Belakangan, saya sering kali dituduh komunis, sekaligus liberalis, sekaligus lagi ateis juga agnostik. Stereotip itu dengan mudahnya ditempelkan di jidat saya hanya karena tulisan-tulisan saya yang konon menurut mereka terlampau menuhankan “Akal”. Sialnya, sejak dari pengertian saja, pemahaman mereka soal komunis, liberalis, ateis maupun agnostik sudah main asal.

Asal komunis, asal liberalis, asal ateis, asal agnostik pokoknya sama dalam satu definisi: “Anti Tuhan”.

Walaupun gagasan PKI menurut saya sudah kedaluwarsa, kebanyakan orang memang masih sangat “alergi” dengan kata "komunis" apalagi "PKI". Mereka menganggap bahwa segala hal yang berbau PKI harus dimusnahkan, disingkirkan, dan “haram” hukumnya menginjakkan kakinya kembali di tanah Indonesia.  

Nggak tanggung-tanggung, buku-buku berbau komunis, seperti karya Karl Marx, Aidit, Lenin hingga karya Romo Magnis gak ketiggalan jadi korban “pemberangusan” ide-ide berbau kiri oleh mereka-mereka ini. Mereka siapa? Kalau bukan aparat berbaju loreng-loreng, ya pasti polisi “moral” berjubah putih yang suka jualan ayat.

Isu kebangkitan PKI sebenarnya bukan isu bar. Setiap tahun, kalau tidak di bulan Mei (hari lahir PKI) pasti di bulan September (Peristiwa G30S), isu ini jadi isu rutinan yang tidak ada habisnya jadi percakapan publik. Sampai-sampai terkadang saya bosan dengan narasi-narasi mereka yang itu-itu saja, monoton, argumentasinya yang dangkal, dan narasi yang masih saja berbau kebencian dan miskin kreativitas.

Setiap tahun narasi mereka tak ubahnya bak “template” yang hanya tinggal mengubah hari, tanggal, dan tahunnya saja. Sudah begitu, mereka merasa jemawa dengan mengucap kalimat tayyibah: “AllahuAkbar!!” sambil membakar bendera PKI.

Setiap isu kebangkitan PKI muncul di ranah publik, yang bawa isu ini biasanya tidak jauh dari dua oknum yang saya sebutkan di muka: baju loreng dan polisi moral berjubah putih. Kadang kala di situ saya merasa sedih, ini sebenarnya yang bawa isu PKI ini mereka, yang bakar bendera PKI juga mereka. Secara tidak sadar sebenarnya mereka ini sudah lebih PKI dari yang PKI bukan, ya?

Lha wong yang PKI saja enak-enakan rebahan di rumah sembari mengulang lembar-lembar Das Kapital & Manifesto Komunis Karl Marx, sementara di luar sana para polisi moral itu sibuk mengibarkan bendera mereka. Yo kan diguyu sama para anak turunan PKI~

Lagian, serius nanya, memang kenapa sih jika PKI bangkit?

Bukankah jika PKI bangkit, kultur politik kita akan lebih menarik, ya? Saya membayangkan perdebatan sengit orang-orang kiri itu menghiasi perbincangan politik kita yang belakangan sudah miskin gagasan. Bukankah akan sangat menarik jika elite politik kita dihiasi orang-orang kiri semacam Tan Malaka, Bung Hatta, hingga Bung Karno?

Alangkah indahnya melihat Kembali perdebatan sengit antara kelompok nasionalis-sekuler, kiri, hingga islam seperti di sidang BPUPKI kala itu, sudah barang tentu diskusinya akan jauh lebih “berisi” daripada hanya sekadar tebak nama-nama ikan, atau sekadar adu gimmick.

Jujur saja, negeri kita sedang rindu orang-orang kiri. Negeri ini rindu dipimpin oleh orang-orang yang kaya gagasan seperti tokoh-tokoh PKI. Percakapan politik negeri ini sudah terlalu lama diisi oleh perdebatan kusir, narasi kebencian, jualan ayat, hingga politik identitas. Sudah saatnya PKI bangkit meramaikan kembali kultur politik yang dibangun dengan pertengkaran-pertengkaran argumentasi.

Sejujurnya negeri ini sedang lelah dengan perdebatan-perdebatan gagasan atas nama agama, politik identitas, hingga tradisi “main lapor” perdebatan publik kita tak ubahnya bak permainan “mencari delik”.

Di tengah-tengah kegelisahan soal bangkitnya PKI, saya jadi teringat salah satu celoteh Gus Dur: “PKI aja kok ditakuti”. Sekelas Gus Dur saja bisa ngomong sereceh itu. Lha ngapain sih orang-orang yang konon “paling beriman” ini sebegitu takutnya sama PKI?

Sudahlah, saya juga orang beragama yang taat, kok. Namun saya juga penikmat gagasan-gagasan kiri. Toh saya baca buku-buku komunis juga, saya tidak lantas meninggalkan salat saya apalagi saya auto jadi kafir. Justru dengan membaca buku-buku kiri makin memperkokoh keyakinan saya akan kebenaran agama saya, (dalam hal ini islam).

Jadi, daripada kita sibuk merawat kebencian kepada PKI, apalagi gagasan komunismenya, cobalah luangkan sejenak waktumu untuk mendedah ajaran Karl Marx. Bukankah dengan begitu, jika klaimmu benar soal komunisme yang anti tuhan, apabila ada argumentasinya yang memang kropos bisa engkau kritik rame-rame? Setidaknya kegiatan-kegiatan “bakar-bakaran” bendera PKI yang kalian lakukan punya pijakan argumentasi yang kuat.

Tentunya, tidak cuma modal ayat, dan main “asal”,  ingat tuhan ciptakan otakmu agar engkau gunakan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Akhirnya, selamat hari lahir, PKI (walaupun agak telat). Negeri ini sudah rindu kebangkitanmu.