Di masa kecil kita sering dihadapkan pada sebuah cerita dongeng. Bagaimana seorang putri raja mendapatkan pangeran yang di idam-idamkan? Baik yang di inginkan oleh sang putri sendiri maupun yang diinginkan oleh sang raja.

Dan sang raja selalu memberi syarat yang seabrek pada calon pendamping putrinya. Syarat-syarat tersebut pada intinya tidak akan jauh dari perihal : bibit, bebet, bobot.

Nah kita sudah tidak berada di era/jaman kerajaan, kita sekarang hidup di era millenial. Dunia dalam genggaman kita, tinggal klik semua sudah bisa terbaca.

Pertanyaannya adalah, masih relevankah perihal bibit, bebet, bobot ini di masa milenial? Pastinya akan selalu mengundang pro dan kontra.

Pro dan kontra ini akan lebih kenceng lagi manakala si anak sudah dewasa. Si anak sudah punya pilihan sendiri, sementara orang tua kurang atau bahkan tidak setuju terhadap pilihan anaknya.

Bagi sebagian orang yang kontra(anti), pastinya akan menganggap 3 B(bibit, bebet, bobot) ini adalah kuno, pengekangan, bahkan akan dianggap rasis, bisa-bisa dianggap melanggar HAM. Namun bagi yang pro, masih menganggap bahwa 3B itu penting, karena pingin dapat pasangan yang berkualitas.

Terlepas dari sebuah pro dan kontra perihal prinsip 3B ini, rasanya kita perlu mengkaji kembali, merenungi, meresapi, apa sesungguhnya 3B ini? Tujuannya apa to? Adakah yang salah dalam 3B ini? Jangan-jangan kita ini hanya salah dalam memaknai 3B itu sendiri? Padahal salah memaknai akan berakibat salah dalam penerapannya.

Yup! Betul sekali, bisa jadi selama ini kita hanya salah memaknai. Mayoritas memaknai 3B ini hanya di fokuskan pada sang calon yang akan “dipilih”. Bahwa calon yang akan dipilih ini harus betul-betul terseleksi dari berbagai macam kriteria, terutama 3B.

Mayoritas kita ini sebagai orang yang sedang mencari pasangan. juga lupa bahwa perlunya untuk “memantaskan” diri, guna memenuhi 3B. Dan selama ini kesan yang selalu kita bangun sebagai pemilih adalah orang sudah merasa mapan, hebat, keturunan hebat pokoknya yang hebat-hebat deh.

Sekali lagi di jaman teknologi internet, terutama generasi millenial, perlu mereposisi ulang dalam beberapa masalah kehidupan. Bahkan kalau perlu berpikir out of the box.

Guna mereposisi ulang dan meredefinisi ulang perihal 3B ini, konteks yang perlu kita bangun adalah “Bahwa kita harus memantaskan diri (self image), karena kita adalah sosok individu yang unik dan hebat, yang memang pantas untuk memilih ataupun dipilih.

Lalu bagaimana kita bisa disebut cakap memantaskan diri? Jawaban yang pasti, kita terus perlu mengembangkan diri(self development) di berbagai bidang.

Perihal Bibit, selama ini banyak diartikan asal-usul keluarga sang calon. Sering para orang tua memberi nasehat bahwa pentingnya memperhatikan keturunan calon pasangan kita. Karena hal ini menyangkut kejelasan latar belakang keluarga si calon.

Dari mana ia berasal? biasanya di sini di artikan: darah biru, karakter keluarganya. Masyarakat dengan mudah menganggap, apabila ada perilaku negatif orang tua, maka akan dipastikan anaknya punya potensi yang sama berperilaku negatif.

Maka sudah semestinya para generasi millenial tidak mudah untuk percaya begitu saja pada asumsi yang selama ini telah dibangun oleh masyarakat. Perlunya dibangun pribadi pilihan, yaitu kita perlu “memantaskan” diri secara bibit, artinya dari manapun kita ini berasal, kita tetap sebagai individu yang unik dan hebat.

