Sejak negara kita mengumumkan pandemi Covid-19 di awal tahun ini, banyak tatanan kehidupan yang berubah. Dari lebih sering memperhatikan kebersihan diri, seperti lebih rajin mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, memakai masker, dan lain-lain, sampai mengikuti anjuran pemerintah, seperti tetap berada di rumah, social distancing, physical distancing, work from home (WFH), dan lain sebagainya.

Kondisi itu membuat kita lebih banyak punya waktu luang. Ada yang bersyukur atas kondisi ini, tapi ada juga yang tidak menikmatinya.

Bagi kalangan pekerja, yang melakukan WFH, lebih banyak yang mensyukuri keadaan ini, karena mereka bisa memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga dan pendapatan tetap ada. Sedangkan kalangan yang mengandalkan pendapatan harian atau event-event seperti ojol dan pekerja seni mungkin sangat tidak nyaman, karena berpengaruh terhadap pendapatan yang mereka terima.

Apa pun pekerjaan kita, yang pasti kita memiliki waktu lebih banyak dari yang biasanya di masa pandemi ini. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan waktu yang berlimpah.

Sebaiknya jangan biarkan waktu berlalu begitu saja. Kita bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan hal-hal positif dan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari waktu yang berlimpah tersebut. Banyak kelas-kelas daring dibuka kalau kita mau mencermatinya, karena informasinya berseliweran di media-media sosial. Dari yang berbayar sampai yang gratisan pun ada di sana.

Ada seorang sahabat, sebut saja namanya Khoirul Anam. Beliau adalah seorang penulis, editor, dosen, dan juga pemerhati alis tingkat nasional; kebetulan juga tetangga di perumahan tempat tinggal saya. Sempat suatu ketika unggahannya di Facebook (FB) lewat di dinding FB saya. Isinya adalah pemberitahuan bahwa dia membuka kelas daring pelajaran Bahasa Indonesia dengan tema “Mari Hentikan Pelanggaran ‘DI’ di Masa Pandemi ini”.

Awalnya saya ragu untuk mengikuti kelasnya karena saya memang bukan penulis dan tidak pernah menulis, serta tidak tertarik menjadi penulis. Intinya, saya punya banyak alasan untuk tidak mengikuti kelas yang diadakan oleh pemerhati alis tingkat nasional ini. Tapi dengan berbekal rasa "tidak enak" karena dia adalah tetangga yang kadang-kadang mengundang saya untuk “ngopi” bareng, maka dengan berat hati akhirnya saya mengikuti juga kelas pertamanya pada akhir April 2020.

Kelas yang dilaksanakan dua kali seminggu ini ternyata cukup menarik bagi banyak pesertanya, termasuk saya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat tulisan setelah beberapa kali mengikuti kelas tersebut. Penulis buku "Pendidikan Inkuiri" yang bukunya sering dikutip dan dijadikan landasan skripsi banyak mahasiswa ini memang membawakan kelas menulisnya dengan menarik dan tidak membosankan, karena sering kali diselingi dengan guyonan khas orang Jawa Timur.

Setelah beberapa kali pertemuan, sang editor ini mengatakan kepada seluruh peserta agar mencoba menulis dan dimasukkan tulisan tersebut ke WAG "Jihad Tata Bahasa"—WAG yang khusus dibuat bagi peserta kelas daringnya—agar bisa dikoreksi bersama-sama peserta yang lainnya. Demikian dia menyemangati saya dan peserta lainnya agar mau menulis.

Tulisan pertama saya bertemakan pegadaian, tema yang memang saya kuasai dan menjadi kegiatan saya sehari-hari sejak 10 tahun terakhir ini. Tidak mudah saya membuat tulisan pertama saya tersebut, karena memang saya tidak biasa menulis.

Berulang kali saya mengganti diksi-diksi yang saya rasa kurang pas, memperhatikan tanda-tanda bacanya, sampai akhirnya selesai juga tulisan saya tersebut. Dengan ragu-ragu, akhirnya saya mengirimkan juga tulisan tersebut ke WAG.

Setelah diedit oleh Mas Anam, demikian kami memanggil pengajar kelas daring kami itu, saya mencoba memberanikan diri untuk mengirimkan tulisan tersebut ke salah satu media online atas arahan Mas Anam, yang juga merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup bergengsi di Jakarta. Ternyata tulisan saya dimuat di media tersebut.

Senang rasanya tulisan saya yang baru belajar menulis ini ternyata bisa diterima dan dipublikasikan. Dan sejak itu saya mulai rajin menulis, baik tema tentang pegadaian maupun tema-tema lain yang terlintas di pikiran saya. Tulisan ke-2 selesai, lanjut lagi dengan tulisan ke-3 dan seterusnya.

Dengan bimbingan dan arahan dari pemerhati alis tingkat nasional ini, banyak sudah tulisan saya yang dimuat di media-media online, seperti Qureta, Mading.id, SAA IAIN Kediri, dan lain-lain. Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih atas bimbingannya di bidang tulis-menulis ini.

Saya melihat banyak sekali kawan-kawan di kelas daring tersebut melakukan hal sama, yaitu mulai menulis dan mengirimkannya ke media-media online, seperti, sebut saja Mas Yudhi Widdyantoro, seorang praktisi yoga yang beberapa kali saya baca tulisannya mengenai kegiatan yoganya. Banyak informasi baru yang saya dapatkan mengenai olahraga yoga darinya.

Ada juga Mbak Emmy Kuswandari, seorang PR andal dari sebuah perusahaan raksasa di tanah air di kelas daring tersebut. Kalau yang ini memang bacground-nya adalah seorang jurnalis kawakan yang tulisannya sudah banyak malang melintang di dunia media.

Selain berisi orang-orang yang ingin belajar atau sekadar memperdalam ilmunya, kelas daring tersebut juga berisi pemilik maupun admin dari portal-portal berita ataupun portal-portal menulis, seperti misalnya Mas Maufur dari SAA IAIN Kediri dan Mas Idris dari Mading.Id. Mereka dengan senang hati menampung tulisan-tulisan kami jika sesuai dengan tema yang diusung oleh portal yang digawanginya.

Intinya, saya mendapatkan teman-teman baru dan kebisaan baru dari memanfaatkan waktu luang yang tercipta akibat pandemi Covid-19 ini. Mudah-mudahan kita semua bisa mendapatkan sesuatu yang positif dari melimpahnya waktu saat ini.