Tulisan ini diilhami ketika saya membaca sebuah karya Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif yang berjudul Membumikan Islam. Di dalam buku tersebut, sang penulis banyak berkomentar tentang Islam dan kehidupan pemeluknya.

Di salah satu tulisannya, Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif menyinggung masalah qalbun salim. Ada beragam versi penafsiran kata qalbun salim, namun bukan di sini tempatnya untuk mengulas hal itu. 

Secara bahasa, qalbun salim dapat diartikan hati yang selamat. Menurutnya, orang yang memiliki qalbun salim adalah orang yang tidak hanya tunduk dengan realitas yang ada.

Selanjutnya, Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif mengutip penjelasan Muhammad Syahrur yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang memiliki qalbun salim. Masih dalam kutipan Muhammad Syahrur, Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif menggiring pembaca menuju kisah Nabi Ibrahim yang bertanya kepada Allah bagaimana cara Allah menghidupkan yang mati. Kisah ini diabadikan Alquran pada surah Al-Baqarah ayat 260.

Muhammad Syahrur memberikan komentar mengenai kisah Nabi Ibrahim di atas, "Kasus ini memberikan kepada kita kunci penting metode ilmiah murni yang tanpanya tidak mungkin orang memajukan ilmu, yakni metode ragu untuk mencapai keyakinan."

Saya menangkap sesuatu yang "tak biasa" ketika membaca kutipan dari Muhammad Syahrur di atas. Mengapa keraguan bisa menjadi sebuah metode, terlebih lagi metode yang dapat memajukan ilmu pengetahuan? Pernyataan demikian terkesan kontradiksi dengan fakta di kehidupan sehari-hari, yang mana terkadang kita sering dituntut untuk selalu yakin dan menjauhi sikap ragu.

Saya menemukan jawabannya dalam buku karya Prof. Quraish Shihab yang berjudul Kaidah Tafsir. Di awal-awal tulisannya, sebelum masuk ke pembahasan inti tentang kaidah penafsiran, beliau sempat menyinggung perihal keraguan. 

Prof. Quraish Shihab menguraikan ragu menjadi dua macam. Ada ragu yang terjadi karena kecurigaan dan sikap subjektif orang yang mengalaminya. Keraguan jenis ini memang dilarang karena tidak melahirkan kebenaran, tetapi hanya pembenaran dari kecurigaannya.

Jenis ragu yang kedua adalah jenis ragu yang dibolehkan, yakni ragu yang bertujuan untuk mencari kebenaran dan untuk lebih meyakinkan orang yang mengalaminya. Keraguan jenis ini terjadi karena bukti dan fakta yang dihidangkan belum dapat menyentuh hati atau pikirannya.

Berbeda dengan jenis keraguan sebelumnya yang hanya menghasilkan pembenaran, keraguan jenis ini mendatangkan sikap objektif dan kebenaran yang sesungguhnya. Ragu seperti inilah yang kiranya sesuai dengan yang dimaksud oleh Muhammad Syahrur.

Prof. Quraish Shihab menambahkan bahwa dialog antara Nabi Ibrahim dengan Allah yang dikisahkan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 260 adalah bukti bahwa Nabi Ibrahim pun juga pernah ragu. Nabi Ibrahim bertanya perihal bagaimana Allah menghidupkan yang mati bukan karena tidak percaya atau curiga, melainkan untuk memantapkan keyakinan dan menenangkan hati. 

Selain dari Prof. Quraish Shihab, saya juga menemukan jawaban yang tak kalah menarik dari seorang pemikir Syiah, Murtadha Mutahhari. Jawaban ini saya temukan di salah satu karyanya yang berjudul Keadilan Ilahi. Karyanya ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Buku aslinya ditulis dalam bahasa Persia dengan judul al-'Adl al-Ilahi.

Di dalam bukunya tersebut, Murtadha Muthahhari "melukiskan" keraguan sebagai sebuah jembatan yang indah, sekalipun di sisi lain juga sebagai tempat tinggal yang buruk. 

Mengapa demikian?

Dikatakan sebuah jembatan yang indah karena keraguan dapat menjadi penghubung atau mediator orang yang mengalaminya menuju keyakinan. Seperti yang disampaikan sebelumnya, keraguan dapat membawa pelakunya untuk mencari kebenaran guna menghilangkan rasa ragu itu. 

Bahkan jika melihat dari urgensi perkataan di atas, kita dapat menangkap bahwa keraguan merupakan sebuah penghubung yang harus dilewati seseorang untuk sampai pada keyakinan yang sesungguhnya, keyakinan yang hakiki. Bukan keyakinan atas dasar ikut-ikutan atau yang sering dikenal dengan istilah taklid buta. 

Analogi "jembatan yang indah" ini tampaknya sejalan dengan pemikiran salah satu filsuf terkenal, Descartes. Menurutnya, keyakinan manusia pada awalnya memang harus diragukan. Karena keraguan tersebutlah yang menuntun manusia mengetahui apa sebenarnya yang diyakininya. 

Kembali lagi ke analogi di atas, mengapa keraguan juga dapat digambarkan sebagai tempat tinggal yang buruk? 

Sebagaimana yang kita tahu bahwa fungsi jembatan adalah untuk menghubungkan dua tempat, bukan sebagai tempat tinggal. Orang tidak bisa bahkan dilarang berdiam diri terus-menerus di jembatan. Karena pada dasarnya, jembatan bukan dibuat untuk itu.

Begitu juga dengan keraguan yang fungsinya sebagai penghubung menuju keyakinan, bukan sebagai pilihan tetap. Orang yang termasuk dalam kategori "tempat tinggal yang buruk" adalah orang yang meragukan sesuatu namun tidak berusaha bergerak mencari hakikat kebenaran sesuatu yang diragukannya. 

Singkatnya, jadikanlah keraguan hanya sebagai proses berpikir bukan hasil akhir.

Sehingga tak salah jika menganggap keraguan adalah bagian dari proses berpikir kritis. Orang yang meragukan sesuatu akan tertantang untuk mencari kebenaran sesuatu yang diragukan. Ragu -yang dibolehkan- akan melahirkan sikap kritis dan tumbuh menjadi riset ilmiah. Riset ilmiah merupakan langkah awal dalam perjalanan membangun peradaban. 

Menimbang berbagai pendapat para tokoh di atas, rasanya tak berlebihan apa yang disampaikan oleh Muhammad Syahrur bahwa keraguan merupakan metode ilmiah murni untuk memajukan ilmu. 

Sebagai penutup, saya akan menyajikan sebuah kutipan menarik dari buku Keadilan Ilahi. Selamat menikmati.

"Segenap keraguan tidak lebih rendah daripada keyakinan naif yang tidak pernah mengalami guncangan dan terpaan keraguan." Murtadha Muthahhari