Missionary Islam
2 tahun lalu · 476 view · 3 menit baca · Budaya screenshot_2016-04-20-00-45-47_1461090026323.jpg

Memaknai Hari Kartini

Tanggal 21 April merupakan hari yang bersejarah bagi kaum perempuan di negeri ini. Pasalnya, hari tersebut menjadi hari nasional yang biasa diperingati sebagai hari Kartini. Bukan tanpa hikmah, peringatan hari Kartini biasa dimaknai sebagai aktualisasi simbol kemerdekaan perempuan dari kebodohan dan keterkungkungan peran dalam suatu masyarakat.

Hal ini terinspirasi dari kuatnya kemauan seorang Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan hak-haknya di tengah lingkungan masyarakat yang ‘kolot’.

Kartini muda, demikian sejarah mengenangnya, adalah sosok perempuan yang tekun lagi cerdas, dengan modal pendidikan yang hanya sampai usia 12 tahun dan bahasa Belanda yang dimilikinya Kartini mampu mengelaborasi daya nalarnya melebihi perempuan-perempuan pada umumnya di masa itu.

Hal ini terbukti dari surat-surat peninggalan yang merupakan hasil korespondensi dirinya dengan teman-teman dari negeri Belanda. Bahkan sejarah mencatat bagaimana kepeduliannya yang sangat besar akan dunia pendidikan khususnya bagi kaum perempuan yang kemudian terwujud dengan sekolah yang berhasil didirikannya.

Muncul pertanyaan kemudian, seberapa besar Kartini telah menginspirasi kaum perempuan masa kini? Apakah kesetaraan hak dan kebebasan yang ada kemudian telah mampu dimanfaatkan guna kebaikan kaum perempuan sebagaimana semestinya?

Menarik tentunya untuk menelisik lebih jauh pertanyaan-pertanyaan tadi. Bukan untuk menghakimi namun sebatas koreksi sejauh mana kepedulian kita sebagai bangsa terhadap kaum perempuan sambil kemudian mencari gambaran dari tuntunan Islam tentang hak dan tugas kaum hawa.

Tak bisa dipungkiri bahwa Kartini telah banyak menginspirasi kaum perempuan masa kini, dan yang paling mudah diangkat sebagai contoh kongkret terkait hal ini mungkin dalam bidang pendidikan di mana tidak ada lagi sekat antara perempuan dan haknya untuk mendapatkan pendidikan sejauh ia mampu. Bahkan, tidak sedikit kaum wanita memiliki kegigihan dan prestasi lebih dari kaum pria dalam berbagai bidang akademik.

Demikian juga halnya terkait kesetaraan hak dalam suatu tatanan masyarakat telah sampai pada puncaknya, di mana wanita bebas untuk memilih peran sesuai dengan apa yang disuka dan dicita-citakan. Namun lain halnya dengan bidang pendidikan, kesetaraan hak ini belum seutuhnya termaknai guna kemanfaatan bagi kaum perempuan bahkan dalam beberapa segi peranannya terkesan plin-plan.

Karenanya mesti menjadi catatan bahwa kesetaraan itu dalam hal menyelamatkan perempuan dari ancaman eksploitasi dan objek pelampiasan berahi, bukan dalam segala hal. Jika pendapat terakhir yang dipegang maka dalam hal olahraga petinju perempuan pun bisa diadu dengan petinju pria. Namun pada kenyataannya tidak demikian.

Selangkah lebih maju, Islam memberikan suatu penawaran kedudukan yang ideal bagi perempuan. Tanpa mengurangi haknya Islam mengakomodir peranan perempuan yang signifikan dalam suatu masyarakat.

Surga Terletak di Bawah Kaki Ibu

Betapa agungnya ungkapan yang disabdakan Rasulullah saw ini. Suatu sanjungan yang jika ditujukan kepada seseorang maka martabatnya akan langsung menjulang tinggi dan memang kalimat ini dikhususkan kepada kaum perempuan, karena tidak kita jumpai pujian yang luhur itu kepada kaum lain. Beliau tidak mengatakan surga berada di bawah telapak kaum pria.

Sabda ini tidak hanya menyatakan tentang janji yang akan dipenuhi di akhirat tetapi juga tentang surga sosial yang dijanjikan bagi mereka yang menunjukkan penghormatan dan pengagungan serta mendedikasikan dirinya untuk menyenangkan ibu-ibu mereka.

Ada ulasan menarik dari Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rahmatullah ‘alaih dalam Pidato Qadian (1994) berkaitan hadits tersebut di atas bahwa:

“Biasanya sabda Rasulullah saw ini diartikan sekadar sebagai suatu perintah kepada anak-anak keturunan maupun kepada kaum pria supaya menghormati kaum wanita, supaya menyanjung kaum wanita, supaya meminta berkah dari kaum wanita dan supaya menaati kaum wanita.”

“Padahal sebenarnya makna yang terkandung di dalam kalimat tersebut jauh lebih luas lagi. Di dalam kalimat tersebut terkandung banyak tanggung-jawab serta tugas yang diamanatkan kepada kaum wanita.”

Jadi sabda Rasulullah saw ini bukan sekadar sanjungan bagi kaum perempuan, melainkan suatu amanat juga. Kata aqdam yang berarti telapak kaki itu memiliki fungsi untuk berjalan/melangkah.

Karenanya lahir generasi-generasi surgawi yang didambakan oleh setiap kita. Setiap orang tua dan masyarakat itu tergantung kepada bagaimana sang ibu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mendidik anak-anaknya.

Generasi-generasi yang berakhlak luhur dan berbudi pekerti baik hanya akan lahir dari ibu-ibu yang sadar dan berpegang teguh bahwa hanya di bawah naungannyalah akan lahir generasi-generasi surgawi.

Untuk itu sedari awal Islam menekankan tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Sedemikian penting penekanan itu sehingga seakan-akan surga yang merupakan tempat kembali yang diidam-idamkan menjadi tak layak bagi mereka yang tidak memberikan kepada anak perempuannya hak memperoleh perlindungan dan pendidikan.

“Jika seseorang mempunyai anak-anak perempuan dan ia telah berusaha agar mereka mendapat pendidikan dan ia berusaha keras memelihara mereka, Tuhan akan menyelamatkannya dari siksa neraka.” (Tirmizi)

Selamat Hari Kartini. Semoga Allah swt senantiasa mengaruniakan berkat untuk Anda semua. Jayalah para perempuan Indonesia!