Di tengah penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) pandemi Covid-19, pemerintah mengampanyekan jargon bertajuk “Ingat Pesan Ibu” kepada masyarakat. Jargon tersebut berisi ajakan kepada masyarakat untuk memakai masker, membiasakan cuci tangan memakai sabun, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Jargon ‘Ingat Pesan Ibu’ muncul setelah salah satu grup band Indonesia, Padi Reborn, membawakan lagu dengan judul yang sama. Jargon ini sangat populer di Indonesia karena hampir setiap program televisi turut menggunakan jargon ini sebagai pengingat kepada masyarakat.

Disadari atau tidak, ada hal unik dalam penggunaan jargon “Ingat Pesan Ibu” di masyarakat. Pemilihan kata ‘ibu’ di tengah budaya patriarki di Indonesia sangat menarik untuk dibahas secara mendalam.

Menurut Sylvia Walby dalam artikelnya yang berjudul Theorizing Patriarchy pada tahun 1989, menjelaskan bahwa patriarki adalah sebuah sistem di mana laki-laki mendominasi, menekan, dan mengeksploitisir perempuan di segala aspek kehidupan.

Sesuai dengan hal tersebut, figur seorang perempuan (ibu) selalu dianggap lemah dan harus tunduk pada perintah laki-laki. Terlebih, hal ini membudaya di Indonesia dan makin melemahkan figur seorang ibu.

Figur seorang ibu di tengah budaya patriarki di Indonesia memang masih menempatkannya pada ranah domestik saja. Oleh karena itu, terkadang seorang ‘ibu’ dianggap sebagai sosok lemah dan tidak memiliki pengaruh apa pun, selain memenuhi ‘perintah’ laki-laki.

Munculnya jargon ini telah menerobos budaya patriarkal yang selama ini marak terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, pemilihan kata ‘ibu’ dalam jargon ini sangat menarik untuk dibahas secara lebih mendalam.

Dengan adanya pemilihan kata ‘ibu’ dalam jargon tersebut, perjuangan memperoleh kesejajaran antara laki-laki dan perempuan telah menunjukkan adanya sebuah kemajuan. Dominasi figur seorang laki-laki (ayah) seolah telah melemah dengan adanya jargon ini.

Lalu, apakah figur seorang wanita, melalui pemilihan kata ‘ibu’ dalam jargon ini, telah berhasil meraih kesejajarannya dalam masyarakat?

Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu makna kata ‘ibu’ itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara leksikal kata ‘ibu’ dapat dimaknai sebagai bentuk sapaan kepada seorang perempuan.

Akan tetapi, kita tidak dapat memaknai sebuah kata tersebut hanya dalam tataran makna leksikal saja. Kata ‘ibu’ dalam jargon ‘Ingat Pesan Ibu’ perlu dimaknai lebih dalam secara kontekstual penggunaannya di masyarakat. Dalam linguistik, cabang ilmu ini disebut sebagai semantik kontekstual.

Oleh karena itu, beberapa waktu lalu, penulis melakukan riset kecil mengenai penggunaan kata ‘ibu’ di sosial media. Hasilnya, kata ‘ibu’ digunakan untuk menggambarkan seseorang perempuan yang sangat berpengaruh di dalam hidup mereka.

Salah satu penggunaan kata ‘ibu’ di sosial media adalah cuitan salah satu akun twitter, @YusufFilasafa, yakni “karena ibu adalah kehidupan bagi anak-anaknya.”. Hal tersebut juga dilakukan oleh akun @luahcintahati, ia menulis “Wajah ibu paling cantik. Masakan ibu paling enak. Kata-kata ibu paling berharga.”

Dari sampel data di atas, figur ibu di masyarakat memiliki peranan yang penting bagi lingkungan sekitarnya. Dari sana juga terlihat bahwa kata-kata yang keluar dari seorang ibu sangat dihargai oleh keluarganya.

Mendukung data di atas, Effendy (1998) dalam buku Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, menjelaskan bahwa peran ibu dalam keluarga didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengasuh, mendidik, serta menentukan nilai kepribadian anaknya. Hal ini semakin memperkuat bahwa peranan seorang ibu sangat kuat dan sama seperti seorang laki-laki.

Setiap orang tentunya terlahir dari seorang ibu, sehingga ibu adalah sosok yang sangat besar pengaruhnya terhadap cara pandang seseorang. Salah satunya adalah dengan menyandingkan ibu dalam jargon ‘Ingat Pesan Ibu’ sehingga diharapkan setiap orang dapat lebih mendalami isi pesan dalam jargon ini.

Sementara itu, Fadly selaku vokalis Padi Reborn menuturkan alasan mengapa tokoh ibu yang digunakan dalam jargon ini. Alasan tersebut terungkap dari wawancaranya beberapa waktu lalu.

Seperti dikutip dari Kompas.com, Fadly mengatakan bahwa "Karena karakter ibu adalah seorang yang benar-benar kita dengarkan, yang doanya tembus hingga langit ke-7. Semua kemuliaan-kemuliaan itu ada di ibu. Pesan ibu itu pasti selalu ingin keluarganya selalu sehat dan doanya pasti terkabul" Senin (5/10/2020).

Hal ini semakin menguatkan bahwasanya pemilihan jargon “Ingat Pesan Ibu” adalah penanda bahwa kesejajaran antara laki-laki dan perempuan semakin di anggap penting. Perempuan, dalam hal ini ibu, bukan hanya menjadi objek dominasi laki-laki. Akan tetapi, hakikatnya perempuan dan laki-laki memiliki peran yang setara di dunia ini.

Hal tersebut sejalan dengan Teori Feminisme Kultural yang menolak adanya dominasi maskulinitas laki-laki dan menaikkan nilai feminin perempuan agar menjadi setara. Oleh karena itu, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan adalah ketika karakteristik perempuan dapat diterima dan dihargai di masyarakat.

Dari penjelasan di atas, kata ‘ibu’ dalam jargon “Ingat Pesan Ibu” dapat dimaknai sebagai figur manusia yang memiliki karakteristik unik, sehingga kata-katanya dapat didengar dan di patuhi. Hal ini juga menunjukkan bahwa perjuangan menyejajarkan figur seorang wanita (ibu) telah menunjukan kemajuan yang cukup besar.