Selamat datang tahun 2021. Selamat datang kebahagiaan dan keberuntungan. 

Selamat tinggal tahun 2020, tahun dimana Allah mengguyurkan rahmat dan kasih sayang pada kami dan bumi yang kami tempati. Bumi yang diselamatkan dari kerusakan, serta kami Kau rengkuh untuk mengakui dan mengenali KebesaranMu. 

Satu hal yang menguatkan saya bertahan sampai saat ini adalah dengan mengulang - ulang membaca surat Al-Insyiroh serta meresapi maknanya. Dalam ayat 6 jelas bahwa Allah berfirman" Sesungguhnya beserta Kesulitan Ada Kemudahan." Allah dalam ayat ini mengajarkan pada hambanya untuk tetap tenang menghadapi kesulitan dengan terus berikhtiar dan khusnudzon pada Allah bahwa semua ada masanya. 

Pandemi Covid ini adalah ekspresi kasih sayang Allah pada kita untuk mendekat menghaturkan segala ketidakberdayaan. Kita dipaksa untuk memakai masker artinya kita dituntun mengurangi sampah yang keluar dari mulut kita, mengurangi aktivitas di luar, dan menghindari kerumunan. Tak hanya berhadapan dengan virus yang belum berhenti mencari korban, namun juga harus mengahadapi himpitan ekonomi.  

Banyak lalu lalang kesedihan, kehilangan dan kekecewaan berserak tak hanya di sekitar namun juga di beranda media sosial menuntun saya mengencangkan istighfar serta sholawat dalam setiap keterjagaan. Memanjangkan sujud dan melangitkan pengharapan agar senantiasa dikuatkan jasmani dan rohani. 

Tuhan sedang hadir dengan asma Al Qobidh yang artinya Maha Mempersempit supaya kita mendekat , memohon kelapangan dada melewati semua kesulitan ini. Pandemi ini bukan azab melainkan panggilan Allah kepada manusia, karena panggilan Allah lima kali tiap hari kita abaikan.  Dan Allah mengutus virus covid agar manusia kembali mendekat, menghadap lalu memohon agar segala diberi kekuatan keluar dari  kesempitan ini .Tak perlu waktu lama buat Allah untuk mengganti kesempitan dengan kelapangan.

Pada fase ini kita sedang dibatasi ruang geraknya dari yang tadinya bisa pergi kemana saja, sekarang dipaksa untuk berada di rumah, karena resiko tertular virus atau malah menularkan virus. Terlihat seperti pengekangan, namun ini adalah bentuk kasih sayang Allah menyelamatkan hamba Nya. Seperti seorang ibu yang segera menggendong anaknya yang merangkak di atas kasur karena hampir terjatuh. Anak kecil tadi menangis karena merasa dicegah bermain - main, padahal sejatinya sang ibu telah menyelamatkannya dari bahaya.

Pandemi Covid ini Allah menempa kita menjadi lebih kuat, lebih bisa melihat peluang. Kita yang harus kehilangan pekerjaan karena imbas Pandemi ini otomatis akan mencari jalan rezeki lain. Sejak pandemi ini banyak pedagang online bermunculan menawarkan berbagai macam dagangannya, mulai dari masker, minuman herbal sampai pakaian. Alih - alih patah semangat, meratapi nasib, mereka tetap berjuang melanjutkan roda kehidupan.  Semangat yang terus menyala, meskipun terangnya tak seberapa.

Kesempitan dan kesusahan ini juga menumbuhkan sikap empati pada sesamanya, saling membantu meringankan beban meskipun sama - sama dalam keterbatasan. Muncul gerakan membeli dagangan teman dan tetangga, relawan yang dengan sukarela membantu tenaga medis menolong saudara mereka yang positif covid. Rasa kemanusiaan yang kemarin terkikis kini perlahan kembali. Perasaan senasib mendorong kita untuk bahu - membahu keluar dari kesusahan. 

Orang tua yang kemarin tak punya waktu untuk membersamai putra - putrinya belajar, sekarang punya banyak waktu untuk bermain dan mendampingi belajar dari rumah. Suami istri yang sempat dingin hubungannya kini kembali menghangat. Meskipun banyak juga yang rumah tangganya berakhir karena himpitan ekonomi imbas dari pandemi. 

Pandemi ini juga  seperti mengurangi kita menjalankan ibadah. Majelis - majelis pengajian ditiadakan sementara karena himbauan mengadakan acara yang menimbulkan kerumunan. Namun sebenarnya kita tidak mengalami penurunan ibadah. Ibadah tadi hanya dialihkan, dengan berada di rumah saja kita telah mengurangi orang lain terkena virus. Sikap menahan diri tersebut merupakan ibadah karena kita tidak egois menuruti nafsu untuk pergi keluar dengan alasan bosan. Penerimaan dan ketenangan jiwa melewati pandemi ini lebih mulia nilainya daripada ibadah yang dilakukan sebelum pandemi.

Sampai saat ini apakah kita sudah mengakui kedigdayaan Allah yang diwujudkan melalui virus covid yang merepotkan? Atau kita masih saja menyangkal, menganggap bahwa ini konspirasi manusia? Virus ini nyata, wahai saudaraku. Tak terlihat dan tak pandang bulu mencari korbannya. Meskipun banyak yang sembuh, namun tak sedikit yang kalah melawan virus covid 19. Kepada siapa kita mintai perlindungan dari ancaman virus tersebut selain pada Yang Menciptakan virus covid. 

Allah memberi penyakit selalu diiringi dengan obat penawarnya, yang jadi masalah karena obat tadi belum ditemukan. Yang bisa kita lakukan adalah memperkuat imun tubuh, memakai masker dan menghindari kerumunan agar tak menambah daftar pasien Covid selanjutnya , serta yang utama adalah mengencangkan doa. Hasbunallah wa nikmal wakil hanya Allah sebaik - baik penolong terus digemakan dalam hati .

Pandemi covid ini telah melahirkan orang - orang tangguh gigih berjuang melanjutkan kehidupan. Kehidupan yang bermuara pada ridho Allah dan untuk memperoleh ridho Nya kita juga harus ridho dengan segala macam pemberian Nya.