Dalam pagi begitu hening pada tepian rawa pening, plung... Ku lempar kail berumpan cacing. Cukuplah sebentar berharap ikan menyambar. Di pangkal pagi ikan-ikan mulai lapar. Tersangkut runcing pancing menggelepar

Mereka yang aku kira ikan jinak, nila tambun berlenggok lambat seturut riak. Nyatanya telah kenal baik getar lapar pancangnya. Mujair kisut nan selalu lapar dan tiada banyak kehendak, sudah hafal benar kilau nafsu kailnya

sekali berarti, seekor gerundang bahkan enggan untuk mati, hanya gemerisik ilalang di tepi batang air itu yang mengingatkanku pada dendang pelerai nasib, yang tak tertanggungkan lagi oleh badan

Ikan jinak airnya jernih, ikan liar airnya beriak. untung tak pernah bisa diraih, malang tak pernah mampu ditolak. ku tak butuh asin dari garam, sebab nasib akan selalu diukur oleh luas lautan

Aku tak butuh asam dari perasan limau pucuk gunung. bukankah takdir sudah ditakar pun ditinjau. Beri aku sari empedu tanah, Ibu, beri aku pati pasak bumi. Biar yang buruk menguap bersama sendawa. Yang baik bakal mendarah-daging dalam nyawa

Di Sebuah Teluk

Di tepian teluk, sudah terjangkar tubuh di pelabuhannya 
Pada kapal-kapal yang masuk di tambat sehari-hari 
Anak camar bertebar atas arus melancar 
Dan perbukitan dandan perlente pina-pina berduri 

Di sebuah teluk menutup siang musim semi panjang 
Pada langitnya keruh asap, bayang bangunan dan baja 
Di perut kota bangkitlah malam sambil melenggang 
Dan dermaganya hening lelap, berlelehan keristal kaca 

Selamat jalan, malam-malam putih berhujan kapas 
Lewati perairan alim dengan pipinya dingin 
Masih ada yang berlinangan di sela gugusan karang 
Mengenang musim mengandung belati dalam angin 
Jabatlah teluk kami, persinggahan di tahun datang.
 
Ingatan Mengenai Laut

di geladak sudah tercium kata-kata
anyir seperti bangkai, di antara bayang-bayang
kausebut hidup adalah perjudian dan entah siapa
entah di mana seseorang mengangguk
untuk yang tak terbaca

kau mengarungi lautan, dengan riang
menjemput yang akan datang. Kaukutuk masa silam
sambil merapikan rambut dan kenangan
kapal melaju, sunyi merambat jauh
ke palung-palung dalam batinmu

di dasar laut takdir bisa saja semacam gurita
ke mana kau berlayar, ia akan mengantar
setia bersama waktu yang tak letih berkibar
di angkasa burung-burung terbakar
dibidik terik dan gerimis. Di lengkung langit
cakrawala menuju waktu, mengepungmu
sampi pada berakhirnya senja, hingga luka tiada lagi mengalir

Namun apakah artinya senja? Tak lain adalah waktu
berkesiur di tengah bakau dan buih ombak
hingga memutih sayapnya, hingga mengeras dagunya
menantimu ketika telah lenyap segala kata

dan aku -- tahukah kamu? -- akulah gurita itu
senja dan waktu yang kausebut sebagai kepulangan


Samudera Lepas

Siapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.

Tidak. Di pagi hari kau temukan bahwa engkau Disini. Segar bugar. Kita punya tangan dari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadi pemenang. Dan engkau berjalan ke sana.

Menerjang ombak yang memukul dadamu.Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut. Sang kerdil yang berdiri di atas buih itu adalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu. Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kita yang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:

Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.Sebentar kemudian, sebuah debur gelombang yang jauh menghiburmu.saksikanlahTidak ada batasnya bukan?

Gerutu 

Serupa ini awak kini, pirang ditindih kering, dengan selimut keras bak cangkang.

semenjak biji disebar luas pada ladang. lalu ditinggalkan. Aku kenang masa-masa teramat tentram. di sekitar segunduk teman. Mengapakah awak yang terpilah. Bakal mengulang kelahiran

Andaikata becus, awak memilih lunak dan larut dalam lambung ternak. Atau tersaji dalam perjamuan malam. ketimbang memandang mata yang berbinar. membayang dalam ladang dedaun balik berkibar. Walakin tiada kuasa awak atas nasib sendiri. Kudu serupa ini

ku menyaksi lincir sunyi menyuruk dari sudut kabut. Menjadi selimut binar nan sebentar. hanya sebatas pagi sebelum tinggi matahari.

menjelma bakal-batang mengeras sebagai tunas yang cemas. Serupaini awak ini hari. pirang serta terpanggang. bukan oleh panas dari arang. para bakul yang menunggu orang begadang. melainkan oleh siang

dan riang tembang penagih hutang. bertebaran sepanjang jalan menuju pemukiman.