Lalu bagaimana caranya kalau kita ini memang pantas untuk dipilih? Ada beberapa hal yang perlu kita bangun, antara lain:

Jagalah originalitas (keperawanan/keperjakaan), ini menunjukan bahwa bibit yang ada dalam diri kita, betul-betul terjaga kualitasnya. Jangan mudah terbujuk kata-kata rayuan manis atas dasar cinta. Cinta itu suci, karena suci maka mengandung unsur melindungi, bukan malah merusak. Kalau merusak itu bukan cinta melainkan nafsu.

Berilah asupan vitamin, gizi dan mineral yang seimbang. Sejak dini sudah berusaha meminimalisir makanan fast food/junk food. Sehingga metabolisme tubuh kita betul-betul menghasilkan jasmani dan rohani yang sehat dan kuat.

Bangunlah pergaulan/komunitas (circle) yang dinamis dan sehat. Dengan pergaulan yang dinamis dan sehat akan membentuk karakter yang kuat, membangun rasa empati, menghargai perbedaan, membangun tim, sekaligus memunculkan bibit kepemimpinan.

Perihal bebet, dalam hal bebet secara filosofi jawa berasal dari kata bebedan artinya cara berpakaian. Ada juga pitutur dalam bahasa jawa ajining rogo gumantung ing busono yang artinya seseorang akan di hargai jika berpenampilan yang baik(berkelas).

Kalau jaman sekarang dengan bahasa iklan, pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.

Nah di era sekarang ini bebet bisa di salah gunakan untuk membangun image(self image). Biasanya kita kenal dengan istilah pencitraan. Pakaian digunakan sebagai trik untuk membangun sebuah pencitraan, mau dibangun seperti model apapun sangat memungkinkan.

Konteks busana di sini bukan sekedar seperti citayam fashion week atau fashion-fashion lainnya.

Konteks bebet sebagai pakaian adalah sesuatu yang “menempel” dalam diri kita. Kira-kira sesuatu yang menempel, yang mampu menaikkan value kita ini apa?. Kita perlu menggali kelebihan dan kelemahan yang kita miliki.

Terutama kelebihan ataupun prestasi yang kita miliki. Jadilah ahli dalam satu hal, yang mana keahlian kita ini, mampu menjawab permasalahan kebanyakan orang. Sehingga keahlian kita banyak dibutuhkan orang. Keahlian inilah yang akan menempel dalam diri kita sebagai nilai bebet.

Perihal bobot, di era dulu kalau kita berbicara bobot, khususnya dalam hal mencari pasangan, selalu dikaitkan dengan kekayaan, tingkat pendidikan dan pekerjaan.

 Orang tua selalu menilai calon pasangan anaknya, dengan penilaian: kaya gak sih? sarjana gak sih? pegawai gak sih?. Lantas bagaimana dengan jaman millenial? Kemudian bagaimana saya bisa memantaskan diri secara bobot?

Ada beberapa aspek yang  bisa dilakukan guna memantaskan diri/meningkatkan value bobot ini, antara lain: menjadikan unsur belajar sebagai investasi bahkan sebagai nafas (long life education), asah terus kompetensi(skill, knowledge, attitude) yang kita miliki, bangun kreativitas/berpikir out of the box, membangun/ menciptakan nilai beda, siap menjadi orang solutif, pelajari hal-hal yang sifatnya kebaruan.

Setelah kita berani memantaskan diri, maka dalam kondisi apapun kita akan menjadi orang yang berbobot atau yang memiliki nilai bobot. Apalagi aspek value ini kalau ditambahi dengan unsur hobi, maka value bobot kita akan semakin mudah mendatangkan rejeki.

Nah jadi 3B ini bukan sekedar sebuah rambu-rambu dari para orang tua dalam mencarikan jodoh anaknya. Rambu-rambu 3B ini juga mampu menjadikan diri kita untuk memantaskan diri punya value yang berbibit, berbebet dan berbobot. Sehingga calon kita, tidak salah telah memilih diri kita, karena kita memang unik, produktif,  smart, kreatif dan berbeda. Akhir kata selamat memantaskan diri semoga jodoh anda juga telah memantaskan diri untuk anda.