Malam itu saya kembali membuka kumpulan puisi Sarinah, mengingat Esha Tegar yang berujar kalau kota ini (re: Jakarta) dibangun dari seribu kematian disebabkan angin duduk. Nadanya begitu suram dan pesimistis. Andaikata menyanjung kemajuan, sudah pasti itu diiringi oleh rentetan peristiwa buruk kemudian.

Dalam Orang-orang Bloomington, Budi Darma selalu menjadikan Bloomington sebagai arena pertemuan orang-orang aneh. Nasib mereka sulit ditebak, cenderung menjengkelkan, juga narasi yang mengelilinginya terkesan negatif. Tak ayal pesona kota dianggap menyimpan bom waktunya sendiri.

Nuansa tak mengenakkan itu tentu muncul bukan tanpa sebab. Seno Gumira Ajidarma dalam Tiada Ojek di Paris memperlihatkan tindak-tanduk manusia kota yang memang layak ditertawakan bersama. 

Ia mengambil contoh ‘Jakartans’ (sebutan untuk para manusia kota di Jakarta, beberapa di antaranya juga datang dari wilayah satelit: Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang) yang dengan sukarela “terjebak” dengan kekotaannya. Mereka adalah orang-orang dengan berbagai rutinitas saklek, jam kerja yang dihantui waktu tenggat, kelas sosial dengan berbagai diskriminasi, dan itu semua kerap berakhir dengan rentetan cerita kekalahan.

Jika kita tarik menjauh, pandangan semacam itu mungkin mengindikasikan dua pola yang rasa-rasanya klise: orang kota yang meromantisasi daerah (seperti mobil plat B yang hobi mencari suasana dingin di puncak) dan daerah yang menuntut kemegahan kota (tradisi merantau/mengadu nasib; bahwa orang kaya sebagian besar ada di kota). Keduanya sering disebut sebagai perbandingan/oposisi yang biner.

Sesuatu yang menjorok pada hitam-putih semata. Kontras. Yang menarik, perumpamaan ini juga menyuguhkan perbandingan mencolok lain seperti “inti dan pelengkap”, “kemajuan dan ketertinggalan”, bahkan “penting dan tidak penting”. Namun mestikah perbandingan itu?

Mari ingat kembali perkataan nenekmu yang berkata bahwa kota dapat menjadi juru selamat. Anggapan seperti itu jelas menjerumuskan, alih-alih memotivasi. 

Mungkin kita sering luput kalau setiap kompetisi mutlak hanya memunculkan satu pemenang, kemudian sisanya adalah mereka yang kalah. Itulah kota. Porsi kekalahan akan selalu lebih besar dibandingkan kemenangan dan contoh kekalahan jauh lebih mudah didapat sekaligus lebih sering pula diabaikan. 

Kekalahan tidak menarik, maka itu ia sering dianggap cerita kelas dua yang banyak diperas pelajaran moral dan perkara nonesensial semata.

Sekalipun kita juga tak perlu meneteskan air mata berlebih, sebab kekalahan adalah hal lumrah dan karenanya kekalahan adalah urusan bersama-sama yang kelak bisa menjadi persoalan kolektif—bahwa jika kamu kalah, kamu tidak sendirian.

Di negeri yang tidak sepenuhnya beres ini, mengelu-elukan pemenang malah tak selalu bermakna baik. Pemenang bisa lahir dari sistem yang carut-marut, persoalan nepotisme, hingga kepentingan golongan yang muskil kita tebak sepenuhnya.

Seperti dalam suatu perlombaan sering muncul ungkapan ‘keputusan dewan juri tak dapat diganggu gugat’, yang melalui hal seperti itu membuat pemenang bisa lahir dari bentuk kekuasaan yang kelak hierarkis terhadap yang kalah; ia tidak dapat dilengserkan, menjadi nyaman, seolah mutlak.

Narasi pemenang ini agaknya bisa menjorok pada hal problematik lain karena dalam kondisi hierarki paling atas, tersirat ia dapat diidentifikasi sebagai superpower (bahwa ia terkesan lebih ‘apapun’ dibandingkan yang lain) hingga kemudian abai. 

