15226_17650.jpg
https://thoseconspiracyguys.com
Cerpen · 5 menit baca

Memangkas Waktu

Aracis Pintoi, lelaki berumur 60 tahun itu seorang time treveler. Pengelana waktu kupikir hanya sebuah cerita dibuku atau film. Eksperimen manusia modern, dengan mesin canggih untuk mengenang masa lalu.

Ketidakpercayaanku jelas. Aku lelaki rasional dan bukan golongan yang mempercayai fiksi. Ya, meskipun fiksi juga memiliki daya pikatnya. Tapi aku mengangguminya hanya sebatas pada karya sastra.

Aku berpikir bahwa itu hanya orang gila yang ingin mencari sensasi. Namun, setelah ia memberikan penjelasan tentang apa  yang akan terjadi dan itu semuanya benar, akhirnya aku percaya.

Awal kami bertemu di perpustakaan daerah. Waktu itu aku sedang mencari ide untuk novelku. Aracis melihat kepusinganku. Semacam kebingungan yang terbaca.

Ia lalu mencoba berbasa-basi. Hingga akhirnya kami memasuki  obrolan santai yang mengesankan. Diakhir pembicaraan, kami bersepakat bertemu lagi. Setiap satu minggu tuk merayakan kehidupan yang hitam putih.

Pada senin minggu berikutnya kami bertemu. Aracis terlihat kurang sehat. Dia tak banyak bicara. Kami duduk menikmati pemandangan kota Lubuklinggau di lantai atas perpus.

“Kenapa kau menulis novel” tanya Aracis seketika. Aku diam. Berpikir sejenak. Aku tak tahu alasanku menulis. Tak ada jawaban. Yang aku tahu, menulis membuatku gembira. Menulis menyediakan ruang untuk aku bercerita.

Ya, aku menyukai cerita. Kalau tidak membaca aku menonton film untuk sekedar mengetahui sebuah cerita. Cerita adalah kehidupan. Kita tidak lepas dari cerita. Kita memiliki ceritanya masing-masing. Termasuk aku dengan Aracis.

“Simple, aku menulis untuk kesenangan” itu jawaban terbaik yang aku balas untuk pertanyaan Aracis.      

“Good answer bro, lanjutkan” balas Aracis tersenyum.

Bersantai sambil memandang gagahnya Bukit Sulap. Dikejahuan Bukit Sulap seperti epidermis yang indah. Banyak hal yang kami bicarakan. Aku dengan masalah pekerjaan dan Aracis dengan masalah kehidupan yang tak diceritakannya.

Kami memiliki satu persamaan. Kebingungan akut tentang kehidupan. Keadilan di dunia dan hitam putihnya. Rasanya lucu. Kami seperti pecundang yang lari dari kenyataan, frustasi. Manusia yang butuh piknik.

“Seperti apa rasanya kembali kemasa lalu?” Kataku menanyakan motivasi Aracis. Kupikir manusia cenderung tidak ingin terlalu mengenang yang lalu. Tapi Aracis malah seperti menikmati petualangannya.

“Sangat senang. Seperti raja dunia. Kita mengetahui apa yang terjadi, menjadi tuhan  sementara” kata Aracis dengan tenangnya. Aku tersenyum.

Entah kenapa aku seperti bercermin bila melihat Aracis. Cara bicara, gestur tubuh, dan pola pikirnya mirip denganku. Penasaran itu menimbulkan sebuah tanya. Seperti cerita film. Seseorang dari masa depan yang bertemu dengan dirinya dimasa lalu. Ya! Jangan-jangan Aracis adalah aku dimasa depan.

₪₪₪₪

Senin itu Aracis tak datang. Senin minggu berikutnya juga. Entah ada apa dengan mesin waktunya, atau dia sendiri. Mungkin dia bosan mengintip masa lalu.

Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengannya, karena terakhir kali kami bertemu dia terlihat kurang sehat. Aracis hanya meninggalkan tanda, kertas bertulisan kalimat. Aku tak mengerti apa maksud aracis. Dia memainkan game yang membinggungkan.

Berhari-hari aku di perpustakaan menyelesaikan draf novelku. Sudah setahun membiarkannya mengendap dalam laptop usangku. Aku buntu ide.

Kebekuan itu terpecah sejak bertukar pikiran dengan Aracis. Ia adalah gudang inspirasiku. Aku merindukan lelaki berumur 60 tahun yang selalu memakai topi koboi itu. Ia selalu merasa lelaki muda meskipun usianya tua. Dia nampak nyentrik, padahal sebaliknya.  

Aku banyak memiliki waktu. Pengangguran membuatku bisa fokus menyelesaikan novel. Aku bosan menjadi budak pekerjaan, anak buah dari sebuah perusahaan. Sudah tiga draf bab novel kuselesaikan. Sungguh memprihatinkan.

Seingatku, aku menulisnya sejak 2014 dan sekarang 2018. Empat tahun sungguh waktu yang panjang. Aku memboroskan waktu. Membenamkan ide dan menghanyutkan semangat.

