Dalam beberapa bulan belakangan, Indonesia terus dilanda bencana alam yang serius dan memakan begitu banyak korban nyawa serta harta benda. Di Lombok misalnya, pada Agustus lalu, Kemensos mencatat korban meninggal sebanyak 563 jiwa (Tempo, 2018). Sementara kerugian materi akibat rusaknya infrastruktur publik menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), diprediksi mencapai Rp 8,8 triliun (Kompas, 2018)

Belum tuntas penyelesaian bencana di Lombok, pada akhir bulan September, kita dikejutkan dengan bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, yang menurut data sementara, dilaporkan bahwa korban meninggal yang berhasil dievakuasi sebanyak 925 jiwa dan korban yang hilang sebanyak 99 jiwa (Kompas, 2018). Sementara kerugian material ditafsir hingga 10 triliun (Rmol, 2018)

Negara risiko bencana

Dua kasus bencana beruntun di atas menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara paling berisiko untuk mengalami bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami (Sattler ,Mora Claramita dan Muskavage, 2016; Djalante, 2018). Hal ini dikarenakan Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik dan terletak di titik penggabungan empat lempeng tektonik dunia, pergeresan masing-masing lempeng akan menghasilkan tumbukan penyebab bencana seperti gempa misalnya (Siagian et al., 2014)

Kondisi akibat bencana yang serius dan kemungkinan untuk terus mengalami bencana karena letak geografis seharusnya telah mendorong kita untuk lebih bersiap dalam menghindari bencana dan juga proses penanganan pasca bencana.

Kondisi pasca bencana

Salah satu faktor pasca bencana yang harus menjadi perhatian adalah dampak psikologis para korban bencana. Beberapa studi yang mengkaji fungsi psikologis setelah paparan bencana di Indonesia umumnya menyimpulkan bahwa banyak korban pasca bencana mengalami gejala stres pasca trauma yang dikaitkan dengan kehilangan, depresi, dan kekhawatiran akan terjadinya bencana berulang di masa depan (Musa et al., 2014; Juth et al., 2015; Pratiwi, Hamid, dan Fadhillah, 2018)

Keadaan psikologi paling penting yang perlu diatasi dari para korban bencana adalah Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), yaitu gangguan psikologi pada beberapa orang yang mengalami peristiwa yang mengejutkan, menakutkan, atau berbahaya (Wolf et al., 2018)

Gangguan ini, menurut The National Institute of Mental Health America (2018), dapat berlangsung berbulan-bulan setelah bencana dan cenderung menjadi kronis bila tidak dirawat dengan baik. Selain korban langsung sebuah bencana, PTSD juga dapat dialami oleh para kerabat lain dari korban yang menyaksikan situasi yang dialami korban (Suntise House, 2018).

Kondisi lain yang mesti diperhatikan adalah penderita PTSD cenderung ada dalam prevelensi yang besar karena sifatnya tidak menyerang individu dengan kondisi tertentu, tetapi bisa mengenai siapa saja tanpa dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin (National Center for PTSD, 2018)

Sementara itu, masalah jangka panjang yang dapat berkembang, atau memburuk, karena gangguan PTSD adalah kerusakan signifikan dalam kehidupan penderitanya karena depresi, kegelisahan, penurunan sistm imun, dan meningkatnya risiko bunuh diri (Pacific Grove Hospital, 2016)

Perlunya pendampingan

Masalah psikologis seperti PTSD adalah masalah serius yang membutuhkan penanganan yang juga serius. Diperlukan pendekatan berkelanjutan oleh tenaga profesional terlatih untuk mengatasi masalah PTSD yang dialami para penderitanya

Salah satu tenaga profesional yang bisa dilibatkan dalam proses perawatan adalah tenaga perawat sebab tenaga keperawatan adalah salah satu tenaga kesehatan yang jumlahnya lebih besar dibandingkan tenaga kesehatan lainnya di Indonesia. Kementrian Kesehatan melaporkan 49% tenaga kesehatan di Indonesia adalah perawat (Kemenkes, 2017).

Selain ada dalam jumlah besar, perawat juga bekerja langsung dalam pelayanan kesehatan primer seperti di Puskesmas dan juga pelayanan skunder seperti di Rumah Sakit (Suparto & Williams, 2016; Shields & Hartati, 2003).

Besarnya tenaga perawat dan keterlibatan langsung yang luas dalam area pelayanan kesehatan mestinya mendorong pemerintah untuk bisa memaksimalkan tenaga perawat dalam upaya penuntasan masalah psikologis korban pasca bencana.

Memaksimalkan peran perawat sudah lama digunakan di beberapa negara. Di Jepang misalnya, sebagai negara rawan bencana, pemerintahannya terus meningkatkan kebutuhan untuk lebih mengeksplorasi peran perawat khusus bencana. Kesempatan pendidikan berkelanjutan soal penangangan bencana terus dikembangkan (Kako, 2014). 

Sementara itu, di Amerika, pemerintahnya terus meningkatkan peran perawat sebagai pemimpin, pendidik, responden, pembuat kebijakan, dan peneliti dalam kesiapsiagaan dan tanggap bencana (Veenema et al., 2016)

Di Indonesia, upaya memaksimalkan peran perawat tampaknya belum kelihatan sama sekali. Ini dibuktikan dengan riset yang dilakukan oleh Sangkala dan Gerdtz (2018) yang melakukan penelitian kepeda perawat di Indonesia dan menemukan bahwa ada sekitar 6,5% responden yang menganggap kesiapan bencana mereka saat ini lemah, 84,6% sedang, dan 8,9% menilai kesiapan mereka sebagai kuat. 

Sementara laporan yang dibuat Sugino et al. (2014) menunjukan bahwa peran perawat belum maksimal dalam upaya mengatasi masalah psikologis akibat bencana.

Memaksimalkan peran perawat

Penelitian yang dilakukan oleh  Munandar dan Wardaningsih (2018) menjelaskan beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memaksimalkan peran perawat Indonesia dalam mengatasi dampak bencana adalah:

1. Pengembangan keterampilan, kesadaran diri, minat, intelektual, kerjasama, dan motivasi perlu dipersiapkan untuk  mendukung penanggulangan bencana,

2. Perawat perlu dipersiapkan secara psikologis berupa kemampuan kognitif, intelektual, minat, sikap, pendidikan, keterampilan klinis, dan pemahaman penyelamatan dengan prinsip-prinsip dasar dukungan psikososial.

3. Perlunya pelatihan bagi perawat administrator pada manajemen rumah sakit dalam siaga bencana.

Penutup

Indonesia sebagai negara rawan bencana perlu memaksimalkan peran perawat sebagai tenaga kesehatan yang besar dan bersentuhan langsung dengan korban bencana. Perawat dapat ditempatkan di lokasi bencana, rumah sakit, pusat medis, atau di layanan rehabilitasi selama pemulihan.

Perawat yang dipersiapkan untuk menghadapi bencana bisa diperbantukan dalam upaya perawatan fisik, mental, dan emosional. Sebagai langkah awal kesiapsiagaan bencana, pemerintah perlu mengembangkan sistim pendidikan, pelatihan, dan pembiayaan yang memadai sehingga tenaga keperawatan yang ada tidak menjadi mubazir tetapi berguna secara maksimal