Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia Kecil. Banyak wilayah sekitar Asia Kecil tercatat dalam Kitab Perjanjian Baru yang menjadi tujuan dan persinggahan murid-murid Yesus.

Tanpa bermaksud apapun, harus diakui wilayah-wilayah itu tidak lagi menjadi basis kekristenan. Selain itu, tanda yang paling jelas bahwa Yesus lahir, tumbuh dan berkembang dalam budaya dan peradapan Timur Tengah.

Pada awal Maret 2021, dunia tertuju pada kunjungan Paus Fransiskus ke Irak. Kunjugan yang berlangsung selama 4 hari itu menyita perhatian dunia apalagi di tengah situasi global yang masih dilanda Covid-19. 

Ini merupakan lawatan pertama Paus Fransiskus ke Irak yang disambut Presiden Irak, Barham Salih dengan pengamanan militer ketat.

Namun harus diingat, ini bukan yang pertama Paus Fransiskus mengunjungi Timur Tengah atau bertemu dengan para pemimpin negara-negara Timur Tengah. 

Pada awal febuari 2019, Paus Frasiskus mengunjungi Uni Emirat Arab dan mendandatangani dokumen tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Beragama.

Dokumen yang dikenal dengan The Document on Human Fraternity itu menjadi babak baru dalam menjalin hubungan baik antara Kristen dan Islam di mana Ahmed el-Tayeb (Imam Besar Al-Azhar Mesir) menjadi wakil dari Islam.

Bagi saya dan mungkin sebagian besar dari kita setuju bahwa gebrakan Paus Frasiskus benar-benar sesuatu yang patut diikuti oleh para pemimpin baik pemimpin agama maupun pemimpin negara. Pesan perdamaian tidak lagi sebatas hubungan Islam dan Kristen tetapi bagi perdamaian dunia secara luas.

Tentu masih kuat dalam ingatan kita, perang saudara yang menimpa saudara-saudara kita di Timur Tengah khususnya di Irak dan Suriah beberapa tahun silam.

Yang jelas kunjungan Paus Fransiskus ke Irak tidak semata untuk memberi perhatian khusus bagi umat kristiani di Irak yang mengalami persekusi dari kelompok ekstrimist. Tetapi benar-benar ingin membawa pesan perdamaian bagi rakyat Irak secara keseluruhan seperti yang ditekankan Paus selama di Irak.

Beberapa hal menarik yang dilakukan Paus selama kunjungan di Irak sungguh terkesan dan penuh sikap kerendahan hati sebagai seorang Pemimpin Gereja Katolik dengan jumlah umat sekitar 1,3 miliar. 

Misalnya saja, Paus Fransiskus menyeruhkan Irak sebagai the land of Abraham or Ibrahim yang mana  diakui baik dalam Taurat, Alkitab maupun Al-Quran.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya untuk dilihat, di Uni Emirat Arab Paus menandantangani the document on fraternity bersama Ahmed el-Tayeb sebagai representasi kelompok Sunni sementara di Irak Paus bertemu dengan salah satu tokoh penting umat Syiah, Ayatollah Ali al-Sistani.

Selain itu, Paus juga mengunjungi wilayah otonomi Kurdi dan kiranya dapat dibaca sebagai upaya “mendamaikan” rakyat Kurdi yang mengalami penderitaan serupa dari serangan kelompok ekstrimis.

Membangun Persaudaran Universal 

Apa yang kita lihat dari fakta-fakta di atas, Paus Fransiskus telah menunjukkan niat baik dalam menjalin persaudaraan universal. Kiranya, hal ini dapat dilihat sebagai realisasi dari Ensiklik Paus Fransiskus, Fratelli Tutti, sebuah dokumen untuk seruan akan persaudaraan dan persahabatan sosial. Semua adalah saudara!

Sebagai sesama umat manusia, sudah saatnya kita menyelesaikan persoalan umat manusia secara bersama.

Persaudaraan tidak lagi dibatasi oleh sekat apapun sebagai sesama umat manusia. Inklusifitas Paus Fransiskus telah menggambarkan sikap Yesus (Isa Al-masih) selama masa hidup-Nya. 

Para petinggi agama Yahudi sering menjadi sasaran kritikan Yesus karena mereka selalu merasa diri paling benar dan seolah keselamatan Allah hanya berlaku bagi bangsanya saja.

Dalam perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37 ), Yesus membongkar paham eksklusif orang Yahudi pada zaman-Nya. Mereka menganggap bahwa orang Samaria sebagai orang kafir karena berbaur dengan bangsa lain sehingga tidak lagi murni sebagai orang Yahudi.

Yesus justru bersikap sebaliknya, sesama saudara tidak lagi hanya sebatas sesama Yahudi saja tetapi terhadap seluruh umat manusia.

Dalam pekan lalu, umat kristiani merayakan Pekan Suci yang puncaknya pada Perayaan Paskah. Kiranya, kebangkitan Yesus sungguh dapat memberi inspirasi bagi semua umat manusia untuk mampu membuka diri bagi sesama tanpa melihat sekat-sekat perbedaan.

Dan Paus Fransiskus, melalui lawatannya ke Uni Emirat Arab dan Irak, telah memberikan model bagi dunia dan tentunya bagi bangsa Indonesia dalam membangun persaudaraan universal.

Dan kiranya, siapapun kita baik sebagai pemimpin atau masyarakat biasa dapat mulai memikirkan tindakan praktis dalam membangun persaudaraan universal itu. Sudah saatnya kita untuk melihat nilai atau fakta yang dapat menyatukan sebagai sesama umat manusia.

Pernyataan Paus Fransiskus tentang Irak sebagai the land of Abraham or Ibrahim kiranya sungguh membuktikan niat Paus dalam mengupayakan perdamaian dan persaudaraan universal. Semoga!