Ku akui mood selalu menjadi kendala. Sampai akhirnya pikiran dan tanganku engan bergerak untuk menyusun novelku. Empat tahun sudah kugantungkan mimpiku. Penulis, hanyalah imajinasi pikiranku saja.

Tepat sebulan Aracis tak kembali. Dia mungkin sudah menyelesaikan misi masa lalunya. Entah apa? Dia tak menceritakan tentang itu. Dia hanya menceritakan tentang pribadinya, pesonanya, dan hal yang telah ia capai. Seketika dia menjadi mentor kehidupanku, juga mentor menulis secara tidak langsung.

Aracis tahu banyak hal tentang menulis. Dia menceritakan bahwa ia seorang penulis. Sudah puluhan novel yang ia terbitkan. Aku banyak mengeluh padanya. Menceritakan kebuntuanku dalam menulis dan kendala-kendala yang aku hadapi dalam menyelesaikan novelku.

Aracis bilang, bahwa menulis adalah proses. Belajar tiada henti, dan kamu harus banyak membaca. Belakangan aku melakukan itu. Puasa menulis dan melahap banyak buku.

Pada minggu selanjutnya aku menemukan kepingan terakhir puzzle yang aracis tinggalkan, bersama topi koboinya. Bukan seperti yang aku pikirkan. Bahwa ia adalah diriku sendiri dimasa depan. Huruf-huruf itu aku susun berdasarkan waktunya.

Hasilnya menjadi kalimat “Perayaan dari masa depan”. Aku tak mengerti pesan Aracis. Maksud yang ia tunjukan padaku. Perayaan semacam apa? Dan orang-orang masa depan mengembirakan apa? Entahlah?

₪₪₪₪

Perpus daerah salah satu tempat ternyaman untuk menyelesaikan draf novelku. Pemandangan kota dan Bukit Sulap yang indah membuat ide terus berdatangan. Aracis seperti pematik korek api. Dia menyihir mindsetku menjadi kekuatan yang luarbiasa.

Sekarang dengan melihat apapun aku bisa menulis. Semua yang aku pikirkan bisa aku tulis. Tak seburuk sebelumnya. Membaca menjadi rutinitasku sekarang, kewajiban, dan itu menjaga otakku untuk selalu waras. Ya. Setidaknya pikiranku jadi tidak beku. 

Hari itu ditempat biasa kami duduk. Aku menemukan pesan Aracis. Sebuah surat dan buku yang berjudul memangkas waktu. Aku menjadi semakin binggung dengan pesan Aracis.

Suratnya hanya berisi “Jika kau mau, kau bisa. Jika kau nyakin, kau mampu. Jika kau bermimpi, maka bermimpilah yang indah”

Hadiah dari seorang sahabat dimasa depan. Aku langsung membuka buku tersebut. Membaca dan melihatnya. Sampai pada cerita dihalaman empat puluh delapan.

Aku terkejut membaca biodata penulis cerita pada halaman itu. Itu aku, Agus. Ada apa sebenarnya ini?? Aku masih tidak menyangka. Ini seperti kisah difilm. Ya, seperti kisah difilm.

Satu bulan itu menjadi waktu yang aneh. Hal-hal yang fiksi dan mengejutkan terjadi. Terkadang aku sempat berpikir, apakah hidup memang seperti itu. Ia membiarkan manusia frustasi dan berikutnya memberi kejutan-kejutan.

Pada akhirnya rahasia akan terbuka.  Kita tak akan tahu kemana arah kehidupan memutar. tidak tahu akan bagaimana kita nantinya. Satu-satunya hal rasional untuk bisa selalu menikmati hidup tanpa terbeban masa depan adalah menjalani hari ini dengan penuh kegembiraan. Aku sekarang sadar. Bersyukur atas apa yang ada dalam diriku saat ini.

Aku membaca buku yang aracis berikan. Sambil menertawakan diri sendiri dan waktu. Salah satu cerita dalam buku itu aku yang menulisnya dan rasanya aneh, sungguh. ketika hal yang belum terjadi, tapi kita sudah mengetahuinya lewat hal yang tak rasional, ini semacam paradoks konyol.

Dan semua seperti terpangkas. Ruang waktu dilewati dengan mudahnya. Satu hal yang masih membuatku binggung. Kenapa diriku dimasa depan menganti nama menjadi aracis pintoi. Aku belum sempat menanyakannya, dan kurasa hal itu biarlah menjadi misteri.

Malam mulai meninggi. Bintang-bintang bertebaran menghias angkasa. Detik ini saat aku mulai menulis cerita untuk sebuah kegembiraan dan menginggat hal yang lucu, ditemani secangkir kopi dan pisang goreng, serta lagu Mika-Happy Ending.

Aku menyelesaikan cerita ini dengan happy ending pula. Sebuah perayaan dari masa depan atas diriku sendiri, Aracis Pintoi, dan nama itu belum terpecahkan. Good night. (Tanjung Aur, 12 Februari 2018)