Cut Ajah kelihatan murung. Sudah beberapa hari ini ia tak doyan makan. Beberapa kali handphone-nya berdering tak diangkatnya. Ia uring-uringan, seperti suntuk gak karuan. Air matanya berlahan jatuh sore itu. Mengalir bak air Krueng Daroy yang dahulunya menjadi jalur transportasi kapal-kapal mancanegara ke Banda Aceh.

Smartphone buatan Tiongkok milik Icut kembali berdering. Kali ini ia menjawabnya. "Kalau memang gak bisa kasih kebahagiaan, kita sudahi saja," ucap Icut sambil mengusap air matanya. Ia pun langsung mematikan handphone-nya sambil ngomel-ngomel.

Beberapa saat kemudian tampak seorang pemuda gagah mendatangi rumah Icut. Rupanya si pemuda itu yang tadi menelepon Icut. Dengan wajah memelas dan air mata berlinang, pemuda itu meminta maaf. Ia merasa bersalah dan berjanji akan membahagiakan Icut.

Janji itu bukan hanya diikrarkan kepada Cut seorang, tetapi di depan kedua orang tuanya. Cut kegirangan. Ia benar-benar senang mendengar janji pujaan hatinya itu. Pemuda itu lebih bahagia lagi. Sebabnya begitu banyak pemuda yang ingin meraih hati Cut Ajah, namun akhirnya ia berhasil meraih gadis tercantik di negeri itu.

Singkat cerita, pemuda itu akhirnya melamar Icut dan mereka pun menikah. Pernikahan itu disambut dengan pesta meriah. Penduduk kampung ikut larut dalam kebahagiaan mereka. Meski banyak pemuda patah hati karena pernikahan itu, namun pesta berjalan lancar.

Mulailah Icut mengarungi bahtera rumah tangga bersama suaminya. Karena suaminya belum memiliki kerja tetap, Cut bertekad membantu suaminya sekuat tenaga. Harta warisan yang dimilikinya dijual guna membantu usaha suaminya.

Suaminya mulai membuka usaha. Sayangnya, setelah usaha itu mulai berhasil, suaminya sering mabuk-mabukan. Perhatian terhadapnya juga mulai berkurang. Tak tahu apakah suaminya selingkuh atau tidak, yang pasti mulai ingkar janji. 

Bahkan beberapa kali suaminya meminta tambahan modal. Sebagai istri yang taat suami, Cut tetap membantu suaminya. Namun hari itu Cut tak tahan lagi dengan kelakuan suaminya. Ia meminta cerai. Mendengar permintaan itu, suaminya malah marah-marah. 

Perlakuan kasar diterima Cut. Bukan hanya KDRT, harta warisan orang tuanya satu per satu terpaksa dijual. Itulah ilustrasi hubungan Jakarta dan Aceh atau lebih tepatnya Indonesia dan Aceh. Konflik panjang yang pernah terjadi meski sekarang sudah damai.

Soekarno datang dengan wajah memelas berlinang air mata ibarat pemuda di atas. Aceh setuju bergabung dengan Indonesia dan membantu modal ekonomi agar Indonesia menjadi negara berdaulat.

Sayangnya, Aceh malah mendapatkan sebaliknya. Bukan bahagia didapat, melainkan peluru tajam yang menghabisi anak-anak dan perempuan Aceh. Hingga kini, kasus-kasus kekerasan atas nama sila ketiga persatuan Indonesia tidak berujung pada keadilan.

Kemanusiaan yang adil dan beradab tidak pernah terwujud. Kalaulah kasus-kasus tersebut memang tidak ingin diselesaikan, setidaknya biarlah Aceh berpisah. Biarlah Aceh menjadi negeri sendiri sebagaimana pembukaan UUD 45. 

Jelas di situ ditegaskan bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Dan Aceh yang terdiri dari beragam suku merupakan sebuah bangsa yang halal menentukan masa depannya. Apalagi Indonesia tidak benar-benar serius menjadikan Aceh sebagai bagian dari Indonesia.

Bukan hanya menantang semangat Pancasila, bahkan dalam kapitalisme, kebebasan sebuah bangsa dan individu merupakan hak dasar yang harus terpenuhi. Tanpa elemen dasar itu, keadilan tidak terwujud (Jason Brennan, Libertarianism; What's Everyone Needs To Know). 

Konflik Jakarta-Aceh merupakan konflik tidak terpenuhinya keadilan. Sebagai daerah modal, harusnya Aceh mendapatkan lebih dibandingkan Jakarta maupun Jawa. Populasinya yang kecil dengan sumber daya alam melimpah harusnya Aceh bukan seperti sekarang.

Jangankan bicara kemajuan, rumah tidak layak huni masih banyak. Akses pendidikan tidak memenuhi unsur keadilan. Bahkan provinsi termiskin di Sumatra sehingga wajar muncul suara kebebasan.

Meski kesejahteraan dan kemakmuran apabila Aceh merdeka masih sebuah fiksi, akan tetapi hal itu hak yang harusnya direstui. Sebuah negara harus dibangun dengan voluntaristik bukan paksaan. Sebagaimana bergabungnya Aceh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sayangnya Indonesia tidak mampu memenuhi janjinya. Padahal rakyat Aceh dengan sukarela bergabung dan ikut membantu Indonesia di masa lalu. Kemunculan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bukanlah tanpa sebab. 

Kini, setelah perdamaian terjadi, watak pemerintah pusat tak kunjung berubah. Janji-janji tinggallah janji. Bahkan urusan bendera yang sepele tak kunjung jelas. Entah apa yang menghambat sehingga simbol begitu ditakuti pusat.

Ketika Mualem menyuarakan referendum, pusat bereaksi dengan negatif. Malah mengancam dengan pasal-pasal karet. Ini arogansi yang bisa menenggelamkan Indonesia dan menyuramkan masa depan.

Harusnya pemerintah pusat berkaca, apakah sudah memenuhi hak-hak sipil rakyat Aceh? Apakah kontribusi Aceh sudah diikuti dengan pemenuhan hak-hak ekonomi rakyat Aceh? Jika belum, mengapa harus menghalangi keinginan referendum? 

Bagi saya, referendum memberi gambaran kerelaan rakyat Aceh berIndonesia. Kalaupun rakyat Aceh ingin merdeka, memangnya kenapa?