Tidak semua orangtua mengizinkan anaknya pergi meninggalkan rumah. Apalagi pergi untuk alasan kepuasan pribadi, terkadang orangtua melarang meskipun sang anak sudah hidup mandiri. Kondisi ini akan semakin sulit apabila kamu adalah seorang perempuan.

Itulah mengapa banyak orang yang cemburu ketika ada seseorang yang lain mengungggah momen ketika ia memperoleh kebebasan di medsos. Karena sesungguhnya setiap orang menginginkan kebebasan.

Mendaki gunung merupakan kegiatan yang banyak digemari oleh anak muda. Salah satu kendala yang dihadapi untuk pergi ke gunung adalah izin dari orangtua. 

Walaupun mendaki gunung adalah kegiatan yang penuh risiko dan melelahkan, kegiatan ini mampu membebaskan diri dari larangan orangtua maupun keriuhan kota. Tak heran saat Fathia Izzati, seorang youtuber mengunggah perjalanannya mendaki gunung Kerinci, beberapa netizen ingin melakukan hal yang sama. 

Komentar paling atas pada dokumenter tersebut mengatakan bahwa ia kagum kepada Fathia karena ia satu-satunya perempuan dalam pendakian itu. Artinya, dalam hal ini kebebasan itu dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh Fathia, yakni mendaki gunung sekaligus berpetualang dengan laki-laki.

Di belahan dunia lainnya, seorang perempuan arab berhasil mendapatkan kebebasan setelah diberi suaka oleh Kanada. Rahaf Mohammed Mutlaq al-Qunun menjadi orang Arab yang kesekian kalinya kabur karena merasa terkekang oleh keluarga dan negaranya. 

Kisahnya sudah diberitakan oleh banyak media karena aksinya menolak dipulangkan dan bersuara di media sosial sehingga mendapat banyak dukungan. Rahaf yang kemudian menanggalkan nama keluarganya al-Qunun, terancam hukuman berat karena meninggalkan ajaran Islam, di negaranya termasuk perbuatan melanggar hukum. 

Selain itu, ia juga dipaksa menikah muda oleh ayahnya yang seorang gubernur al-Sulaimi. Ia bahkan pernah menerima kekerasan dan dikurung lantaran memangkas cepak rambutnya. Hal itu dianggap merendahkan nama keluarganya.

Rahaf beruntung bisa memperoleh suaka. Pada kasus lain yang sejenis, banyak orang yang terpaksa dipulangkan dan mendapat hukuman saat melarikan diri. Akan tetapi, Rahaf sesungguhnya telah melanggar hukum di negaranya walaupun tidak bisa dihukum karena ia telah berpindah negara. 

Ada perbedaan pandangan tentang hukum pada kasus ini, atau mungkin perbedaan makna kebebasan. Bagi negara pemberi suaka dan pihak yang membantu mendapatkannya, Rahaf akan kehilangan kebebasannya karena ia diancam dibunuh oleh keluarganya. 

Jika ancaman itu dipandang terlalu berlebihan, mereka juga melihat potensi kekerasan akan didapatkan kembali seandainya ia pulang ke negaranya. Sedangkan Kanada tidak memberikan hukuman bagi orang yang tidak beragama.

Rahaf Mohammed mendapatkan suaka di Kanada, sumber: cbc.ca

Ironisnya, kebebasan yang dibutuhkan oleh banyak orang dengan alasan lain tidak kunjung didapatkan. Banyak orang yang sedang mencari suaka karena di negaranya sedang terjadi konflik sehingga menyebabkan hidupnya terancam. 

Kondisi tersebut dirasakan oleh orang-orang Suriah, Afganistan, Rohingnya, Amerika Latin, dll. Banyak dari mereka berakhir di laut lepas karena minim perbekalan saat perjalanan mencari suaka. 

Mereka berjumlah lebih besar dibanding Rahaf yang hanya seorang diri. Memang tidak bisa dibandingakan apa yang diderita oleh kelompok masyarakat tersebut dengan apa yang dialami Rahaf. Para pemberi suaka pasti mempertimbangkan aspek teknis hingga politis untuk melindunginya.

Setidaknya kita bisa melihat bahwa seharusnya negara memiliki peran dalam mengatasi masalah tersebut. Demikian pula dengan peran keluarga sebagai bagian inti dari sebuah negara. Karena sebenarnya tidak ada sistem pemerintahan apapun yang melukai rakyatnya. 

Demikian pula dengan agama, tidak ada agama apa pun yang melukai pemeluknya. Rahaf dan orang lain yang bernasib sama mungkin tidak perlu pergi jika keluarganya memperlakukannya dengan baik. 

Hal itu bisa diselesaikan jika mereka berbicara tentang kemauan masing-masing lalu mencari solusi. Bukan malah ingin membunuhnya. Ia mungkin akan mentaati peraturan yang ada di negaranya jika mendapatkan kenyamanan.

Selain itu, sebuah negara sebaiknya mendeteksi kebebasan yang diinginkan oleh rakyatnya. Apalagi di era globalisasi ini banyak pandangan hidup dengan mudah didapatkan seseorang melalui dunia maya. 

Globalisasi bagaikan dua sisi mata pisau, kalau tidak pandai memanfaatkannya maka akan melukai. Rahaf yang masih berusia 18 tahun melakukan aksinya tersebut juga karena terinspirasi dari apa yang dipelajarinya di dunia maya. 

Maka dari itu, pemerintah sebuah negara sebaiknya mengajak diskusi rakyatnya yang menginginkan kebebasan yang datang dari globalisasi tersebut lalu memberikan solusi jika terjadi masalah.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, baru-baru ini akan memberikan kebebasan kepada minoritas Muslim Moro dengan referendum. Kebebasan tersebut kelak berupa pengelolaan wilayahnya sendiri secara eksekutif maupun legislatif yakni di wilayah tempat tinggalnya, Filipina bagian selatan. 

Bahkan Duterte menghimbau kepada mereka agar memenangkan referendum, itu karena ia ingin segera mengakhiri konflik yang terjadi selama bertahun-tahun di wilayah tersebut. Apa yang dilakukan Duterte adalah mendeteksi kebebasan yang diinginkan oleh rakyatnya.

Hal itu sebaiknya juga dilakukan oleh negara-negara yang cenderung konservatif. Tidak dapat dipungkiri bahwa isu kebebasan saat ini meliputi diantaranya kebebasan akan agama, pandangan politik, pekerjaan, orientasi seksual, dll. 

Pemerintah hendaknya tidak serta-merta melarangnya tetapi justru merangkul dan membuka perundingan untuk mencari solusi atas kebebasan yang diinginkan. Sehingga tidak terjadi konflik yang tidak berujung dan memakan korban.

Beruntung menjadi Rahaf yang memiliki cukup materi untuk mencari suaka. Nampaknya ia telah merencanakan aksinya tersebut jauh-jauh hari. Jika tidak dari kalangan berada mana mungkin bisa pergi ke luar negeri untuk mencari suaka. 

Apakah kebebasan hanya bisa didapatkan oleh orang-orang kaya? Apakah kita bisa mendaki gunung untuk mendapatkan kebebasan tanpa membawa bekal?