dengan pandangan umum, mereka sangat menjunjung tinggi penggunaan akal dalam kehidupan. Hadis Nabi berbunyi: ‘’Agama adalah akal, tiada agama tanpa akal’’ benar-benar dipraktikkan mereka. Mereka konsisten, bahwa apa yang tidak masuk akal, harus ditinggalkan. Karena akal mereka menolak agama, maka mereka tidak beragama sebagaimana bunyi akal mereka.

Mereka juga mengamalkan kata mutiara berbunyi: ‘’Lakukan sesuatu atas dasar tahu, bukan ikut-ikutan (taqlid).’’ Cerita Nabi Sulaiman yang berbicara dengan hewan, Nabi Musa yang membelah lautan dengan tongkat atau Nabi Muhammad yang naik ke langit mengendarai buraq, bagi mereka tidak masuk akal. Mereka ragu, karena cerita tersebut bertentangan dengan hukum alam yang pasti. Alam tidak mungkin menghianati hukum-hukumnya sendiri.

Karena mereka tidak tahu apakah kejadian-kejadian ajaib tersebut benar-benar terjadi atau tidak. Atau jangan-jangan hanya dongeng yang diberi makna, maka mereka menolak meyakini hal itu. Bagi mereka, bagaimana mungkin akal dapat meyakini Tuhan, bila Tuhan sendiri yang katanya menciptakan akal, dengan mudahnya menciderai kepastian hukum alam buatannya.

Kalaulah Nabi Muhammad benar-benar menembus langit dengan kecepatan super tinggi (super hyper sonic), harusnya teknologi jet sudah ditemukan abad XIV lalu. Kalau benar Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati, pastilah ilmu kedokteran tidak berguna dan rumah sakit tidak perlu ada. Narasi-narasi kejadian tersebut bagi mereka, tidak masuk akal dan bertentangan dengan ilmu fisika. Oleh karenanya pasti bohong dan tak layak dipercayai.

Dari dasar tersebut, mereka, para Ateis berpikir keras untuk mencari jawaban-jawaban tentang makna kehidupan. Termasuk terus memaksimalkan daya pikir akalnya. Bagi mereka, karena banyak sekali kekerasan dan perang yang diilhami oleh penganut agama, maka mereka (para Ateis) tidak boleh meniru kaum beragama. Mereka bisa berdebat sepanjang waktu, tapi tidak akan pernah menggunakan kekerasan atau main tangan bila argumentasinya terpojokkan.

Ketidakpercayaan mereka pada Tuhan, mungkin kita nilai negatif. Tapi di balik semua itu, mereka cukup islami dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Mereka tidak pernah diam manakala ada manusia yang ditindas dan dirampas hak-haknya. Entah di belahan bumi manapun, mereka selalu konsisten menyuarakan kebebasan berpikir dan penghormatan atas hak-hak asasi manusia tanpa dapat dikurangi sedikitpun.

Iya, mereka Ateis yang Islami. Dan juga, bila dipikir secara jernih, tidak penting juga mereka percaya Tuhan atau tidak. Tidak ada hubungannya juga dengan saya. Asalkan mereka tidak mengkampanyekan kekerasan dan merugikan kita, ya biarkan saja. Saya setuju sekali dengan perkataan Gus Dur, ‘’Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu’’.

Bila dihadapkan pada suatu pilihan, saya lebih memilih bersahabat dan bertetangga dengan Ateis yang baik dan peduli pada kesusahan orang lain, daripada hidup di lingkungan orang beragama yang mudah sekali mengamuk, hobi bentrok, melempari rumah orang lain dan gemar mempraktikkan kekerasan atas nama agama. Ateis (baik) islami, jauh lebih baik ketimbang agamis yang vandalis.