Para kaum konservatif dan fundamentalis ini kok hobi banget ya dikit-dikit ngecap sesat, liberal, sekuler. Bahkan sampai komunis pun dibawa-bawa jika berseberangan dengan mereka. Sebenarnya ngerti nggak sih apa itu liberal dan apa itu sekuler?

Contoh saja kemarin banyak yang protes atas terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Mendikbud. Selain mempertanyakan kompetensinya, ada juga nih kekhawatiran akan terciptanya pendidikan liberal dan sekuler.

Hal sama juga dialami Mahfud MD yang mempersilakan perkantoran bangun tempat ibadah selain masjid. Eh, statement beliau malah banyak mendapatkan respons negatif dari warganet. 

Maksud beliau adalah bernostalgia karena pada tahun 80-an, tidak ada masjid dan kegiatan keagamaan di kantor pemerintah karena dianggap tidak sejalan dengan kehidupan modern dan ia pun sangat senang bisa melakukan salat berjemaah di kantornya. Karena itu, beliau juga mempersilakan kantor-kantor lain membangun tempat ibadah selain masjid, seperti gereja maupun pura.

Respons netizen konservatif yang terbiasa hanya membaca judul ini bermacam-macam, mulai dari sesat, syiah, kafir, liberal . Padahal maksud beliau mau memupuk toleransi kok malah dituduh liberal. 

Para fundamentalis selalu menganggap bahwa liberal dan sekuler berarti anti-agama dan kebarat-baratan. Padahal bukan itu pengertiannya. Secara singkat, liberal berfokus pada penghargaan atas kebebasan dan hak individu.

Sekuler sendiri adalah suatu sistem politik yang menegaskan bahwa sistem kenegaraan harus dipisahkan dengan agama. Jadi negara sekuler mengesampingkan aspek agama dalam penerapan ketatanegaraannya, seperti pembuatan undang-undang, penegakan hukum, pelaksanaan kebijakan pemerintah, dan lain-lain,  yang harus netral dan tidak didasarkan pada ajaran agama mana pun.

Hal yang harus digarisbawahi adalah “dipisahkan” bukan “dihilangkan”. Jadi paham ya bedanya? Jadi negara sekuler bukan anti-agama.

Pada praktiknya, negara sekuler menegaskan bahwa agama itu adalah urusan dan hak masing-masing individu. Setiap orang boleh-boleh saja memeluk agama dan beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Hanya saja, agama tidak boleh menjadi bahan pertimbangan untuk bikin undang-undang negara, proses pengadilan pokoknya semua praktik ketatanegaraan.

Kembali lagi saya ingin membahas Nadiem karena tagar #NadiemMundurAja sempat menjadi trending topic. Alasan pertama karena Nadiem bukan dari kalangan akademisi yang memiliki gelar Profesor dan bukan pula dari Muhammadiyah.

Okelah jika banyak yang protes karena bukan dari kalangan akademisi mungkin masih bisa dipahami. Perlu diingat bahwa sebelumnya posisi Kemendikbud selalu diisi oleh seorang akademisi, namun lihat saja kualitas pendidikan kita masih Low Order Thinking Skill sehingga dari kalangan menengah ke atas memilih menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional atau ke luar negeri.

Lalu jika bukan dari Muhammadiyah, kenapa harus diprotes? Apakah ini soal jatah politik? Sudahlah saatnya kita semua bergandengan tangan berpikir maju dan siap akan perubahan. Sains dan teknologi kita masih tertinggal jauh dan korupsi masih merajalela.

Saya termasuk salah satu orang yang optimis jika Nadiem ditempatkan di Kemendikbud. Saya tidak sabar melihat terobosan beliau untuk Pendidikan seperti pada waktu melakukan terobosan untuk transportasi. Saya harap beliau juga mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk pendidikan.

Apa yang beliau lakukan di Gojek membuktikan bahwa beliau berhasil melakukan inovasi teknologi yang dampaknya sudah dirasakan oleh kita semua. Kita jadi mendapatkan kemudahan jika ingin memesan ojek, taksi, sampai makanan. Terobosannya juga justru malah menciptakan lapangan pekerjaan. Malah pelaku UKM dan usaha online pun terbantu karena terobosan beliau.

Beliau juga baru dilantik pada tanggal 23 Oktober kemarin, kenapa gak kita kasih kesempatan terlebih dahulu dan liat hasil kerja beliau?

Saya tertarik dengan rencana kerja beliau dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas dan bisa sesuai dengan kebutuhan industri mendatang. Beliau juga mengatakan sudah tahu masa depan akan seperti apa. Dan sebagai orang yang bergelut di bisnis teknologi, memang sudah biasa melakukan riset akan kebutuhan konsumen mendatang. 

Saya sebagai ibu yang memiliki anak usia sekolah tentu sangat senang sekali jika beliau memiliki visi seperti itu. Ini artinya beliau akan fokus mencetak SDM yang nantinya akan membawa perubahan dan berpikir strategis. Bukan hanya yang bersifat clerical dan melakukan pekerjaan rutin yang nantinya akan digantikan oleh robot.

Bukannya disambut dengan baik karena demi kemajuan negara, eh netizen konservatif ini malah ramai-ramai menuduh pendidikan liberal, sekuler, anti-islam karena dianggap kebarat-baratan.

Bukannya malah bagus kalau liberal? Karena berdasarkan pengertian liberal yang sudah saya paparkan di atas, merupakan unsur terpenting dalam mewujudkan masyarakat yang ideal. Dengan adanya kebebasan tersebut, dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi pada negara tersebut sehingga dapat memajukan berbagai sektor dari suatu negara.

Lalu kalau mau menuduh sekuler kok rasanya kurang pas ya jika dilihat dari pengertian yang telah saya paparkan di atas! Karena negara Indonesia sendiri belum menerapkan prinsip negara sekuler tetapi masih ambigu. Jika sistem ketatanegaraan kita saja belum menerapkan prinsip negara sekuler, apalagi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, ya jelas tidak bisa dong!

Lantas memang kenapa kalau kebarat-baratan? Bukankah bagus jika mencontoh negara maju sehingga bisa membangun peradaban yang lebih baik? Apakah lantas kita akan meninggalkan nilai-nilai agama? Tentu saja tidak. Contoh saja Turki misalnya yang berhasil menjadi negara maju dan mayoritas beragama Islam.

Mengapa mereka ini anti sekali terhadap pendidikan yang berbasis High Order Thinking Skill seperti pada kurikulum Cambridge atau IB? Karena kalau begini terus, Indonesia hanya bisa menjadi konsumen saja. Katanya mau menjadi bangsa yang berdikari, tidak mau jadi antek asing, dan tidak mau dipandang rendah oleh negara lain?

Pendidikan merupakan elemen terpenting dan bersentuhan langsung dengan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Sehingga inovasi sangat diperlukan di bidang ini. Sangat disayangkan sekali bagi mereka yang menentang perubahan ini.

Saatnya kita bergandengan tangan dan fokus menuju Indonesia maju. Berhentilah memberi label liberal atau sekuler!