Toh, padahal jika suatu kekuasaan ingin otoriter atau antigugat, tinggal diamkan saja seluruh gugatan itu dan pasang kacamata kuda dari awal. Aturan semacam itu hanya mengarisbawahi ungkapan: kami tidak peduli masukanmu, jadi jangan buang-buang waktu dan tenaga untuk menggugat.

Melalui ilustrasi tersebut, mungkin kita ngeh bahwa sistem yang suram, terlebih melembaga, dapat memunculkan kegamangan sendiri. Sebab yang menang dan yang kalah adalah mereka yang terjebak dalam sistem yang sama. Kita bisa saja ikutan keblinger.

Dalam cakupan lebih luas, poin itu dapat dipersoalkan ketika bagaimana para pemenang-pemenang di kota, yang seringkali dijadikan narasi utama, bersinggungan dengan mereka yang kalah.

Yang Kalah

Kekalahan sudah terjadi di berbagai tempat sejak ribuan tahun lalu, tetapi hingga sekarang Bumi tak kunjung mendapat bentuk terbaiknya. Memetik kekalahan sebagai pembelajaran seringkali cuma isapan jempol yang membuat kita terasing dari kenyataan. 

Ernst H. Gombrich dalam Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda mengingatkan berbagai peradaban yang hilir-mudik menegasi satu sama lain, seperti cerita Kiros menaklukkan Babilonia, Titus menghancurkan Yerusalem, atau berbagai kisah dogmatis agama yang menginvasi banyak daerah. Catatan sejarah itu adalah bukti bahwa relasi kuasa menjadi masalah homo sapiens sejak dulu.

Meminjam istilah J.R.R. Tolkien, kreator seri The Lord of the Rings, bahwa semua carut-marut ini dapat kita maknai sebagai the long defeat—tidak ada kemenangan yang lengkap, bahwa kejahatan akan selalu bangkit kembali, dan bahkan kemenangan pun membawa kerugian sebab ia tidak mungkin mengakomodir semua pihak. 

Ibarat menghadapi Sauron, dalam realitas kita juga menghadapi musuh-musuh yang tak pernah habis. Kekalahan menjadi lebih realistis dibandingkan mengharapkan kemenangan.

The long defeat dalam realitas hari ini adalah Aksi Kamisan yang tembus 600 edisi lebih dan mereka masih berteriak lantang di depan Istana Negara tanpa didengar, para penyintas kekerasan seksual yang hanya bisa diam karena ketimpangan kuasa di lingkungannya. 

Belum golongan termarjinalkan lain seperti para kelompok Tionghoa yang berkali-kali diserang isu rasialisme, korban kekerasan aparat yang dibui tanpa proses pengadilan, kelompok agama yang memaksakan ajarannya kepada yang lain, hingga musuh-musuh kecil seperti secuil pikiran apakah esok hari masih bisa makan atau tidak, bak gelandangan yang berpotensi dipidana sejak RKUHP tempo lalu ramai diperdebatkan.

Apa yang disadarkan oleh kekalahan yakni bahwa suaranya dianggap tak begitu penting. Orang-orang kalah adalah mereka yang dianggap warga kelas dua. Orang-orang kalah dianggap paling berisik karena mereka sering menyuarakan gugatannya. 

Lalu apa hubungan semua ini dengan kota? Kita bisa mengecek kembali kaitannya melalui oposisi biner; kenyataan hari ini sedang mempertentangkan dua entitas yang kerap terlihat hitam-putih: kota menegasi daerah, kemajuan membasmi ketertinggalan, penguasa menghadapi rakyat, dan penting berurusan dengan yang tidak penting. 

Eksotisme ala perkotaan ini, yang mulanya terlihat menyilaukan, kemudian membuat berbagai orang terpecah-pecah akan kepentingannya sendiri, dan bahkan mungkin terasing dari tujuan mulanya.

Cikal bakal pandangan ini datang sebagai bentuk warisan pascakolonial, sebagaimana yang disuarakan Gayatri Spivak, Homi K. Bhabha, hingga Edward Said. Kita mesti sadar bahwa jejak-jejak penindasan masa kolonial masih berlangsung hingga hari ini. 

Jika dahulu pertarungannya adalah penjajah dengan pribumi, maka hari ini wujud ‘perkotaan’ sebagai representasi negara (segala tetek-bengek urusan negara diurus dalam satu wilayah dengan  homogenitasnya) dipertentangkan dengan wujud ‘kedaerahan’ yang merepresentasikan rakyat yang dianggap tak mengerti apa-apa oleh pusat. 

