penulis/jurnalis
3 tahun lalu · 539 view · 2 menit baca · Keluarga newly-married-couple-on-the-beach-1680x1050-wide-wallpapers.net_.jpg
[Foto: wallpapers.net]

Memaknai Pernikahan

Beberapa hari lalu saya menghadiri acara pernikahan sahabat dekat. Bahagia benar ia terlihat, begitu juga pasangannya. Persis kebahagian pasangan lain, juga di hari pernikahan masing-masing. Kebahagiaan pernikahan mungkin adalah kebahagiaan yang bersegi-segi. Tentang keinginan yang tercapai, tentang kebersamaan dengan orang yang diinginkan, tentang hidup baru.

Namun, memang benar sepertinya, bahwa pernikahan juga bukan hanya tentang kebahagiaan. Tapi tentang hal-hal lain yang kadang jarang terjadi, sesuatu yang tak terprediksi. Sesuatu yang tak terbayang akan terjadi. Sesuatu yang tak diinginkan. Sesuatu yang didoakan banyak orang untuk tak ada selamanya, ketika memberi restu.

Bukan hanya saya, mungkin semua kita pernah mendengar tentang keluhan pernikahan para teman. Beragam, kadang juga seragam. Semisal susahnya memenuhi kebutuhan dengan penghasilan yang kurang. Kebiasaan pasangan yang bikin sungguh tak nyaman. Sikap mertua yang bikin menderita, membuat merasa hampir gila. Momongan yang tak kunjung tiba. Pun juga anak-anak yang bandelnya alang kepalang.

Ada juga hal-hal lain yang terasa lebih mengerikan, sering pula terdengar dari sekitar atau jauh di seberang, dari televisi juga surat kabar. Adalah perceraian, perselingkuhan, kekerasan atau penganiayaan. Juga penyakit menular dari kebiasaan buruk pasangan yang belum pernah terungkap saat mula saling mengenal, yang belum ditemukan juga pengobatnya.

Begitulah, dengan semua hal yang bukan hanya hal baik saja, pernikahan memang bukan bulan madu seumur hidup yang selalu manis. Bukan pula pacaran mesra-mesraan ala anak muda yang selalu berbunga-bunga.

Mungkin pernikahan adalah wujud paling nyata tentang bagaimana sikap tiap insan mengarungi  kehidupan. Adalah perjuangan, kesabaran, penerimaan takdir, pengambilan keputusan dan usaha untuk memenuhi tanggung jawab.

Perjuangan untuk mempertahankan pernikahan, mempertahankan kebahagian, kesabaran untuk menghadapi semua hal yang membuat tak nyaman, penerimaan takdir untuk sesuatu yang memang tak bisa sama sekali diubah. Pengambilan keputusan terbaik untuk kebahagian bersama. Juga pemenuhan tanggung jawab untuk semua hal yang semakin lama semakin bertambah.

Jika memang begitu, pernikahan memang bukanlah cerita yang dipastikan bahagia selamanya seperti yang dikisahkan pada dongeng-dongeng. Namun sebuah awal baru untuk perjuangan, kesabaran dan usaha tiada ujung.

Mungkin untuk itulah, setiap pasangan membutuhkan banyak kehadiran sanak saudara, sahabat, kenalan pada acara pernikahan. Bukanlah sekedar untuk membagikan kebahagian, kesenangan pesta apalagi kudapan enak. Tapi mengumpulkan restu dan doa untuk perjuangan, usaha dan kesabaran yang tiada ujung. Untuk semua itu, semua pasangan sepertinya memang membutuhkan lebih banyak doa.

Tak ada yang mengharapkan kegagalan atas apa pun. Tak ada yang memulai kebersamaan untuk akhirnya berpisah. Jika memang pernikahan adalah cara untuk sampai ke surga kehidupan, pun juga surga setelah kehidupan, berilah banyak doa tulus agar mereka mencapainya, selamanya.