Layaknya Big Brother dalam 1984 (George Orwell), negara dengan kuasanya selalu merasa lebih tahu dan ingin tahu. Persoalan tersebut tentu kian tak mengenakkan apabila rakyat, dalam kasusnya sama-sama menjadi korban kekerasan negara, juga saling bertentangan satu sama lain untuk menentukan hajat hidupnya.

Hal yang Biasa

Kita tahu kekalahan memang lahir dalam banyak versi, tetapi semuanya cukup disikapi biasa saja. Kita hanya perlu sadar. Kekalahan kecil di kota muncul dari rutinitas keseharian yang membuat kita terjebak: sulit tidur nyenyak setiap malam, target-target yang gagal diraih, tekanan dari atasan yang hampir tak bisa dibantah, hingga perasaan gelisah yang menyelimuti sepanjang hari. Kekalahan seperti itu adalah kenelangsaan yang umum bagi manusia dewasa.

Namun, kekalahan sesungguhnya di perkotaan hadir karena sistem yang diskriminatif dan ketimpangan. Sebagaimana yang dikatakan ekonom senior Faisal Basri, dalam lansiran Tirto, yang menyebut sekitar 45,4 persen kekayaan nasional nyatanya hanya dikuasai oleh satu persen orang—yang bisa kita baca sebagai oligarki. Ia mengutip data tersebut dari Credit Suisse dan menafsirkannya sebagai bentuk eksploitasi negara terhadap rakyat dan sumber dayanya.

Kita jelas-jelas kalah, tapi itu bukan persoalan selama kita sadar. Kita mesti paham bahwa setiap langkah akan selalu lebih dekat pada kekalahan, sehingga nantinya kemenangan hanyalah bonus yang tak perlu dirayakan berlebih.

Baca Juga: Sajak Kekalahan

Narasi kekalahan sudah pasti selalu dimiliki oleh rakyat (ia yang disebut sebagai golongan kelas dua), maka itu segala pertanyaan mestinya selalu disodorkan pada ia yang menang. Sebab kemenangan selalu akan dibayangi oleh kuasa, dan itulah yang kemudian mesti kita sadari secara kolektif.

Kita mungkin telampau pusing sebab kota sudah sedemikian campur-aduk karena hibriditasnya; segala macam kepala, kepentingan, dan golongan membaur dalam motif yang sulit ditakar. Ibarat cerita kecil, semakin sulit menakar mana serigala yang mengenakan bulu domba. 

Dari hibriditas itu, yang kerap menimpa masyarakat pascakolonial, kesadaran mesti menuntun kita pada penentuan sikap. Kita tahu kekalahan adalah milik rakyat, maka sikap kritis mestinya disasarkan pada mereka yang memegang kendali kuasa. Rakyat tak akan pernah salah karena ia adalah buah dari sistem yang dibentuk oleh kuasa.

Ia yang kalah cukup merangkul sesamanya. Beberapa orang mungkin ada yang mulai tercerahkan karena ia berasal dari kelas menengah-atas yang memiliki akses pada banyak literatur. Beberapa yang lain mungkin tidak tahu apa-apa dan kerap berlaku slebor saja. 

Keduanya tidak boleh saling hajar untuk menentukan siapa yang paling representatif. Kritik sutradara Joker, Todd Philips, yang dilansir Independent sangat mengena. Ia menyinggung budaya woke telah membunuh karir komedi. Pernyataannya tersirat bahwa pengetahuan yang salah disasarkan hanya akan membuat gaduh dan menjadikan kita saling berkelahi.

Padahal, rakyat mutlak korban dari kesuraman yang ada. Buat saya, menyadari bahwa kita kalah, lalu mampu menertawakan nasib buruk yang berkelindan di sana-sini ternyata jauh lebih menyenangkan. Kita bisa lebih luwes dan tak terbebani dengan label ‘kesuksesan’. Karena bersama-sama, dengan begitu pergerakan juga mudah saja: cukup tentukan sikap, bela siapa yang termarjinalkan, arahkan segala pengetahuan untuk membela yang kalah.

Karena segalanya memang biasa saja. Jangan biarkan mereka yang telah berkuasa merasa berhasil memperdaya kita.